“Wayang Potèl” dari Desa Cikedung

“Wayang Potèl” dari Desa Cikedung
Wayang Potel asli Cikedung dalam sebuah pentas ujicoba di halaman rumah Kiai Ibrahim Nawawi di desa Cikedung, Indramayu Jawa Barat, Sabtu (14/7/2018) malam. Golek dari bubur kertas, dan pernah patah kepalanya (pothel) waktu pentas pertama, Juni lalu, maka disebutnya "Wayang Potel". (Kontributor/Tira Hadiatmojo)

Pernah dengar Wayang Potèl? Di dunia, wayang seperti ini hanya ada di desa terpencil pedalaman tol Cipali di desa Cikedung. Ada warna Sunda-nya, Jawa-nya, Dermayu-nya. Yang jelas pentas wayang ini lucu, menghibur dan penuh canda, digelar oleh Ki Dalang dan Pak Kiai untuk hiburan dan dakwah Islami melalui panggung budaya.

Penyajiannya tentu saja menarik, humoris, lucu penuh gurauan. Ada juga sinden cantik suaranya. Tetapi sebenarnya pentasnya berisi petuah yang bernilai keagamaan dan disampaikan tanpa nada menggurui.  Pak Kiai ikut mendalang, melalui tokoh Cungkring atau Petruk alias Kiai Kanthong Bolong dari Padepokan Pandita Ratu.

“Sebenarnya pesan-pesan yang kami sampaikan itu sudah baku, dulu diajarkan oleh Sunan Kalijaga, tetapi kami sampaikan dengan santai dan menghibur,” ungkap Ki Dalang Karno, dalang wayang tradisional yang belum sempat ngetop, dan kini konsen mendalang Wayang Potèl, wayangnya desa Cikedung. Karno sendiri sebenarnya ahli Thoriqoh Qodiriyah Naqsabandiyah, murid Syeh Tolha Cirebon. Candanya yang sungguh menghibur, renyah, dan tentunya bernada ajaran Tasawuf.

“Sebenarnya kami hanya ingin berdakwah dengan pendekatan multikultural, melalui wayang (golek) yang terbuat dari bubur kertas, ciptaan Ki Sudarman,” ungkap Kiai Ibrahim Nawawi, pemilik rumah tempat pentas Wayang Potèl Sabtu (14/Juli/2018) malam itu, dan sekaligus juga berperan sebagai Kiai dalam pentas Wayang Potèl desa Cikedung itu. Sudarman si pencipta golek wayang, adalah alumni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Segenap awak Wayang Potel berfoto di depan gedebok dan dahan daun gunungan, usai pentas latihan di rumah Kiai Ibrahim Nawawi di Cikedung, Indramayu, Jawa Barat (Sabtu, 14/7/2018). Remaja pesinden Angel alias Ni Mas Artiyem yang siswi SMAN I Terisi, Indramayu paling kiri depan. Persis di belakangnya, dalang Ki Karno. Di tengah, Kiai Ibrahim Nawawi yang berperan mendalangkan Kiai Kanthong Bolong alias Petruk, ada di tengah berkacamata.

Segenap awak Wayang Potel berfoto di depan gedebok dan dahan daun gunungan, usai pentas latihan di rumah Kiai Ibrahim Nawawi di Cikedung, Indramayu, Jawa Barat (Sabtu, 14/7/2018). Remaja pesinden Angel alias Ni Mas Artiyem yang siswi SMAN I Terisi, Indramayu paling kiri depan. Persis di belakangnya, dalang Ki Karno. Di tengah, Kiai Ibrahim Nawawi yang mendalangkan Kiai Kanthong Bolong alias Petruk, ada di tengah berkacamata.Ki Tarka Hanacarakajawa paling kiri atas berbaju putih. Paling kanan, Ketua Sanggar Aksara Jawa, Ray Mengku Sutentra.
(Kontributor/Tira Hadiatmojo)

Tokoh-tokoh goleknya semua tokoh punakawan, jumlahnya sembilan sesuai dengan jumlah punakawan khas Indramayon (Dermayon), yakni Cungkring atau Petruk, lalu Gareng, Bagong, Bitarota (punakawan khas Indramayu), Ceblok, Sekar Pandan, Bagel Buntung (seperti Gareng tetapi kakinya buntung), Duwala atau Dawala dan Semar atau Ismaya, atau Kuda Pawana. Bahan wayangnya, sungguh sederhana: gunungan pun dari ranting pohon berdaun sungguhan…

“Dinamakan Wayang Potèl, karena pada pentas pertama kami pada malam Nuzulul Qur’an, suatu malam Jumat 17 Juni lalu, wayang bubur kertas masih basah, berat. Waktu mau perang? Kepala wayangnya ‘ngglundhung’, endhas (kepala) nya pothèl…, maka kami sebut saja wayang ini Wayang Potèl…,” ungkap Ki Sudarman, kreator golek wayangnya…

Kiai Ibrahim Nawawi tengah mendalangkan Kiai Kanthong Bolong dari Sanggar Pandita Ratu, di sampingnya sinden Angel alias Ni Mas Artiyem dan dalang Ki Karno, Sabtu (14/7/2018) malam.

Kiai Ibrahim Nawawi tengah mendalangkan Kiai Kanthong Bolong dari Sanggar Pandita Ratu, di sampingnya sinden Angel alias Ni Mas Artiyem dan dalang Ki Karno, Sabtu (14/7/2018) malam.
(Kontributor/Tira Hadiatmojo)

Seperti juga dalam pentas wayang lainnya, ada sinden cantiknya di pergelaran – yang sore itu sebenarnya adalah pergelaran latihan di halaman rumah Pak Kiai Ibrahim Nawawi. Sinden remaja yang cantik suaranya….

“Angel namanya, masih SMA di SMAN I Terisi. Nama pentasnya Ni Mas Artiyem. Umur baru 19 tahun..,” ungkap Ki Tarka Hanacarakajawa, pelopor pelestari naskah-naskah kuno yang sudah mentranskripsi lebih dari 40 naskah kuno Dermayu, di sanggar yang ia dirikan bersama teman-teman warga desa Cikedung. Nama Ni Mas Artiyem sendiri bukan nama karangan baru. Akan tetapi itu nama sindhen pendahulu, sindhen legendaries yang kondang di Cikedung.

BACA JUGA  Keris Hamengku Buwana itu Prasaja Tetapi Mrabu

Gaya sindhenan Ni Mas Artiyem alias Angel yang remaja ini? Wuiih, bisa mendeburkan jantung. Tergantung pendengar yang menikmati sindhenannya. Tergantung pula tembang yang diminta Ki Dalang, pak Kiai, atau bahkan publik penonton yang bebas nyeletuk bertanya atau meminta. Bahkan boleh menyawèr….

Pilih tembang apa? Kasmaran pujian? Sinom, Kinanti, Pangkur, atau Dandangula (Dandanggula, kalau di Jawa). Seperti gaya Macapatan di Jawa Tengah, akan tetapi guru lagu dan guru wilangan, khas berbeda sesuai dengan gaya Dermayon. Cantik dah…

“Kolaborasi sembari macul…,” tutur Ki Lebé Warki (57), Pujangga atau pembaca kidung khas Dermayon, yang juga anggota Komunitas Sanggar Aksara Jawa Cikedung. Di Sanggar desa, yang terletak sekitar 31 km pedalaman pintu tol Cikedung di Cipali, dan sekitar 15 km dari jalur Pantura Losarang. Kolaborasi sembari macul yang dimaksud, adalah mereka semua itu komunitas para petani.

Sore itu, di rumah Ki Tarka sebelum pentas di rumah Kiai Ibrahim Nawai, Ki Warki malah harus pamit duluan, untuk nyemprot tanaman padinya yang lagi banyak diganggu wereng.

Gamelan Kempling, mereka namakan begitu untuk seperangkat gamelan "murah" yang terbuat dari besi, bukan perunggu seperti gamelang mahal sebagai pengiring Wayang atau Golek Potel asli Cikedung, Indramayu, Sabtu (14/7/2017) malam silam.

Gamelan Kempling, mereka namakan begitu untuk seperangkat gamelan “murah” yang terbuat dari besi, bukan perunggu seperti gamelang mahal sebagai pengiring Wayang atau Golek Potel asli Cikedung, Indramayu, Sabtu (14/7/2017) malam silam.
(Kontributor/Tira Hadiatmojo)

Komunitas Sanggar Aksara Jawa yang dipelopori Ki Tarka Hanacarakajawa, sekitar delapan tahun lalu, bermula dari kegiatan Ki Tarka berburu naskah-naskah kuno Dermayon, naskah daluwang maupun lontar yang banyak tersimpan tak dijamah terjemahan selama berpuluh-puluh tahun, di berbagai tempat “kabuyutan” (tempat keramat di Indramayu).

“Banyak naskah kuno yang rusak, kumal dan rapuh karena terlalu disakralkan. Bahkan beberapa naskah, tidak boleh diterjemahkan…,” ungkap Ki Tarka, pentranskripsi otodidak – belajar sendiri cacarakan, dan kemudian berguru pada kakeknya ahli naskah, Sutaraharja.

Berkat ketekunannya, sudah lebih dari 40 naskah kuno dia transliterasi. Beberapa di antaranya, naskah-naskah kuno di Keraton Cirebon, utamanya Kacirebonan. Juga, sejumlah naskah Indramayu dan Cirebon yang tersimpan di Perpustakaan Nasional RI di Jalan Matraman, Jakarta. Sejumlah lontar kini juga tengah diincar untuk dibuka tabir rahasianya, dengan alih aksara.

“Baru saja kami pulang dari Jakarta, memenuhi undangan pertemuan dari para ahli naskah Asia Tenggara,” ungkap Ray Mengku Sutentra, sarjana sastra yang dipasrahi Ki Tarka untuk memimpin komunitas Sanggar Aksara Jawa di Cikedung yang dirintisnya.

“Ketika baru didirikan, ada 9-10 anggotanya. Kini sudah 38 orang,” kata Ray Mengku Sutentra pula. Kegiatan utamanya memang literasi naskah-naskah kuno. Berburu naskah-naskah kuno beraksara Jawa, juga lontar-lontar Dermayon, untuk dialih aksara, kalau perlu dialih-bahasa.

“Di sanggar kami juga ada semacam Divisi Seni Tradisi, yang menghidupkan seni-seni tradisi Dermayu yang nyaris punah, seperti Pujanggan (kidungan), (gamelan gong) Rèntèng, wayang dan karawitan,” kata Ray. Gong Rèntèng adalah gamelan khas Dermayon, dengan instrumen utamanya kenong, dan diiringi instrumen lain seperti kebluk, kendhang dan gong besar.

Ki Tarka Hanacarakajawa (kiri) perintis komunitas Sanggar Aksara Jawa, serta Pujangga pembaca kidung Dermayon, Ki Lebe Warki (baju hitam) ketika ngidung di rumah Ki Tarka di desa Cikedung, Indramayu, Sabtu (14/7/2018) malam.

Ki Tarka Hanacarakajawa (kiri) perintis komunitas Sanggar Aksara Jawa, serta Pujangga pembaca kidung Dermayon, Ki Lebe Warki (baju hitam) ketika ngidung di rumah Ki Tarka di desa Cikedung, Indramayu, Sabtu (14/7/2018) malam.
(Kontributor/Tira Hadiatmojo)

Kemajuan zaman, tidak hanya membuat masyarakat jadi makin canggih, makin modern di satu sisi. Namun di sisi lain, juga menenggelamkan dan membuat punah sejumlah seni tradisi. Nasib Gong Rèntèng Dermayon dan juga Pujanggan atau Kidungan Dermayon salah satunya.

“Tahun 70-an di desa-desa Dermayu ada banyak pentas Sandiwara, Gong Rèntèng, Sintren, Tarling, Pujanggan. Tetapi sekitar 80-an, mulai muncul rekaman TOA. Pentas-pentas sandiwara sungguhan dan Gong Rèntèng diganti dengan “pentas” rekaman, yang disuarakan keras dengan pengeras suara TOA alias corong suara.

BACA JUGA  Api Besalen Taman Mini Mulai Menyala

“Pentas-pentas sandiwara, tarling, sintren, gong rèntèng lalu semakin menghilang setelah munculnya organ (tunggal)…,” maka, pentas-pentas hajatan pada masa panen di Dermayu dan pantura pun disemarakkan dengan panggung-panggung organ tunggal. Sandiwara masih ada, tetapi gong renting sudah nyaris punah….

“Saya membaca kidung karena wahyu…,” ungkap Ki Lebé Warki, satu di antara sekitar empat Pujangga yang mampu membaca naskah kidung beraksara Jawa di wilayah pantura Dermayu.  Selain Ki Warki dari desa Jambak di Cikedung, ada juga pembaca kidung atau Pujangga dari Jatibarang bernama Ki Kamawijaya, dan di Losarang ada Ki Kurdi. Sedangkan yang di desa Arahan, Ki Karyo sudah meninggal.

“Yang dimaksudkan dengan ‘wahyu’ oleh Ki Lebé Warki adalah, kemampuan membaca yang dalam waktu singkat bisa, tanpa perlu belajar dalam waktu panjang. Padahal, buku naskah kidungnya semua beraksara Jawa. Apakah Ki Warki ahli bahasa Jawa, atau bersekolah Jawa?

“Saya tidak sekolah. Mulanya hanya belajar dalam tujuh kali manggung bersama Pujangga Ki Seblung atau Waspan pada sekitar tahun 1998. Hanya ikut manggung tujuh kali, namun ketika mau meninggal Ki Seblung menyerahkan kitab kidung, yang saya baca sampai sekarang…,” kata Ki Warki.

Anak-anak Ki Seblung, menurut Ki Warki, malah tidak ada yang meneruskan atau tertarik membaca kidung. Ki Warki sendiri adalah petani tulen yang melatih ngidung sembari nyawah, menanam padi dan nyemprot wereng. Seperti juga pujangga lainnya, ngidung bukan karena keturunan.

Meski jago baca naskah Jawa dari buku kidung yang tebal, dan terlihat cukup uzur kertasnya, namun Ki Warki mengaku sama sekali tidak bisa nulis Jawa. Hanya bisa baca aksara Jawa, dan lancer sekali baca buku kudang aksara Jawanya…

Pujanggan atau membaca kidung Dermayon di rumah Ki Tarka Hanacarakajawa di Cikedung, Indramayu Sabtu (14/7/2018) malam. Pembaca Kidung atau Pujangga Ki Lebe Warki (tengah dengan bantal kuning di depan) serta kiri kanannya adalah penembang pendamping yang disebutnya sebagai "enel".

Pujanggan atau membaca kidung Dermayon di rumah Ki Tarka Hanacarakajawa di Cikedung, Indramayu Sabtu (14/7/2018) malam. Pembaca Kidung atau Pujangga Ki Lebe Warki (tengah dengan bantal kuning di depan) serta kiri kanannya adalah penembang pendamping yang disebutnya sebagai “enel”.
(KerisNews.com/Jimmy S Harianto)

Cikedung memang desa terpencil. Jika ditempuh dari pintu tol Cikedung? Meliuk-liuk melalui jalanan sempit, dan tidak semuanya mulus dalam waktu sekitar sejam meskipun jaraknya hanya 31 km. Dan menuju jalur pantura di arah sebaliknya? Juga sekitar sejam, walau hanya kurang lebih 15 km.

Meski relatif terpencil di pantura Jawa Barat, dan sering diserbu wereng nsawah-sawahnya, Namun rupanya Cikedung menyimpan potensi luar biasa di kesenian tradisional khas Indramayu. Ada kolaborasi yang setidaknya melibatkan 17 disiplin kesenian ataupun dakwah.

Apabila Ki Tarka menghidupkan pengetahuan akan isi naskah-naskah asli Dermayu yang nyaris terkubur zaman. Maka Kiai Ibrahim Nawawi, rela kembali ke desanya setelah menyelesaikan studi S2 nya di Institut Agama Islam Nasional (IAIN) Kalijaga di Yogyakarta untuk berdakwah melalui pendekatan multikultural. Demikian pula Ki Dalang Karno, yang pernah berguru pada Syeh Tholha di Cirebon. Meski paham dan menguasai tarekat, ia kini pilih merelakan diri mengembangkan seni tradisi di kampung, sembari berdakwah.

Sejumlah bahan mendalang, ada juga yang diambil dari naskah-naskah kuno setempat. “Dari beberapa naskah yang kami alih aksarakan, ada naskah yang berangka tahun 1739, 1868, 1895, 1900 dan paling tua 1728. Rumit sekali membacanya,” ungkap Ki Tarka Hanacarakajawa. Lontar tertua 1728 itu berasal dari desa Sukaurip, Balongan Indramayu.  Lontar itu berisi catatan yang dibuat carik setempat di masa itu, tentang perintah bayar upeti di desa Sukaurip.

Apakah mudah mendapat izin mengalih-aksarakan naskah-naskah kuno? Ternyata tidak. Masih banyak catatan desa di Indramayu, menurut Ki Tarka, yang dibuat sacral. Seperti yang ditemui di desa Lamaran, Tarum Kecamatan Arah Indramayu belum lama ini.

“Ada satu bundel naskah yang disimpan para kuwu secara bergantian, dari masa ke masa. Ketika dibuka dan akan dialih-aksarakan? Kuwu itu ditelpon oleh Kepala Desa, melarangnya untuk dialih-aksarakan. Takut kuwalat…,” tutur Ki Tarka.

Dan masih puluhan lagi bahkan mungkin ratusan naskah kuno yang masih banyak tersimpan, tempat di Dermayu dan juga wilayah Cirebon sampai saat ini. Mungkin malah ribuan. Namun, karena masih banyak yang “disakralkan” seperti halnya menyimpan pusaka, maka naskah-naskah kuno itu dibiarkan berdebu, disimpan rapat-rapat.

Coba boleh dialih-aksarakan semuanya atau diterjemahkan. Bukan tidak mungkin banyak hal kerahasiaan yang tersimpan di naskah-naskah kuno itu mendatangkan banyak manfaat kehidupan masa kini. Atau pilih dibiarkan harta karun itu rusak berdebu? *

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.