Pameran Wastra “Encounters With Bali, A Collector’s Journey”

Pameran Wastra “Encounters With Bali, A Collector’s Journey”
Pameran Wastra bertajuk “Encounters With Bali, A Collector’s Journey”, yang berlangsung dari 11 Juli-5 Agustus 2018, di Museum Tekstil, Jl. Aipda KS Tubun No 2-4, Jakarta Barat. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Sebanyak 50 wastra (kain tradisional) dari berbagai wilayah di Indonesia yang dipilih dengan seksama dipajang di Pameran Wastra bertajuk “Encounters With Bali, A Collector’s Journey”. Pameran berlangsung dari 11 Juli-5 Agustus 2018, di Museum Tekstil, Jl. Aipda KS Tubun No 2-4, Jakarta Barat.

Kelimapuluh wastra itu adalah koleksi dr John Yu AC dan dr George Soutter AM. Keduanya merupakan dokter anak dari Australia yang menjadikan Bali sebagai rumah kedua mereka selama hampir 30 tahun. Mereka berdua saling bersahabat dan sama-sama terpesona oleh masyarakat dan Budaya Bali.

Ketertarikan dr Yu terhadap wastra berawal dari wastra sederhana warna pekat indigo di sebuah etalase toko di Sydney Australia. Sementara dr Soutter, yang dibesarkan di Zimbabwe dan Afrika Selatan, telah lebih dahulu mengoleksi benda seni dari Afrika.

Tampan (wastra berbentuk persegi) dan Baju Pendek dari Lampung ikut dipajang di Pameran Wastra bertajuk “Encounters With Bali, A Collector’s Journey”, yang berlangsung dari 11 Juli-5 Agustus 2018, di Museum Tekstil, Jl. Aipda KS Tubun No 2-4, Jakarta Barat. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Di awal 1980-an, kedua dokter yang bersahabat itu berkunjung ke Bali dalam rangka mencari tempat sunyi untuk menghilangkan ketegangan akibat pekerjaan. Ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan mereka mengoleksi benda seni.

Bali selanjutnya menjadi markas utama mereka dalam kegiatan mengoleksi, sekaligus menjadi pintu gerbang untuk belajar tentang Indonesia. Setiap tahun selama 30 tahun, dr Yu dan dr Soutter selalu berkunjung ke Bali. Mereka berdua mendatangi penjual benda seni, kolektor, lembaga dunia ternama, dan desa-desa di seluruh Pulau Bali untuk memperoleh informasi.

Koleksi wastra mereka pernah dipamerkan di Galeri Seni Mosman di Sydney, Australia pada 2014. Koleksi yang dipamerkan dipilih lebih berdasarkan mutu daripada usia. Meski begitu, terdapat wastra tenun yang langka, seperti Tapih Inuh Tiga Warna dari Lampung Barat Laut, dan beberapa rompi perang Orang Iban dari Kalimantan Barat dan Serawak.

Kain Panjang dari Garut, Jawa Barat, yang dipajang di Pameran Wastra bertajuk “Encounters With Bali, A Collector’s Journey”, yang berlangsung dari 11 Juli-5 Agustus 2018, di Museum Tekstil, Jl. Aipda KS Tubun No 2-4, Jakarta Barat. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Kain-kain yang dipamerkan di Museum Tekstil ini memang menarik dan juga informatif. Tiap-tiap kain yang dipajang disertai deskripsi latar belakang kain itu. Misal, sebuah Baju Pendek dari Lampung, awal abad ke-20. Disebutkan bahwa baju ini awalnya dipakai di Lampung oleh anak gadis punyimbang untuk mengawal putri-putri bangsawan menuju arena upacara.

BACA JUGA  Dalang Ki Manteb Soedarsono Meriahkan HUT Ke-44 SENA WANGI

Juga ada Kain Panjang yang dibuat di Garut, Jawa Barat. Di keterangannya disebutkan ragam hias batik di kain itu berupa sosok laki-laki dalam bentuk wayang. Dikatakan dibuat di Garut, karena terlihat dari tata warnanya, terutama dari latarnya yang disebut gumading. Juga terlihat dari ragam hias pada kain yang dipakai oleh sosok wayang (laki-laki), dan dari susunan ragam hias secara keseluruhan.

“Motif dan ragam hias dapat juga diterapkan pada sebuah wastra tenun, menggunakan teknik tertentu seperti sulaman, aplikasi, batik dan tritik serta  jumputan. Aplikasi dibuat dengan menambahkan manik-manik, kancing, biji-bijian, guntingan kain, pita hias dan bahan-bahan lain pada selembar wastra,” ungkap tulisan di pengantar pameran.

Wastra Upacara di Bali yang dipajang di Pameran Wastra bertajuk “Encounters With Bali, A Collector’s Journey”, yang berlangsung dari 11 Juli-5 Agustus 2018, di Museum Tekstil, Jl. Aipda KS Tubun No 2-4, Jakarta Barat. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Di tulisan pengantar pameran berjudul, “Wastra Tenun : Mengenal Bangsa Lain Melalui Wastranya”, juga dikatakan bahwa wastra tenun dapat saja tidak diberi hiasan. Caranya dengan melewatkan benang polos arah horizontal, yang disebut pakan, melalui sejumlah benang polos arah vertikal, yang disebut lungsi.

Jika warna lain ditambahkan pada benang lungsi atau benang pakan, maka akan dihasilkan ragam hias garis-garis atau kotak-kotak. Atau bisa juga dengan perlakuan khusus terhadap benang sebelum ditenun menjadi kain, yang akan menghasilkan motif dan ragam hias.

Perlakuan itu dapat berupa mengikat dengan kuat beberapa benang lungsi di tempat-tempat tertentu agar tidak menyerap warna. Sebuah teknik yang disebut ikat lungsi. Bila teknik ini juga diterapkan pada benang pakan, maka disebut ikat pakan.

Suasana di dalam ruang Pameran Wastra bertajuk “Encounters With Bali, A Collector’s Journey”, yang berlangsung dari 11 Juli-5 Agustus 2018, di Museum Tekstil, Jl. Aipda KS Tubun No 2-4, Jakarta Barat. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Teknik tersebut dapat diterapkan pada kedua benang lungsi dan benang pakan, yang disebut ikat ganda. Ini merupakan proses yang sangat sulit namun dipraktekkan dengan sangat terampil di Desa Tengangan Pagringsingan, Bali.

BACA JUGA  Mengenal Apa Itu Jawa

Ragam hias juga dapat dibuat selama proses menenun berlangsung. Caranya dengan menambahkan benang pakan tambahan yang memiliki warna dan tekstur yang menarik di sepanjang pakan dasar yang  membentuk kain tersebut. Teknik ini dikenal dengan istilah songket di Indonesia. Dengan cara ini, bila benang pakan tambahan ditarik dari tenunan, maka tenunan dasar masih tetap utuh.

Atau, bisa juga lintasan benang pakan melewati benang lungsi diganti, dari irama “satu di atas, satu di bawah, satu di atas”, menjadi “satu di atas, tiga di bawah”, dan seterusnya. Sehingga menghasilkan sebuah ragam hias geometris pada sebuah lajur sempit di sepanjang bagian bawah kain, disebut lompat lungsi.

Wastra Geringsing yang dipajang di Pameran Wastra bertajuk “Encounters With Bali, A Collector’s Journey”, yang berlangsung dari 11 Juli-5 Agustus 2018, di Museum Tekstil, Jl. Aipda KS Tubun No 2-4, Jakarta Barat. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Teknik tersebut bisa dikata serupa dengan songket. Bedanya bila benang yang membentuk ragam hias ditarik keluar, maka tenunan menjadi tidak utuh, hanya tersisa benang lungsi yang belum ditenun.

Pameran wastra ini merupakan kolaborasi antara Museum Tekstil Jakarta (Unit Pengelola Museum Seni, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta), Australian Embassy Jakarta, Mosman Art Gallery, dan didukung oleh Asosiasi Museum Indonesia DKI Jakarta (PJ) Paramita Jaya.

“Pameran di Museum Tekstil Jakarta ini, di sisi lain, akan memperkokoh persahabatan Indonesia-Australia dengan memperlihatkan kepada masyarakat Indonesia tentang dalamnya penghargaan dan rasa hormat masyarakat Australia terhadap Indonesia. Rasa hormat dan adanya pemahaman timbal balik ini yang menjadi dasar perdamaian antar kedua Negara,” ungkap tulisan di pengantar pameran.

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.