Pengenalan Keris pada peserta BBM

Pengenalan Keris pada peserta BBM
Para peserta BBM sedang mengemati lebih dekat beberapa Keris yang telah disiapkan sebagai sarana edukasi oleh Tim Astadharma. (Dok. SMB)

Kamis (11/2019) sekitar pukul 18.30 Wib bertempat di Sanggar Mulya Bhakti Desa Tambi, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Beberapa anggota Paguyuban Ajang Silaturahmi  Tosan Aji Dharma Ayu (Astadharma) mulai menyiapkan segala perlengkapan untuk acara ‘Kaboran’ atau Obrolan dengan tema “mengenal lebih dekat Keris sebagai Budaya Adiluhung warisan leluhur”.

Sanggar Mulya Bhakti adalah salah satu sanggar Tari Topeng yang berada di Indramayu. Pimpinan sanggarnya adalah sang Maestro Tari Topeng yaitu Wangi Indriya atau yang sering dipanggil dengan sebuatan “Mimi” Wangi. Sanggar ini merupakan salah satu sanggar yang dipilih oleh Pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia sebagai tempat pelaksanaan program ‘Belajar Bersama Maestro (BBM)’.

Wangi Indriya, mengenakan Topeng Karakter Kelana. (Dok. Istimewa)

Wangi Indriya, mengenakan Topeng Karakter Kelana. (Dok. Istimewa)

Terdapat 15 peserta hasil seleksi Kemendikbud untuk program BBM yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. 15 Peserta tersebut datang dan menginap di Sanggar Mulya Bhakti sejak tanggal 3 sampai dengan 15 Juli 2019. Mereka berasal dari Kudus, Lumajang, Tegal, Lampung, Serang (Banten), Surabaya, Cikampek, Magelang, Banjar baru (Kalimantan Selatan), Ciwidey (Jabar), Deli Serdang (Sumut), Aceh, dan Gorontalo. Mereka selama 13 hari akan dikenalkan dan mencoba belajar menari Topeng khas Dermayon (Indramayu) yang dibimbing langsung oleh Mimi Wangi. Selain menari mereka juga mengerjakan tugas keseharian seperti menyapu, mengepel, ataupun memasak.

Ray Mengku sedang menjelaskan tentang Keris sebagai Benda Cagar Budaya. (Dok. SMB)

Ray Mengku sedang menjelaskan tentang Keris sebagai Benda Cagar Budaya. (Dok. SMB)

Salah satu Putra sang Maestro yaitu Aries Sutanto berinisiatif mengisi kegiatan dimalam hari kepada para peserta BBM ini dengan menggandeng Paguyuban pelestari Pusaka yaitu Ajang Silaturahmi Tosan Aji Dharma Ayu (Astadharma), setelah sebelumnya juga diberikan bekal berupa diskusi ringan (obrolan) mengenai sisi unik Budaya Dermayu yang dibawakan oleh Supali Kasim seorang pengamat bahasa dan budaya Indramayu (9/2019).

R. Satrio Aji menjelaskan kawruh padhuwungan kepada peserta BBM. (Dok. SMB)

R. Satrio Aji menjelaskan kawruh padhuwungan kepada peserta BBM. (Dok. SMB)

“Untuk tujuan kegiatan malam ini harapanya adalah agar para peserta BBM mendapat pemahaman mengenai pentingnya menjaga budaya Indonesia dan khususnya Keris, karena Penari Topengpun menggunakan Keris sebagai salah satu kelengkapan Propertinya” Tutur Aries Sutanto sang pengagas kegiatan yang menjadi moderator acara kepada redaksi Kerisnews.com. Selain itu sambung Aries “diharapkan agar para peserta BBM juga bangga terhadap warisan budaya yang bernilai akan ajaran berkehidupan”.

BACA JUGA  Merempos Keris Pusaka versi Wayang Diponegoro

Acara dimulai dengan pemaparan dari Ray Mengku Sutentra (Anggota Astadharma dan Tim Ahli Cagar Budaya) yang menjelaskan tentang pengertian Cagar Budaya sesuai dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Dalam pemaparannya Ray menjelaskan bahwa Keris termasuk dalam dua kategori yaitu Warisan Cagar Budaya Benda (Tangible Cutural Heritage) dan juga Warisan Benda Cagar Budaya Tak Benda (Ingtangible Cultural Heritage). Keris dalam Kategori BCB Tangible adalah dari sisi fisik Kerisnya dan segala pengetahuan teknik yang menyangkut dalam proses pembuatanya yang mencerminkan peradaban masa lalu. Sedangkan Keris dalam Kategori BCB Intangible adalah dari sisi Konsep pemikiran bentuk, nilai-nilai luhur, makna filosofis dan tentunya kepercayaan mistiknya.

Peragaan cara melolos bilah Keris dari Warangkanya. (Dok. SMB)

Peragaan cara melolos bilah Keris dari Warangkanya. (Dok. SMB)

Kemudian dilanjutkan dengan pemaparan dari R. Satrio Aji selaku Sekretaris Paguyuban Astadharma. Pemaparan lebih mengerucut kepada Kawruh (Pengetahuan) padhuwungan (tentang Dhuwung/Keris) dimana para peserta BBM dijelaskan tentang pengakuan Unesco akan Keris Indonesia, bagian-bagian dari perlengkapan sandangan Keris, bentuk dhapur, dan etika dalam memperlakukan Keris dalam berbusana dan juga kehidupan sehari-hari.

Antusias peserta obrolan terlihat ketika mereka diperkenankan untuk melihat lebih dekat dan sekaligus memegang Keris yang telah disediakan oleh Tim Astadharma di sebuah meja kecil. Kemudian acara selanjutnya adalah saling bertanya jawab karena pada umumnya anak-anak peserta BBM masih menganggap Keris sebagai benda keramat yang menakutkan, sehingga mereka masih ragu-ragu untuk memegangnya. Pada momen ini Tim memperkenalkan detil nama-nama bagian sandangan Keris dan juga menjelaskan bentuk bilah keris mengapa ada yang lurus dan belekuk serta tampilan warna bilah yang berbeda-beda (Pamor).

Interaksi dan tanya jawab saat para peserta BBM diperkenankan melihat serta memegang langsung bilah-bilah Keris yang telah disediakan. (Dok. SMB)

Interaksi dan tanya jawab saat para peserta BBM diperkenankan melihat serta memegang langsung bilah-bilah Keris yang telah disediakan. (Dok. SMB)

“rata-rata mereka bertanya tentang sesuatu yang terlihat dimata, seperti perbedaan Warangka Keris, perbedaan bilah ada yang lurus dan berlekuk, juga mereka heran dengan warna bilah yang berbeda-beda. Mereka tidak sempat bertanya mengenai makna dan filosofis karena memang pada siang harinya mereka baru saja melakukan latian Tari di Pantai, jadi sudah cukup lelah” Ungkap Ray Mengku.**

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.