Sukesi: Dari Rahimnya, Lahir Biang Kejahatan

Sukesi: Dari Rahimnya, Lahir Biang Kejahatan
Tokoh Dewi Sukesi dalam pementasan wayang orang sanggar swargaloka berjudul "Sukesi Saskara Alengka". (Dok. Istimewa)

Wanita cantik pemburu ilmu, yang tersesat oleh kemilaunya ilmu.  Dia, tanpa menyadari, melangkah salah dan menjadi media lahirnya biang kejahatan yang menggetarkan dunia manusia dan para dewa.

Dewi Sukesi, adalah putri Prabu Sumali dari Kerajaan Alengka, yang memiliki kecantikan sangat luar biasa.  Padahal, Sumali berwujud raksasa. Wajah rupawan Sukesi menurun dari ibunya yang cantik, Dewi Danuwati  –  putri Kerajaan Mantili.  Sedangkan adik Sukesi bernama Arya Sukesa,  seorang satria tampan dan sakti.

Sukesi tumbuh menjadi perempuan cerdas yang gemar ilmu dan selalu haus – bahkan sangat maniak –  dengan pengetahuan baru.  Banyak para raja dan pangeran yang menjadi fans beratnya, dan ingin mempersuntingnya.  Prabu Sumali sendiri juga resah, melihat putrinya seperti mengabaikan kodratnya sebagai perempuan – tidak tertarik dengan kaum pria.   Padahal usianya sudah cukup untuk menjalani kehidupan rumah tangga.   Beberapa kali, Sumali mengajak berembug soal itu, tapi Sukesi selalu berkelit dan banyak alasan.  Hingga akhirnya, Sumali hilang kesabarannya.  “Bila kamu tidak segera menjatuhkan pilihan, maka ayah yang akan menentukan jodohmu,” kata Sumali.

Tokoh Wayang Kulit Gunawan Wibisina. (Dok. Istimewa)

Tokoh Wayang Kulit Gunawan Wibisina. (Dok. Istimewa)

Mendengar ini, Sukesi merasa terdesak dan khawatir bila pernyataan sabdo pandito ratu ayahnya sebagai seorang raja itu akan dilaksanakan.  Padahal ketika itu, dia sedang sangat bernafsu mempelajari ilmu rahasia yang sangat sulit, yaitu Ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu.  Berbulan-bulan, dia mencari guru-guru pandai, tapi tak ada yang memahami ilmu tersebut.   Kini, kebuntuan membongkar ilmu Sastra Jendra,  akan beroleh solusi – sekalian cara ini bisa digunakan untuk menahan keinginan sang ayah.  Kalau ternyata ada orang yang mampu mengajarkannya dan membabar dengan jelas, dia bersedia menjadi istri orang tersebut.

Dewi Sukesi mengatakan kepada ayahnya, bahwa dia bersedia menikah dengan siapapun lelaki yang mampu membabar Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Prabu Sumali setengah kaget mendengar prasyarat yang diajukan, karena dia mengetahui bahwa ilmu itu adalah ilmu milik Bathara Guru, yang bersifat sangat rahasia dan terlarang untuk mahkluk mayapada.  Namun kekhawatiran Sumali atas tekanan raja-raja tetangga yang ingin memperistri putrinya, lebih besar ketimbang ketimbang bahudendho – hukuman –yang akan dijatuhkan dewa.  Sumali terpaksa menyetujui kehendak Dewi Sukesi.  Dalam pikirannya, barangkali memang ada raja atau satria yang limpad – berlebih – ilmunya yang paham Sastra Jendra. Atau, kalau tiada satupun seseorang yang paham ilmu itu, langkah itu suatu alasan bagus untuk tidak menyulut perang dengan negara-negara lain.

Maka diumumkanlah sebuah sayembara di Negeri Alengka : Barangsiapa yang bisa menjelaskan dengan gamblang ilmu tersebut, akan menjadi suami Dewi Sukesi.  Maka selebaran, koran, majalah dan semua media mengabarkan sayembara itu.   Seantero Alengka – hingga negara-negara tetangga – heboh dengan sayembara itu.  Berbondong-bondong mereka mendaftar sebagai peserta.  Tapi ternyata tidak ada satupun, raja atau satria yang paham ilmu itu.

Tokoh Wayang Kulit Dewi Sarpakenaka. (Dok. Istimewa)

Tokoh Wayang Kulit Dewi Sarpakenaka. (Dok. Istimewa)

Sementara itu, Ditya Kala  Jambumangli,  saudara sepupu Dewi Sukesi, yang juga seorang panglima perang Kerajaan Alengka, yang diam-diam sangat tergila-gila kepada sepupunya itu, mempunyai rencana sendiri. Dia menggelar pasukannya di perbatasan ibukota, untuk menahan siapapun yang bisa memenangkan sayembara itu.  Jambumangli tidak merelakan ada orang lain memboyong puteri cantik itu.

Tidak terkira banyaknya satria dan raja yang gagal untuk bisa menjelaskan ilmu tersebut.  Hingga ketika sayembara sudah berjalan beberapa lama dan akan ditutup, raja Alengka itu kedatangan tamu – yang juga seorang sahabat lama.   Tamu itu adalah Begawan Wisrawa, pertapa dari Negeri Lokapala.  Begawan Wisrawa datang ke Alengka, memang, dengan niat melamar putri itu,  yang bakal diperuntukkan bagi anaknya, Prabu Danapati – yang menjadi raja di Kerajaan Lokapala.  Wisrawa disambut dengan ramah tamah oleh sang raja.  Mereka bersahabat sejak muda – meskipun yang satu berwujud manusia tampan sedangkan satunya adalah raksasa bertubuh tinggi besar.

BACA JUGA  Menanamkan Cinta Budaya Indonesia dalam Keluarga

Wisrawa menyampaikan maksud kedatangannya, yaitu ingin ikut sayembara.  Wisrawa sebagai mantan raja dan berpengetahuan luas, sangat menguasai ilmu tersebut.  Namun ada satu halangan untuk mengajarkan ilmu tersebut.  Ada wewaler – larangan –  tidak tertulis dari dewa, bahwa siapapun dilarang  mengajarkan dan belajar ilmu  tersebut sebelum bersih lahir-batinnya.  Jauh dari hawa nafsu, dan ahli tapa. Jadi baik guru atau murid harus dalam kondisi suci lahir batin.  Bila  wewaler itu bila dilanggar, guru dan murid tersebut  akan celaka.  Namun bila itu manusia-manusia suci – bisa jadi akan menjadikannya sebagai dewa, atau tetap sebagai manusia namun telah tercerahkan – menjadi manusia yang bijaksana sekaligus sakti tiada tanding.  Suatu ilmu rahasia yang dahsyat – yang sesungguhnya hanya dimiliki dewa-dewa tertinggi di Kahyangan.

tokoh Wayang Kulit Kumbakarna. (Dok. Istimewa)

tokoh Wayang Kulit Kumbakarna. (Dok. Istimewa)

Ilmu Sastra Jendra memang suatu ilmu kebatinan yang selalu sinengker – yang tidak boleh diketahui oleh sembarang orang. Paham ilmu tersebut, akan memahami rahasia alam semesta dan seluruh kehidupan di dalamnya.  Wisrawa sadalah satu manusia yang pinilih, lebih ketimbang manusia lain, sehingga sangat memahami ilmu tersebut.  Karena takut kutukan dewa, Wisrawa membabar Sastra Jendra kepada Dewi Sukesi pada malam hari, agar tidak didengar oleh  mahkluk hidup lainnya, di tengah Taman Argasoka

Mendengar Wisrawa akan membabar ilmu itu kepada Dewi Sukesi, para dewa tidak berkenan.  Pada saat itu, di Kahyangan Jonggringsaloka, Batara Guru memutuskan untuk turun sendiri ke Taman Argasoka, untuk menghalangi kegiatan itu.  Kepergiannya diikuti oleh permaisurinya, Dewi Uma..  Mereka turun ke Taman Argasoka.  Rupanya, pembabaran tengah berlangsung.  Hampir dipastikan lokasi itu steril dari semua mahkluk hidup.  Namun rupanya ada yang diam-diam bersembunyi di dalam taman, di balik tembok.  Dia adalah Sukesa, adik Sukesi yang penasaran ingin tahu ilmu itu.  Tanpa disadarinya, karena tidak punya lambaran batin yang bersih, Sukesa terkena perbawa ilmu itu dan berubah wujud jadi seorang raksasa.  Betapa kagetnya Sukesa.  Tapi nasi telah menjadi bubur, sesal kemudian tiada guna.  Raden Sukesa nantinya menjadi Patih Alengka bernama Prahasto – yang sakti mandraguna.

Batara Guru merasuk ke wadag Begawan Wisrawa, dan Batari Uma masuk ke tubuh Dewi Sukesi.  Dengan cara itu, kedua pasangan dewa-dewi itu merangsang nafsu birahi kedua insan yang sedang ajar-mengajar ilmu langit itu.  Suasana yang sepi dan nyaman, membuat guru dan murid itu lengah.  Wisrawa dan Sukesi yang sudah kesusupan Guru dan Uma, lupa akan niat dan kehormatan mereka.  Yang ada hanya seorang lelaki dan wanita yang terlanda birahi berkobar-kobar.  Berhari-hari kedua insan itu memadu kasih layaknya pengantin baru. Lupa akan tujuan awal mereka.  Maka, Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu gagal diajarkan.

Akibat perbuatan itu,  Sukesi mengandung benih dari Wisrawa.  Dengan demikian, Prabu Sumali yang menahan kemarahannya, terpaksa menikahkan Sukesi dengan sahabatnya itu. Perkawinan yang di luar perkiraan itu membuat marah dua orang penting di lingkungan mereka. Dari pihak Sukesi, saudara sepupunya yang sakti, Jambumangli, sangat marah dan ingin membunuh Wisrawa.  Dari pihak Wisrawa, anaknya sendiri – Prabu Danapati – sangat kecewa terhadap ayahnya.  Danapati merasa dikhianati oleh ayahnya.

Tokoh Wayang Kulit Prabu Dasamuka. (Dok. Istimewa)

Tokoh Wayang Kulit Prabu Dasamuka. (Dok. Istimewa)

Jambumangli kemudian menantang duel Wisrawa. Begawan yang gagal mengendalikan hawa nafsu itu, akhirnya, bertarung dengan Jambumangli.  Wisrawa lebih unggul.  Entah memang sudah tawar kependetaannya, Wisrawa demikian sadis memperlakukan lawannya yang kalah tanding.  Tubuh Jambumangli dimutilasi.  Sebelum menghembuskan napas terakhirnya, Jambumangli mengutuk Wisrawa, bahwa nanti akan ada anaknya yang akan mengalami nasib seperti dirinya.  Dalam kisah perang Prabu Rama dari Alas Pancawati melawan Prabu Rahwana dari Alengka, Kumbakarna (anak Wisrawa dengan Sukesi) gugur dengan tubuh terpotong-potong.

BACA JUGA  Melacak Pengaruh Persia di Tanah Melayu

Sedangkan Danapati segera menuju Alengka dengan membawa prajurit segelar sepapan dari Lokapala.  Niatnya menghukum ayahnya, dan juga Prabu Sumali yang merestui perkawinan itu.  Ketika ayah dan anak itu bertemu di Alengka, keduanya berdebat panjang lebar. Danapati sangat menyalahkan ayahnya, sementara Wisrawa merasa tidak bersalah telah mengawini Sukesi.

Perang mulut itu akhirnya menjadi perang fisik.  Keduanya bertanding adu kesaktian.  Keduanya sama saktinya. Berhari-hari, tiada nampak yang bakal menang atau kalah. Pertikaian ini menimbulkan goro-goro dan mengguncang Kahyangan Suralaya.  Mahkamah para dewa mengutus Batara Narada turun ke bumi, untuk melerai pertikaian bapak-anak yang menggetarkan alam semesta itu.  Dalam mediasi konflik itu, Narada mengatakan kepada Danapati, bahwa dalam kitab takdir manusia yang dimiliki para dewa,  Sukesi memang sudah tinitah berjodoh dengan Wisrawa.  Danapati akhirnya mau mengerti dan mengikhlaskan putri idamannya itu menjadi ibu tirinya.

            Kini kedua pasangan baru itu hidup tentram di Alengka.  Sedangkan kandungan Dewi Sukesi makin membesar, hingga tiba saatnya melahirkan.  Sukesi sangat kesakitan ketika melahirkan anaknya.  Rupanya, Sukesi melahirkan jabang bayi yang berupa seonggok daging besar yang bergerak-gerak hidup.  Ketika itu binatang hutan seperti singa, harimau, serigala,  dan kera serta lainnya,  saling bersahut-sahutan mengeluarkan suara-suara yang terdengar sangat mengerikan.   Seperti nada-nada binatang bila terancam bahaya besar.   Suara-suara binatang liar itu seperti penanda akan hadirnya sebuah maha bencana yang mengusik kedamaian dunia.

Tokoh Wayang Kulit Begawan Wisrawa. (Dok. Istimewa)

Tokoh Wayang Kulit Begawan Wisrawa. (Dok. Istimewa)

Dengan kesaktiannya, Wisrawa memanjatkan mantra sakti. Maka seonggok daging besar itu terbelah menjadi empat potongan, dan kemudian menjadi empat bayi. Bayi pertama yang bersuara sangat keras, berwajah raksasa, adalah Rahwana, atau nanti ketika menjadi raja bergelar Prabu Dasamuka.  Dialah biang kerok angkara murka di dunia.  Bayi ini penuh dengan lambang nafsu amarah, kejahatan, kekuasaan dan kesewenang-wenangan.  Rahwana memiliki Aji Pancasona yang membuatnya tidak akan pernah mati sepanjang wadagnya masih menyentuh bumi.  Meskipun kepalanya terpenggal, bila potongan badan dan kepalanya menyentuh tanah, Rahwana akan hidup kembali.

Onggokan ke dua, menjadi bayi raksasa yang sangat besar. Penuh dengan nafsu aluamah, nafsu makan, tidur dan bermalas-malasan. Dia adalah Kumbakarna. Raksasa bertubuh seanakan gunung, yang suka makan-tidur,  namun sangat sakti.  Nantinya Kumbakarna yang berhati mulia ini akan gugur dalam peperangan Ramayana, yang membuat tubuhunya dimutilasi oleh panah sakti Guwawijaya, milik Prabu Rama.  Nasib tragis Kumbakarna ini persis dengan kutukan Jambumangli yang dimutilasi oleh ayah Kumbakarna, yaitu Resi Wisrawa.

Onggokan ke tiga, menjadi bayi perempuan yang juga berwujud raksasa. Diberi nama Sarpakenaka – sebagai lambang nafsu sufiah, nafsu birahi dan berfoya-foya.  Sarpakenaka, dikenal senang berganti-ganti pasangan, dan senang menghambur-hamburkan kekayaannya.  Bersenjatakan kuku panjang di tangannya, bisa dikatakan tiada satria di Alengka yang bisa mengalahkannya.

Tokoh Wayang Kulit Dewi Sukesi. (Dok.Istimewa)

Tokoh Wayang Kulit Dewi Sukesi. (Dok.Istimewa)

Onggokan daging ke empat, menjadi bayi laki yang sangat tampan, diberi nama Gunawan Wibisana, yang artinya kebijaksanaan.  Dia melambangkan  nafsu mutmainah, selalu cenderung mencari kebaikan dan kebenaran.  Karena sering mengingatkan kakaknya, Prabu Dasamuka, untuk tidak melakukan angkara murka, Wibisana diusir dari Alengka.  Satria ini justru menyeberang ke pihak musuh dan bergabung dengan Prabu Ramawijaya.  Dia menjadi penasehat perang yang mumpuni.  Di bawah nasehatnya, kejahatan yang berpusat di Alengka bisa ditumpas habis.

Sepenggal kisah pewayangan yang menarik, yang mungkin masih ada relevansinya dengan kehidupan manusia zaman sekarang.  Setinggi apapun predikat seseorang yang dianggap suci dan menguasai ilmu agama, kalau hawa nafsu tidak bisa dikendalikan, ilmunya akan menyeretnya ke nestapa yang paling dalam.  Dan bagi kaum awam seperti kita, telitilah memilih guru spiritual, karena di tangan guru palsu terkadang kita menjadi tersesat.

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.