Mengungkap Kandungan Tradisi Lisan

Mengungkap Kandungan Tradisi Lisan
Kapuslitbang LKKMO membuka acara Presentasi Hasil Studi Penjajakan Penelitian “Nilai-Nilai Pendidikan Agama Dalam Tradisi Lisan di Indonesia Bagian Barat”, Senin (19/8/2019) lalu, di Lantai I Hotel Lumire, Jalan Senen Raya Nomor 135, Senen, Jakarta Pusat. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Tradisi Lisan masih penting dan tetap hidup di masyarakat selama ada hubungan timbal balik di antara keduanya. Disebut Tradisi Lisan, dan bisa menjadi Warisan Budaya Tak-Benda (WBTB), yaitu bila tradisi itu memiliki keunikan yang menampakkan kekhususan lokalitas dan masih didukung oleh komunitas.

Hal itu disampaikan oleh Pudentia, Ketua Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Pusat, di acara Presentasi Hasil Studi Penjajakan Penelitian “Nilai-Nilai Pendidikan Agama Dalam Tradisi Lisan di Indonesia Bagian Barat”, Senin (19/8/2019) lalu, di Lantai I Hotel Lumire, Jalan Senen Raya Nomor 135, Senen, Jakarta Pusat.

Acara yang diselenggarakan Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta, Bidang Lektur dan Khazanah Keagamaan ini dibuka oleh Muhammad Zen, Kapuslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan, Manajemen Organisasi (LKKMO).

Para Peneliti di acara Presentasi Hasil Studi Penjajakan Penelitian “Nilai-Nilai Pendidikan Agama Dalam Tradisi Lisan di Indonesia Bagian Barat”, Senin (19/8/2019) lalu, di Lantai I Hotel Lumire, Jalan Senen Raya Nomor 135, Senen, Jakarta Pusat. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Para Peneliti di acara Presentasi Hasil Studi Penjajakan Penelitian “Nilai-Nilai Pendidikan Agama Dalam Tradisi Lisan di Indonesia Bagian Barat”, Senin (19/8/2019) lalu, di Lantai I Hotel Lumire, Jalan Senen Raya Nomor 135, Senen, Jakarta Pusat. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Sementara, Pudentia, yang juga Dosen di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI), menjadi narasumber bersama Rusmin Tumanggor, Guru Besar di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, di acara yang dihadiri para peneliti, akademisi, dan praktisi budaya.

“Sebab kalau komunitasnya sudah tidak ada, kita tidak bisa lagi menetapkan sebagai Warisan Budaya Tak-Benda. Dia menjadi karya budaya saja di satu tempat, tetapi tidak bisa ditetapkan menjadi WBTB,” kata Pudentia yang mendapat giliran bicara setelah pemaparan para peneliti.

Bidang Lektur dan Khazanah Keagamaan, menurut  Mahmudah Nur, Ketua Tim Peneliti, telah melakukan penelitian tentang Tradisi Lisan dari tahun 2016. Di tahun 2019 ini, penelitian dilakukan di tiga wilayah Provinsi Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten.

Tepatnya, tradisi lisan yang akan diteliti yaitu Tradisi Cerita Pantun dalam acara Seren Tahun Kasepuhan Cisungsang, Lebak-Banten oleh Mahmudah Nur, Tradisi Bujanggaan di Indramayu oleh Muhamad Rosadi, Tradisi Palang Pintu di DKI Jakarta oleh Yahya Andi Saputra, Tradisi Ayun Ambing di masyarakat Lebak Wangi, Ujungberung, Kota Bandung oleh Zulkarnain Yani, dan Tradisi Kawin Cai di Kuningan oleh Saeful Bahri.

BACA JUGA  Gotong Royong dalam Arsitektur Nusantara

Dan, tujuan penelitian ini, seperti tertulis di desain operasional penelitian, yaitu untuk mengungkap dan memahami nilai-nilai Pendidikan Agama yang terkandung di dalam Tradisi Lisan di berbagai daerah sasaran penelitian.

Sementara, Pudentia mengatakan bahwa Tradisi Lisan dan pendidikan tidak pernah terpisah dari kebudayaan. Pendidikan itu adalah proses pembudayaan manusia. Jadi, inti di atas sebetulnya adalah kebudayaan. Itu sudah jelas. Dan, itu sudah ada sejak Ki Hajar Dewantoro meletakkan dasar-dasar pendidikan.

“Jadi sebetulnya ini yang sudah lama dilupakan, orang terlalu banyak bicara di pendidikan tanpa melihat sumber utama mata airnya adalah di kebudayaan,” kata Pudentia.

Mengapa Tradisi Lisan kemudian terasa penting. Menurut Pudentia, komunitas pemilik (tradisi) pada umumnya akan menerima kearifan lokal yang terdapat dalam karya budaya sebagai bentuk pengajaran awal yang akan dirasakan berharga dalam kehidupan mereka.

Sebagai contoh, Orang Manggarai (di NTT) akan mengatakan, “Menjaga persatuan dalam cara berpikir, bertutur, dan bertindak.” Sementara, Orang Bali, misalnya, akan menjaga Desa Pakraman (Desa Adat) sebagai sarana penting tumbuh kembangnya budaya asli Bali.

“Jadi yang dimaksud dengan Tradisi Lisan di sini tidak hanya yang namanya dongeng, mitologi, legenda, cerita-cerita, seperti yang banyak ditafsirkan orang,” kata Pudentia.

Narasumber dan Moderator di acara Presentasi Hasil Studi Penjajakan Penelitian “Nilai-Nilai Pendidikan Agama Dalam Tradisi Lisan di Indonesia Bagian Barat”, Senin (19/8/2019) lalu, di Lantai I Hotel Lumire, Jalan Senen Raya Nomor 135, Senen, Jakarta Pusat. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Narasumber dan Moderator di acara Presentasi Hasil Studi Penjajakan Penelitian “Nilai-Nilai Pendidikan Agama Dalam Tradisi Lisan di Indonesia Bagian Barat”, Senin (19/8/2019) lalu, di Lantai I Hotel Lumire, Jalan Senen Raya Nomor 135, Senen, Jakarta Pusat. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Tradisi Lisan, menurut Pudentia, merupakan bagian dari intangible cultural heritage, Warisan Budaya Tak-Benda. Dan, apa saja yang masuk di sini, yaitu sistem kognisi, hukum adat, sejarah lokal, pengobatan, sistem religi, astrologi, teknologi, lingkungan, cerita, dan seni.

Di satu pihak, kata Pudentia, Tradisi Lisan bisa menjadi bagian folklore, di pihak lain bukan bagian dari folklore. Apa penandanya? Yaitu ada teks, ada konteks, ada komunitas.

“Dan sarananya adalah, yang dapat kita katakan, segala wacana yang diwariskan yang tidak beraksara, itulah yang masuk dalam Tradisi Lisan,” terang Pudentia.

BACA JUGA  Memopulerkan Cerita Klasik Melalui Media Kekinian

Pudentia juga menambahkan, karena tidak beraksara, maka pengertiannya cukup luas. Sebagai contoh, Tradisi Lisan juga bisa berupa pewarisan tarian, maupun nyanyian. Jadi Tradisi Lisan, sebetulnya, pengetahuan yang ada di masyarakat tradisional yang diwariskan turun-temurun.

“Nah, ini yang belum diangkat, bagaimana pengetahuan-pengetahuan tradisional itu diangkat menjadi ilmu pengetahuan. Ini kata kunci dari Tradisi Lisan,” kata Pudentia.

Karena itu, menurut Pudentia, langkah yang perlu dilakukan yaitu pengetahuan-pengetahuan itu diteliti, dan dimasukkan ke ranah universitas, ranah pendidikan. Selanjutnya, kemudian, akan bisa menjadi bagian dari ilmu pengetahuan.

Selama ini ada salah kaprah bahwa pengetahuan-pengetahuan tradisional itu lekat dengan hal-hal magis, dan sebagainya. Dengan adanya penelitian tadi, menurut Pudentia, maka akan bisa dibuktikan bahwa anggapan seperti itu tidak benar.

Pudentia juga mencatat beberapa masalah umum yang berkaitan dengan pengetahuan tradisional, khususnya Tradisi Lisan. Pertama, pengetahuan yang sahih adalah yang tertulis dan tercetak, yang lisan relatif kurang sahih. Kedua, kajian multidisiplin kurang diminati.

Para peserta acara Presentasi Hasil Studi Penjajakan Penelitian “Nilai-Nilai Pendidikan Agama Dalam Tradisi Lisan di Indonesia Bagian Barat”, Senin (19/8/2019) lalu, di Lantai I Hotel Lumire, Jalan Senen Raya Nomor 135, Senen, Jakarta Pusat. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Para peserta acara Presentasi Hasil Studi Penjajakan Penelitian “Nilai-Nilai Pendidikan Agama Dalam Tradisi Lisan di Indonesia Bagian Barat”, Senin (19/8/2019) lalu, di Lantai I Hotel Lumire, Jalan Senen Raya Nomor 135, Senen, Jakarta Pusat. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

“Padahal belakangan kita tidak bisa demikian. Seperti di dalam Tradisi Lisan kita ya harus paham religi, kita paham musik, kita paham tari, kita paham juga praktik-praktik yang lain, yang mengikutinya, ritual dan sebagainya,” kata Pudentia tentang perlunya kajian multidisiplin.

Ketiga, Maestro Tradisi Lisan semakin berkurang dan pewarisannya tidak berjalan seperti yang diharapkan. Sementara pendokumentasian yang dilakukan belum seluruhnya terselesaikan.

“Perkara itu dimanfaatkan atau sebagai satu kekayaan, itu persoalan kedua. Tetapi kita punya dulu dokumentasinya, kan itu yang paling penting,” tegas Pudentia.

Keempat, selain ada hambatan internal dan eksternal untuk pewarisan yang tidak berjalan seperti yang diharapkan, juga keberadaan tradisi itu sendiri yang semakin berkurang atau hilang. Contoh, di tahun 1998-1999, berdasar penelitian ATL, masih ada 700-an Bahasa Daerah. Sekarang, tercatat 500-an Bahasa Daerah.

Kelima, pendekatan, teori dan berbagai konsep, kebanyakan bertumpu dari Barat. Belum bertumpu pada kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia. Dan terakhir, pendidikan tidak bermuara pada budaya lokal.

“Jadi apa? Irina Bukova, Direktur General UNESCO yang lalu, mengatakan ‘Heritage Alive’, Kekayaan Budaya harus selalu hidup. Living Tradition. Karena apa? Karena kehilangan sebuah Tradisi Lisan adalah Tragedi Kemanusiaan,” kata Pudentia.

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.