Kiai dan Nyai Abhiromo Dijamasi di GuloKlopo

Kiai dan Nyai Abhiromo Dijamasi di GuloKlopo
Grebeg Suro di Besalen GuloKlopo Museum Pusaka TMII Jakarta Timur, ditandai dengan jamasan peralatan besalen dari tang jepit, tanggem, palu, pethil, kikir sampai paron landasan tempa, Minggu (1/9/2019), bertepatan dengan 1 Suro tahun Jawa 1953 dan 1 Hijriah 1441. Juga dijamasi, pusaka yang termutakhir dibabar GuloKlopo, sebuah keris berdhapur Mundharang serta tombak berdhapur Talutur langgam PB Surakarta milik Guntur Setianto atau Bledheg Samin dari Samin House Collection, Batusari, Tangerang. (Kerisnews/Tira Hadiatmojo)

 

Air yang dipakai untuk menjamasi peralatan besalen GuloKlopo, berasal dari berbagai sumber mata air di Bogor. Sebuah ritual yang biasanya dipakai untuk menjamasi pusaka.

Air yang dipakai untuk menjamasi peralatan besalen GuloKlopo, berasal dari berbagai sumber mata air di Bogor. Sebuah ritual yang biasanya dipakai untuk menjamasi pusaka.
(Kontributor/Besalen GuloKlopo)

Grebeg Suro di sebuah sudut Museum Pusaka Taman Mini Indonesia Indah digelar dalam sebuah ritual jamasan atau mencuci dengan air kembang, perangkat peralatan pembuatan keris serta jamasan keris dan tombak babaran mutakhir Besalen Kiai dan Nyai Abhiromo yasan besalen GuloKlopo, Minggu (1/9/2019) siang.

Keris dan tombak yang berpamor wengkon ini merupakan eksperimen mutakhir besalen GuloKlopo, membikin trap pamor seperti keris terkenal era nom-noman Surakarta, Brajaguna, dengan bahan pamor nikel murni yang diulet atau dilipat, diwasuh dengan per mobil baja murni. Selama ini, umum dilakukan para pembuat keris, mewasuh saton pamor hanya dengan besi (ferrum), atau paling banter dengan baja lunak, atau mild steel.

Keris Mundharang ini dibuat dengan susunan saton pamor sapnya berjumlah 17.280 lapisan (layers) dengan saton pamor hitam untuk menutup jadi wengkon 960 lapisan (layers), slorok ati bilah dengan per mobil. Sedangkan tombak berdhapur Talutur langgam Paku Buwana, dibuat dengan saton pamor 1.920 lapisan (layers) diulet atau dilipat memakai mild steel, baja lunak. Saton pamor hitamnya 960 lapisan (layers) dengan slorok kikir bikinan Swedia.

“Mengulet saton pamor dengan baja murni, sungguh menghabiskan tenaga dan melelahkan,” ungkap Lurah Besalen GuloKlopo, Mas Tok Andrianto. Pengerjaan keris dan tombak Kiai dan Nyai Abhiromo ini merupakan produksi ke-16 dan 17, oleh besalen yang dibangun dengan biaya swadaya patungan anggota komunitas penggemar tosan aji Jakarta, Astajaya (Ajang Silaturahmi Tosan Aji Jakarta Raya). Bangunan besalen seperalatannya kemudian dihibahkan pada Museum Pusaka, sebagai pemilik lahan.

Mengolah pamor nikel murni pun, sama sulitnya dengan mengolah bahan meteorit bersertifikat seperti Campo del Cielo. Pakai sistem ‘ditapih’ (dibungkus logam) untuk ditempa jadi bahan awal pamor. Dan kali ini, napihnya tidak cukup hanya dengan besi plaat ataupun baja lunak, akan tetapi dengan baja murni, per mobil.  Agar bisa sekeras keris-keris Brajaguna era nom-noman Surakarta, yang konon dulu mampu “menembus baju zirah musuh”. Tidak mengherankan, jika pamor wengkon kerisnya, terlihat “njlebret-njlebet” (seperti meleleh tidak rapi), lantaran saton pamornya diolah pakai baja murni.

Sertifikat kedua pusaka yang dibabar GuloKlopo, Kiai dan Nyai Abhiromo. Kerisnya berdhapur Mundarang, dan tombaknya dhapur Talutur langgam PB Surakarta.

Sertifikat kedua pusaka yang dibabar GuloKlopo, Kiai dan Nyai Abhiromo. Kerisnya berdhapur Mundarang, dan tombaknya dhapur Talutur langgam PB Surakarta.
(Kerisnews.com/Tira Hadiatmojo)

Tim penggarap Kiai dan Nyai Abhiromo ada empat orang, Ki Lurah Andrianto Mas Tok, Arifin, Adhi Wanto dan Purbo Kuncoro. Khusus dua pusaka ini, calon pemilik pak Bledheg Samin juga sempat ikut menggebuk tempaan keris dan tombaknya.  Keris Mundharang, yang namanya memirip nama Senapati Kediri era Jayakatwang Mahesa Mundharang, arti harafiahnya adalah senjata gada yang lurus membesar ke ujung, yang filosofinya adalah keperwiraan, menjaga negeri, menjaga kerajaan.

GuloKlopo, besalen ini sudah sejak dua tahun silam mencanangkan diri sebagai besalen laboratorium pembelajaran keris. Kini menjadi tempat pembuatan keris satu-satunya di Jakarta, yang menerapkan sistem tempa keris seperti yang ditulis di buku panduan pembuatan keris era Paku Buwana (PB), Pandameling Duwung. Buku yang secara rinci disusun pada era pemerintahan PB X ini tidak hanya memuat rinci peralatan-peralatan pada masa awal abad ke-20 di kraton Surakarta, akan tetapi juga rinci menjabarkan langkah-langkah pembuatan keris versi keraton.

BACA JUGA  Mipis Tradisi Membuat Boreh Keraton Kanoman Cirebon

Pandameling Duwung juga menerangkan, bahan-bahan apa yang bagus dan layak dipakai untuk pembuatan keris, seperti per ayun bekas kereta, atau bahan-bahan lain yang bagus dipakai untuk pamor. GuloKlopo, sejak awal selain mempergunakan bahan pamor nikel murni pabrikan, juga memakai besi-besi industri, baja-baja kabel sling (kabel rambut dari baja), maupun bahan slorok per mobil dan bahan pamor meteorit (bersertifikat Campo del Cielo), serta bahan bekas knalpot Honda Grand ’93 dan merek lain, yang dalam penampilan sangat mirip dengan tampilan pamor meteorit yang kelabu, keperakan.

Guntur Setianto alias Bledheg Samin (kiri) ketika menerima keris berdhapur Mundharang yasan besalen GuloKlopo, Museum Pusaka TMII Jakarta Timur, Minggu (1/9/2019) dari salah satu penempanya, Purbo Kuncoro.

Guntur Setianto alias Bledheg Samin (kiri) ketika menerima keris berdhapur Mundharang yasan besalen GuloKlopo, Museum Pusaka TMII Jakarta Timur, Minggu (1/9/2019) dari salah satu penempanya, Purbo Kuncoro.
(Kontributor/Besalen GuloKlopo)

Hari pertama dalam kalender Jawa, Minggu (1/9) kemaren, juga ditandai dengan upacara sederhana penyerahan pusaka keris dan tombak Kiai dan Nyai Abhirama (Abhiromo), yasan ke- 16 dan 17 besalen GuloKlopo di pelataran barat Museum Pusaka TMII pada calon pemiliknya, Guntur Setianto. Guntur,  sehari-hari di sebuah laman medsos, dikenal sebagai Bledheg Samin dari Samin House Collection, Batusari, Tangerang.

Yang unik, selain menjamasi Kiai dan Nyai Abhiromo dengan air kembang dari berbagai mata air kawasan Bogor, juga Minggu siang itu dilaksanakan jamasan peralatan besalen berupa landasan tempa (paron), peralatan besalen tang penjepit, palu, pethil, tanggem disaksikan Kepala Museum Pusaka TMII, Rian Timadar dan staf. Peralatan yang setiap akhir pekan dipergunakan untuk menempa dan membentuk keris dan tombak oleh GuloKlopo ini, sudah berjasa setidaknya menghasilkan 17 keris dan tombak yang dipusakakan oleh pemilik-pemiliknya, dalam kurun tiga tahun terakhir.

Upacara sederhana ini, tentunya hanya melengkapi hingar bingar peringatan Tahun Baru Jawa 1 Suro 1953, sekaligus juga 1 Hijriah Tahun Baru Islam 1411 yang di Jakarta  dan berbagai kota di Pulau Jawa berlangsung beragam.

Palu, tang jepit, pethil, kikir, tanggem dan paron (kanan) yang biasa dipergunakan untuk membuat keris tim GuloKlopo, dijamasi dengan air kembang pada hari pertama 1 Suro 1953 dan 1 Hijriah 1441, Minggu (1/9/2019).

Palu, tang jepit, pethil, kikir, tanggem dan paron (kanan) yang biasa dipergunakan untuk membuat keris tim GuloKlopo, dijamasi dengan air kembang pada hari pertama 1 Suro 1953 dan 1 Hijriah 1441, Minggu (1/9/2019).
(Kerisnews.com/Tira Hadiatmojo)

Berikut ini, liku-liku proses pembikinan keris Mundharang Kiai Abhiromo bikinan mutakhir GuloKlopo ke-16. Proses awalnya, adalah melipat atau ngulet saton pamor. Bahan Nikel murni yang terdiri dari kotak @ 80 gram, dijepit pakai tiga (3) lembar per mobil, per daun dari truk, disatukan dan dipanjangkan 60 cm. Kemudian dipotong lima, ditumpuk lagi. Lapisan terakhir diberi pelindung agar tidak habis dibakar.

“Dari pengalaman, biasanya bahan saton pamor berkurang jika dipijar, maka kali ini diberi bahan pelindung saat dipanjangkan. Kalau toh nanti ada bahan pamor yang terbakar, maka yang terbakar lebih dulu adalah pelindungnya,” kata Purbo Kuncoro, salah satu tim penempanya.

BACA JUGA  Empu Kuturan, Tokoh Besar Pemajuan Kebudayaan Bali

Saton pamor untuk kedua kali dipanjangkan 48 cm. “Sebelum dipotong lagi, lebih dulu pinggiran yang untuk sisi tajam, digerinda lebih dulu untuk melihat apakah masih tersisa pelindungnya. Kalau masih tersisa? Pelindung dikikis pakai gerinda. Harus hilang, harus putih nanti bahan wengkonnya maka hitam digerinda…,”

Untuk ketiga kalinya, saton pamor dipotong dan dipijar lagi. Seperti proses sebelumnya, dipakai pelindung lagi lalu dionjot menjadi 48 cm. Proses Pemakaian bahan pelindung ini tertulis di buku Pandameling Duwung pada masa PB X di awal abad ke-20.

“Keris-keris dengan pamor-pamor miring, juga dibuatnya begitu. Tatanan saton miring, dipakai pelindung sebelum dionjot, agar tatanan tetap rapi. Kalau tidak pakai pelindung? Akan berantakan kalau dionjot dan dionjot lagi…,” kata Purbo Kuncoro.

Untuk keempat kalinya, saton dipotong lagi jadi empat. Proses sama, ditumpuk, dikasih lapisan, dipijar dan dionjot lagi menjadi 48 cm. Lalu dibersihkan lagi bahan pelindungnya yang masih tersisa, untuk kemudian kelima kalinya dipotong lagi jadi empat. Kali ini dipanjangkan hanya sampai 36 cm, lalu dipotong 3.

“Prosesnya selalu begitu. Setiap kali dipotong, lalu disatukan untuk dionjot, saton pamor dikasih bahan pelindung, dan ketika akan dipotong, dibersihkan lebih dulu dari bahan pelindung…,”

Keris Kiai Abhiromo (kiri) dan tombak dhapur Talutur, Nyai Abhiromo ketika usai disepuh dua pekan sebelum diserahkan pada pemiliknya, pak Bledheg Samin.

Keris Kiai Abhiromo (kiri) dan tombak dhapur Talutur, Nyai Abhiromo ketika usai disepuh dua pekan sebelum diserahkan pada pemiliknya, pak Bledheg Samin.
(Kerisnews.com/Tira Hadiatmojo)

Saton pamor kembali dionjot, dipanjangkan jadi 36 cm kemudian dicek, diintip apakah pamor sudah sesuai keinginan. Ternyata, masih belum sesuai. Maka kembali dipanjangkan untuk keenam kalinya, satu kali pelipatan lagi. Kembali dipanjangkan 36 cm.

Maka jadilah saton pamor wengkon yang total lapisannya ada 17.280 layers.

Kini dibuat saton hitamnya, untuk nanti menjadi bagian hitam di atas wengkon. Awalan saton hitamnya 30 layers atas lapisan. Disatukan, dipijar dan dionjot jadi 48 cm. Dipotong 4, disatukan dan dionjot lagi jadi 48 cm. Kemudian dipotong 2, selesailah saton hitam untuk sisi A maupun sisi B kodokan keris wengkon. Jumlah lapisan saton hitam tanpa pamor ada 960 layers.

Yang berikut ini adalah proses penggarapan tombaknya. Tidak seperti keris Kiai Abhiromo yang pamornya Nikel murni. Maka tombak Talutur Nyai Abhirama memakai bahan pamor knalpot Honda Grand ’93. Bahan knalpot digepengkan, dan dipotong-potong selebar 2,5 cm. Juga, ketika mengolah saton pamor, untuk tombak tidak dipakai gapit baja murni per mobil seperti Kiai Abhiromo, akan tetapi cukup pakai baja lunak (mild steel).

Saton pamor, yang susunannya 15 lembar pamor bahan knalpot, digapit selang-seling dengan baja lunak. Dipijar dan dionjot jadi 48 cm. Dipotong 4 dan disatukan lagi, dipijar, dan dionjot jadi 48 cm lagi, potong 4 lagi. Pijer onjot jadi 48 cm lagi untuk ketiga kalinya.

Setelah diodot, diperiksa dulu apakah pamor sudah sesuai atau belum. (Diperiksa caranya, saton pamor dilumuri accu zuur untuk melihat tata pamornya). Ternyata masih belum sesuai, maka kembali dipotong dan dipanjangkan menjadi 26 cm. Setelah itu dipotong 2. Disatukan kembali, dipijar, dipanjangkan dan selesai. Jadilah bahan tombak Nyai Abhiromo yang terdiri dari 1.920 layers atau lapisan.

Eksperimen GuloKlopo kali ini semakin melengkapi berbagai upaya menelusuri teknik pembuatan keris versi Pandameling Duwung sejak 1917 lalu. Dalam prosesnya, GuloKlopo juga mengolah bahan-bahan yang sulit ditempa seperti bahan meteorit bersertifikat, mengolah tali baja sling (baja rambut), ataupun yang mutakhir, mengolah saton pamor dengan lapisan baja murni per mobil. Selama ini, saton pamor keris cukup diolah memakai besi ferrum, atau paling banter baja lunak, mild steel. *

Sejumlah tamu berfoto bersama Direktur Ibu Rian Timadar (tengah) di depan besalen GuloKlopo, Museum Pusaka TMII, Minggu (1/9/2019) usai jamasan.

Sejumlah tamu berfoto bersama Kepala Museum Pusaka TMII, Ibu Rian Timadar (tengah) di depan besalen GuloKlopo, Minggu (1/9/2019) usai jamasan.
(Kerisnews.com/Tira Hadiatmojo)

Tumpengan saat selamatan penyerahan pusaka keris dan tombak Kiai dan Nyai Abhiromo, dari pemilik Guntur Setianto pak Bledheg Samin (kiri) kepada Lurah Besalen GuloKlopo, Andrianto Mas Tok di beranda besalen.

Tumpengan saat selamatan penyerahan pusaka keris dan tombak Kiai dan Nyai Abhiromo, dari pemilik Guntur Setianto pak Bledheg Samin (kiri) kepada Lurah Besalen GuloKlopo, Andrianto Mas Tok di beranda besalen.
(Kerisnews.com/Tira Hadiatmojo)

Lurah Besalen GuloKlopo, Andrianto Mas Tok (baju hitam berdiri) bercakap dengan Budiarto Danujaya, penggemar keris yang sudah sekitar 10 tahun absen bergaul di perkerisan, selepas acara jamasan. Memakai sorjan gaya Pakualaman Yogya, budayawan Romo Donny Satryowibowo yang juga pengajar dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.
(Kerisnews.com/Jimmy S Harianto)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.