Lesbumi Kota Depok Gaungkan Strategi Kebudayaan Islam Nusantara

Lesbumi Kota Depok Gaungkan Strategi Kebudayaan Islam Nusantara
Joglo Nusantara di Setu Pengasinan, Depok, tempat Lesbumi NU Kota Depok menggelar “Silaturahmi Budaya dan Tasyakuran Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-73 Republik Indonesia (RI)”, Minggu (19/8/2018) lalu. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Nahdlatul Ulama (NU), Kota Depok menggelar “Silaturahmi Budaya dan Tasyakuran Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-73 Republik Indonesia (RI)”, Minggu (19/8/2018) lalu, di Joglo Nusantara, Setu Pengasinan, Sawangan, Depok.

Di acara itu juga berlangsung Pengukuhan Pengurus Lesbumi NU Kota Depok oleh Ketua PC NU Kota Depok, Ngaji Budaya, Workshop wayang, Pemberian Piagam kepada para Pegiat  dan Pelestari Budaya, Ritual Budaya Sunda Wiwitan, dan Pertunjukan Wayang Tavip oleh Ki Dalang Budi Ros.

“Kita akan memperkenalkan Strategi Kebudayaan Lesbumi, yaitu yang kita sebut Saptawikrama. Jadi NU, di bawah Lesbumi dalam bidang seni dan budaya, kita mencoba memberi kontribusi kepada bangsa, itu membuat strategi kebudayaan,” kata Romo Donny S Ranoewidjojo, Ketua Lesbumi NU Kota Depok, setelah pengukuhan Pengurus Lesbumi.

Saptawikrama, seperti yang dikatakan Romo Donny, jelasnya adalah Tujuh Strategi Kebudayaan Islam Nusantara.

Romo Donny mengambil contoh negara Jepang. Bangsa Jepang, yang tidak semajemuk Bangsa Indonesia, sangat konsen bagaimana sebagai sebuah bangsa perlu membangun dengan strategi kebudayaan tertentu. Sementara, Indonesia yang memiliki kekayaan dalam keberagaman tidak ada duanya di dunia, menurut Romo Donny, secara umum belum mengumumkan bagaimana strategi kebudayaan Indonesia itu.

Para Pengurus Lesbumi NU Kota Depok  dan Ketua PC NU Kota Depok foto bersama setelah acara pengukuhan di acara “Silaturahmi Budaya dan Tasyakuran Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-73 Republik Indonesia (RI)”, Minggu (19/8/2018) lalu, di Joglo Nusantara, Setu Pengasinan, Sawangan, Depok. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Para Pengurus Lesbumi NU Kota Depok dan Ketua PC NU Kota Depok foto bersama setelah acara pengukuhan di acara “Silaturahmi Budaya dan Tasyakuran Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-73 Republik Indonesia (RI)”, Minggu (19/8/2018) lalu, di Joglo Nusantara, Setu Pengasinan, Sawangan, Depok. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Salah satu poin strategi kebudayaan yang dilakukan Lesbumi yaitu menghimpun dan mengonsolidasi gerakan yang berbasis adat, tradisi, dan budaya Nusantara. Karena, menurut Romo Donny, masing-masing mempunyai adat dan istiadat. Termasuk bahasa yang berbeda-beda.

“Sudah hak prerogatif Gusti Allah yang memilihkan kita lahir di Nusantara. Dan dipilihkan lahir di etnis tertentu. Jadi di situ ada titipan dari Gusti Allah untuk menjaga, untuk berwilayah di situ. Nah, perbedaan itulah rahmat, dan saling mengenal,” ujar Romo Donny yang juga aktif di Komunitas Perkerisan.

Poin lainnya yaitu bagaimana menghidupkan kembali seni budaya yang beragam dalam ranah Bhinneka Tunggal Ika berdasarkan nilai kerukunan, kedamaian, toleransi, empati, gotong-royong, dan keunggulan dalam seni, budaya dan ilmu pengetahuan.

“Banyak yang belum paham budaya, hanya disangkutkan dengan seni. Asal ada apa-apa, oh budaya ini seni. Padahal budaya itu sangat luas sekali,” kata Romo Donny yang juga menjadi Koordinator Divisi Sastra, Folklor, Permainan Dedaktik Lesbumi PBNU.

Romo Donny memberi contoh, misal, orang Jawa memanggil kakak lelaki dengan panggilan “Mas”, atau “Mbak” untuk kakak perempuan. Dan, orang Batak memanggil kakeknya dengan sebutan “Opung”. Itu sudah merupakan budaya. Bahkan, perbedaan itu juga budaya.

“Bagaimana semua kognisi-kognisi budaya. Bagaimana tata cara kemasyarakatan, pola kekeluargaan, apa pun. Pola komunikasi dalam masyarakat yang terhimpun dalam ranah Bhinneka Tunggal Ika, ranah Nusantara ini, itu bagaimana kita hidupkan. Karena nuwun sewu banyak yang sudah hilang,” ujar Romo Donny.

Penyerahan piagam kepada Heri Gon’ku Syaefudin (dari Joglo Nusantara) sebagai Pegiat Budaya dan Lingkungan Hidup, di acara “Silaturahmi Budaya dan Tasyakuran Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-73 Republik Indonesia (RI)”, Minggu (19/8/2018) lalu, di Joglo Nusantara, Setu Pengasinan, Sawangan, Depok. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Penyerahan piagam kepada Heri Gon’ku Syaefudin (dari Joglo Nusantara) sebagai Pegiat Budaya dan Lingkungan Hidup, di acara “Silaturahmi Budaya dan Tasyakuran Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-73 Republik Indonesia (RI)”, Minggu (19/8/2018) lalu, di Joglo Nusantara, Setu Pengasinan, Sawangan, Depok. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Selanjutnya, salah satu poin strategi kebudayaan lainnya, yaitu mengutamakan prinsip juang berdikari sebagai identitas bangsa untuk menghadapi tantangan global. Romo Donny mengatakan kita dititipi tanah ini oleh Gusti Allah bukan untuk diserahkan ke bangsa lain. Dan, kita dibolehkan lahir di sini berarti kita ditugasi untuk menjaga. Untuk menjaganya kita harus punya identitas yang membenarkan bahwa kitalah penjaganya, karena ini amanah dari Gusti Allah.

BACA JUGA  Gelar Budaya Adiluhung Catur Sagotra Nusantara

“Itu panduan strategi kebudayaan dari Lesbumi Pusat. Nanti kita terjemahkan Saptawikrama itu ke daerah. Nah, setiap daerah punya karakter sendiri-sendiri. Makanya akan punya devisi yang berbeda-beda. Kita sangat fleksibel, setiap daerah berhak mengembangkan sesuai dengan karakter daerahnya masing-masing,” terang Romo Donny kepada KerisNews.com tentang program Lesbumi NU Kota Depok ke depan.

Untuk Kota Depok, kata Romo Donny, akan lebih konsen ke paguyuban, padepokan, komunitas-kominitas. Karena di situlah identitas dan jiwa Kota Depok. Depok merupakan salah kota dengan jumlah komunitas terbanyak, baik dari komunitas lingkungan, hobi, maupun seni, dan lainnya.

Sementara Abdullah Wong, yang mengisi acara “Ngaji Budaya” bersama Gus Sastro, dan didampingi Romo Donny, mengatakan dari dulu sebenarnya tidak ada masalah bicara tentang Islam Nusantara. Tapi karena konstelasi politik menjadikannya lain. Kemudian sosok Islam Nusantara ini menjadi seperti problem, bahkan dianggap sebagai problem syar’i, problem idiologis.

“Saya akan coba merunutnya itu ke tradisi untuk kemudian masuk ke apa yang selama ini sebenarnya menjadi prinsip, yang bahkan orang yang menentang Islam Nusantara sekalipun sudah melakukan. Bedanya belum ada namanya,” kata Abdullah Wong yang merupakan Sekjen PP Lesbumi PBNU.

Abdullah mengatakan bahwa setiap manusia itu, tinggal di mana pun, pasti tidak lepas dari bagaimana dia membiasakan dirinya dengan kebiasan-kebiasaan yang ditempa sejak kecil. Sementara, segala sesuatu yang dilakukan karena doktrin, karena ajaran sebenarnya bukan kemurinian. Itu semu.

Suasana “Ngaji Budaya” yang digelar di ruang terbuka saat acara “Silaturahmi Budaya dan Tasyakuran Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-73 Republik Indonesia (RI)”, Minggu (19/8/2018) lalu, di Joglo Nusantara, Setu Pengasinan, Sawangan, Depok. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Suasana “Ngaji Budaya” yang digelar di ruang terbuka saat acara “Silaturahmi Budaya dan Tasyakuran Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-73 Republik Indonesia (RI)”, Minggu (19/8/2018) lalu, di Joglo Nusantara, Setu Pengasinan, Sawangan, Depok. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Misal, jika ada orang tidak mencuri karena tahu ada aturan hukum larangan mencuri maka tindakan dia menjadi tindakan etis atau moral. Yang sebenarnya bukan keluar dari nuraninya, tapi lebih karena doktrin.

“Jika perilaku manusia demikian, mengikuti segala sesuatu lebih karena doktrin maka andai saja ada doktrin lain yang lebih kuat, mungkin akan terkalahkan. Apalagi ditemukan dalil-dalil baru yang memungkinkan orang ini merasa apa yang sudah dilakukan sebelumnya menjadi keliru,” terang Abdullah yang saat bicara di Ngaji Budaya ditimpali suara siter yang dimainkan oleh Romo Donny.

Jadi, selama yang digunakan adalah perangkat doktrin sebagai upaya pembenaran kita, maka asumsi-asumsi hanya akan terus menjadi pegangan kita. Misal, menolong karena ada anjuran untuk menolong, atau kalau menolong mendapat pahala. Itu tidak murni, tidak fitrah.

Lantas, adakah suatu perilaku yang murni. Abdullah Wong menyebutnya sebagai perilaku apa adanya. Contohnya, respon seorang pesilat yang telah intens berlatih. Saat tengah bertarung, gerakannya lebih sebagai respon yang bersifat apa adanya. Seperti refleks.

Bisa dibayangkan kalau kegiatan kita sehari-hari minim refleks, minim respon. Tapi semuanya pura-pura. Misal, supaya kelihatan saleh saya harus menggunakan perangkat-perangkat tertentu. Kata Abdullah itu menyakitkan karena kepalsuan yang dilakukan. Ibarat seorang aktor, tampil di atas panggung sadar bahwa dirinya hanya memerankan sebuah peran.

BACA JUGA  Memperingati Hari Pengakuan Keris oleh UNESCO

“Pertanyaannya kemudian apakah dia benar begitu. Apakah kita benar seperti apa yang kita tampilkan,” ujar Abdullah yang lantas menyitir suatu pendapat, bahwa amal itu hanya tampilan, sementara inti dari amal itu adalah adanya ikhlas di dalamnya.

Abdullah Wong kemudian melihat bahwa kata tradisi dalam Bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari Bahasa Inggris, tradition. Sementara kata tradition dalam Bahasa Inggris dipakai sebagai padanan atau untuk memaknai kata sunah. Sunah Rasulullah dalam Bahasa Inggris, The tradition of the Prophet Muhammad. Jadi, kata tradition yang kemudian menjadi tradisi, sebenarnya sedang mengatakan sunah.

“Kita kembali ke prinsipnya Rasulullah. Sunah itu kan segala apa yang dikatakan, yang diperbuat, termasuk afirmasinya Nabi, mendiamkan atau melarangnya itu, menjadi lakunya Nabi,” terang Abdullah.

Ritual Budaya Sunda Wiwitan di acara “Silaturahmi Budaya dan Tasyakuran Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-73 Republik Indonesia (RI)”, Minggu (19/8/2018) lalu, di Joglo Nusantara, Setu Pengasinan, Sawangan, Depok. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Ritual Budaya Sunda Wiwitan di acara “Silaturahmi Budaya dan Tasyakuran Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-73 Republik Indonesia (RI)”, Minggu (19/8/2018) lalu, di Joglo Nusantara, Setu Pengasinan, Sawangan, Depok. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Tidak mungkin Rasulullah melakukan suatu gerak, suatu sunah tanpa kesadaran. Dan tidak mungkin kesadaran itu selain kesadaran tauhid. Jadi, Rasulullah mendapat sinaran tauhid di dalam dirinya, maka implementasi atau manifestasi dari gerak-gerik dirinya adalah sunah.

Abdullah memberi contoh. Laku Nabi naik ke masjid dengan kaki kanan itu sunahnya. Peristiwa Nabi makan dengan tiga jari itu lakunya, sunahnya. Dan Nabi melakukan itu, tidak mungkin kecuali mendapatkan kesadaran tauhid. Respek kepada alam, respek kepada makanan.

“Nah, sunah, tradition, berarti apa? Laku. Kalau dalam bahasa lokal kita ini adalah laku. Lakune saben manungso itu sunah sebenarnya. Persoalannya kemudian lakunya ini didasari sinaran tauhid atau tidak,” kata Abdullah.

Ketika Nabi disingkapkan kesadarannya lantas melakukan, men-sunah-kan. Itu praktik lokal. Yang dilakukan Nabi itu sangat lokal, lakunya. Tapi prinsipnya universal. Prinsip sinaran tauhidnya universal.

Abdullah memberi suatu contoh. Nabi lahir hari Senin. Nabi puasa untuk mensyukuri, merayakan hari kelahirannya. Ini adalah lokalnya Nabi. Dan, hari kelahiran orang berbeda-beda, ada yang lahirnya hari Selasa, ada yang Rabu.

“Maka kalau kita mau mengapresiasi hari kelahiran kita, kita pun puasa Rabu kalau lahirnya Rabu, puasa hari Kamis kalau lahirnya Kamis. Makanya para wali menyebut puasa weton,” kata Abdullah.

Begitu pula yang lahir hari Sabtu, tapi sangat mencintai Nabi. Boleh tidak puasa di hari Senin? Boleh, kata Abdullah. Mencintai Nabi, apa salahnya. Jadi, ekspresi lokalitas itu tidak lain adalah berangkat dari sinaran tauhidnya.

“Sebagaimana setiap kaum diutus nabi, sesuai dengan bahasa kaumnya. Wahyu itu universal tapi artikulasi, menyampaikan prinsip-prinsip keuniversalan itu pasti partikular, bahasa kaum itu partikular,” kata Abdullah.

Singkatnya, Islam Nusantara, ungkap Abdullah, secara prinsip, sejak para wali menghadirkan, mereka langsung praktek menggunakan bahasa kaumnya itu dalam lokalitas.

Pertunjukan Wayang Tavip dengan cerita “Beringin Setan” oleh Ki Dalang Budi Ros di acara “Silaturahmi Budaya dan Tasyakuran Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-73 Republik Indonesia (RI)”, Minggu (19/8/2018) lalu, di Joglo Nusantara, Setu Pengasinan, Sawangan, Depok. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Pertunjukan Wayang Tavip dengan cerita “Beringin Setan” oleh Ki Dalang Budi Ros di acara “Silaturahmi Budaya dan Tasyakuran Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-73 Republik Indonesia (RI)”, Minggu (19/8/2018) lalu, di Joglo Nusantara, Setu Pengasinan, Sawangan, Depok. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

“Kalau disebut Islam bertajali di Nusantara, maka Islam akan menggunakan prinsip-prinsip kenusantaraan. Tapi tentu saja wali juga tahu diri. Ada wilayah yang memang tidak bisa diutik-utik,” terang Abdullah yang juga mengatakan bahwa Islam Nusantara menjadi bahasa lokal dan menginspirasi negara-negara lain ketika akan mengartikulasikan ketahuidannya.

Silaturahmi dan Tasyakuran yang digelar oleh Lesbumi NU Kota Depok sejak pagi sampai malam ini diakhiri dengan Pertunjukan Wayang Tavip yang memainkan cerita “Beringin Setan” oleh Ki Dalang Budi Ros.

Wayang Tavip sejenis pertunjukan yang mirip wayang kulit, memanfaatkan bayang-bayang sebagai tontonan. Awalnya dinamai Wayang Motekar dan kemudian berganti nama menjadi Wayang Tavip sesuai dengan nama penciptanya.

“Kami menggunakan sistem tata cahaya. Layarnya juga berbeda, wayangnya juga materinya berbeda. Kalau wayang ini bisa sebagai wayang tradisi, bisa yang nggak tradisi. Tapi yang jelas non-pakem juga […] Ini menyerupai film hasilnya. Bisa tajam, bisa besar. Tajam dan tetap besar,” ujar Ki Dalang Budi Ros menjelaskan tentang Wayang Tavip kepada KerisNews.com sebelum pertunjukan.

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.