Empu Tanpa Panjak Puryadi

Empu Tanpa Panjak Puryadi
Empu Puryadi di tengah peralatan tempa bikinannya sendiri, di besalen kerisnya di desa Mungguran, Kecamatan Bleberan, Playen, Gunungkidul Yogyakarta pada Selasa (12/November/2019). Ia sepenuhnya mengerjakan sendiri keris-kerisnya sejak lima tahun terakhir, tanpa panjak, pembantu tempa. (Kerisnews.com/Tira Hadiatmojo)

Jlag jlig jlag jlig. Bunyi mesin gejlig bertalu-talu setiap kali Puryadi mengerjakan pembuatan keris di besalennya di halaman depan rumahnya di desa Mungguran, Kecamatan Bleberan Playen, Gunungkidul Yogyakarta. Sudah lima tahun terakhir “empu” Puryadi mengaku mengerjakan sendirian keris-kerisnya, dari menempa gebingan untuk bikin saton, bikin kodokan, sampai menggerinda dan melakukan pengerjaan akhir.

Empu Puryadi di depan pintu rumahnya di desa Mungguran, Gunungkidul. Mengamati keris-keris garap lama, adalah salah satu kesempatan penting baginya untuk mempelajari garap.

Empu Puryadi di depan pintu rumahnya di desa Mungguran, Gunungkidul. Mengamati keris-keris garap lama, adalah salah satu kesempatan penting baginya untuk mempelajari garap.
(Kerisnews.com/Tira Hadiatmojo)

“Bukan tidak mampu membayar. Tetapi bayar panjak itu mahal,” tutur Puryadi yang ditemui Kerisnews Selasa (12/11/2019) siang di rumahnya di Gunungkidul. Lebih mahal dari pegawai di desanya. Panjak atau pembantu tempa, di desanya minta dibayar Rp 80 ribu perhari. Maka untuk menempa tiga hari – waktu yang dibutuhkan untuk bikin gebingan dan kodokan keris – tentu saja perlu merogoh kocek paling tidak Rp 240 ribu. “Lha, termasuk makan dan rokoknya? Maka satu orang panjak perhari paling tidak Rp 300 ribu…,”

Sementara dengan “mesin gejlig” (power hammer) bikinannya sendiri? Puryadi paling-paling hanya perlu mengeluarkan biaya Rp 150.000 untuk bayar listrik perbulan. Jlag, jlig, jlag, jlig. Cepat dan efisien. Satu bilah, menurut Puryadi, pengerjaan tempanya dengan mesin gejlig hanya perlu tiga hari. Dan pengerjaan akhir (finishing) hanya dua hari.

“Sebulan pesanan setidaknya 6 bilah. Belum menservis alat-alat pertanian penduduk sekitar,” tutur Puryadi.  Sejak 11 tahun terakhir, Puryadi dikenal sebagai empu keris di desanya. Sementara sejak 29 tahun lalu, pria asli Playen kelahiran 17 Agustus 1980 (37 tahun), ia sudah dikenal suka menservis alat-alat pertanian penduduk sekitar, menempa dengan perapian sederhananya, seperti kakeknya mbah Redjo Sentono.

Peralatan tempa yang disebut Puryadi sebagai "mesin gejlig" ini semuanya bikinan sendiri, berkat melirik google. Terbuat dari benda-benda bekas yang didapat dari sekitar desanya, dari roda ban mobil bekas, sampai per-per mobil bekas untuk penahan hantaman godam.

Peralatan tempa yang disebut Puryadi sebagai “mesin gejlig” ini semuanya bikinan sendiri, berkat melirik google. Terbuat dari benda-benda bekas yang didapat dari sekitar desanya, dari roda ban mobil bekas, sampai per-per mobil bekas untuk penahan hantaman godam.
(Kerisnews.com/Tira Hadiatmojo)

Mesin gejlignya pun unik luar biasa. Maklumlah, bikinan sendiri. Semuanya bahan bekas yang bisa didapat di desanya. Telapak palunya, terbuat dari potongan as baja mobil besar dan as mobil yang lebih kecil, bisa diganti-ganti tergantung kebutuhan. Per peredam tempanya, ia buat sendiri dengan per-per mobil tanggung seperti per mobil minibus Carry ataupun Hijet.

BACA JUGA  Gelar Budaya Adiluhung Catur Sagotra Nusantara

“Satu sisi per mobil pun cukup,” kata Puryadi. Tinggal dipanaskan dan dilengkungkan, kemudian digabung beberapa lengkungan dengan kawat begel besi. Peredam dari bekas per mobil ini cukup untuk menahan beban pukulan bandul palu yang beratnya 25-30 kg. Puryadi sepenuhnya otodidak, mempelajari dari internet, youtube, dan kemudian merangkai dengan kreasi sendiri mesin gejlig tersebut.

“Di Cilandak, mesin gejlig impor harganya Rp 60 juta, mahal, nggak mampu beli,” kata Puryadi. Maka, jadilah mesin gejlig made in Playen, total bikinannya sendiri, yang pemutarnya menggunakan roda mobil lengkap dengan bannya. Motor penggerak, ia pakai  dinamo bekas dari alat gergaji belah kayu. Mesin Gejlig yang besar dinamonya 1,5 PK, sedangkan yang kecil (untuk menempa aten atau slorok keris, dan tempa-tempa yang lebih ringan) cukup 1 PK.

Mesin gejlig Puryadi ini tidak hanya untuk menggebuk besi untuk bikin saton. Akan tetapi juga bisa untuk menggejlig alat paju (pemotong) untuk memotong saton yang akan dilipatnya. Alat paju pun, khusus dibuat Puryadi untuk bisa dan kuat menahan gejligan power hammer nya….

“Dari kecil dulu sering merakit mesin Sanyo (pompa air), kalau ada orang yang menserviskan mesin pompa airnya yang nggak mampu menyedot,” kata Puryadi. Sekarang ini pun, bekas-bekas dinamo mesin pompa Sanyo, ia pergunakan untuk motor penggerak alat bubut kayu untuk membikin garan arit, atau gathul (cethok yang melengkung seperti cangkul kecil) dan peso (pisau).

Lokasi besalennya di desa Mungguran, Playen, lumayan sulit dijangkau. Sekitar 40 km dari Yogyakarta, dengan lebih dulu melalui jalan berliku di desa Dlingo, kemudian melalui hutan-hutan ke arah lokasi wisata terkenal di Gunungkidul, air terjun Sri Gethuk.

Beberapa bilah bikinan Puryadi. Ia tidak hanya mahir bikin keris-keris gagrak Yogyakarta (dua kiri) akan tetapi juga gagrak Surakarta. Dua keris Mundarang dan Sabuk Inten.

Beberapa bilah bikinan Puryadi. Ia tidak hanya mahir bikin keris-keris gagrak Yogyakarta (dua kiri) akan tetapi juga gagrak Surakarta. Dua keris Mundarang dan satu Sabuk Inten.
(Kerisnews.com/Tira Hadiatmojo)

Selama sebelas tahun sudah puluhan keris dibuatnya. Dari pesanan teman-teman bakoel, sampai “pesanan empu” lain yang kewalahan mengerjakan order pesanan. Tidak heran, lantaran Puryadi kerjanya efisien, cepat, dan garap pun diakui teman-teman pekeris Ngayogyakarta, kini mulai bagus. Gaya HB (Hamengku Buwanan) nya sudah mulai tampak. Demikian juga jika diminta ngeblak keris-keris PB (Paku Buwanan). Pokoknya cepat dan prigel. Itulah kehebatan Empu Ndeso, Puryadi ini.

BACA JUGA  Abah Wahyu, "Guru Teupa" Kujang Modern

Yang menarik dari besalen desanya ini, banyak warga desa yang “mencuri” air sepuhan keris-kerisnya. Bukan untuk menyepuh tempaan besi, akan tetapi untuk jamu. Kalau minta sama sang empu, malah ngga bakal dikasih.

“Saya sendiri nggak tahu. Mereka rupanya percaya, kalau air sepuhan keris itu konon bisa menyembuhkan…,” kata Puryadi. Maka, komplet sudah empu muda milenial namun otodidak ini menjadi tokoh di desanya. Empu keris, pande besi yang menerima servis alat pertanian orang sekitar, dan juga rupanya diam-diam….. tabib pula! *

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.