Sapukala Si Pendobrak Bugis di Museum Keris Solo

Sapukala Si Pendobrak Bugis di Museum Keris Solo
Keris Bugis Sapukala Leko Taji buatan besalen GuloKlopo di TMII Jakarta Timur, ketika diserahkan oleh Joko Murdianto (kiri) pekeris senior dari Paguyuban Tosan Aji Astajaya Jakarta, kepada RM Agus Triatmojo (kanan), ketua Panpel Gelaran Lima Besalen dan juga Ketua Paguyuban Bratasura Surakarta. Keris ini menjadi koleksi baru Museum Keris Nusantara di Jalan Bhayangkara 2 Surakarta. (Kontributor/Paguyuban Bratasura)

Ketika menerima keris Sapukala Lekko Taji Bugis hasil garapan besalen GuloKlopo pada 15 September 2018 lalu, Kanjeng Agus (RM Agus Triatmojo) tersenyum cerah lantaran besalen yang domisilinya di Taman Mini Jakarta Timur itu ternyata malah “paling disiplin dalam memenuhi target penyelesaian pusaka” untuk diserahkan menjadi koleksi Museum Keris Nusantara di Jalan Bhayangkara 2 Solo.

“Padahal, sampai tadi malam belum ada kejelasan penyelesaian keris dari dua besalen lainnya…,” ungkap Kanjeng Agus, Ketua Paguyuban Bratasura Surakarta.  Keris Sapukala Bugis yang digelari oleh teman-teman besalen GuloKlopo dari Paguyuban Astajaya Jakarta dengan nama, “La Mulagau” (dimulainya di sini), diserahkan langsung untuk menjadi koleksi baru Museum Keris Nusantara di Solo, oleh Ki Joko Murdianto seorang pekeris senior Astajaya. Penyerahan dilangsungkan di Museum Keris Nusantara di Solo.

Ketika Paguyuban Tosan Aji Bratasura menggelar Festival Lima Besalen di Museum Keris Nusantara di Jalan Bhayangkara 2 Surakarta – memahargya setahun diresmikannya museum tersebut oleh Presiden Joko Widodo – Besalen GuloKlopo yang domisilinya di Taman Mini Jakarta Timur kebagian tugas membuat keris khas Bugis, Sapukala.

Keris Sapukala Leko Taji, buatan besalen GuloKlopo di TMII Jakarta Timur, beserta sertifikat. Keris dengan empat warna pamor ini, dibuat dalam waktu sebulan sejak pertengahan Agustus lalu, untuk kemudian diserahkan ke Museum Keris Nusantara di Surakarta sebagai koleksi baru museum.

Keris Bugis Sapukala Lekko Taji, buatan besalen GuloKlopo di TMII Jakarta Timur, beserta sertifikat. Keris dengan empat warna pamor ini, dibuat dalam waktu sebulan sejak pertengahan Agustus 2018 lalu, untuk kemudian diserahkan ke Museum Keris Nusantara di Surakarta sebagai koleksi baru museum.
(Kontributor/Purbo Kuncoro)

Mulai digebuk dan digarap langsung dari nol di pelataran parkir di belakang Museum Surakarta, dan setelah diselesaikan dengan batas waktu sebulan, keris tersebut sudah harus diserahkan ke museum.

“Ketika gelaran berakhir (festival digelar 9-11 Agustus 2018), sebenarnya kami sudah mulai menggerinda kodhokan, sementara beberapa teman di besalen sebelah masih menggebuk bakalan,”ungkap Mas Tok Andrianto, lurah besalen GuloKlopo kepada KerisNews.

Sesampai di Jakarta, praktis teman-teman kru penempa GuloKlopo yang terdiri dari Mas Tok Andrianto, Arifin, Adie Wanto, Abdul Fatah dan Purbo Kuncoro tinggal menyempurnakan dengan pamor “gedhakan” sehingga, jadilah kemudian bilah Sapukala Lekko Taji dengan empat warna pamor (catur warna). Dalam bahasa Bugis, Sapukala Lekko Taji yang dibabar GuloKlopo itu mengetengahkan  ‘ure’ (pamor) Ma dulang-dulang, Mata Puro, Timpa Laja dan Lamanu.

Ure Ma Dulang-dulang (Piring Emas) itu kalau di Jawa ya seperti motif pamor Wulan-wulan. Sedangkan Mata Puro, seperti pusaran-pusaran kecil kalau di Jawa disebutnya Pamor Sumber. Adapun Timpalaja, adalah “bubungan rumah” di Jawa disebutnya pamor Ujung Gunung di pangkal bilah. Sedangkan ure Lamanu, di Jawa disebutnya “Tapak Jalak”…

Dua pekeris Solo, Anjar Sumirat (kiri) dan Aras ketika menanting keris Sapukala Bugis "La Mulagau" bikinan besalen GuloKlopo di TMII Jakarta Timur, pada pertengahan September 2018 ini.

Dua pekeris Solo, Anjar Sumirat (kiri) dan Aras ketika menanting keris Sapukala Bugis “La Mulagau” bikinan besalen GuloKlopo di TMII Jakarta Timur, pada pertengahan September 2018 ini.
(Kontributor/Paguyuban Bratasura)

Lima besalen dari Jakarta dan Surakarta yang diberi tugas untuk menyelesaikan lima buah keris baru untuk koleksi Museum Keris Nusantara di Solo, adalah besalen Brojobuwono dari Sragen Surakarta, besalen Condrodimuko Surakarta,  besalen Meteor putih Surakarta, besalen Wiryocurigo Surakarta, dan besalen GuloKlopo dari Taman Mini Indonesia Indah di Jakarta Timur.

BACA JUGA  Aktor Pemicu Perang Diponegoro

Brojobuwono yang dipimpin dosen ISI Surakarta, Basuki Teguh Yuwono, kebagian membuat keris Sumatera, Bangkinang atau keris Panjang. Sedangkan besalen Condrodimuka pimpinan pekeris muda, Rony Krist, ditugasi membuat keris Luk Lima dhapur Pendowo Cinarita dengan cengkok atau gaya Majapahit.

Besalen Meteor putih pimpinan empu dan instruktur senior ISI Surakarta, Daliman, mendapat pesanan untuk membuat keris dhapur Carang Soka luk 9 dengan cengkok atau gaya Segaluhan Jawa Barat. Sementara besalen Wiryocurigo – yang di antaranya mengetengahkan ‘empu wanita’ Intan Anggun Pangestu (lulusan pertama Program Studi Keris ISI Surakarta) kebagian bikin keris lurus berdhapur Jalak Sangutumpeng dengan cengkok nom-noman Surakarta. Besalen Wiryocurigo dipimpin Andi, anak mendiang empu Suyanto Wiryocurigo.

Sedangkan besalen GuloKlopo – satu-satunya peserta dari luar Surakarta – mendapat tugas bikin keris Bugis Sapukala. Keris Lekko Taji yang “diputrani” adalah keris pusaka milik sesepuh Bugis di Jakarta, Ahmad Ubbe. “Rencana tahun depan akan mengundang lebih banyak besalen, termasuk Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi,” ujar Kanjeng Agus, tentang gelaran festival besalen yang akan dilaksanakan tahun depan.

Karena besalen Sumatera belum ada yang muncul, kata Kanjeng Agus, sementara yang ditugaskan untuk membuat keris Sumatera ya besalen GuloKlopo di Jakarta Timur. GuloKlopo adalah besalen yang dibangun dengan dana swadaya Paguyuban Astajaya pimpinan Cakra Wiyata. Setelah selesai dibangun, besalen dihibahkan ke Museum Pusaka  di Taman Mini Jakarta Timur.

Anggota besalen GuloKlopo dan Paguyuban Astajaya Jakarta, ketika bersilaturahmi ke tokoh perkerisan Bugis di Jakarta, Ahmad Ubbe (berpeci) di kediamannya di Cipinang, Jakarta Timur pertengahan Agustus. Dari kiri, lurah besalen Mastok Andrianto, Purbo Kuncoro (penempa), Jimmy S Harianto, Ardan dan Arifin (penempa), serta Ahmad Ubbe.

Anggota besalen GuloKlopo dan Paguyuban Astajaya Jakarta, ketika bersilaturahmi ke tokoh perkerisan Bugis di Jakarta, Ahmad Ubbe (berpeci) di kediamannya di Cipinang, Jakarta Timur pertengahan Agustus. Dari kiri, lurah besalen Mastok Andrianto, Purbo Kuncoro (penempa), Jimmy S Harianto, Ardan dan Arifin (penempa), serta Ahmad Ubbe.
(Kontributor/Tira Hadiatmojo)

Di kalangan masyarakat Bugis, keris khas mereka yang bentuknya lurus melengkung ke arah pucuk disebutnya sebagai Sapukala Lekko Taji. Sedangkan yang lurus tanpa lengkung disebut Sapukala Bataloka. Meski arti harafiahnya sebenarnya adalah sapu rata, namun sebagai senjata tikam Sapukala — yang jika digenggam sisi tajamnya menyilang ini — juga disebut sebagai “senjata pendobrak”.

BACA JUGA  Keris Pusaka Wiralodra

“Sejak 1905 orang-orang Bugis sudah tidak memakai keris lagi. Tetapi sekarang? Hampir di semua kabupaten mereka pakai keris lagi…,” tutur Ahmad Ubbe, sesepuh Bugis di Jakarta yang ditemui Kerisnews dan juga rekan-rekan dari besalen GuloKlopo Taman Mini, pertengahan Agustus 2018 lalu.

Orang Bugis, selain dikenal sebagai pelaut andal di Nusantara, juga adalah pembuat bilah keris, pedang dan badik (mereka disebutnya “panre” atau pandai besi), berkat kekayaan alam mereka yang teramat melimpah, berupa besi laterit (batu-batuan besi) serta nikel di pegunungan Verbeek sekitar Danau Matano di Sulawesi Tengah dan Selatan.

Teman-teman dari besalen GuloKlopo sebelum membuat tugasnya, keris Bugis Sapukala, lebih dulu bersilaturahmi dengan salah satu pakar senior keris Bugis, Ahmad Ubbe di Cipinang, Jakarta Timur sepekan sebelum bertolak ke Surakarta. Ahmad Ubbe pulalah yang memberi nama dan gelar keris Sapukala “yasan” besalen GuloKlopo Taman Mini ini dengan julukan “La Mulagau”.

Selain memiliki ratusan bilah keris Bugis, pedang Bugis dan tombak Bugis, Ahmad Ubbe (di Facebook dikenal dengan nama Abe Ubbe) adalah juga penulis buku “Pamor dan Landasan Spiritual Senjata Pusaka Bugis” (Gramedia Pustaka Utama, 2011). Disamping juga, ia adalah Rektor sebuah perguruan tinggi Litigasi Hukum di Jalan Salemba Tengah, Jakarta Pusat.

Menurut Ahmad Ubbe, Perjanjian Bungaya atau Bongaya antara kerajaan Gowa di Sulawesi dengan pemerintah kolonial Kumpeni VOC di tahun 1616, tidak hanya mematikan berbagai potensi bangsa Bugis dan Makassar di bidang kemaritiman maupun persenjataan tradisional. Akan tetapi juga potensi Makassar sebagai pelabuhan internasional semenjak dulu.

“Padahal, pada abad ke-17 di kerajaan Gowa sudah ada semacam kementerian yang mengurusi Pekerjaan Umum seperti bikin bata merah, perahu, senjata, semacam Departemen Pembuatan Senjata…,” ungkap Ahmad Ubbe, yang dikenal juga dengan buku karyanya, “Pamor dan Landasan Spiritual Senjata Pusaka Bugis” (2011).

Kekayaan besi di Sulawesi tidak hanya dibuktikan dengan adanya catatan, bahwa kerajaan besar di Sulawesi, Luwu, pada abad ke-17 tidak hanya mengekspor dalam jumlah yang besar besi untuk keris ke Majapahit di Jawa timur. Akan tetapi juga, Luwu berbesanan dengan Majapahit di era penulis sastra Mpu Prapanca ketika putri Mojo, We Tapakcina dinikahkan dengan Anak Aji, putra Simpurusiang seorang Datu (raja) dari Kedatuan Luwu. Prapanca bahkan sempat menengok putri Majapahit tersebut, sebelum singgah di Malaka untuk menyelesaikan bukunya yang terkenal, Nagarakretagama di abad ke-17.

Nah, semoga dengan dibabarnya keris Bugis sebagai salah satu koleksi baru Museum Keris Nusantara di Solo ini, akan menjadi pemicu semakin dikenalnya keris-keris luar Jawa, di Museum Solo yang mayoritas koleksinya adalah keris-keris Jawa, baik itu gaya Surakarta maupun Yogyakarta. *

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.