Badik Salapu dari Kepulauan Selayar

Badik Salapu dari Kepulauan Selayar
Badik Salapu khas Pulau Selayar, Sulawesi Selatan. Tidak semua Salapu Sulawesi memakai luk dan kadobue (sekar kacang). Ada juga Salapu yang lurus, dengan ciri punggung bilah 3/4 majal atau tumpul dan sepertiga tajam. Koleksi Jimmy S Harianto. Kerisnews/Tira Hadiatmojo

Dari sosoknya yang khas, senjata tradisional Nusantara ini disebut sebagai Badik Selayar. Dari konstruksi bilahnya di Sulawesi disebutnya Salapu. Badik yang disebut sebagai Salapu, punggung bilahnya biasanya dua pertiga tumpul atau majal, dan sepertiganya tajam. Ada Salapu yang hanya lurus bilahnya, ada pula yang pakai luk atau lekuk ujungnya.

Kepulauan Selayar – yang memanjang di lepas pantai Sulawesi Selatan — merupakan salah satu di antara 24 kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Selatan yang memiliki kaitan sejarah dengan kerajaan besar Majapahit di Jawa Timur di abad ke-14. Tidak heran, jika salah satu model badiknya pun terpengaruh sosok senjata tradisional yang dibawa Majapahit, yakni keris.

Badik Selayar tertentu menampilkan luk di sepertiga ujung bilahnya, dan bahkan pakai “sekar kacang” atau kembang kacang, yang dalam bahasa Bugis disebutnya sebagai “Kadobue” atau ada juga yang menyebutnya sebagai “Kanuku Serra”. Badik Selayar seperti ini, sudah ada sejak ratusan tahun lalu namun belakangan mulai diproduksi lagi.

Tidak seperti halnya badik-badik Luwu di Sulawesi Tengah yang umumnya memakai teknik “baja gantung” (slorok baja tidak disisipkan di tengah, akan tetapi digantungkan di sisi tajam badik). Maka Badik Selajar, memakai teknik “slorok baja disisipkan di tengah” seperti halnya slorok baja pada bilah-bilah keris di Jawa. Teknik baja slorok yang disisipkan di tengah, juga dikenal pada Badik Makassar yang disebutnya sebagai Badik Lompobattang. Badik bugis Bangkung, juga pakai teknik slorok sisip di tengah seperti ini.

Negara Krtagama

Selayar juga disebut dalam catatan pujangga Majapahit terkenal, Mpu Prapanca dalam bukunya Negara Krtagama. Selayar (sanskrit ‘cedaya’) mengandung arti satu layar, karena konon dulu banyak  perahu satu layar yang singgah di pulau ini.

BACA JUGA  Tombak yang Bikin Muntab Meluap

Selain menjadi bagian dari rute perdagangan menuju pusat rempah-rempah di Moluccan (Maluku), juga Pulau Selayar di Sulsel ini menjadi tempat singgah para pedagang untuk mengisi perbekalan sembari menunggu musim yang baik untuk berlayar, menunggu angin yang baik.

Tentang Mpu Prapanca sendiri, pujangga Majapahit ini pernah singgah di Sulawesi – tepatnya di Kedatuan Luwu di Sulawesi Tengah pada 1364. (Edward Poelinggomang, 2006). Prapanca menengok putri Majapahit yang sudah beberapa tahun sebelumnya menikah dengan anak Datu Luwu Simpurusiang yang bernama Anakaji. Sepulang dari Luwu, Mpu Prapanca singgah di Malaka untuk menyelesaikan bukunya Negara Krtagama pada 1365. Armada Majapahit di bawah Laksamana Nala – bagian dari pasukan Gajah Mada – dituturkan sempat singgah di Selayar.

Dalam kitab hukum pelayaran dan perdagangan, Amanna Gappa (abad ke-17), Selayar disebut-sebut sebagai salah satu daerah tujuan niaga karena letaknya yang strategis sebagai tempat transit baik untuk pelayaran menuju ke Timur ataupun ke Barat. Disebutkan dalam naskah itu, bahwa bagi orang yang berlayar dari Makassar ke Selayar, Malaka, dan Johor, sewanya 6 riyal dari tiap seratus orang.

Selayar boleh dikata adalah pelabuhan internasional pada masanya, di abad ke-14. Jejak-jejak keberadaan orang Tiongkok, bahkan sudah ada sejak abad ke-13. Bermula pada tahun 1235 M, Raja Tallo I Makkadae Daeng Mangrangka melakukan perjalanan ke negeri Tiongkok, dan menikah dengan putri penguasa setempat yang bernama Nio Tekeng bin Sie djin Kui. Sepulang dari Negeri Tiongkok, Raja Tallo mampir dan bermukim di Kampung Bonto Bangun Selayar. Selama di Selayar, Raja Tallo melahirkan putra dan putri di antaranya Sin Seng (putra), Tian Lay (putra) dan Shui Lie (putri) dan menjadi cikal bakal nenek moyang orang Tionghoa di Selayar.

BACA JUGA  Tosan Aji Sebagai Gejala Bahasa bagi Masyarakat Jawa

Kolonial Belanda juga pernah memerintah di Selayar, pada tahun 1739. Selayar ditetapkan sebagai sebuah karesidenan dimana residen pertamanya adalah W Coutsier (1739-1743). Dan berturut-turut kemudian Selayar diperintah oleh orang Belanda sebanyak 87 residen atau yang setara dengan residen, seperti Asisten Residen, Gesagherbber, WD Resident atau Controleur.

Selayar lebih merupakan gugusan pulau, sebuah kabupaten kepulauan yang secara keseluruhan jumlah pulaunya ada 130 buah, dengan 7 di antaranya terkadang tidak terlihat atau tenggelam di laut pada saat air pasang. Luas wilayahnya daratannya mencapai 1.357,03 km persegi, hanya (12,91 persen) sedangkan wilayah lautannya 9.146,66 km persegi atau (87, 09 persen).

Tahun Hari Jadi Selayar diambil dari tahun masuknya agama Islam di Kabupaten Kepulauan Selayar, yang dibawa oleh Datuk Ribandang. Masuknya Islam ditandai dengan masuk Islamnya Raja Gantarang, Pangali Patta Radja yang kemudian bernama Sultan Alauddin, pemberian Datuk Ribandang. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1605, sehingga ditetapkan Hari Jadi Kabupaten Kepulauan Selayar adalah 29 November 1605. *

Sumber:

Kedatuan Luwu, Perspektif Arkeologi, Sejarah dan Antropologi Edisi ke-2 (Iwan Sumantri, 2006), Pamor dan Landasan Spiritual Senjata Pusaka Bugis (Ahmad Ubbe, 2011), Senjata Tradisional Daerah Sulawesi Selatan, (Pananrangi Hamid dkk, 1987, 1988), dan beberapa sumber lain.

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.