Keris Kiai Naga Siluman Atau Bukan?

Keris Kiai Naga Siluman Atau Bukan?
Benarkah Naga Siluman? Keris yang dulu milik Pangeran Diponegoro dan diduga adalah Kiai Naga Siluman pada era Perang Jawa 1825-1830, dikembalikan ke Indonesia pada 4 Maret 2020 lalu. Masih pro kontra, benarkah ini keris Kiai Naga Siluman? Atau keris Diponegoro yang lainnya?

Hampir tiga bulan ini keris pusaka Pangeran Diponegoro dikembalikan oleh pemerintah Belanda ke Indonesia, setelah 190 tahun berada di sana semenjak berakhirnya Perang Jawa 1830. Namun belum juga ada kata sepakat di kalangan masyarakat perkerisan, apakah benar keris pusaka ini adalah Kiai Naga Siluman atau keris Pangeran Diponegoro yang lainnya.

Secara formal, berdasarkan penegasan tim verifikasi terakhir dari Indonesia sebulan sebelum keris pusaka tersebut resmi dibawa kembali oleh Dubes Indonesia untuk Belanda 4 Maret 2020 lalu, keris berlekuk (luk) 11 dengan gandhik berhias relief Naga itu dinyatakan sebagai keris “Kiai Naga Siluman” milik Pangeran Diponegoro. Keris simbolik perjuangan sang Pangeran, yang pernah diserahkan pada penguasa kolonial Kumpeni saat berakhir Perang Jawa pada 1830.

Keris Diponegoro yang baru dikembalikan oleh Pemerintah Belanda, dipertunjukkan di etalase khusus, ketika Presiden RI Joko Widodo menerima tamu Raja Belanda Willem Alexander dan Ratu Maxima di Istana Bogor 10-13 Maret 2020.
(Kontributor/Foto Setpres)

“Karena saya sejarawan, kesimpulan yang saya ambil tentunya berdasarkan keabsahan dokumen pendukung, serta pengamatan obyektif bendanya. Di antara tim verifikasi terakhir, hanya saya yang diperbolehkan memegangnya dan mengamatinya langsung,” ungkap Prof Sri Margana, sejarawan dari Universitas Gadjah Mada kepada komunitas penggemar keris Yogyakarta, Komunitas Largangsir, di kedai kopi Pas Pojok di lingkar luar Yogyakarta (11/3/2020) silam.

Selain kelengkapan dokumen dari empat tim peneliti Belanda sejak 1984, Prof Margana sebagai verifikator terakhir, memastikan bahwa keris tersebut adalah keris Naga Siluman berdasarkan gambar relief tinatah emas yang ada di wuwungan ganja, atau bagian dasar bilah keris. Bagian yang hanya terlihat jika keris tersebut disarungkan di warangkanya.

“Gambar Naga Siluman itu tidak berada di bilah atau pamor, akan tetapi dekat gagang,” kata Margana, “Memang, posisi gambar (disebut Prof Margana sebagai ‘naga siluman jawa’) itu tidak penuh. Hanya separuh dari dada ke atas. Dan kalau tidak dilihat dari posisi yang tepat, tidak akan kelihatan sebagai Naga Siluman Jawa,” kata Margana pula. Kesimpulan Prof Margana itupun diamini oleh tim Volkenkunde, dan juga oleh Dirjen Kebudayaan Dr Hilmar Farid bahwa itu memang gambar Naga.

Disebutnya sebagai relief “Naga Siluman Jawa” karena Prof Margana melihat contoh patung-patung lain seperti itu yang disimpan di Museum Belanda, disebut sebagai patung-patung “naga jawa” (de javansche draak). Sementara di kalangan perkerisan, yang disebut Prof Margana sebagai “Naga Jawa” ini menurut mereka selama ini disebut sebagai “Singa Barong” yang berasal dari motif Singa Kilin China. Relief Singa Kilin seperti ini, banyak terdapat pada keris-keris Mataram Sultan Agung, yang memang sengaja diberi relief gambar seperti itu sebagai kelengkapan Candra Sengkala, Naga, Kijang, Gajah – Singa, guna memperingati peristiwa “Bedah Pati” ketika Mataram menundukkan Kadipaten Pati pada tahun 1633 (1555 Çaka).

Prof Sri Margana mempertunjukkan gambar relief di bagian bawah wuwungan ganja keris yang menurutnya adalah sosok “Naga Siluman Jawa” (kiri) dan ia bandingkan dengan gambar patung yang di Museum Belanda disebut “Naga Siluman Jawa” (kanan)
(Kerisnews/Tira Hadiatmojo)

“Bentuknya naga siluman jawa pakai tangan, dengan bentuk mulutnya terbuka, menoleh ke kanan, mirip-mirip naga dragon a la China. Tersembunyi (di wuwungan ganja keris ini) yang selama ini disalah pahami sebagai gajah dan sebagainya,” kata Margana.

“Saya langsung bisa menyimpulkan, karakteristik naga siluman itu bukan pada gambar ular di bilahnya, tetapi justru di bagian ganjanya. Itu kesaksian saya, pendapat saya sendiri tentang keris tersebut,” kata Prof Margana pula. Maka, jika memang ditemukan bukti lain yang valid, maka bukan tidak mungkin nama keris itu akan diganti.

Artinya, selisih paham antara masyarakat perkerisan dengan kesimpulan akademis Prof Sri Margana yang Ketua Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada ini bukan semata-mata lantaran “Kiai Naga Siluman” itu kerisnya bukan berdhapur (model) keris Naga Siluman, akan tetapi bisa jadi memang keris yang dikembalikan dari Belanda kali ini, bukan Kiai Naga Siluman yang dimaksud.

“Bisa jadi ini malah Kiai Wreso Gemilar…,” kata tokoh perkerisan, Toni Junus. Yang dimaksud keris Kiai Wreso Gemilar, adalah keris yang menurut buku harian Mayor Edouard Errembault de Dudzeele didapat setelah putri Diponegoro Raden Ayu Mertonegoro ditangkap di desa Karangwuni, Kulon Progo bersama ibunda Diponegoro, Raden Ayu Mangkorowati seperti dikutip sejarawan Peter Carey dalam bukunya “Kuasa Ramalan” (2002). Keris ini diserahkan oleh Hamengku Buwana (HB) IV kepada penguasa Belanda, seusai Perang Jawa 1830.

Keris Pangeran Diponegoro tercatat tidak hanya satu atau dua yang diserahkan pada kolonial seusai Perang Jawa. Setidaknya ada tiga keris serta tujuh tombak pusaka, di antaranya Kiai Rondhan (sudah dikembalikan Belanda, dan kini disimpan di Museum Nasional Republik Indonesia, di Jalan Merdeka Barat Jakarta). Namun tidak termasuk diserahkan, Kiai Ageng Bondoyudo (remposan, atau daur ulang dari tiga pusaka yakni cundrik Kiai Sarutomo, keris pusaka Kiai Abijoyo dan tombak milik pengawalnya, Kiai Barutubo). Keris Bondoyudo ini dibawa sampai mati, bahkan ikut dikuburkan di Makassar bersama jazad Diponegoro.

Proses pencarian keris KK Naga Seluman (Naga Siluman) milik Diponegoro ini sudah melalui proses penelitian dan penelusuran yang panjang, baik dokumen-dokumen pendukungnya, maupun obyeknya. Menurut Prof Margana, proses penelitian sudah dilakukan sejak 1984 dan melibatkan empat tim di Belanda.

BACA JUGA  Nonton “Greget” Kaum Muda Perkerisan Solo

Tim peneliti pertama dipimpini Pieter Pott, Kepala Kurator Museum Volkenkunde Leiden. Mengapa perlu dilakukan penelitian? Karena menurut Prof Margana, tahun 1977 sudah dikembalikan barang-barang milik Pangeran Diponegoro yang berupa pelana kuda serta tombak Kiai Rondhan milik sang pangeran. Kesimpulan tim Pieter Pott, mereka menemukan keris yang menurut mereka adalah milik Pangeran Diponegoro dari raja Kesultanan Yogyakarta, Hamengku Buwana (HB) V yang diserahkan pada Belanda melalui Kolonel jan-Baptist Cleerens, utusan panglima militer Hindia Belanda, Letnan Gubernur Jendral Hendrik Merkus Baron van De Kock.

Prof Sri Margana (kanan) ketika memberi keterangan tentang dikembalikannya keris milik Diponegoro yang diduga Kiai Naga Siluman itu, kepada sejumlah anggota komunitas keris Largangsir di Yogyakarta, pertengahan Maret 2020.

“Kesimpulan Pott tidak meyakinkan, karena tak didukung dokumen-dokumen yang pasti,” kata Prof Margana di Yogyakarta pada pertengahan Maret lalu.

Tahun 2017, dibuat riset lagi dipimpin Prof Susan Legene dari Vrije Universiteit, Amsterdam. Prof Legene menemukan sebuah keris yang lain yang dianggap milik Pangeran Diponegoro. Kesimpulan juga kurang meyakinkan, tak ada bukti-bukti kuat yang mendukung.

Tahun yang sama, 2017 tim ketiga juga melakukan penelitian terhadap keris lain lagi, keris yang ketiga, dipimpin Johanna Leifeldt dari museum Volkenkunde Leiden yang didasarkan pada tiga (3) dokumen penting yang mengunjuk bahwa keris ketiga itu milik Pangeran Diponegoro.

“Surat pertama adalah surat menyurat atau korespondensi antara Sekretaris Kerajaan Belanda (De Secretaris van Staat) dengan Directeur General van Het Department voor Waterstaat, Nationale Nijverheid en Colonies semacam departemen pengairan di Hindia Belanda, antara tanggal 11 Januari sampai 25 Januari 1831, beberapa bulan setelah penangkapan Diponegoro Maret 1830 yang isinya: Kolonel Cleerens akan menyerahkan sebuah keris kepada Raja Willem I. Akhirnya keris itu diterima oleh Willem I kemudian disimpan di Kabinet Kerajaan (untuk barang antik) Koninklijk Kabinet van Zeldzaamheden (KKVZ). Tidak disebutkan nama kerisnya…,” tutur Prof Margana.

Dokumen penting kedua yang dipakai adalah Surat Kesaksian (panglima perang Diponegoro) Sentot Prawirodirdjo, dalam huruf Jawa dan diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda pada Mei 1830 (Diponegoro ditangkap di Magelang 28 Maret 1830).

“Bahwa Sentot dengan mata kepala sendiri melihat Pangeran Diponegoro menghadiahkan kerisnya Naga Siluman kepada Kolonel Cleerens, untuk diserahkan pada raja Belanda,” tutur Prof Margana. Penyerahan keris Naga Siluman (Naga Seluman) ini dimaknai sebagai semacam penyerahan  pemimpin Perang Jawa ini pada Belanda.

Dokumen ketiga, adalah kesaksian Raden Saleh pelukis Indonesia yang tinggal di Belanda semasa Pangeran Diponegoro, yang pernah melihat langsung keris tersebut. Raden Saleh, yang tinggal di Belanda dan Eropa selama lebih kurang 23 tahun (tahun 1851 Raden Saleh kembali ke Indonesia), melihat keris tersebut untuk kepentingan melukis tentang Diponegoro.

“Raden Saleh menuliskan apa itu makna keris Naga Siluman, juga deskripsi ciri-ciri fisik keris itu, ada gambar naga di bilahnya, dibungkus prada emas, tetapi prada hilang tinggal ada emas di ujung buntut. Juga ciri-ciri pakai luk,” kata Prof Margana. Tetapi ia mengaku, tak bisa membaca semua tulisan yang ditulis membujur di atas kertas kesaksian Sentot Prawirodirdjo, karena yang dibaca Prof Margana hanya kopinya.

“Tulisan kecil-kecil, di kopian sehingga tidak semua bisa saya baca. Setahu saya tidak disebutkan jumlah luknya berapa…,” kata Margana. Dalam kutipan keterangan lain, kesaksian Raden Saleh menyebutkan jumlah luk kerisnya, luk 13. Margana mengaku akan melihatnya lagi pada kertas aslinya.

Repotnya, Gedung Kabinet Kerajaan Belanda itu pernah terbakar. Sehingga dokumen-dokumen yang menyertai benda-benda bersejarah yang disimpan disitu, hilang. Tinggal tersisa nomor register, yang dituliskan di kayu warangka kerisnya, dan juga gagangnya. Nomor-nomor register itu tidak menyebutkan keris-keris Pangeran Diponegoro yang mana.

“Keris-keris (Pangeran Diponegoro dan juga raja-raja se-Nusantara) tidak pernah hilang di Belanda. Yang hilang hanya catatannya,” kata Prof Margana.

Tim peneliti keempat, dipimpin Tom Quist juga dari museum Volkenkunde Leiden. Tom Quist menemukan bukti lain lagi yang disebutnya sebagai “Keris Naga Siluman 1875 sebelum dipindah ke Volkenkunde” pernah dipamerkan di Philadelphia AS pada 1875. Dalam pameran di AS, yang mengetengahkan koleksi keris-keris dari Kabinet Kerajaan Belanda itu, disebutkan dalam caption pameran bahwa keris ini “pemilik sebelumnya adalah Pangeran Diponegoro”. Dokumen katalog pameran itu hanya menyebutkan nomor inventaris kerisnya, tidak menyebutkan nama Naga Siluman.

“Dari tiga keris yang pernah diteliti tim Belanda itu, ya keris ini (nagasasra kamarogan luk 11) yang paling mendekati ciri-ciri keris Naga Siluman,” kata Margana, ada foto keris tersebut selain di dokumen, juga ada di Koran-koran dan majalah yang terbit selama pameran di Philadelphia.

Pihak Belanda masih belum yakin, kalau keris yang berluk 11 (bukan luk 13, seperti diperkirakan dideskripsikan Raden Saleh) dengan gandhik berukir naga dan tubuh bilah berukir gambar naga ini adalah keris Naga Siluman milik Diponegoro.

BACA JUGA  Dentuman Guntur Kiai Jagur
Keris Diponegoro dan Gambar Sang Pangeran

“Pemerintah Belanda mengundang dua empu dari Indonesia, tetapi untuk kerahasiaan nama empu itu tidak diberitahukan, bahwa keris yang mereka teliti itu Naga Siluman. Dua empu itu diundang ke Belanda dalam waktu yang berbeda di tahun 2019,” kata Margana.

Empu pertama mengatakan, “Oh, keris ini memang keris tua. Kalau dari gambar yang diukir di bilah keris itu, kemungkinan ada candra sengkalanya yang mengunjuk tahun 1633 dari gambar naga, kijang, gajah dan singa. Keris milik Sultan Agung, yang diwariskan sampai pada Pangeran Diponegoro,” kata Margana.

Empu kedua berpendapat, bahwa keris itu kurang lebih berusia 1800 tahun, dan jika dihitung, jatuhnya setelah Perang Diponegoro (1825-1830). Karena tidak relevan, meleset jauh perkiraannya, maka pendapat empu kedua ini dikesampingkan.

Masih diundang lagi, kali ini tim verifikasi dari Museum Vienna Austria yang juga menyimpan keris Diponegoro yang lain, dipimpin Dr Habil Jani Kuhnt-Saptodewo pada Januari 2020. Tim ini lebih memverifikasi kelengkapan dan keabsahan dokumen. Tim Jani Kuhnt-Saptodewo hanya menguatkan, bahwa sumber-sumber dokumen meyakinkan, valid, bahwa “ini adalah keris Diponegoro”.

Maka, diputuskanlah keris dengan nomor register RV 360-8084 (berluk 11 nagasasra kamarogan) ini untuk dikembalikan kepada rakyat Indonesia, pemilik keris tersebut. “Dan saya diminta untuk memverifikasi keris ini pada Februari 2020 dalam rombongan Dirjen Kementerian Kebudayaan Dr Hilmar Farid, serta wartawan Historia bonnie Triyana dan Duta Besar RI untuk Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja,” kata Prof Margana pula.

Adapun kesimpulan bahwa keris ini adalah Keris Naga Siluman milik Pangeran Diponegoro yang selama ini dicari-cari, adalah kesimpulan yang diambil oleh Prof Margana, yang melakukan verifikasi terakhir.

“Karena saya sejarawan, kesimpulan yang saya ambil tentunya berdasarkan keabsahan dokumen pendukung, serta pengamatan obyektif bendanya. Di antara tim verifikasi terakhir, hanya saya yang diberbolehkan memegangnya dan mengamatinya langsung,” ungkap Prof Margana pula, dalam pertemuan dengan komunitas keris itu di Yogyakarta.

“Saya juga menyampaikan pesan Ki Roni Sodewo (keturunan ke-7 Pangeran Diponegoro) agar keris tersebut diukur dan ditimbang,” kata Margana. Ditimbang? Pihak Belanda bertanya-tanya, mengapa ditimbang? Lalu dijelaskan, bisa saja terjadi jika dikembalikan di Indonesia, keris tersebut “diputrani dalam waktu sesingkat-singkatnya”. Maka, jika ditimbang lebih dulu, akan ketahuan jika ditiru, putrannya tidak sama berat dengan keris Diponegoro yang dipulangkan ke Tanah Airnya. Pihak Belanda itupun memaklumi…

Kontroversi timbul ketika keris tersebut tiba di Tanah Air, terutama muncul di kalangan para penggemar keris. Lantaran, yang datang Kanjeng Kiai Naga Seluman tetapi “dhapur” atau model kerisnya, bukan model dhapur Naga Siluman seperti dalam pakem keris. Keris itu berdhapur Nagasasra.

“Nama tidak harus sesuai model kerisnya. Nyatanya, keris Naga Polah milik Rangga Prawirodirdjo yang juga disimpan di Belanda, dhapur kerisnya Nagasasra,” kata Margana.

Kunci untuk menentukan keris ini adalah keris Naga Siluman, sebagai ilmuwan Prof Margana melakukan penelitian obyektif langsung pada bendanya. “Gambar Naga Siluman itu tidak berada di bilah ataupun pamor, akan tetapi dekat gagang,” kata Margana. Maksudnya, gambar relief tinatah emas itu ada di wuwungan ganja, atau bagian dasar bilah keris, bagian yang terlihat jika keris tersebut disarungkan di warangkanya.

“Apa istilahnya? Saya mengatakan ada gambar naga siluman Jawa. Selama ini dipahami entah sebagai gambar gajah, atau harimau, singa,” kata Margana. Ia mengunjuk pada patung-patung kuno serupa dari perunggu, yang pada masanya banyak didapat dan beberapa disimpan di Museum Belanda, serta disebutnya sebagai “naga jawa” (de javansche draak).

“Bentuknya naga pakai tangan, dengan bentuk mulutnya terbuka, menoleh ke kanan, mirip-mirip naga dragon a la China. Tersembunyi (di wuwungan ganja keris ini) yang selama ini disalah pahami,” kata Margana.

“Saya langsung bisa menyimpulkan, karakteristik naga siluman itu bukan pada gambar ular di bilahnya, tetapi justru di bagian ganjanya. Itu kesaksian saya, pendapat saya sendiri tentang keris tersebut,” kata Prof Margana pula. Maka, jika memang ditemukan bukti lain yang valid, maka bukan tidak mungkin nama keris itu akan diganti.

“Memang, posisi gambar (naga siluman jawa) itu tidak penuh. Hanya separuh dari dada ke atas. Dan kalau tidak dilihat dari posisi yang tepat, tidak akan kelihatan sebagai Naga Siluman Jawa,” kata Margana pula. Kesimpulan Prof Margana itupun diamini oleh tim Volkenkunde, dan juga oleh Dirjen Kebudayaan Dr Hilmar Farid bahwa itu memang gambar Naga.

“Jadi, itulah mengapa saya diminta ke Belanda. Saya secara akademis  saya menyimpulkan didukung arsip-arsip yang meyakinkan, melihat ciri-ciri obyektif yang meyakinkan bahwa ini adalah keris Naga Siluman…,” kata Prof Margana.

Mengenai jumlah luk 11? Prof Margana, kepada komunitas di Yogyakarta Rabu petang itu mengatakan, ia akan menindak lanjuti lagi permintaan kalangan perkerisan agar diyakinkan lagi mengenai jumlah luknya.  Apakah nagasasra luk 11 seperti yang dikembalikan kali ini, ataukah luk 13 yang konon ditulis dalam kesaksian Raden Saleh (1831). Meskipun menurut Prof Margana, jumlah luk tidak diungkapkan oleh pelukis Indonesia yang sezaman dengan Diponegoro tersebut.

Apapun kontroversi yang terjadi, menurut Prof Margana, diserahkan pada kalangan perkerisan. Jika memang ada bukti yang valid, masih ada kemungkinan kesimpulan tadi berubah. Yang pasti, kembalinya salah satu artefak berupa keris milik Pangeran Diponegoro ini hendaknya dimaknai sebagai “niat baik pemerintah Belanda untuk mengembalikan benda-benda bersejarah milik rakyat Indonesia” kepada pemiliknya, yakni  dikembalikan ke Indonesia.

Keris milik Pangeran Diponegoro yang ramai diperbincangkan ini, tiba di Tanah Air sebelum kunjungan Raja dan Ratu Belanda, Willem Alexander dan Ratu Maxima 10-13 Maret 2020. Keris tersebut dipertontonkan di etalase khusus, ketika Presiden RI Joko Widodo menyambut Raja dan Ratu Belanda itu di Istana Bogor dalam sebuah jamuan… *

(Jimmy S Harianto, ikut dalam pertemuan dengan Prof Sri Margana di Yogyakarta pertengahan Maret 2020)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.