Menengok Kamar Diponegoro

Menengok Kamar Diponegoro
Peter Carey saat memberi sambutan di acara “Soft Opening, Kamar Diponegoro”, Senin (12/11/2018) sore, di Museum Sejarah Jakarta, Jalan Taman Fatahillah No 1, Jakarta. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Dari cerita maupun kisah, bahkan dari pelajaran sejarah, kita hanya mendengar dan mengetahui Pangeran Diponegoro (1785-1855) ditangkap di Magelang, lantas dibawa ke Semarang. Dan, kemudian ke Batavia sebelum akhirnya diasingkan ke Manado dan juga Makassar.

Tapi, siapa sangka di Balai Kota Batavia, sekarang Museum Sejarah Jakarta, ternyata ada kamar yang pernah ditempati Diponegoro sebagai ruang tahanan. Di tempat itu, Pangeran Diponegoro bersama istrinya, Raden Ayu Retnoningsih, adik perempuannya, Raden Ayu Dipowiyono, saudara ipar, Raden Tumenggung Dipowiyono, dan 16 punakawan, pengikut serta pembantu, menunggu keputusan pengasingan ke Sulawesi.

“Diponegoro ditempatkan di sini selama 26 hari. Ia didatangkan ke sini pada bulan April 1830,” kata Peter Carey saat memberi sambutan di acara “Soft Opening, Kamar Diponegoro”, Senin (12/11/2018) sore, di Museum Sejarah Jakarta, Jalan Taman Fatahillah No 1, Jakarta.

Jelasnya, Pangeran Diponegoro dipenjara di Stadhuis atau Balai Kota antara tanggal 8 April sampai 3 Mei 1830. Dan, kamar tahanan Diponegoro ini merupakan apartemen pribadi seorang sipir (Kepala Bui) di Kota Batavia. Sipir ini wajib mengosongkan apartemennya jika ada tahanan politik berstatus tinggi, seperti Diponegoro, memerlukan ruangan untuk tinggal sementara.

Pengunjung menaiki tangga menuju ke Kamar Diponegoro yang berada di sayap barat Gedung Balai Kota, saat acara “Soft Opening, Kamar Diponegoro”, Senin (12/11/2018) sore, di Museum Sejarah Jakarta, Jalan Taman Fatahillah No 1, Jakarta. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Pengunjung menaiki tangga menuju ke Kamar Diponegoro yang berada di sayap barat Gedung Balai Kota, saat acara “Soft Opening, Kamar Diponegoro”, Senin (12/11/2018) sore, di Museum Sejarah Jakarta, Jalan Taman Fatahillah No 1, Jakarta. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Di bawah kamar yang terletak di sayap barat Gedung Balai Kota ini adalah penjara wanita. Cut Nyak Dien (1848-1908), komandan perempuan dari Aceh, pernah ditahan di penjara wanita ini pada 1902. Lebih ke bawah lagi terdapat ruang bawah tanah tempat narapidana berstatus rendah. Kiai Mojo (sekitar 1792-1849) dan 62 pengikutnya pernah dipenjara di ruang bawah tanah ini dari Januari 1829-Februari 1830, sebelum mereka dikirim ke Manado.

BACA JUGA  Jejak Sebaran Keris Nusantara ke Eropa

“Waktu Diponegoro di sini walaupun singkat… Dia sempat menulis surat kepada Ibunda… dan juga putra sulung,” kata Peter Carey yang sempat memandu para peserta acara Soft Opening ke kamar tahanan Diponegoro.

“Dengan segala sembah sujud kepada Ibu, saya menyampaikan kepadamu bahwa nasib baik telah menyertai dalam seluruh perjalanan saya, tidak beda dengan di Magelang. Adapun alasan mengapa saya memberitahukan hal ini adalah agar Ibu tidak sampai cemas memikirkan saya,” begitu bunyi sebagian kutipan dari surat Pangeran Diponegoro kepada sang ibunda, Raden Ayu Mangkorowati.

Sementara, di dalam surat kepada Pangeran Diponegoro Muda, putra sulung, Diponegoro, salah satunya, menyampaikan salam dan doa kepada sang putra sulung dan juga kepada semua adik-adiknya. Juga berpesan mereka jangan merasa cemas.

Selama di tahanan Stadhuis ini, tercatat, Pangeran Diponegoro juga mengunyah sejumlah besar sirih, meminum jamu (temulawak, beras kencur) untuk mengatur demam malaria. Hal lain yang tidak kalah penting, yaitu dibuatnya sketsa Pangeran Diponegoro oleh Adrianes Johannes (Jan) Bik (1790-1872).

AJ Bik ini adalah pemangku hukum Batavia dan pengawas Pangeran Diponegoro selama berada di tahanan Balai Kota Batavia. Bik ini juga seorang seniman yang mengawali karirnya sebagai pelukis piring porselin. Pekerjaan yang membuatnya terbiasa melukis dengan cepat.

Meja tulis yang dipakai Pangeran Diponegoro saat di Stadhuis. Selama 26 hari ditahan di Stadhuis/Balai Kota, Diponegoro sempat menulis surat kepada Sang Ibunda dan putra sulungnya. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Meja tulis yang dipakai Pangeran Diponegoro saat di Stadhuis. Selama 26 hari ditahan di Stadhuis/Balai Kota, Diponegoro sempat menulis surat kepada Sang Ibunda dan putra sulungnya. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Di Kamar Diponegoro ini, pengunjung bisa melihat beberapa hal menarik, di antaranya lukisan penangkapan Diponegoro di Magelang, 28 Maret 1830, oleh Raden Saleh, daftar tiga anggota keluarga dan 16 pengikut yang menyertai Diponegoro saat di Stadhuis, ruang pribadi dan meja tulis yang dipakai Pangeran Diponegoro.

BACA JUGA  Mitos Joko Thole dan Kuda Megaremeng

“Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Beliau ketika… bertahan di sini… Dan sudah diputuskan bahwa putra-putranya tidak ada yang bersedia untuk ikut,” kata Ki Roni Sodewo, keturunan ke-7 Pangeran Diponegoro, saat memberi sambutan.

Selain itu, pengunjung bisa membaca renungan Pangeran Diponegoro di atas Kapal Korvet Pollux waktu berlayar dari Teluk Batavia saat fajar menyingsing di jam lima pagi, Selasa 4 Mei 1830. Ada beberapa informasi menarik yang bisa didapatkan dari renungan Pangeran Diponegoro saat menuju ke Manado itu.

“Keris pribadi saya, Kiai Ageng Bondoyudo, tetap berada di tangan saya waktu saya naik Korvet Pollux ini pada hari Senin, 3 Mei 1830, pukul sembilan pagi dengan tiga anggota keluarga dan 16 pengikut saya,” ungkap Pangeran Diponegoro di renungannya di atas Kapal Korvet Pollux.

Disebutkan pula, meski Pangeran Diponegoro saat berlayar itu dikawal dan diawasi dengan ketat oleh 50 serdadu, tetapi ia merasa diperlakukan dengan sikap yang bersahabat.

Sketsa Pangeran Diponegoro dan foto Adrianes Johannes (Jan) Bik, pemangku hukum Batavia dan pengawas Pangeran Diponegoro selama berada di tahanan Balai Kota Batavia. AJ Bik ini adalah seniman yang membuat sketsa Diponegoro. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Sketsa Pangeran Diponegoro dan foto Adrianes Johannes (Jan) Bik, pemangku hukum Batavia dan pengawas Pangeran Diponegoro selama berada di tahanan Balai Kota Batavia. AJ Bik ini adalah seniman yang membuat sketsa Diponegoro. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Pangeran Diponegoro, di renungan itu, juga mengungkapkan bahwa kehidupan di pengasingan akan menjadi saksi tumbuh mekarnya bakat sastra yang dimilikinya. Diponegoro rupanya sudah merencanakan untuk menulis sebuah karya otobiografi yang lengkap.

“Dan berkat Pak Peter Carey dan teman-teman ahli sejarah yang lain, bisa diketahui persis ruangan yang digunakan sebagai tempat penahanan Pangeran Diponegoro pada tahun 1830 tersebut,” kata Sri Kusumawati, Kepala Unit Pengelola (UP) Museum Kesejarahan Jakarta, saat memberi sambutan di acara yang dihadiri Keluarga Pangeran Diponegoro, Wardiman Djojonegoro, dan tamu undangan lainnya.

Sri Kusmawati, yang secara resmi membuka acara Soft Opening Kamar Diponegoro, juga menginformasikan bahwa Grand Launching rencananya akan dilakukan pada bulan Maret 2019.

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.