Mat Jawa dan Keris GuloKlopo

Mat Jawa dan Keris GuloKlopo
Mat Jawa alias Zack yang aslinya adalah Zarim bin Hj Marzuki ketika memenangi sebuah lomba keris Kategori Keris Indonesia Terbuka dalam sebuah kompetisi keris di Malaysia, pada 2009. Koleksinya memenangi delapan dari sepuluh yang diperlombakan, pada suatu ketika. (Dok Pribadi Zarim Bin Hj Marzuki)

Di kalangan penggemar keris di Negeri Jiran, Malaysia, dia dijuluki Mat Jawa. Tidak hanya lantaran ia memiliki darah Jawa dari nenek moyangnya, tetapi juga lantaran dalam berbagai event termasuk lomba Rangsang Rias keris di semenanjung, ia memenangi beberapa gelar juara.

“Saya asli warga Negara Malaysia, lahir dan membesar di Malaysia. Oleh kerana cenderung mengoleksi keris-keris Jawa, serta ayah dan ibu dari keturunan Jawa, maka saya membesar dalam budaya dan bahasa Jawa…,” tutur Mat Jawa, yang nama aslinya sebenarnya adalah Zarim Bin Hj Marzuki (41), dalam wawancara dengan Kerisnews melalu WhatsApp, Minggu (24/11/2019).

Mat Jawa (berbaju merah, dua dari kanan) berpotret bersama senior perkerisan Indonesia, dari kiri depan I Wayan Sutedja Neka dari Bali, Toni Junus KanjengGung, Ir Ferry Febrianto dan di belakang Stanley Hendrawidjaya dan kurator pameran keris Kamardikan di Bentara Budaya 2008. Hampir di setiap event besar perkerisan di Indonesia, Mat Jawa selalu hadir.

Mat Jawa (berbaju merah, dua dari kanan) berpotret bersama senior perkerisan Indonesia, dari kiri depan I Wayan Sutedja Neka dari Bali, Toni Junus KanjengGung, Ir Ferry Febrianto dan di belakang Stanley Hendrawidjaya dan kurator pameran keris Kamardikan di Bentara Budaya 2008. Hampir di setiap event besar perkerisan di Indonesia, Mat Jawa selalu hadir.
(Kerisnews.com/Jimmy S Harianto)

Sangat sering berjumpa dengan Mat Jawa, yang selalu penuh senyum ini. Tidak kurang 23 tahun lalu pun, pertama bertemu dia ketika ia dan teman-teman Malaysia datang ke Jakarta, menyaksikan Pameran Seni Tosan Aji di Bentara Budaya Jakarta (Kompas) pada bulan Agustus 1996. Belakangan, dalam hampir setiap event besar seperti Keris for the World (2010), Keris Summit di Yogyakarta (2016) maupun gelaran pameran tunggal Hengki Joyopurnomo di Mangga Dua Square bulan Oktober lalu pun, Mat Jawa yang memiliki nama facebook ABG Zack ini juga terlihat hadir menonton. Di acara Hengki, Mat Jawa alias Zack ini bahkan membawa serta isteri dan kedua anak lelakinya ke pameran.

“Pernah memenangi delapan hadiah dari 10 yang dipertandingkan untuk lomba Kategori Keris Indonesia Terbuka. Itu sebabnya, teman-teman menggelari saya sebagai Mat Jawa…,” tutur Zarim alias Zack, alias Mat Jawa ini pula. Sedangkan Lomba yang membuatnya dimuat di surat kebar, Metro terbitan Kuala Lumpur itu, adalah Lomba yang diadakan Museum Negara Malaysia 2009 peringkat Kebangsaan, Kategori Indonesia Terbuka.

Berpotret bersama pakar keris, mendiang Ir Haryono Haryoguritno di Keris for the World 2010.

Berpotret bersama pakar keris, mendiang Ir Haryono Haryoguritno di Keris for the World 2010.
(Foto Istimewa)

Blusukan ke berbagai pelosok perkerisan, juga ia lakukan. Termasuk menyusuri berbagai tempat perajin keris di Madura, Bali, Jawa Timur, Yogyakarta, Surakarta, dan tentu saja Jakarta. Di Bali, ia bahkan akrab dengan perajin hulu keris (danganan) terkenal dan berkelas atas, Ida Bagus Pastika dan pernah singgah ke rumahnya di Bali pada tahun 2009.

BACA JUGA  Jokowi: Selamatkan Tradisi dan Naskah-naskah Kuno

Pesan keris ke Madura juga pernah. Beberapa kali memesan, di antaranya keris dengan penampilan batang bambu pada empu terkenal Pulau Garam, Empu Jamil. Apalagi tempat-tempat keramaian keris, seperti Rawabening di Jatinegara Jakarta Timur, tempat itu hampir tak pernah ia lewatkan setiap kali ia beli pernik-pernik keris, utamanya batu-batu mulia.

Semuanya Made in Jakarta. Bilahnya, keris Palembangan bikinan besalen GuloKlopo, di samping Museum Pusaka TMII Jakarta Timur, tahun 2018. Sedangkan hulu keris tanduk, selut perak bertatahkan blue sapphire dan sarung Palembang, semua dikerjakan oleh Irwandi di Cipadu Jakarta.

Semuanya Made in Jakarta. Bilahnya, keris Palembangan bikinan besalen GuloKlopo, di samping Museum Pusaka TMII Jakarta Timur, tahun 2018. Sedangkan hulu keris tanduk, selut perak bertatahkan blue sapphire dan sarung Palembang, semua dikerjakan oleh Irwandi di Cipadu Jakarta.
(Dok Pribadi Zarim Bin Hj Marzuki)

Petualangan keris mutakhirnya, adalah ketika Mat Jawa ini memahari keris gaya Palembang bikinan khusus besalen GuloKlopo di samping Museum Pusaka Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta Timur. Bikinan khusus, lantaran itu merupakan satu-satunya eksperimen sampai saat ini, berupa keris dengan gagrak dan garap khas Palembang. Keris yang hitam, kelengan, tetapi memiliki gurat-guratan lipatan serupa pamor namun tetap homogen itu, terbuat dari satu bahan yakni “baja sling”. Atau kawat rambut berpilih dari rambut-rambut baja. Keris ini dinamai Kiai Jlitheng. Disebut Jlitheng, lantaran bahannya hanya sejenis, baja sling tanpa dicampuri logam untuk pamor sehingga ketika bilah diwarangi warnanya hitam legam, namun ada sap-sapan serupa pamor walau hitam.

“Tidak mudah menempa baja sling,” ujar Andrianto Mastok, lurah besalen GuloKlopo, yang mengaku “kapok” tak pengen membuat keris dari baja sling, dan gaya Palembangan lagi. Selain sulit, juga umumnya pekeris Indonesia lebih suka keris-keris Jawa ketimbang keris Palembang.

Gambar kiri, proses menempa baja sling dengan cara dibungkus (ditapih) plat baja lunak atau mild steel sebelum dipanjangkan menjadi bahan bilah. Dikerjakan seluruhnya di besalen GuloKlopo, Museum TMII Jakarta Timur oleh Mas Tok Andrianto dkk. Sedangkan di sisi kanan adalah Sertifikat GuloKlopo.

Gambar kiri, proses menempa baja sling dengan cara dibungkus (ditapih) plat baja lunak atau mild steel sebelum dipanjangkan menjadi bahan bilah. Dikerjakan seluruhnya di besalen GuloKlopo, Museum TMII Jakarta Timur oleh Mas Tok Andrianto dkk. Sedangkan di sisi kanan adalah Sertifikat GuloKlopo.
(Kontributor/Purbo Kuncoro)

Proses pembuatan keris langgam Palembang berawal dari eksperimen besalen yang berniat bikin keris Palembangan dari bahan satu jenis. Dipilihlah 8 (delapan) buah sling baja rambut, atau tali baja untuk pembuatan bilahnya.

BACA JUGA  Workshop Penulisan Lontar di Perpusnas RI

Delapan baja sling disusun, dengan cara dimasukkan dalam pipa persegi dari bahan mild steel (baja lunak) yang tebalnya 4 mm. Dipanaskan dan ditempa (istilahnya menurut Pandameling Duwung, dipepeh) agar rata. Dipukul pelan-pelan, dan setelah pipih kemudian dilipat dua.

Baja sling yang sudah pipih dan dilipat dua melintang, kemudian “dionjot” (dipanjangkan) sampai 36 cm. Dipotong tiga, dionjot dan baru dipijar untuk disatukan. Setelah dipanjangkan sampai 36 cm, dipotong tiga lagi. Disatukan, dan terjadilah bahan untuk bikin kodokan dengan 7.254 lapisan atau layers. Keris Palembang kelengan ini memang sengaja dibuat tanpa slorok.

Tim penggarapnya Cak Arifin, Mas Tok Andrianto, Adi Wanto dan Purbo Kuncoro. Disain Andrianto, dan pembentu akhirnya Andrianto serta Adi Wanto. Tak cukup sampai di situ. Bilah Palembangan, yang mutrani atau ngeblak sebuah keris lurus Palembang (menurut Mat Jawa, di Melayu disebutnya dhapur keris Palembang seperti ini sebagai Keris Jalak, atau Keris Jantan) ini juga pernah menjalani tes laboratorium dengan memakai metode XRF, atas bantuan penggemar keris, Agung Prastya. Ada beberapa bilah bikinan GuloKlopo yang dites di laboratorium dengan metode yang sama.

Hasil tes, ternyata 97,27 persen Kiai Jlitheng ini terdiri dari Ferrum atau besi (Lihat Tabel). Kesimpulan hasil lab ini membuktikan, bahwa keris Palembangan bikinan GuloKlopo ini memang full keleng, tanpa pamor. Terbukti, tidak ada unsur Ni atau nikel, sama sekali meskipun kalau dilihat dari dekat bilahnya bergurat-gurat seperti ada pamornya. Seperti gurat-gurat pamor ngulit semangka, tetapi rapat.

“Saya sengaja memahari keris GuloKlopo ini, karena garapnya Palembang sekali. Orang yang melihat pertama kali, pasti tak percaya bahwa ini adalah keris Palembang baru, bikinan Jakarta Timur,” kata Mat Jawa.

“Saya banyak belajar dari senior-senior perkerisan di Indonesia,” kata Mat Jawa, yang dalam beberapa tahun terakhir praktis hampir dua bulan sekali mengunjungi Jakarta, Yogyakarta dan tempat lain perkerisan di Indonesia, seperti di Makassar. Belajar, dan terutama memahari, serta banyak memesan keris, dan menyandanginya secara lokal di berbagai tempat Indonesia.

Dan suatu ketika, Mat Jawa mengaku beruntung karena sempat pula berkunjung dan menanting keris-keris koleksi pekeris senior, Ir Haryono Haryoguritno almarhum di Rawamangun, Jakarta Timur. Dia sangat ingat, waktu ia diberi kesempatan menanting dua keris indah milik Pak Guritno, berupa keris berpredikat KK Taman Sari (Sultan Agungan, dengan kinatah Taman Sari memenuhi lebih dari separuh bilah) serta “kembaran”nya yang lebih tua, KK Taman Soka. Meski garap hampir mirip, akan tetapi Taman Soka terlihat jelas lebih tua bilahnya. Taman Soka, tangguhnya Majapahit.

Zarim bin Hj Marzuki alias Mat Jawa, alias Zack ini mengaku masih ingin berkunjung lagi ke Indonesia bulan depan, ketika Taman Mini Indonesia Indah dan paguyuban Astajaya menggelar Pameran Pesona Keris Ganan (khusus keris yang berrelief) yang dimulai 13 Desember 2019 selama sebulan penuh. *

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.