Empu Kuturan, Tokoh Besar Pemajuan Kebudayaan Bali

Empu Kuturan, Tokoh Besar Pemajuan Kebudayaan Bali
Sugi Lanus, pembicara di acara Seri Diskusi Naskah Nusantara #11 bertajuk “Mpu Kuturan—Tokoh Besar Pemajuan Kebudayaan Bali : Tinjauan Lontar Jawa Kuno dan Bali”, Kamis (28/2/2019), di Perpusnas RI, Jalan Medan Merdeka Selatan Nomor 11, Jakarta. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Sampai kini, dalam penuturan tokoh-tokoh masyarakat Bali, Empu Kuturan masih disebut sebagai salah satu tokoh terbesar dalam Sejarah Kebudayaan Bali. Nama Kuturan ini, bisa dibilang, melintasi ruang dan waktu. Di prasasti-prasasti, dari abad ke-10 sampai 14, ada sebutan atau nama Kuturan.

Selain di prasasti, Empu Kuturan juga disebut di dalam lontar-lontar. Nama Empu Kuturan hadir dalam lontar Nagarakretagama, Calonarang, dan Usana Bali. Juga ada lontar-lontar lain, yang di dalamnya, menyebutkan bahwa teks dalam lontar tersebut sebagai warisan ajaran Empu Kuturan.

Menurut Sugi Lanus,             Kurator Museum Lontar, yang menjadi pembicara di acara Seri Diskusi Naskah Nusantara #11 bertajuk “Mpu Kuturan—Tokoh Besar Pemajuan Kebudayaan Bali : Tinjauan Lontar Jawa Kuno dan Bali”, Kamis (28/2/2019) pagi lalu, tentang Kuturan ini sebenarnya sudah banyak dibahas oleh para filolog.

Di dalam Nagarakretagama, misalnya, oleh filolog sudah dibahas tentang samaya (janji). Jadi, kata Sugi, ada perjanjian di masa lalu antara leluhur Majapahit dan Bali. Pewaris Bali mendapat legasi dari Empu Kuturan, sementara Jawa dari Empu Baradah. Mereka punya samaya. Samaya ini menjadi “pembenaran” untuk mengambil alih kembali Bali dari kemerdekaannya, setelah tidak ada lagi semacam garis tradisi yang “legitimate” menjadi pelanjut Kuturan.

Ari Dwipayana, Staf Khusus Presiden, saat memberi pengantar di acara Seri Diskusi Naskah Nusantara #11 bertajuk “Mpu Kuturan—Tokoh Besar Pemajuan Kebudayaan Bali : Tinjauan Lontar Jawa Kuno dan Bali”, Kamis (28/2/2019), di Perpusnas RI, Jalan Medan Merdeka Selatan Nomor 11, Jakarta. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Ari Dwipayana, Staf Khusus Presiden, saat memberi pengantar di acara Seri Diskusi Naskah Nusantara #11 bertajuk “Mpu Kuturan—Tokoh Besar Pemajuan Kebudayaan Bali : Tinjauan Lontar Jawa Kuno dan Bali”, Kamis (28/2/2019), di Perpusnas RI, Jalan Medan Merdeka Selatan Nomor 11, Jakarta. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

“Bahwa Beliau yang tidak pernah dibahas sampai detil adalah bagaimana Empu Kuturan adalah guru batin. […] Jadi ada Empu Kuturan yang masuk di dalam doa,” kata Sugi Lanus yang berbicara tentang Kuturan tidak hanya dari perspektif filologi, tapi juga sebagai pewaris tradisi doa.

Di acara diskusi yang digelar oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI bekerjama dengan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) Pusat di Gedung Teater Lantai 8, Perpusnas RI, Jalan Medan Merdeka Selatan Nomor 11, Jakarta, Ari Dwipayana, Staf Khusus Presiden, yang juga dari Puri Kauhan Ubud-Gianyar, Bali, hadir memberi pengantar diskusi.

BACA JUGA  Batik Eksplorasi Motif ASEAN

Empu Kuturan ini, kata Ari Dwipayana, bisa kita sebut sebagai sosok dan juga sebagai orang yang memiliki jabatan. Karena itu, Empu Kuturan bisa dilihat dalam dua dimensi. Dimensi pertama sebagai Senapati Kuturan, yang termuat di prasasti-prasasti. Dimensi kedua yaitu Empu Kuturan sebagai Acarya, Pendeta Siwa-Budha, yang disebutkan di lontar-lontar.

Dan, di prasasti-prasasti yang ada di salah satu di desa, kata Sugi Lanus, ada disebutkan Senapati Kuturan sebagai pewaris guru Budha yang memberikan naskah-naskah penyembuhan. Juga ada Senapati Kuturan yang berkaitan dengan penataan kawasan, tentang pajak kuda, juga merumuskan kayu-kayu yang tidak boleh dipotong.

Suasana acara Seri Diskusi Naskah Nusantara #11 bertajuk “Mpu Kuturan—Tokoh Besar Pemajuan Kebudayaan Bali : Tinjauan Lontar Jawa Kuno dan Bali”, Kamis (28/2/2019), di Perpusnas RI, Jalan Medan Merdeka Selatan Nomor 11, Jakarta. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Suasana acara Seri Diskusi Naskah Nusantara #11 bertajuk “Mpu Kuturan—Tokoh Besar Pemajuan Kebudayaan Bali : Tinjauan Lontar Jawa Kuno dan Bali”, Kamis (28/2/2019), di Perpusnas RI, Jalan Medan Merdeka Selatan Nomor 11, Jakarta. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Sementara, Kuturan yang lain, menurut Sugi, adalah Kuturan yang ada di dalam naskah yang lebih belakangan, di era Gel Gel. Yaitu Kuturan yang dalam Lontar Usana Bali.

“Di dalam beberapa naskah yang lain itu bagian daripada pengajaran. Pengajaran yang tertulis di dalam naskah-naskah. Nah, naskah-naskah yang utama yang sering di halaman depannya menyebutkan Empu Kuturan itu adalah satu ya, … di dalam pengobatan,” kata Sugi.

Naskah yang dimaksud Sugi, yaitu Lontar Taru Pramana. Di pembukaan lontar ini, disebutkan Empu Kuturan adalah seorang ahli usadha. Dan, dikisahkan dalam satu peristiwa, pohon-pohon berbicara menjelaskan apa manfaat mereka kepada Empu Kuturan. Penjelasan manfaat pohon-pohon ini, menurut Sugi, sangat detil.

“Di Bali kita punya setidaknya 38 naskah… dalam pengobatan. Tapi yang paling detil adalah Empu kuturan sistematisasinya sangat, dalam tanda kutip, sangat modern. Sudah seperti resep,” kata Sugi.

BACA JUGA  Wayang Golek Sunda di GOR Bulungan

Hal yang penting sekali dan menjadi legasi Empu Kuturan, menurut Sugi, adalah pedoman kesehatan. Yaitu bagaimana pengobatan, menjaga kejernihan pikiran dan badan, serta yang lainnya. Dan, naskah-naskah lain tentang usadha merujuk kepada naskah atau lontar Empu Kuturan, sebagai babonnya.

Naskah berikutnya yang juga penting di Bali, berkaitan dengan Empu Kuturan, yaitu naskah tentang bangunan dan tata kawasan (Lontar Indik Parahyangan). Kemudian juga ada lontar tentang subak, yaitu Lontar Dharma Pamaculan. Lontar ini, kata Sugi, merupakan naskah yang sangat mendasar untuk semua ritual dan waktu mengaliri, membibit, menanam, memotong, sampai aturan bagaimana menjemput air.

“Jadi ritual adalah pengorganisasian pertanian. […] Di dalam kalender rituallah pengorganisasian subak itu dibuat secara sistematis. Itu di dalam naskah Dharma Pemaculan,” kata Sugi.

Foto bersama seusai acara Seri Diskusi Naskah Nusantara #11 bertajuk “Mpu Kuturan—Tokoh Besar Pemajuan Kebudayaan Bali : Tinjauan Lontar Jawa Kuno dan Bali”, Kamis (28/2/2019), di Perpusnas RI, Jalan Medan Merdeka Selatan Nomor 11, Jakarta. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Foto bersama seusai acara Seri Diskusi Naskah Nusantara #11 bertajuk “Mpu Kuturan—Tokoh Besar Pemajuan Kebudayaan Bali : Tinjauan Lontar Jawa Kuno dan Bali”, Kamis (28/2/2019), di Perpusnas RI, Jalan Medan Merdeka Selatan Nomor 11, Jakarta. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Kemudian ada pedoman puja untuk para pemangku, yaitu naskah atau Lontar Kusuma Dewa. Menurut Sugi, naskah ini salah satu yang dipercaya dibuat oleh Empu Kuturan. Empu Kuturan historis yang memang berdebat dengan Baradah. Dan, yang memang merumuskan naskah itu.

“Beliau yang sebenarnya kami percaya… bahwa Empu Kuturan ini adalah tokoh historis yang meletakkan garis silsilah perguruan Paranparan, garis doa,” kata Sugi.

Sebelumnya, Ari Dwipayana saat menyampaikan pengantar, mengatakan bahwa manuskrip-manuskrip masa lalu kita adalah harta karun yang luar biasa. Sumber pengetahuan kita, dan sesungguhnya akan bisa membantu kita untuk ke depan.

“Saya kira ini harus kita jadikan semacam cara berpikir baru bahwa kita bukan saja bermodal sumber daya alam. Tapi kita juga bermodal pengetahuan yang luar biasa dari para leluhur kita di masa lalu,” ujar Ari Dwipayana.

Dan, Ari Dwipayana memperkirakan masih banyak manuskrip yang berada di keluarga-keluarga. Karena itu, menurut Ari, Perpusnas misinya bukan lagi mengambil manuskrip dari keluarga. Tapi mengedukasi keluarga-keluarga yang memiliki manuskrip untuk melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Perpusnas.

“Pertama konservasi. Setelah konservasi aksara maupun medianya, juga bicara soal digitalisasi. Yang ketiga, support dibaca dan didiskusikan. Keempat bisa bermanfaat,” kata Ari Dwipayana.

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.