Jejak Sultan Agung Sang Penakluk (1)

Jejak Sultan Agung Sang Penakluk (1)
(Ilustrasi) Sultan Agung penguasa Mataram (1613-1645) tidak diragukan lagi merupakan tokoh anti penjajah dan penakluk terbesar di Indonesia setelah era Majapahit di abad ke-16. Hampir sepanjang 32 tahun ia memerintah, dihabiskannya untuk penaklukan dan perang. Meski gagal, namun jejak perlawanannya terhadap kumpeni, VOC, dengan menyerang Batavia 1628 dan 1629, itu sudah merupakan bukti keperwiraan dan perlawanannya terhadap penjajah. (Dokumentasi/Ilustrasi Istimewa)

Tidak sekadar digelari raja terbesar di era kerajaan Mataram, Sultan Agung di pertengahan abad ke-17 juga dikenal sebagai sang penakluk. Wilayah taklukannya tidak hanya meliputi kota pelabuhan penting pantura Jawa akan tetapi juga kerajaan Sukadana di Kalimantan barat daya.

Hampir sepanjang pemerintahannya selama 32 tahun (1613-1645) ia habiskan untuk penaklukan demi penaklukan. Sejarawan MC Ricklefs menuliskan dalam catatannya, pada saat penguasa Mataram itu meninggal (1645), Sultan Agung  merupakan penakluk  terbesar di Indonesia setelah zaman Majapahit. Dia menguasai seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur, termasuk Ujung Timur dan Madura. (Ricklefs 2005:112).

Satu-satunya kekurangan permanen dalam karirnya, tulis Ricklefs, adalah kegagalannya merebut Batavia. (Dua kali menyerang benteng pertahanan kumpeni VOC pada 1628 serta 1629 namun gagal). Pengaruh Sultan Agung juga tidak hanya sebatas di Jawa dan Madura. Pada tahun 1622, dia juga menaklukkan Sukadana – pusat kerajaan kepulauan di Karimata, barat daya Kalimantan. Sampai sekitar 1636, Palembang di Sumatera bagian Selatan, juga menganggapnya sebagai sesembahan. Setelah tahun itu, hubungan Palembang dan Mataram menjadi lebih rumit.

Ricklefs yang dikenal sebagai Indonesianis (ahli sejarah Indonesia) itu juga menulis, Banjarmasin adalah sekutu Mataram dalam periode setelah 1637, dengan Makassar diadakan tukar-menukar perutusan pada tahun 1630 dan 1637. Kecuali di Sukadana, Angkatan Laut Sultan Agung memang bukan kekuatan penakluk yang besar atas pulau-pulau lain Nusantara (jika dibandingkan dengan Sultan Iskandar Muda pada kurang lebih era yang sama dari Kesultanan Aceh, yang sampai merambah ke Negeri Jiran).

Akan tetapi dengan keberadaan Mataram di Sukadana, Ricklefs melukiskan, pengaruh negeri pedalaman di Jawa Tengah bagian selatan ini boleh dibandingkan dengan pengaruh “kekaisaran” Majapahit di abad 15-16.

(Ilustrasi) Sultan Agung penguasa Mataram (1613-1645) tidak diragukan lagi merupakan tokoh anti penjajah dan penakluk terbesar di Indonesia setelah era Majapahit di abad ke-16. Hampir sepanjang 32 tahun ia memerintah, dihabiskannya untuk penaklukan dan perang.

(Ilustrasi) Sultan Agung penguasa Mataram (1613-1645) tidak diragukan lagi merupakan tokoh anti penjajah dan penakluk terbesar di Indonesia setelah era Majapahit di abad ke-16. Hampir sepanjang 32 tahun ia memerintah, dihabiskannya untuk penaklukan dan perang.
(Ilustrasi/Istimewa)

Penguasaan kerajaan Sukadana (wilayah yang sebelumnya di bawah kekuasaan raja Surabaya di Ujung Timur Jawa), merupakan satu-satunya agresi Mataram di luar Jawa. Kenapa Sukadana?

Sukadana di sisi barat Kalimantan mencakup wilayah Kepulauan Karimata, tidak hanya menjadi pelabuhan eksportir intan dari pedalaman Kalimantan (yang disebutkan ditambang oleh suku dayak di Landak) akan tetapi juga penghasil besi untuk bahan baja dan senjata bagi Asia Tenggara. Kerajaan Sukadana, disebut dalam kitab Negarakretagama (Mpu Prapanca) pernah dikuasai kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Bahkan Sukadana pada awal era Sultan Agung, adalah sekutu kerajaan kuat Surabaya. (B Schrieke 1960:30).

Baik kerajaan Majapahit, maupun era kerajaan Mataram di Jawa di bawah Sultan Agung, menguasai kepulauan Karimata di wilayah kerajaan Sukadana ini antara lain karena potensi tambang besinya. Majapahit, bahkan juga berbesanan dengan kerajaan besar Luwu di Sulawesi (menurut catatan Negarakretagama, pertengahan abad ke-14) juga untuk memperoleh bahan besi mengandung nikel untuk bahan senjata dan pusaka bagi kerajaan Majapahit.

Besi, di masa kerajaan Majapahit maupun Mataram adalah kepentingan vital bagi sebuah kerajaan. Sejarawan Anthony Reid bahkan menulis dalam bukunya  Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680, “Kepandaian mengerjakan logam seringkali berperan dalam pembentukan negara. Keahliah logam, adalah kunci menuju kekuasaan…,” (Reid 2014:120-121).

BACA JUGA  Keris Pusaka Pakai Pamor Knalpot?

Dalam tradisi Jawa, tulis Anthony Reid, pembagian pulai antara kerajaan-kerajaan Majapahit di timur dan Pajajaran di Barat dirujukkan pada seorang pandai besi kerajaan yang memiliki kekuatan magis. Juga, Raja Bone kedua di daerah terkemuka Bugis di Sulawesi, bahkan memakai gelar Petta Panre Bessi, atau “Tuan Kita Pande Besi”.

Mutu besi dari Karimata di era Sultan Agung, maupun besi dari Luwu yang mengandung nikel di era Majapahit, bisa dilihat dari pusaka-pusaka kerisnya. Baik besi dari Karimata, maupun besi dari Luwu, menampilkan kualitas besinya masing-masing dalam produk pusaka baik oleh Mataram, maupun Majapahit.

Kapal Sultan Angkatan Laut Sultan Agung.

Kapal Sultan Angkatan Laut Sultan Agung.
(Ilustrasi/Istimewa)

Jejak langkah penaklukan oleh Sultan Agung, bisa dilukiskan sebagai “gagah perkasa” bagi pendukung Mataram, akan tetapi juga bisa dikatakan “bengis dan kejam” oleh negeri-negeri taklukannya. Tidak hanya banyaknya korban jiwa dalam upaya penaklukannya, akan tetapi juga kerusakan pertanian di wilayah pantura Jawa. Sehingga Jawa yang semula yang semula menjadi eksportir beras,  jadi porak peranda setelah serangan Sultan Agung.

Serangan Sultan Agung ke pesisir Jawa Timur dan Madura antara tahun 1620-1625, melibatkan 80.000 prajurit, berkali-kali mengepung Surabaya serta kota-kota sekitarnya selama lima tahun. Pasukan Sultan Agung menghancurkan semua tanaman padi dan bahkan meracuni atau membendung air sungai ke kota Surabaya. (de Graaf 1958: 77-97).

Dagh-Register mencatat, bahwa setelah rangkaian serangan Sultan Agung ke Surabaya ini, tinggal tersisa tidak lebih dari 500 jiwa penduduk, dari semula 50.000-60.000 jiwa sebelumnya! Selebihnya meninggal atau mengungsi akibat kemiskinan atau kelaparan. (kutip Schrieke 1942: 148).

Selama berlangsungnya peperangan melawan Madura pada tahun 1624, daerah-daerah utama Mataram yang menghasilkan padi pun menjadi tandus, “karena kurangnya tenaga kerja (ditinggal perang), sehingga penduduk Mataram tak sanggup mengalirkan air ke persawahan. (de Graaf 1958: 90 dan 151).

Sementara di pihak pasukan Mataram? Akibat dua kali serangan Mataram ke benteng VOC di Batavia pada 1628 dan 1629, banyak jatuh korban akibat kelaparan dan penyakit yang menimpa pasukan pengepung benteng kumpeni. (Reid 2014: 22). Tidak sedikit anggota pasukan yang gagal menyerbu ke Batavia, tidak berani kembali ke Mataram…

Ilustrasi penyerangan dan pengepungan markas kumpeni, VOC, di Batavia oleh pasukan Mataram. Diambil dari A Montanus Oud and Nieuw Oost Indien.

Ilustrasi penyerangan dan pengepungan markas kumpeni, VOC, di Batavia oleh pasukan Mataram. Diambil dari A Montanus Oud and Nieuw Oost Indien.
(Ilustrasi/Istimewa)

Tidak banyak raja di Jawa yang mampu melakukan banyak pekerjaan  dalam kurun waktu yang sama (multi tasking) seperti Sultan Agung. Tidak hanya penaklukan saja yang dilakukannya. Akan tetapi juga melakukan pembaruan di bidang budaya, mengubah kalender Syaka, kalender Jawa menjadi kalender Islam-Jawa yang dimulai pada hari Jumat 8 Juli 1633.

Meski demikian, kegagalan pasukan Sultan Agung pada serangan ke Batavia 1628 dan 1629 menghancurkan mitos  bahwa dirinya tidak dapat dikalahkan. Kerajaannya melemah dan jadi rapuh, sulit dipersatukan kembali. Pada periode 1631-1636, menurut sejarawan MC Ricklefs, Sultan Agung menumpas pusat-pusat perlawanan di Sumedang dan Ukur (kini Bandung) di Jawa Barat. Tetapi ancaman terbesar justru dari Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Pada 1630, tulis Ricklefs, meletus sebuah pemberontakan yang tampaknya dipimpin oleh para guru agama dari daerah Tembayat (situs pemakaman seorang yang disebut sebagai wali setempat, Sunan Bayat). Sultan Agung, membantai habis para pemberontak Tembayat…

BACA JUGA  Keris-keris dari Dalem Mloyokusuman

Tiga tahun setelahnya, 1633, Sultan Agung melakukan semacam ziarah ke situs keramat di Tembayat – kemungkinan dalam rangka mengatasi kekuatan spiritual dan sekaligus kekuatan militer pihak pembangkang.

Dekrit berakhirnya penggunaan sistem penanggalan Jawa diganti dengan penanggalan Islam Jawa oleh Sultan Agung pada 1633 ini juga tidak hanya merupakan simbol langkah pengislaman di Jawa, akan tetapi juga membendung pengaruh meluasnya penggunaan penanggalan Barat (Masehi) oleh penjajah asing.

Dengan diberlakukan sistem kalender baru itu, maka di Jawa sejak dulu setidaknya ada tiga sistem kalender, di samping kalender barat Masehi. Ada penanggalan Islam (dimulai Jumat 16 Juli tahun 622), penanggalan Islam-Jawa Sultan Agung (dimulai Jumat 8 Juli 1633) dan sebelumnya penanggalan Jawa Kuno, Çaka yang berpegang pada tahun matahari yang terdiri dari dua belas ‘mangsa’ (musim) yang digunakan di pedesaan untuk mengatur sawah dan ladang.

Ilustrasi Peta Penyerangan pasukan Mataram Sultan Agung ke benteng VOC di Batavia 1629.

Ilustrasi Peta Penyerangan pasukan Mataram Sultan Agung ke benteng VOC di Batavia 1629.
(Ilustrasi/Istimewa)

Dalam suasana perang, di era penaklukan oleh Sultan Agung, ia sempat mengerahkan empu-empu pembuat keris se tanah Jawa, sebelum serangan ke benteng VOC di Batavia pada 1628 dan 1629. Proyek utamanya adalah pembuatan meriam, di samping tentunya membuat keris dan tombak. Jumlah empu yang direkrut Sultan Agung adalah 800 orang (sadomas empu). Mantri empu, terdiri dari delapan (8) empu pilihan.

Adapun delapan empu pilihan yang jadi mantri (kepala) pande 800 empu Pakelun (sebutan kelompok 800 empu keris itu), adalah: (1) Empu Tepas dari Samarang, keturunannya Ki Salaeta dari Tuban, (2) Empu Mayi atau Umayi, dari barat Karang, anaknya empu Ki Sokawiyana, (3) Empu Legi, anaknya Empu Lanang, cucu dari Ki Supagati di mas Majapahit, (4) Empu Gede, anaknya Empu Cublak dari Pajang, (5) Empu Luwing, dari Madura, buyutnya Empu Kasa – empu asal Pajajaran, abang kandung Ni Mbok Sombro anak-anak Empu Manca, (6) Empu Guling di Mataram, (7) Empu Kalianjir, dan (8) Empu Tundhung dari Kudus, yang juga adalah Empu Jakasupa dari zaman Demak – ia adalah juga anak Pangeran Sedayu atau Supamandrangi dari Majapahit. (Serat Paniti Kadga, 1929).

Kebutuhan bahan besi yang sebegitu banyak untuk pembuatan meriam dan persenjataan, keris dan tombak datang dari mana? Terjawab sudah, bahwa penaklukan kerajaan Sukadana (1622) dan tentunya di wilayah kepulauan Karimata penghasil besi top untuk pedang dan parang pada masa itu (biasa dibeli Belanda dan juga kerajaan-kerajaan Melayu),  digunakan Sultan Agung untuk mensuplai bahan pembuatan senjata guna serangan ke Batavia.

Meski serangan gagal, namun ada catatan yang membuat kumpeni Belanda terkejut. Perjalanan pasukan Mataram ke Batavia sungguh tidak terduga. Tak hanya melalui laut, akan tetapi juga melalui darat dari Mataram ke Tegal, kemudian dari Cirebon ke Batavia dengan meriam-meriam bikinan para Empu Pakelun se-Jawa, serta gerobak-gerobak kerbaunya. Kumpeni tercengang, karena mengira hal seperti itu mustahil dilakukan oleh pasukan Sultan Agung dari Mataram… *

 

Bibliografi:

MC Ricklefs, “Sejarah Indonesia Modern 1200-2004” (2004)

Anthony Reid, “Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 (2014)

Denys Lombard, “Nusa Jawa: Silang Budaya” (2008)

B Schrieke, “Indonesian Sociological Studies” (1960)

Thomas Stamford Raffles, “The History of Java” edisi Indonesia (2008)

Anonim, “Serat Paniti Kadga” (Solo, 1929)

 

 

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.