Hamemayu Hayuning Bawana di Era 4.0

Hamemayu Hayuning Bawana di Era 4.0
Yogyakarta belakangan dilanda berbagai tindak intoleransi, dan bahkan usreg politik akibat Pilpres. Padahal, masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta itu sebenarnya adem, bercita-cita luhur dengan Falsafah Hamemayu Hayuning Bawana (HHB) yang bermakna kewajiban melindungi, memelihara, dan membina kebaikan dunia termasuk masyarakatnya. Ada baiknya menilik kembali falsafah adem tentrem kertaraharja ini, yang ditulis oleh Prof Amos Setiadi di bawah ini. Ilustrasi Istimewa

Falsafah Hamemayu Hayuning Bawana (HHB) bermakna kewajiban melindungi, memelihara, dan membina kebaikan dunia. Dunia mencakup keluarga, masyarakat, dan alam lingkungan dengan mengutamakan kehidupan seluruh mahluk. HHB menjadi cita-cita luhur mewujudkan kehidupan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)  yang berkelanjutan berdasarkan nilai budaya.

Oleh Amos Setiadi

Bertujuan mewujudkan masyarakat yang gemah ripah loh jinawi, ayem, tata, titi, tentrem, kerta raharja, bermuara pada kehidupan masyarakat yang damai. Bawana berarti jagad (alam kehidupan). Manusia Jawa mengenal Bawana yang terdiri: (1) Bawana driya atau alam lahiriah (alam yang tampak). Bawana driya memiliki purwa (awal) dan wasana (akhir). Sifat Bawana driya itu kasunyatan, ana (ada). Ana merupakan sesuatu yang nyata.

(2) Bawana triya, bersifat ora katon (tidak tampak), sehingga hanya bisa dihayati dengan rahsa sukma (yang tidak kekal).

(3) Bawana langgeng (alam kekal), bersifat suwung, ora owah gingsir (serba tetap) tanpa purwa dan wasana. Suwung itu hamengku ana dan ana itu ada di dalam suwung. Maka Bawana langgeng adalah suwung yang memiliki kelangsungan dari kelanggengan yang melampaui waktu dan ruang. Oleh sebab itu, alam langgeng dihayati melalui rasa sawetah yang mawana dalam Bawana. Pemahaman tentang Bawana tersebut menuntun kesadaran warga DIY tentang kediriannya dalam hidup bebrayan (bermasyarakat) supaya dalam memandang alam kehidupan itu aja dumeh (jangan sewenang), tepasarira (umpamakan diri sendiri) dan gotong royong (saling membantu). Kesadaran warga DIY sebagai kawula yaitu bahwa kawula itu bukan apa-apa, sedangkan Gusti Kang Murbeng Dumadi itu diatas segalanya.

Maka HHB merupakan lelaku (jalan hidup ngelmu) supaya eling (tumbuh rasa rendah hati, tumungkuling rasa manungsa terhadap Gusti). HHB merupakan cita-cita supaya warga DIY membangun alam kehidupan yang ideal dengan landasan hidup: landhep ing panggraita (tajam dalam rasa), meper ing karep (mengendalikan diri), alus ing wicara (halus dalam berbicara), asih ing sapada (cinta kasih pada sesama), ngemong ing liyan (menyayangi sesama), sirik ing kanistan (menjauhi budi rendah), sugih pangaksama (mudah memaafkan), grapyak sumanak (santun), becik lelabuhane (saling membantu).

BACA JUGA  Sapukala Si Pendobrak Bugis di Museum Keris Solo

Semua yang ana dalam Bawana memiliki keindahan (hayu) dalam rasa asih sejati, bukan sawetah namun nyawetah (keindahan dalam semu), maka perlu partisipasi setiap warga DIY supaya Hayuning Bawana menjadi sawetah. Partisipasi warga DIY wewujudkan HHB perlu mengingat dan dijiwai falsafah Sawiji (konsentrasi tinggi dimana seluruh sanubari terpusat pada satu tekad untuk menghasilkan yang terbaik, secara spiritual, sebagai upaya manunggaling kawula lan Gusti), Greged (dinamika semangat dan keterpukauan pada keindahan yang terkendali), Sengguh (percaya pada kemampuannya, tidak terkekang oleh pertentangan dan tidak sombong), Ora mingkuh (konsisten bertanggungjawab menyelesaikan kewajiban meskipun menghadapi kesukaran).

Dengan dijiwai falsafah Sawiji, Greged, Sengguh, Ora mingkuh, maka falsafah pembangunan HHB diharapkan akan mewujudkan keindahan alam lingkungan yang serasi antara manungsa (manusia), wana (hutan), sato (binatang), tirta (air), bantala (tanah), hawa (udara), samodra (laut), budaya (seni cipta), dan praja (negara).

HHB dalam Era 4.0

Revolusi Industri 4.0 akan berdampak pada pendapatan perkapita, kualitas hidup, usia harapan hidup, penetrasi teknologi, memudarnya ranah privasi. Dalam pembangunan wilayah DIY, HHB dalam konteks revolusi 4.0 perlu memperhatikan 3 aspek: (a) Aspek Keseimbangan Ekologi: pembangunan yang bersifat kompak, mengurangi tekanan perubahan lahan (bantala) pertanian ke non-pertanian, menjamin keseimbangan tata air (tirta), membatasi dampak lingkungan (manungsa, sato, wana, tirta, bantala, hawa), kelestarian lingkungan alam dan budaya;

(b) Aspek Pertumbuhan Ekonomi (praja): efisiensi layanan infrastruktur dan transportasi, mengakomodasi kecenderungan perkembangan sektor jasa dan perdagangan, perluasan dan diversifikasi lapangan kerja khususnya di sektor pariwisata dan perikanan laut, peningkatan nilai tambah komoditas berbasis pertanian, perikanan, dan pariwisata;

(c) Aspek Keadilan Sosial (praja): perlindungan tenaga kerja sektor pertanian, melindungi budaya perdesaan, dan mengurangi kesenjangan pendapatan sektor perkotaan dan perdesaan. Semoga dengan ketahanan falsafah lokal HHB,  Jogja Istimewa tetap lestari.

BACA JUGA  Panembahan Sumolo, Raja Sumenep yang Pandai Bikin Keris

(catatan: ditulis kembali dari draft artikel untuk surat kabar).

Dr  Amos Setiadi, Associate Professor, Pascasarjana Universitas Atma Jaya Yogyakarta

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.