Informan Kolonial dan Perang Aceh

Informan Kolonial dan Perang Aceh
Diskusi Naskah Nusantara #12 bertajuk “Informan Kolonial dan Perang Aceh—Surat-Surat Haji Hasan Mustapa sebagai Penghulu Kutaraja (Cod. Or. 18.097)”, Jumat (29/3/2019), di Gedung Teater Lantai 8, Perpusnas RI, Jalan Medan Merdeka Selatan Nomor 11, Jakarta. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Membaca sejarah secara kronologis, bukan anakronis. Realitas sejarah harus kita pahami bukan dalam kacamata hari ini. Tapi harus kita baca dalam konteks, atau saat berlangsungnya peristiwa itu. Akan selalu kelihatan tidak adil kalau melihat sejarah dengan kacamata hari ini.

Jajang A Rohmana mengungkapkan hal itu di akhir pemaparannya saat menjadi pembicara di Diskusi Naskah Nusantara #12 bertajuk “Informan Kolonial dan Perang Aceh—Surat-Surat Haji Hasan Mustapa sebagai Penghulu Kutaraja (Cod. Or. 18.097)”.

Karena itu, Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati, Bandung ini juga mengatakan membaca hubungan Haji Hasan Mustapa dengan Belanda atau pihak kolonial tentu dengan kacamata pada saat, dan ruang waktu, itu.

“Jadi, itulah memposisikan sejarah, termasuk naskah-naskah ini dalam ruang waktu yang, tempat yang sebenarnya. Bukan dalam kacamata kita,” ujar Jajang A Rohmana, Jumat (29/3/2019), di Gedung Teater Lantai 8, Perpusnas RI, Jalan Medan Merdeka Selatan Nomor 11, Jakarta.

Dan, siapakah Haji Hasan Mustapa? Tokoh ini lahir di Cikajang, Garut pada 1852 dan meninggal tahun 1930 di Bandung. Ia pernah menjabat sebagai Hoofd Penghulu Kutaraja, (1893-1895), dan Hoofd Penghulu di Bandung (1896-1917)

Jajang A Rohmana, Pembicara di Diskusi Naskah Nusantara #12 bertajuk “Informan Kolonial dan Perang Aceh—Surat-Surat Haji Hasan Mustapa sebagai Penghulu Kutaraja (Cod. Or. 18.097)”, Jumat (29/3/2019), di Gedung Teater Lantai 8, Perpusnas RI, Jalan Medan Merdeka Selatan Nomor 11, Jakarta. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Jajang A Rohmana, Pembicara di Diskusi Naskah Nusantara #12 bertajuk “Informan Kolonial dan Perang Aceh—Surat-Surat Haji Hasan Mustapa sebagai Penghulu Kutaraja (Cod. Or. 18.097)”, Jumat (29/3/2019), di Gedung Teater Lantai 8, Perpusnas RI, Jalan Medan Merdeka Selatan Nomor 11, Jakarta. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Hasan Mustapa juga dikenal sebagai sastrawan Sunda terbesar. Latar belakangnya tidak terlepas dari dunia pesantren dan tarekat. Kehidupannya dihabiskan sepanjang akhir periode Cultuurstelsel, politik etis, hingga awal masa Pergerakan Nasional.

Keberadaan Hasan Musapa di Aceh, bertepatan dengan rentang waktu persahabatan Teuku Umar dengan Belanda. Sebelum Teuku Umar kemudian akhirnya membelot dan berbalik menyerang Belanda pada 30 Maret 1896.

Diskusi yang digelar oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI dan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) Pusat, ini fokus pada surat-surat Hasan Mustapa selama berada di Aceh, yang ditujukan kepada C. Snouck Hurgronje (1857-1936), sahabat setianya, dalam kurun 1893-1895. Surat-surat berbahasa Arab tersebut merupakan koleksi UB Leiden Belanda dengan kode Cod. Or. 18.097 S 9 dan S 16.

“Hasan Mustapa juga menjalin kontak, hubungan surat-menyurat kepada Snouck Hurgronje selama tiga tahun, atau singkatnya selama tinggal di Kutaraja, di Aceh Besar kalau sekarang,” ujar Jajang.

Dan, kenapa surat-surat Hasan Mustapa itu menjadi penting? Menurut Jajang, Hasan Mustapa tidak pernah disebut-sebut dalam sejarah Perang Aceh (1873-1912). Hal ini, mungkin karena periode jabatan yang diemban Hasan Mustapa hanya sangat singkat, sekitar tiga tahun. Sehingga tidak banyak yang menganggap sosok Hasan Musapa ini penting. Tapi Jajang punya cara pandang yang berbeda.

“Menurut saya, karena Hasan Mustapa ini punya kontak yang sangat dekat dengan Snouck. Tentu punya peran yang tidak bisa dipinggirkan. Saya berargumen bahwa justru kedekatan Hasan Mustapa dengan Snouck, yang dibuktikan dengan dokumen surat-surat… memiliki pengaruh cukup signifikan, bagaimana cara pandang Snouck terhadap orang-orang Aceh,” kata Jajang.

Suasana Diskusi Naskah Nusantara #12 bertajuk “Informan Kolonial dan Perang Aceh—Surat-Surat Haji Hasan Mustapa sebagai Penghulu Kutaraja (Cod. Or. 18.097)”, Jumat (29/3/2019), di Gedung Teater Lantai 8, Perpusnas RI, Jalan Medan Merdeka Selatan Nomor 11, Jakarta. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Suasana Diskusi Naskah Nusantara #12 bertajuk “Informan Kolonial dan Perang Aceh—Surat-Surat Haji Hasan Mustapa sebagai Penghulu Kutaraja (Cod. Or. 18.097)”, Jumat (29/3/2019), di Gedung Teater Lantai 8, Perpusnas RI, Jalan Medan Merdeka Selatan Nomor 11, Jakarta. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Termasuk juga, lanjut Jajang, cara pandang Snouck dalam menyelesaikan persoalan Perang Aceh pada masa itu, yang nantinya dia sampaikan kepada pihak pemerintah Gubernur Jenderal di Batavia. Menurut Jajang, Pemerintah di Batavia, tentu banyak dipengaruhi oleh nasihat-nasihat yang diberikan oleh Snouck Hurgronje.

“Nah, saya ingin menelusuri sejauh mana peran Hasan Mustapa ini sebagai seorang yang secara intens, bahkan hampir seminggu sekali mengirimkan begitu banyak surat, ada sekitar empat puluh tiga surat, selama rentang waktu tiga tahun,” kata Jajang.

Jadi, Hasan Mustapa ini, menurut Jajang, sangat sering memasok informasi kepada Snouck melalui surat-surat. Rata-rata perbulan bisa tiga sampai empat surat. Dan menariknya, surat-surat itu berbahasa Arab. Padahal, umumnya surat-surat kolonial atau surat yang ditulis oleh Snouck ke Gubernur Jenderal menggunakan Bahasa Belanda.

Hasan Mustapa bahkan pernah diinterogasi dan dicurigai oleh pejabat Belanda di Aceh. Karena ia sering mengirim surat-surat dalam bahasa yang tidak bisa dibaca oleh para pejabat Belanda.

BACA JUGA  Mengungkap Kandungan Tradisi Lisan

“Jadi sangat menentukan betapa info yang diberikannya, info yang sangat rahasia kepada sahabat setianya itu,” kata Jajang.

Kedudukan Hasan Mustapa sebagai Penghulu Kutaraja, dan sebagai informan bagi Snouck Hurgronje melalui surat-suratnya, menurut Jajang, pasti punya banyak kontribusi terhadap sahabatnya itu.

Snouck Hurgronje sendiri, setahun sebelum Hasan Mustapa berada di Aceh, ia sudah tinggal di Aceh. Saat itu, Snouck tengah mengumpulkan bahan menulis buku. Tepatnya selama 1891-1892, Snouck tinggal di Aceh dan kemudian pulang ke Batavia.

“Nah sepanjang 1893 itulah kemudian Snouck sama sekali tidak tahu menahu tentang persolaan Aceh, kecuali dikirim informasinya dari Hasan Mustapa melalui surat-surat itu. Karena Hasan Mustapa segera direkomendasikan oleh Snouck untuk pergi ke Aceh,” kata Jajang.

Jadi, menurut Jajang, ada kepentingan yang sangat signifikan kenapa Snouck merekomendasikan Hasan Mustapa menjadi salah satu pejabat pribumi di Kutaraja. Dan bukan orang lain. Hasan Mustapa sendiri sudah dikenal Snouck sejak di Mekah. Bahkan ketika berkeliling Jawa (1889-1891), Snouck ditemani Hasan Mustapa.

“Posisi Hasan Mustapa yang sangat dipercaya dengan keahliannya dalam bidang adat istiadat Sunda, dalam Bahasa Arab, dalam bidang keislaman, itu yang menjadi alasan. Terutama, yang saya kira yang paling penting adalah, karena Hasan Mustapa sangat bisa dipercaya oleh Snouck,” kata Jajang.

Dari sini, lanjut Jajang, dapat diketahui betapa pentingnya posisi seorang informan bagi Snouck. Ketika Snouck mengumpulkan bahan-bahan tentang adat istiadat Aceh, kesenian, Antropologi orang Aceh untuk bukunya, tidak disebutkan siapa yang berjasa menjadi pengumpul informasi itu. Padahal, merupakan hasil dari para informan di daerah Aceh.

“Dan naskah-naskah surat Hasan Mustapa, paling tidak, saya berargumen bisa menggambarkan bagaimana hubungan antara penjajah dengan mereka yang dijajah. Paling tidak bahwa tidak selamanya yang dijajah itu selalu diatur, tapi ada juga yang dijajah itu juga memberikan info-info yang berharga kepada mereka, tuan penjajahnya,” kata Jajang.

Dalam konteks kolonialisme, menurut Jajang, tidak bisa kolonial Belanda menjajah tanpa melibatkan para informan. Pasti melibatkan orang-orang lokal, atau informan untuk menjembatani kepentingan Belanda dengan masyarakat lokal. Dan itu sangat efektif.

“Ada konteksnya, kira-kira surat itu dalam konteks apa, situasinya seperti apa. Nah, ini yang saya lakukan. Jumlah suratnya ada empat puluh tiga surat,” kata jajang tentang surat-surat Hasan Mustapa kepada Snouck.

Foto bersama seusai Diskusi Naskah Nusantara #12 bertajuk “Informan Kolonial dan Perang Aceh—Surat-Surat Haji Hasan Mustapa sebagai Penghulu Kutaraja (Cod. Or. 18.097)”, Jumat (29/3/2019), di Gedung Teater Lantai 8, Perpusnas RI, Jalan Medan Merdeka Selatan Nomor 11, Jakarta. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Foto bersama seusai Diskusi Naskah Nusantara #12 bertajuk “Informan Kolonial dan Perang Aceh—Surat-Surat Haji Hasan Mustapa sebagai Penghulu Kutaraja (Cod. Or. 18.097)”, Jumat (29/3/2019), di Gedung Teater Lantai 8, Perpusnas RI, Jalan Medan Merdeka Selatan Nomor 11, Jakarta. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Sebenarnya, ada dua jenis surat Hasan Mustapa ini, yaitu surat-surat ketika menjabat sebagai Hoofd Penghulu Kutaraja, dan ketika menjabat sebagai Hoofd Penghulu Bandung. Ada banyak informasi di surat-surat Hasan Mustapa itu. Termasuk, ada informasi ketika berada di Aceh, anak Hasan Mustapa terkena penyakit kaki bengkak.

“Nah, kebetulan ketika Hasan Mustapa menjadi penghulu (Kutaraja), ini periode yang hampir sama ketika Teuku Umar membelot kepada Belanda. Saya nggak tahu, mungkin harus saya kaji lagi, ada apa Teuku Umar kok hampir bersamaan waktunya dengan masa penugasan Hasan Mustapa, ketika berpihak kepada Belanda. Meskipun agak beda-beda bulan,” ujar Jajang.

Di dalam surat-surat, diungkapkan oleh Jajang, selama berada di Kutaraja, Hasan Mustapa juga berdialog dengan Teuku Umar. Meski juga diungkapkan ada rasa curiga terhadap Teuku Umar.

“Dan, kita sebagai orang kebangsaan pasti akan menyebut Teuku Umar itu punya strategi jitu dan cerdas, untuk mengelabui. […] Ada juga yang mengatakan justru memang Teuku Umar itu berkhianat kepada para pejuang Aceh sendiri,” kata Jajang.

Menurut Jajang, salah satu info penting di surat-surat Hasan Mustapa yaitu tentang Teuku Umar. Kata-kata yang digunakan sangat eksplisit. Disebutkan Teuku Umar bersahabat dengan Belanda, ketika Aceh di bawah pimpinan Gubernur Sipil dan Militer, Jenderal Deijkerhoff (September 1893-Maret 1896). Dan Deijkerhoff ini, kata Jajang, sangat mempercayai Teuku Umar.

Teuku Umar, sejak sebelum kepemimpinan Jenderal Dejkerhoff, sudah ada niat untuk bergabung dengan Belanda. Terutama ketika muncul perseteruan antara Teuku Umar dengan Teuku Muhammad Amin Di Tiro, yang waktu itu menurut Teuku Umar banyak mengganggu kehidupan masyarakat.

BACA JUGA  Keris-keris dari Dalem Mloyokusuman

Informasi itu muncul di surat Hasan Mustapa yang bertanggal 19 Juli 1893, tentang “Risalah Nyala Api pada Peristiwa Durian”. Disebutkan ada perampasan yang dilakukan pengikut Teuku Ma’ Amin terhadap pengikut Teuku Umar yang sedang melewati Kampung Chik Asan. Yang dirampas buah-buahan, salah satunya buah durian. Akibatnya, terjadi saling serang di antara keduanya.

Di surat yang lain, disebutkan satu sebab berbeda sebelum peristiwa durian. Yaitu ketika ada rombongan pengantin yang dirampok oleh pengikut atau pasukan Teuku Ma’ Amin. Menurut Jajang, awalnya Teuku Umar tidak merasa terganggu. Tetapi ketika perampokan berulang lagi, Teuku Umar merasa mesti melawan terhadap pasukan Teuku Ma’ Amin.

“Nah, sejak itu, kemudian untuk melawan pasukan Teuku Ma’ Amin itu ,Teuku Umar minta bantuan kepada Belanda. Dari itu mulai dekat hubungannnya,” kata Jajang.

Ada lagi surat yang menginformasikan ketika Hasan Mustapa bertanya kepada Teungku Brahim, tentang pendapat orang Aceh berkaitan perseteruan Teuku Umar dengan Teuku Ma’ Amin. Pihak mana yang dianggap kaum muslim? Jawab Teungku Brahmim, oleh orang Aceh, Teuku, Ma’ Amin yang dianggap sebagai kaum muslim, karena tidak menerima bantuan pemerintah kolonial.

“Teungku Brahim ini seorang ulama tentunya, tetapi lebih dekat ke pihak Belanda. Hasan Mustapa juga di samping dirinya memasok informasi kepada Snouck, tetapi Hasan Mustapa juga mengambil informasi dari orang Aceh sendiri, ngobrol. Salah satunya Teungku Brahim,” kata Jajang.

Muncul pertanyaan, selama hampir tiga tahun itu, apakah Teuku Umar hanya bersiasat? Karena menurut orang Aceh Teuku Umar memang berkhianat. Bahkan ada fatwa yang menghalalkan darah bagi mereka yang berpihak ke Belanda.

“Jadi Teuku Umar itu posisinya sebetulnya digencet dari berbagai pihak. Di kalangan orang Belanda sendiri Teuku Umar tidak sepenuhnya dipercaya. Tapi di kalangan pejuang Aceh sendiri, Teuku Umar dianggap penghianat. Bayangkan betapa Teuku Umar itu punya posisi yang sangat sulit,” ujar Jajang.

Ketidakpercayaan terhadap Teuku Umar, disebutkan di surat Hasan Mustapa bertanggal 15 Agustus 1893. Di situ dikatakan terdapat petunjuk bahwa permohonan bantuan Teuku Umar diragukan ketulusannya. Jadi, Teuku Umar minta bantuan ke Belanda, tetapi tidak mau menyerahkan kampungnya berada di bawah kekuasaan Belanda.

“Surat ini kan disampaikan kepada Snouck, surat-surat ini. Info inilah yang dijadikan dasar oleh Snouck untuk sama sekali tidak percaya kepada Teuku Umar. Hanya Deijkerhoff tadi, yang sangat seratus persen percaya kepada Teuku Umar. Karena dia punya strategi untuk menaklukkan orang Aceh itu ya harus ada orang Aceh yang dirangkul,” ujar Jajang.

Di surat bertanggal 25 Desember 1894, disebutkan Deijkerhoff pernah bertanya kepada Hasan Mustapa tentang hati Johan, jika dilihat dari belakang. Johan adalah nama atau gelar Teuku Umar ketika berpihak ke Belanda. Hasan Mustapa menjawab kalau Teuku Umar tampak jahat kepada pemerintah Belanda.

Selain persolan Teuku Umar, di surat-surat, juga diungkapkan ada upaya Hasan Mustapa untuk memperadabkan bangsa jajahan. Bahkan, ada satu naskah khusus yang isinya tentang etika. Bagaimana cara berhadapa dengan orang Belanda.

“Nah, Teuku Umar yang dianggap sebagai orang yang dianggap tokohlah oleh orang Aceh, itu meminta saran kepada Belanda agara dibuatkan buku khusus tentang etika berhadapan dengan orang Belanda. Itu permintaan Teuku Umar sebetulnya, Johan. Saya dapatkan dari isi naskah-naskah itu,” kata Jajang.

Dan, Hasan Mustapa yang ditugaskan untuk menyusunnya. Ia kemudian mengirimkannya ke Snouck di Batavia. Naskah etika itu terdiri dari dua bagian, pertama etika berperilaku, dan kedua etika berucap. Salah satu contoh, jangan menghadap di saat orang sedang makan atau saat waktunya orang tidur.

“Memang Hasan Mustapa di samping sebagai informan, Beliau juga salah satu pemasok terbesar, koleksi-koleksi Snouck Hurgronje,” kata Jajang.

Jajang mendata ada lebih dari 50 naskah. Terdiri beragam naskah-naskah nusantara, ada yang bahasa Aceh, Arab, sunda. Ada yang disalin, disuruh menyalin, membeli, dan bisa jadi meminjam. Dan semua itu dengan bayaran. Snouck dan Hasan Mustapa, menurut Jajang, ada kemungkinan juga mengumpulkan banyak pusaka-pusaka, peninggalan pesantren-pesantren, keraton-keraton.

“Ketika Hasan Mustapa ke Aceh salah satu tugasnya juga adalah mengumpulkan naskah-naskah orang Aceh sendiri. Nah, ini diungkapkan juga dalam surat-suratnya. Kaitannya saya kira kepentingan kolonial untuk kepentingan kajian adat istiadat Nusantara,” kata Jajang.

Nah, berkaitan dengan surat-surat Hasan Mustapa itu, di akhir pemaparan Jajang mengatakan surat Hasan Mustapa ditulis dalam ruang sejarah kedekatan, persahabatan, keislaman, dan ikatan kekeluargaan dengan Snouck Hurgronje.

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.