Seminar dan Pameran Keris di FKUI

Seminar dan Pameran Keris di FKUI
Dekan FKUI memotong pita sebaga tanda dibukanya Pameran Keris Nusantara di acara “Seminar & Pameran Keris”, pada Sabtu (6/10/2018) pagi, yang digelar oleh ILUNI FKUI di IMERI FKUI, Gedung B, Lantai 3, Jalan Salemba Raya 6, Jakarta Pusat. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

ILUNI FKUI (Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia) gelar acara “Seminar & Pameran Keris”, pada Tanggal 6-7 Oktober 2018, di IMERI FKUI, Gedung B, Lantai 3, Jalan Salemba Raya 6, Jakarta Pusat.

Acara bertema “Lestari Budaya Merajut Nusantara” ini, berlangsung sebagai persembahan 40 Tahun Pengabdian ILUNI FKUI 1978, dan diselenggarakan bekerjasama dengan Padepokan Keris Brojobuwono dan Universitas Indonesia (UI).

“Pameran (dan Seminar) ini adalah bagian dari upaya ILUNI FKUI untuk menarik perhatian publik kepada pelestarian keris dan berkomitmen dalam mengenalkan, melestarikan, serta memberikan edukasi kepada masyarakat terkait perkerisan di Indonesia,” kata Bambang Gunawan, Ketua Panitia, yang juga dari ILUNI FKUI Angkatan 78, di Pengantar Buku Pameran, bertajuk “Pameran Keris Nusantara”.

Sementara, Ari Fahrial Syam, Dekan FKUI, saat memberi sambutan mengungkapkan bahwa di Lambang Yayasan Kanker Indonesia itu ada ular dan ada keris. Jadi seorang dokter harus mempunyai semangat keris di dalam dirinya.

Bambang Gunawan, Ketua Panitia, saat memberi sambutan di acara “Seminar & Pameran Keris”, pada Sabtu (6/10/2018) pagi, yang digelar oleh ILUNI FKUI di IMERI FKUI, Gedung B, Lantai 3, Jalan Salemba Raya 6, Jakarta Pusat. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Bambang Gunawan, Ketua Panitia, saat memberi sambutan di acara “Seminar & Pameran Keris”, pada Sabtu (6/10/2018) pagi, yang digelar oleh ILUNI FKUI di IMERI FKUI, Gedung B, Lantai 3, Jalan Salemba Raya 6, Jakarta Pusat. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

“Artinya dengan semangat keris ini, semangat buat para dokter itu untuk bisa menuntaskan semua… sampai sembuh. Itu saya rasa semangat keris,” kata Ari Fahrial Syam, yang kemudian secara resmi membuka acara seminar.

Dan, di acara seminar yang berlangsung pada hari Sabtu (6/10/2018) pagi, hadir sebagai pembicara, yaitu : Mpu Totok Brojodiningrat, Ketua Bidang Tradisi SNKI, Basuki Teguh Yuwono, Dosen Prodi Keris dan Senjata Tradisional, ISI Surakarta, Bambang Gunawan, Pendiri Padepokan Brojobuwono, Ernie H Purwaningsih, dari FKUI, dan Amin Soebandrio, dari Lembaga Biologi Molekular Eijkman, sebagai Moderator.

Mpu Totok Brojodiningrat, yang berbicara dengan topik “Sekilas Tentang Keris Indonesia”, mengatakan bahwa konsep budaya keris tidak seperti yang diinformasikan di dalam televisi, ditayangkan di bioskop, yang mengidentikkan keris dengan jin, dengan kodham, dah produk makhluk halus lainnya.

“Keris tidak ada sangkut pautnya, tidak ada gendeng celengnya dengan jin, kodham, atau makhluk halus penunggu,” tegas Mpu Totok Brojodiningrat.

Lantas, kalau dikatakan bahwa keris mempunyai “isi”, mempunyai daya linuwih, angsar atau apa pun namanya di dalam bahasa lokal, apa maksudnya? Menurut Mpu Totok, keris memang mempunyai daya linuwih, tapi semua itu adalah natural.

“Ada perpaduan dari empat unsur, yang di dalam konsep leluhur kita, […] yaitu wesi purosani, wesi mangangkang, wesi mangambal, wesi balitung. Ini mewakili empat unsur atau anasir geni, bumi, banyu, angin atau nafsu amarah, aluamah, sufiah, mutmainah,” ujar Mpu Totok.

Suasana seminar, pada Sabtu (6/10/2018) pagi, yang digelar oleh ILUNI FKUI di IMERI FKUI, Gedung B, Lantai 3, Jalan Salemba Raya 6, Jakarta Pusat. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Suasana seminar, pada Sabtu (6/10/2018) pagi, yang digelar oleh ILUNI FKUI di IMERI FKUI, Gedung B, Lantai 3, Jalan Salemba Raya 6, Jakarta Pusat. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Nah, ketika keempat unsur itu disatukan dan dibakar dengan suhu tertentu, maka menurut Mpu Totok, berkumpullah elektro-elektron kosmis yang menyebabkan adanya energi yang muncul, sesuai yang diinginkan. Hal seperti ini menjadi PR dan juga tugas bagi generasi selanjutnya.

Sedangkan, Basuki Teguh Yuwono, sebagai pembicara kedua, mengawali pembicaraan dengan mengutip ungkapan dari naskah-naskah perkerisana lama yang menyebutkan, “Keris iku dolanane wong pinter”. Artinya, bicara keris identik dengan aspek keilmuan, yang ilmiah dan rasional.

Keris sendiri, menurut Basuki Teguh Yuwono, merupakan puncak peradaban tertinggi dalam bidang seni tata logam yang berakar dari persenjataan. Namun dalam perkembangannya meninggalkan fungsi dasarnya sebagai senjata, dan lebih mengedepankan pada koridor makna-nilai falsafah dan filsafat yang ada di dalamnya.

“Tapi sayangnya di dalam kontes perkembangan sekarang, informasi-informasi substansial di dalam dunia perkerisan yang sudah demikian bias membuat catatan di masyarakat menjadi sangat jauh. Sehingga dari ke hari keris meninggalkan esensi pesannya yang di mana mencerminkan tentang konsep kemerdekaan, konsep kejujuran dan kepasrahan, serta esensi  koridor makna yang lainnya, menjadi keris identik dengan benda klenik dan sebagainya,” kata Basuki Teguh.

Penyerahan keris sebagai kenang-kenangan kepada Dekan FKUI, Ari Fahrial Syam, di acara “Seminar & Pameran Keris”, pada Sabtu (6/10/2018) pagi, yang digelar oleh ILUNI FKUI di IMERI FKUI, Gedung B, Lantai 3, Jalan Salemba Raya 6, Jakarta Pusat. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Penyerahan keris sebagai kenang-kenangan kepada Dekan FKUI, Ari Fahrial Syam, di acara “Seminar & Pameran Keris”, pada Sabtu (6/10/2018) pagi, yang digelar oleh ILUNI FKUI di IMERI FKUI, Gedung B, Lantai 3, Jalan Salemba Raya 6, Jakarta Pusat. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Basuki lantas memberi ilustrasi, ketika keris dikasih bunga yang tujuannya mengingatkan pada koridor makna nilai di dalam keris yang tervisual secara indah dari dapur dan pamornya, lantas dianggap memberi makan setan. Tapi ketika kita mengasih bunga ke orang yang kita kasihi, orang berpikirnya menjadi berbeda.

BACA JUGA  Drama Tari Sumpah Putra Nusantara

Budaya perkerisan, menurut Basuki Teguh, memang begitu rumit, bahkan menjadi salah satu dari empat dasar untuk membangun struktur pondasi kerajaan-kerajaan di Nusantara. Pertama, yang disebut undagi atau ilmu arsitektur, kedua ilmu sastra, ketiga ilmu pengobatan atau kedokteran, dan terakhir ilmu perkerisan atau yang disebut dengan istilah penggandring.

“Sayangnya dari empat ini, tiga sudah bertranformasi dengan hebat, keris masih tertatih-tatih. Ketika kita mencanangkan tentang krisologi, kami hadir ke kampus-kampus, ke sekolah-sekolah, sebagian besar justru menolak,” ujar Basuki Teguh Yuwono, yang berbicara dengan topik “Keris dalam Perspektif Keilmuan”.

Kampus-kampus dan sekolah-sekolah itu menolak karena dianggap akan mengajarkan ilmu musrik dan ilmu dukun. Padahal, menurut Basuki Teguh dalam paparannya, keris merupakan karya budaya masyarakat Nusantara yang mampu menunjukkan tingkat pencapaian peradaban tertinggi dalam bidang seni tempa logam.

Dalam pandangan masyarakat Nusantara, menurut Basuki Teguh, keris merupakan budaya adiluhung asli (local genius) cipta budaya masyarakat Indonesia. Keris hadir dalam ruang waktu perjalanan sejarah dan mampu menembus sekat kedaerahan dan melaluinya menjadi salah satu pemersatu Budaya Indonesia.

Bahkan, keris dalam falsafah hidup masyarakat Jawa merupakan salah satu simbol kesempurnaan hidup, yaitu jika terpenuhi wismo, turonggo, wanito, kukilo, dan curigo atau keris.

 

Curigo, simbol tanggung jawab dan kemantapan di dalam setiap dia berpikir dengan segala kepentingannya. Kepentingan dalam konteks spiritual, kepentingan dalam konteks sosial, dan lain sebagainya,” kata Basuki Teguh.

Basuki, selanjutnya, juga berbicara tentang konsep kelahiran keris, estetika keris, keris sebagai simbol identitas, golongan masyarakat perkerisan dan pelaku budaya keris, tingkat pemahaman masyarakat terhadap budaya keris, pengetahuan keris, dan langkah-langkah menuju Krisologi.

“Konsep kelahiran keris di sini sebetulnya menunjukkan hubungan manusia dengan Tuhan. Bapa Angkasa, Ibu Bumi. Sesuatu yang dari langit disimbolkan dengan meteorit, yang dari perut bumi disimbolkan dari biji besi. Dia disatukan,” kata Basuki Teguh.

Meteorit ini banyak mengandung nikel. Nikel ini liat dan tidak mudah berkarat, tapi tidak tajam. Sementara sifat besi itu liat tapi sayangnya juga tidak tajam. Sedang sifat baja itu tajam, sayangnya mudah patah. Ketika ketiganya dicampur maka lahirlah motif ornamentif di permukaan bilah keris.

Karakteristik keris, salah satunya, didasari konsep memayuhayuning bawana. Alam sebagai sumber inspirasi, segala penciptaan bersifat penggabungan dan tidak bersifat tunggal.

“Di mana sarat simbol-simbol yang ada di dalamnya. Jadi keris adalah identik dengan sesuatu yang bersifat seperti teks. Di zaman dahulu umumnya adalah bahasanya tidak bersifat verbal seperti kita sekarang,” ujar Basuki.

Karena itu, misalnya, di zaman dahulu orang bisa tahu dari mana seseorang itu berasal dengan hanya melihat bentuk warangka keris yang dipakainya. Kalau bentuk warangkanya perahu Pinisi pasti dari Sulawesi, bentuk perahu besar seperti bentuk perahu-perahu di Palembang, pasti pemiliknya dari Palembang.

BACA JUGA  Nasib Pusaka Wiralodra

Dan, masih kata Basuki Teguh, keris adalah suatu teks baik dalam konteks sosial maupun spiritual. Dalam konteks estetika keris ada dua dua wilayah, yaitu wilayah fisik dan non-fisik. Atau keindahan yang terindra dan yang tidak terindra. Bisa juga dikatakan sebagai Keindahan Luar dan Keindahan Dalam.

Keindahan Luar (tangible) adalah kaidah estetika Timur bersandar pada sugesti alam sebagai persembahan kepada Tuhan, yaitu : wangun, pamor, dhapur, garap, sukat (ukuran atau proporsi). Sedangkan Keindahan Dalam, yaitu : greget (kesan ekspresi), guwoyo (kesan magi), angsar (kesan fungsi magi), perbowo (kesan tampilan).

“Nah, berkaitan Keindahan Dalam inilah […] dianggap sebagai sesuatu yang klenik, sebagai sesuatu yang dukun. Sebetulnya ada kaidah-kaidah di sana karena masuk di dalam wilayah estetika. Pendekatan ilmiah di sana pun akan bisa dengan mudah kita gali,” ujar Basuki Teguh.

Masyarakat perkerisan, menurut Basuki Teguh, terbagi dalam dua wilayah, yaitu penganut mitis dan penganut ilmiah. Penganut mitis berkaitan dengan aspek kepercayaan, seperti mitologi, angsar, guwoyo, magi, rajah, mantra, tangguh, sukat. Dan penganut ilmiah berkaitan dengan sejarah, teknologi, estetika, ekonomi, simbol, dan fungsi.

Untuk pelaku budaya perkerisan, dibedakan jadi dua macam, yaitu masyarakat pelaku, seperti empu dan mranggi, juru wangun, juru warangan, konservator, dan masyarakat penikmat, seperti kolektor, pedagang, dan kurator.

Pada zamannya, keris adalah ilmu yang sinengker atau dirahasiakan. Kenapa perlu dirahasiakan? Salah satunya karena terlalu rumit pada masanya. Hal ini pula yang membuat ilmu perkerisan dimonopoli oleh golongan bangsawan. Karena membuat keris juga identik dengan persenjataan.

“Sampai tertulis dengan sangat jelas, sebuah kerajaan yang berwibawa adalah

hitunglah jumlah empunya, hitunglah jumlah keris pusakanya. Karena itu akan menunjukkan tentang legitimasi kekuatan medan,” kata Basuki Teguh.

Dan, pengetahuan atau ilmu tentang keris juga berkembang. Dari semula sebagai hal yang sinengker atau dirahasiakan, lantas kemudian menjadi Bowo Rasa, hanya soal rasa, dibincangkan hanya berdasar rasa. Lantas menjadi Kaweruh, yang sering diplesetkan, karena kaweruh maka kalau tidak weruh atau tahu juga tidak apa-apa. Terakhir adalah Krisologi.

Pengunjung menyaksikan workshop penciptaan keris di acara “Seminar & Pameran Keris”, pada Sabtu (6/10/2018) pagi, yang digelar oleh ILUNI FKUI di IMERI FKUI, Gedung B, Lantai 3, Jalan Salemba Raya 6, Jakarta Pusat. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Pengunjung menyaksikan workshop penciptaan keris di acara “Seminar & Pameran Keris”, pada Sabtu (6/10/2018) pagi, yang digelar oleh ILUNI FKUI di IMERI FKUI, Gedung B, Lantai 3, Jalan Salemba Raya 6, Jakarta Pusat. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

“Bahwa Krisologi akan lahir ketika banyak perspektif masyarakat mampu memandang dunia perkerisan ini secara utuh. Jangan hanya terjebak mistiknya, jangan hanya terjebak karena mahalnya, jangan terjebak karena dianggap sebagai sesuatu identifikasi yang sangat lokal, dan sebagainya. Kita pandang secara aspek ilmu,” kata Basuki Teguh.

Sementara, Bambang Gunawan, pembicara selanjutnya, mengatakan bahwa ketika UNESCO menetapkan keris sebagai “a Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity”, kita selain ada kebanggaan, juga ada kewajiban dan tanggung jawab, termasuk upaya untuk melestarikannya.

“Nah siapa yang mestinya melestarikan? Ya masyarakat, terutama masyarakat perkerisan, masyarakat umumnya, perorangan maupun kelompok dan organisasi,” kata Bambang Gunawan yang berbicara dengan topik “Pelestarian Keris Indonesia”.

Sedangkan pembicara terakhir, Ernie H Purwaningsih, dalam makalahnya yang bertajuk “Peran Kampus dalam Upaya Pelestarian Budaya Nusantara” menuliskan bahwa setiap jenis ilmu apa pun yang dikembangkan, seyogyanya menggunakan falsafah Bio-Psikho-Spirito-Sosio dan Kultural (BPSSK).

“Budaya Nusantara yang wajib dikaji dan dilestarikan antara lain adalah bahasa daerah, jamu, batik, makanan tradisional, alat transportasi tradisional, dan lainnya, dalam konsep ke-Bhinneka Tunggal Ika-an,” ujar Ernie, yang dari ILUNI FKUI 78.

Di acara seminar ini juga hadir Wakil Rektor I UI, Dekan FIB UI, Wakil Ketua Umum SNKI, dan dari Instituto Italiano di Cultura Jakarta. Selesai seminar kemudian dibuka secara resmi Pameran Keris yang digelar di Auditorium 2 di gedung yang sama.

Selain memajang sekitar 130 keris dari Padepokan Keris Brojobuwono, dan 26 keris karya para mahasiswa ISI Surakarta, di Pameran Keris juga ditampilkan 12 manuskrip kuno, buku-buku perkerisan, besi bahan keris, dan Workshop Penciptaan Keris oleh Padepokan Keris Brojobuwono.

 

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.