Tradisi Lintas Gender di Seni Pertunjukan

Tradisi Lintas Gender di Seni Pertunjukan
Didik Nini Thowok hadir sebagai penampil di Lecture Performance bertajuk “Tradisi Lintas Gender dalam Seni Pertunjukan di Indonesia”, Selasa (7/8/2018) malam, di Galeri Komunitas Salihara, Jalan Salihara 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. (Dok Komunitas Salihara/Witjak Widhi Cahya)

Di dalam seni pertunjukan, seorang pemain laki-laki memerankan tokoh perempuan, atau sebaliknya seorang perempuan memerankan tokoh laki-laki merupakan satu keniscayaan—dengan berbagai macam alasan. Bahkan, tradisi yang dinamai lintas gender atau crossgender ini adalah salah satu tradisi yang sudah ada sejak zaman dahulu di seluruh belahan dunia.

Hal itu diungkap saat Didik Nini Thowok hadir sebagai penampil di Lecture Performance bertajuk “Tradisi Lintas Gender dalam Seni Pertunjukan di Indonesia”, Selasa (7/8/2018) malam, di Galeri Komunitas Salihara, Jalan Salihara 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Lecture Performance (ceramah-pertunjukan) ini adalah bagian dari SIPFest (Salihara International Performingarts Festival) 2018. Yaitu program yang digelar oleh Komunitas Salihara setiap dua tahun pada tahun genap, dan berlangsung selama satu bulan penuh.

Di Lecture Performance ini, Didik Nini Thowok, yang nama aslinya Didik Hadiprayitno, selain berkisah mengenai tradisi lintas gender dalam seni pertunjukan di Indonesia, juga memeragakan tarian dari tradisi crossgender.

Didik Nini Thowok hadir sebagai penampil di Lecture Performance bertajuk “Tradisi Lintas Gender dalam Seni Pertunjukan di Indonesia”, Selasa (7/8/2018) malam, di Galeri Komunitas Salihara, Jalan Salihara 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. (Dok Komunitas Salihara/Witjak Widhi Cahya)

Menurut Didik, lewat makalahnya yang berjudul “Tradisi Lintas Gender dalam Seni Pertunjukan di Indonesia”, tradisi crossgender ini ada di seluruh belahan dunia, baik di Asia, Eropa, dan Amerika.

Sebagai seniman yang memopulerkan seni (tari) lintas gender sekaligus pelaku, Didik Nini Thowok juga belajar tradisi crossgender dari negara lain. Lewat tari, setidaknya, ia telah mengunjungi 38 negara.

“Saya selalu bilang sama seniman tari kalau kamu mau belajar nari, harus datang ke daerah di mana tari itu dilahirkan. Belajar tari Bali ya kamu belajar di Bali,” ujar Didik.

Tradisi crossgender di Eropa, pada abad 14-18, dikenal dengan Commedia dell’arte. Sementara di Jepang ada drama Kabuki yang semua pemainnya laki-laki, dan Nihon Buyo, tari tradisi yang awalnya ditarikan laki-laki yang memerankan perempuan. Juga ada teater Takarazuka yang semua pemerannya adalah wanita. Begitu pula di India, ada tari Kathakali, Kuchipudi, Seraikella (seni tari memakai topeng), dan Gothipua.

Di Tiongkok, Cina, ada Yueju Opera yang semua pemainnya wanita dan memerankan karakter laki-laki serta wanita. Di negara Asia lainnya, seperti Thailand dan Kamboja juga ada tradisi crossgender ini.

Amerika bahkan memiliki Trockadero Ballet, grup tari crossgender yang sangat profesional. Semua pemainnya laki-laki yang berperan sebagai wanita dan laki-laki, dalam pertunjukan yang bersifat komedi.

Tradisi crossgender ini, tulis Didik di makalahnya, juga ada di dalam seni tradisi di Indonesia dari zaman dulu.

Didik Nini Thowok hadir sebagai penampil di Lecture Performance bertajuk “Tradisi Lintas Gender dalam Seni Pertunjukan di Indonesia”, Selasa (7/8/2018) malam, di Galeri Komunitas Salihara, Jalan Salihara 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. (Dok Komunitas Salihara/Witjak Widhi Cahya)

“Kenapa saya pakai istilah crossgender, karena di Indonesia kita tidak punya bahasa khusus untuk tradisi semacam itu yang dikenal seluruh Indonesia,” kata Didik yang merupakan lulusan ASTI (sekarang ISI) Yogyakarta pada 1982.

BACA JUGA  Gelar Budaya Adiluhung Catur Sagotra Nusantara

Penyebutan untuk istilah crossgender di Indonesia, sangat lokal. Tiap-tiap daerah memiliki istilah sendiri. Contohnya, di Jawa Timur dikenal dengan istilah Pawestren. Di Bali ada beberapa istilah, seperti Bebancihan, Arja Muani, Gambuh Muani. Di Sulawesi Selatan ada Bissu, dan di Padang dikenal sebutan Ronggeng atau Biduan.

Topeng Cirebon, menurut Didik, merupakan salah satu seni pertunjukan di masyarakat yang mempraktekkan tradisi crossgender. Topeng Cirebon berasal dari beberapa desa, dan masing-masing mempunyai gaya tari Topeng  yang berbeda, seperti Palimanan, Indramayu, Losari, Selangit, Gegesik Kreo. Karakter topeng ini bersumber dari Cerita Panji, yang populer ada lima karakter, yaitu Panji, Pamindo, Tumenggung, Klana, dan Rumyang.

Mayoritas penari Topeng Cirebon adalah perempuan. Maka bisa digolongkan sebagai salah satu seni crossgender karena karakter topeng yang ditampilkan adalah tokoh atau karakter laki-laki.

“Jadi kalau saya menari Topeng Cirebon, rasa saya sampai karena sebagai wanita yang memerankan laki-laki. Bukan laki-laki memerankan laki-laki. Jadi beda rasanya. Karena kalau saya laki-laki memerankan laki-laki, Gatotkaca misalnya gitu. Heh, Gatotkaca kok lembeng,” ujar Didik.

Juga ada kesenian rakyat Wari Lais atau Laesan yang berciri crossgender. Kesenian ini bisa ditemui di daerah Cirebon, Cilacap, Lasem/Rembang. Di kesenian ini ada unsur kesurupan dan mistik. Sayangnya intensitas pertunjukan ini sudah mulai berkurang.

“Sintren yang kesurupan, sekarang masih ada. Pemainnya biasanya perempuan. Kalau Wari Lais itu pemainnya laki-laki,” terang Didik yang memulai kariernya di tradisi crossgender sejak 1974.

Di Banyumas ada Ronggeng atau Tayub yang kemudian disebut Lengger Banyumas yang biasa diperankan oleh laki-laki dan perempuan. Ciri khas pertunjukan Lengger, yaitu pada bagian akhir sering ditampilkan Tari Baladewan, karakter laki-laki yang diperankan oleh penari Lengger perempuan, yang merangkap sebagai penyanyi.

Didik Nini Thowok hadir sebagai penampil di Lecture Performance bertajuk “Tradisi Lintas Gender dalam Seni Pertunjukan di Indonesia”, Selasa (7/8/2018) malam, di Galeri Komunitas Salihara, Jalan Salihara 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. (Dok Komunitas Salihara/Witjak Widhi Cahya)

Selain itu, menurut Didik, masih ada tradisi crossgender lainnya, seperti Topeng Lengger Wonosobo. Di daerah Malang ada Ludruk, Topeng Malang, dan Beskalan Putri Malangan. Kota Banyuwangi, yang terletak di ujung timur Pulau Jawa dikenal dengan tarian Gandrung. Di Bali tradisi crossgender dapat dijumpai dalam seni drama Gambuh, Arja, dan tari lepas yang biasanya menggunakan istilah Bebancihan seperti di tari Trunajaya, Panji Semirang, Wiranata, dan Margapati.

“Di Jawa Barat dan di Banyuwangi, itu yang saya mendapatkan info-info setelah saya interview dan penelitian bahwa kegunaan laki-laki, kegunaan wanita itu salah satunya adalah merupakan telik sandi. Telik sandi itu mata-mata. Jadi zaman dulu mereka menyamar jadi perempuan, itu gerilyawan-gerilyawan melawan Belanda. Kadang-kadang memberikan isyarat kepada pemberontak atau gerilyawan kita yang melawan Belanda lewat tembang-tembang atau parikan,” kata Didik.

BACA JUGA  Kongres Kebudayaan Indonesia 2018

Sementara di Padang, Sumatera Barat ada Dramatari Randai dan Ronggeng. Di kesenian ini karakter wanita diperankan oleh laki-laki. Salah satu alasannya, tulis Didik di makalahnya, pertunjukan Randai biasanya diselenggarakan semalam suntuk di lapangan luas. Kalau wanita terlibat pertunjukan sampai pagi akan membuat kesan yang negatif, tidak sopan dan bahaya. Karena itu karakter wanita lantas diperankan oleh laki-laki, yang disebut Biduan.

“Pakai kacamata khasnya, kacamata hitam. Jadi sebenarnya atribut kacamata hitam itu ada di dalam Randai, ada di dalam kesenian Lengger di Jawa Tengah, Jawa Barat. Ada di kesenian Topeng. Jadi Topeng Cirebon itu dulunya, Tumenggung itu pakai kacamata hitam tarinya. Khusus karakter Tumenggung,” jelas Didik.

Tradisi yang mirip Randai yaitu Ronggeng dari Pasaman. Ronggeng memiliki dua arti. Pertama, sebagai bentuk kesenian tari atau seni pertunjukan, dan kedua berarti karakter wanita yang diperankan laki-laki. Ronggeng adalah percampuran Budaya Sumatera dan Jawa, dan biasanya diadakan di perkebunan karet di Pasaman oleh komunitas pekerja perkebunan dari Jawa.

Di Sulawesi Selatan, Bissu adalah pendeta laki-laki crossgender dari suku Bugis. Fungsi Pendeta Bissu berbeda dengan tradisi crossgender lainnya, karena Bissu melakukan tradisi ritual dan upacara sakral. Mereka berdandan laki-laki tapi bersuara perempuan.

Didik Nini Thowok hadir sebagai penampil di Lecture Performance bertajuk “Tradisi Lintas Gender dalam Seni Pertunjukan di Indonesia”, Selasa (7/8/2018) malam, di Galeri Komunitas Salihara, Jalan Salihara 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. (Dok Komunitas Salihara/Witjak Widhi Cahya)

“Tahun 60 dulu pendeta Bissu dikejar-kejar, dibunuh, dipaksa masuk Islam. […] Padahal dia pada zaman La Galigo, zaman kerajaan dia adalah orang sangat penting, pemimpin upacara,” kata Didik yang tahun 2014 mengadakan pagelaran International CrossGender, yang diikuti penari crossgender dari enam daerah di Indonesia dan enam dari luar negeri.

Menurut Didik, tradisi lintas gender ini juga ada di lingkungan istana. Terutama di Yogyakarta dan Surakarta. Langendriyan adalah salah satu bentuk seni crossgender dalam drama tari dan nyanyi yang sering disebut sebagai Opera Jawa. Langendriyan popular pada zaman Sultan HB VII-VIII di Yogyakarta, dengan cerita Minakjinggo dan Damarwulan, dan dikenal juga di Istana Mangkunegaran Surakarta.

“Perbedaannya adalah kalau di keraton Yogyakarta semua pemain adalah laki-laki dengan gaya tari jongkok/menari di atas lutut, sedangkan di istana Mangkunegaran, Surakarta semua pemain Langendriyan adalah wanita dan menari dengan posisi berdiri,” ujar Didik di makalahanya.

Juga ada Wayang Wong yang bersumber dari cerita Mahabharata dan Ramayana. Di Istana Yogyakarta, Wayang Wong mencapai puncak keemasannya di zaman HB VII-VIII, dan semua pemainnya adalah laki-laki. Sedangkan di Surakarta, untuk Wayang Wong hanya peran tertentu, seperti Arjuna, Abimanyu dan lainnya, biasanya diperankan oleh wanita.

“Kalau yang nggak ngerti dikira sesuatu yang aneh, sesuatu yang baru. Zaman dulu, Hamengku Buwono I, itu Bedhaya Kakung. Kakung itu laki-laki,” kata Didik menjelaskan bahwa tradisi crossgender sudah muncul dari zaman dahulu dan bukan merupakan tradisi baru.

Didik berpesan kepada para penari, terutama para penari crossgender, untuk menunjukkan teknik yang bagus, jangan asal berdandan perempuan dan lantas menari yang lucu-lucu.

“Teknik yang bagus, harus punya basic tari klasik yang bagus dulu. Kalau sudah punya basic kuat, mau dibuat lucu mau dibuat nggak, itu tetap akan mudah. […] Kita paling ndak bisa menyamai teknik tari perempuan. Itu yang susah. Karena harus pakai rasa, harus dari hati. Kalau di dalam bahasa tarinya harus ada penjiwaan,” kata Didik Nini Thowok.

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.