Ki Ageng Suryomentaram dan Wejangannya

Ki Ageng Suryomentaram dan Wejangannya
Muhaji Fikriono di acara Jagongan Kawruh Jiwa Suryomentaram dengan tema “Semua Orang Bisa Hidup Bahagia—Mengenal Ki Ageng Suryomentaraman dan Wejangannya”, Kamis (7/2/2019) malam lalu di Wulangreh Omah Budaya, Jalan Pejaten Barat Nomor 16D, Jakarta Selatan (Kompleks Griya Patria). (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Ki Ageng Suryomentaram telah mewariskan peta yang bisa kita gunakan sebagai acuan untuk menyikapi berbagai temuan, atau penjelasan terbaru, dari berbagai ilmu dan pengetahuan yang berhubungan dengan alam semesta maupun Alam Agung.

Hal itu diungkapkan oleh Muhaji Fikriono di acara Jagongan Kawruh Jiwa Suryomentaram dengan tema “Semua Orang Bisa Hidup Bahagia—Mengenal Ki Ageng Suryomentaraman dan Wejangannya”, Kamis (7/2/2019) malam lalu di Wulangreh Omah Budaya, Jalan Pejaten Barat Nomor 16D, Jakarta Selatan (Kompleks Griya Patria).

Muhaji Fikriono adalah penulis buku “Kawruh Jiwa, Warisan Spiritual Ki Ageng Suryomentaram”. Buku Kawruh Jiwa itu, kata Muhaji, merupakan pengantar sekaligus ringkasan wejangan-wejangan Ki Ageng Suryomentaram. Dan, tema “Semua Orang Bisa Hidup Bahagia” adalah sub-judul untuk bab pertama buku Kawruh Jiwa.

Nah, peta apa yang telah diwariskan oleh Suryomentaram itu. Menurut Muhaji, peta yang sangat ringkas, yaitu menyadari dan mengakui secara jujur atas ketidaktahuan kita. Oleh Ki Ageng Suryomentaram dibahasakan dengan ungkapan, “Weruh yen ora weruh” (Tahu kalau tidak tahu).

“Tetapi sering kali kita itu memaksakan ora weruh kita sehingga kita ngira weruh, gitu. Nah, semua, apa namanya, semua kesimpulan yang berangkat dari ngira weruh itu pasti hanya berhenti pada sesuatu yang spekulatif. Jadi, Beliau menyebutnya itu keyakinan. Nanti dibedakan antara keyakinan sama kasunyatan,” kata Muhaji.

Acara yang dinamai Jagongan untuk membabar buku Kawruh Jiwa ini memang lebih berupa obrolan santai dengan diselingi tanya jawab. Sehingga materi pembicaraan mengalir mengikuti pertanyaan yang dilontarkan oleh peserta acara. Dan, malam itu adalah acara Jagongan pertama. Jagongan selanjutnya digelar setiap Kamis malam.

Muhaji mengungkapkan wejangan Suryomentaram tentang ruang dan waktu. Suryomentaram mengatakan, “Ada yang mengira ruang itu terbatas. Kalau ruang itu terbatas, maka batasan ruang itu apa?” Dan selanjutnya, “kalau ruang itu tidak terbatas, lantas kenapa ada volume?” Jadi, apa itu ruang dan waktu.

Suasana acara Jagongan Kawruh Jiwa Suryomentaram dengan tema “Semua Orang Bisa Hidup Bahagia—Mengenal Ki Ageng Suryomentaraman dan Wejangannya”, Kamis (7/2/2019) malam lalu di Wulangreh Omah Budaya, Jalan Pejaten Barat Nomor 16D, Jakarta Selatan (Kompleks Griya Patria). (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

“Ruang maupun waktu itu menurut Beliau adalah tebaning weruh. […] Jadi tebaning weruh itu adalah batasan weruh (tahu) kita, gitu. Jadi ruang dan waktu itu adalah batasan dari weruh kita, yang kemudian, apa namanya, melahirkan tidak weruh. Karena batas yang kita weruhi itu saja sebenarnya. Nah, di luar itu kita ora weruh,” terang Muhaji.

BACA JUGA  Nilai Budaya dan Agama dalam Tradisi Ritual

Sementara, menjawab pertanyaan tentang apa itu kebahagian menurut Ki Ageng, yang berkaitan tema “Semua Orang Bisa Hidup Bahagia”. Muhaji menjelaskan bahwa kata bahagia itu merupakan terjemahan paling dekat dari kata beja dalam istilah “Kawruh Beja” Suryomentaram. Dan, Muhaji sendiri memaknai beja lebih pada arti syukur.

Dan, kalau dikaitkan dengan peta Ki Ageng Suryomentaram, menurut Muhaji, adalah menyadari keterbatasan kita. Terutama yang berkaitan dengan hal weruh atau tahu. Jadi kalau orang itu, apa pun keadaannya, kalau dia weruh kenapa dia sampai seperti itu, maka dia akan menyadari.

Lebih jauh, Muhaji lantas menjelaskan weruh itu sendiri tanpa batas. Jadi weruhnya manusia itu tidak terbatas, karena batasan weruh hanyalah ora weruh. Nah, ketika manusia itu ora weruh sesungguhnya dia tetap weruh, yaitu weruh bahwa dirinya ora weruh.

“Nah, orang yang, apa namanya, bisa angon weruhnya sedemikian rupa dan tahu batasan-batasannya, itu senantiasa dia pasti akan […] tetapi paling tidak dia akan tenang, minimal tidak gumunan, tidak kagetan. Kalau ada sesuatu yang baru dia pasti terbuka,” kata Muhaji.

Jadi, menurut Muhaji, Kawruh Jiwa atau Kawruh Beja-nya Ki Ageng Suryomentaram itu sebenarnya mengajak kita untuk terbuka terhadap apa saja. Jadi tidak buru-buru ada klaim bahwa yang di luar saya pasti salah.

Masih berkaitan dengan kebahagiaan, salah satunya adalah dengan menyadari ketidak-weruh-an tadi. Berangkat dari itu maka akan menimbulkan penerimaan. Penerimaan yang aktif karena kita tahu prosesnya, bukan tiba-tiba. Jelasnya, ada kejujuran terhadap ora weruh.

“Kita ini kan seringkali ketika ada batasan, batas tertentu itu kita ora weruh, kita paksakan. Nggak, harusnya itu saya nggak begini, ini yang salah sana. makanya saya jadi begini,” terang Muhaji yang lahir di Pati, 1971.

Ki Ageng Suryomentaram, menurut Muhaji, berkaitan dengan Kawruh Jiwa, menyebutkan bahwa manusia itu terdiri dari raga dan jiwa. Jiwa ini masih disederhanakan lagi menjadi sebatas rasa. Tapi rasa ini masih bertingkat-tingkat. Ada rasa yang cethek atau dangkal, rasa yang lebih mendalam, dan rasa yang dalam sekali.

Terkait weruh, menurut Muhaji, Suryomentaram menyebutkan bahwa sesuatu yang diketahui itu ada tiga macam. Pertama, segala sesuatu yang bisa diindera itu pasti bisa diweruhi. Kedua, adalah kawruh awangan. Contohnya, satu ditambah satu ada dua. Ini tidak ada wujudnya tapi semua orang sepakat. Dan, ketiga adalah sesuatu yang dirasakan.

Foto bersama seusai acara Jagongan Kawruh Jiwa Suryomentaram dengan tema “Semua Orang Bisa Hidup Bahagia—Mengenal Ki Ageng Suryomentaraman dan Wejangannya”, Kamis (7/2/2019) malam lalu di Wulangreh Omah Budaya, Jalan Pejaten Barat Nomor 16D, Jakarta Selatan (Kompleks Griya Patria). (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

“Nah, ini peta yang ditinggalkan Ki Agung itu, itu nanti menjadi… termasuk peran kita sebagai manusia ini sebenarnya apa. Itu nanti terjawab. Jadi, ketika weruh yen ora weruh itu,” kata Muhaji yang sebelumnya telah menulis buku Makrifat Jawa untuk Semua dan Puncak Makrifat Jawa.

Menurut Muhaji, Ki Ageng Suryomentaram itu sangat rendah hati. Ketika menyampaikan sesuatu itu sesuai dengan nalar pendengarnya. Orang yang kanda (bicara) harus luluh pada yang dikandani (diajak bicara), sehingga tidak ada perselisihan. Dan tidak ada yang ungkul (merasa lebih).

BACA JUGA  Betawi di Tengah Pertumbuhan Jakarta

Ki Ageng Suryomentaram yang lahir pada 20 Mei 1892 dan wafat pada 1962 adalah putra Sri Sultan Hamengku Buwono VII. Dalam sejarah ringkas Suryomentaram, yang menurut Muhaji ditulis oleh seseorang saat Ki Ageng masih hidup dan diterbitkan setelah meninggal, disebutkan Ki Ageng Suryomentaram adalah seorang pangeran yang kecewa.

Ia kemudian kabur dari lingkungan keraton dan memilih hidup sebagaimana umumnya rakyat jelata. Ki Ageng lantas melakukan eksperimen dengan menjadikan diri sendiri sebagai kelinci percobaan.

Muhaji mempelajari Kawruh Jiwa Suryomentaraman awalnya setelah menemukan 14 jilid buku Ki Ageng Suryomentaram yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Ia, bahkan, kemudian bertemu dengan Grangsang Suryomentaram, salah satu putra Ki Ageng Suryomentaram.

“Lalu saya dikasih buku-buku yang terkait dengan Kawruh Jiwa yang saya kesulitan, gitu kan. Difotokopi sampai ada banyak sekali waktu itu. Lalu saya minta izin. ‘Kalau begitu saya kepingin ini Romo, menuliskan kasunyatannya’,” cerita Muhaji kepada KerisNews.com.

Muhaji mengaku merasa beruntung ketika kemudian tahu buku-buku Suryomentaram yang berbahasa Jawa ternyata sangat familiar baginya, karena merupakan bahasa ibu. Sehingga ia tidak memerlukan seorang filolog atau kamus-kamus.

“Saya juga belajar Ronggowarsito segala macam itu, tapi kan bahasanya itu bahasa yang sastrawi. Jadi saya memerlukan kamus khusus. Saya juga tertarik dengan Raden Sosrokartono, tapi Beliau kan menulisnya hanya sedikit,” kata Muhaji tentang kenapa ia sepertinya intens mempelajari wejangan Ki Ageng Suryomentaram.

Selain itu, Muhaji merasa mendapat penjelasan dari Suryomentaram tentang hal-hal yang sebelumnya ia mendapat kesulitan. Misalnya, Muhaji berusaha mempelajari filsafat wujud Mulla Shadra, tapi dirasa sangat rumit.

“Tetapi Ki Ageng dengan mudah menjelaskannya. Cukup dengan barang asal, yang bla, bla, bla… gitu. Wah, keren ini!” ujar Muhaji.

 

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.