“Cafe GuloKlopo” di Museum Pusaka Taman Mini

“Cafe GuloKlopo” di Museum Pusaka Taman Mini
Musik di teras Besalen Keris GuloKlopo samping Museum Pusaka Taman Mini, Jakarta Timur pada Minggu (9/Juli/2018) malam. Mumpung Halal Bihalal komunitas perkerisan di Jakarta, teras tempat tempa keris ini dipakai panggung mini untuk musik. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Lupakan perbedaan politik. Abaikan perbedaan organisasi. Yang ada kali ini hanya silaturahmi. Maka sebuah besalen tempat pembuatan keris di Museum Taman Mini pun malam itu berubah menjadi sebuah ajang pertemuan silaturahmi komunitas pencinta keris Jakarta dan Se-Jabodetabek yang penuh warna kekeluargaan, guyub dan…. musikal.

“Cafe GuloKlopo” di samping Museum Pusaka Taman Mini Minggu (8 Juli 2018) malam itu memang penuh kesan beda. Biasanya besalen yang khas di samping museum Taman Mini itu riuh dengan bunyi tang, ting, tang, ting palu berdenting dengan tumpukan saton besi dan baja di atas paron pembuat keris. Eh, malam itu bunyinya tang, ting, tang, ting petikan dawai gitar dan bas elektrik mengiringi para pekeris bernyanyi di beranda besalen.

Konsep silaturahmi “Cafe GuloKlopo” di penghujung puasa dan Lebaran kali ini — yang digagas Cakra Wiyata dkk  dari komunitas Astajaya — memang beda. Silaturahmi kali ini mengabaikan perbedaan, apakah lu Senapati, apa lu SNKI, apakah Lu Jayakarta, atau Lu Astajaya. Bahkan teman-teman pedagang keris Rawabening yang tergabung di PPKJ pun larut dalam silaturahmi setelah berpuasa sebulan lamanya  — di pelataran besalen, di bawah kerimbunan pohon jati yang tegar berdiri. Yang hadir akrab bersapa dan bernyanyi.

“Perkerisan di Jakarta jangan hanyut di perpolitikan,” kata Gusti Yudhaningrat, pengageng Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat dalam sambutan silaturahminya, di depan komunitas pekeris di halaman samping Museum Taman Mini, Minggu malam itu, “terbaginya perkerisan dalam beberapa komunitas itu membahayakan penggemar keris yang murni,” ungkap GBPH Yudhaningrat yang akrab disapa Gusti Yudho itu pula.

Gusti Yudhaningrat pengageng Kraton Ngayogyakarta (berbatik merah kiri) dan Rahadi Saptata Abra dari trah Diponegoro sedang melihat bursa keris di meja Hengki Joyopurnomo (kiri). Ada tamu juga dari Indramayu, Tarka Hanacarakajawa (nomor dua dari kanan) dari Sanggar Aksara Jawa Cikedung, Indramayu.

Gusti Yudhaningrat pengageng Kraton Ngayogyakarta (berbatik merah kiri) dan Rahadi Saptata Abra dari trah Diponegoro sedang melihat bursa keris di meja Hengki Joyopurnomo (kiri). Ada tamu juga dari Indramayu, Tarka Hanacarakajawa (nomor dua dari kanan) dari Sanggar Aksara Jawa Cikedung, Indramayu.
(KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Dan Jakarta memang tidak hanyut dalam hingar-bingar perbedaan “politik perkerisan” yang belakangan mewarnai komunitas pencinta maupun pebursa keris, dari berbagai komunitas, paguyuban, asosiasi maupun kesekretariatan. Event kali ini tidak ditimpali perbedaan politik pucuk pimpinan organisasi payungnya, yang saling berseberangan.

Pucuk pimpinan yang dimaksud adalah, Serikat Nasional Pelestari Tosan Aji (Senapati) Nusantara dipimpin oleh Sekjen Partai Demokrasi Indonesia (PDI), Hasto Kristianto. Sedangkan organisasi yang lebih dulu eksis, Serikat Nasional Keris Indonesia (SNKI) dipimpin Sekjen Gerindra, Fadli Zon. Perbedaan kepemimpinan di perkerisan nasional ini sering membuat bimbang para pekeris murni yang tidak berafiliasi kemana-mana.

BACA JUGA  Hamemayu Hayuning Bawana di Era 4.0

“Jangan putus silaturahmi hanya karena SNKI atau Senapati. Atau terombang-ambing perbedaan organisasi. Komunitas keris harus menyatu untuk melestarikan tosan aji…,” ungkap Gusti Yudho, seraya memberi contoh dalam sebuah kesempatan pertemuan keris di Yogya belum lama ini yang ada tokoh pimpinan organisasi keris tertentu, maka organisasi yang berseberangan tidak mau hadir.

“Kebhinekaan untuk satu tujuan, kesenangan yang sama terhadap keris, semestinya kini kita bersatu,” ungkap Cakra Wira Wiyata, ketua Komunitas Astajaya (Ajang Silaturahmi Tosan Aji Jakarta Raya) penggagas acara silaturahmi “Cafe GuloKlopo” kali ini. Sengaja digelar dalam konsep cafe besalen, agar perbedaan dalam berorganisasi, cair dalam silaturahmi.

Harus semakin banyak dilakukan, pertemuan-pertemuan komunitas keris yang tidak mengetengahkan perbedaan politik organisasi, agar orang-orang yang benar cinta keris tidak patah semangat untuk terus melestarikan tradisi keris.

Gusti (GBPH) Yudhaningrat ketika menyerahkan keris yang dilelangnya untuk sumbangan bagi besalen GuloKlopo, kepada pemenang lelang, Budi Satriyo (Pak Tri) di acara Halal Bihalal Komunitas Keris Se-Jabodetabek Minggu (08/7/2018) malam.

Gusti (GBPH) Yudhaningrat ketika menyerahkan keris yang dilelangnya untuk sumbangan bagi besalen GuloKlopo, kepada pemenang lelang, Budi Satriyo (Pak Tri) di acara Halal Bihalal Komunitas Keris Se-Jabodetabek Minggu (08/7/2018) malam.
(KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Sementara Romo Donny dari komunitas Jayakarta, dalam sarasehan pada kesempatan silaturahmi, mengungkapkan di depan sarasehan malam itu bahwa ia dan kawan-kawan terus melakukan edukasi keris terhadap generasi muda, terutama di sekolah-sekolah. Ia mengakui, bahwa anak-anak sekarang sebenarnya banyak yang tertarik mempelajari gamelan, misalnya. Mereka pintar memainkan, akan tetapi tidak tertarik untuk merunut balik tradisi.

“Saya masih penasaran, bagaimana cara mengajarkan pada mereka agar mereka juga tertarik pada akar tradisinya,” ungkap Romo Donny pada Kerisnews. Romo Donny, bersama pekeris Donny Yonatan yang juga dari Jayakarta, memang boleh dikatakan rutin menyambangi sekolah-sekolah untuk melakukan edukasi tentang keris.

“Guru-guru yang fanatik, mulai terbuka sikapnya setelah diceritakan tentang pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia,” ungkap Romo Donny. Pengakuan UNESCO pada 2005 bahwa keris adalah mahakarya kemanusiaan dunia, sungguh membantu keris diterima di kalangan anak-anak sekolah.

Sedangkan Ferry Febrianto, pekeris senior dari paguyuban lama di Jakarta Damartaji, mengatakan bahwa sebenarnya masih banyak yang menarik dilakukan di perkerisan.  Mengembangkan keris baru. Atau praktek menghias warangka keris dengan sunggingan, merupakan salah satu yang menarik dikembangkan. Ragam-ragam hias baru sangat mungkin dilakukan dalam hal sunggingan pada warangka keris.

BACA JUGA  Pesona Kujang di Botani Square Bogor

Ferry Febrianto sendiri sudah lama dikenal melakukan eksperimen keris-keris baru, bahkan pernah membuat kalender – penuh berisi kreasi-kreasi disain keris baru, bahkan juga motif kinatah-kinatah emas pada bilah dengan kreasi baru ciptaannya. Bahkan motif-motif disain sunggingan (ornamen seperti wayang) di warangka pun, ia ciptakan.

“Sudah banyak sekali saya buat keris, yang di kalender itu saja 12 buah,” katanya. Ada belasan bahkan puluhan bilah keris dengan kinatah-kinatah modern “versi Ferry Febrianto” yang dibikinkan bilahnya di Madura, dan tinatahnya dilakukan oleh Hendra dari Serangan Yogyakarta. Hendra, adalah anak dari seorang penatah motif hias emas pada keris yang terkenal, Nugroho.

Sedangkan Purbo Kuncoro, salah satu dari lima awak besalen “laboratorium” GuloKlopo, mengatakan bahwa besalen yang pembangunannya merupakan hasil patungan komunitas Asta Jaya, mengatakan bahwa selama (setahun) ini GuloKlopo telah melakukan berbagai praktek percobaan tempa keris — dari penggunaan bahan konvensional seperti besi, juga eksperimen pamor.

“Pemakaian bahan knalpot yang mengandung 93 persen nikel sebagai bahan pamor sebenarnya bukan hal baru. Bahkan sejak (Isaac) Groneman zaman Hamengku Buwana VII (awal abad 20) sudah dilakukan. Kami tengah mencoba bahan lain, termasuk meteorit yang susah didapat,” ungkap Purbo Kuncoro, yang bersama Mas Tok Andriyanto, Ferry Yuniwanto, Arifin, dan keponakannya Wanto menggawangi besalen swasta ini.

“Beruntung ada buku-buku yang membantu kami, seperti Pandameling Duwung (catatan dari sumber Kraton Surakarta akhir abad 19 dan awal abad 20), yang mengungkapkan tahapan-tahapan membuat keris. Juga buku Groneman,” ungkapnya…

Dalam silaturahmi penuh keakraban di kalangan komunitas keris Jakarta, adapula gelaran bursa keris. Sejumlah pengusaha keris dari pasar batu aji dan tosan aji di Rawabening, Jatinegara pun menggelar bursa di pinggir selasar jalan samping acara. Ada pengusaha keris terkenal. Hengki Joyopurnomo, Joko Supriyadi, dan bahkan ketua asosiasi Pengusaha keris Jakarta, PPKJ, Abehamdi.

Gelaran yang dipersiapkan oleh “koki” Cafe GuloKlopo, ketua panitia silaturahmi Abdul Fattah, malam itu berlangsung meriah dan baru berakhir menjelang tengah malam. Di akhir acara, Gusti Yudho pun di akhir acara, melelang keris sumbangannya. Sebuah keris sederhana kebo lajer yang diberi warangka baru, berbahan tanduk. Lumayan rame lelangnya, dan laku dibeli seorang tamu pekeris Budi Satriyo atau Pak Tri. Menjelang pulang, pak Tri pun berbisik pada Gusti Yudho. Diberi nama apa keris pemberiannya?

Gusti Yudho pun menjawab: Kiai Yudho Pengasih….. wah, keberkahan nih Pak Tri?

Konsep "Cafe GuloKlopo" yang digagas Cakra Wiyata dkk dalam acara Halal Bihalal Komunitas Perkerisan Se-Jabodetabek. Bermusik di teras Besalen, tempat pembuatan keris.

Konsep “Cafe GuloKlopo” yang digagas Cakra Wiyata dkk dalam acara Halal Bihalal Komunitas Perkerisan Se-Jabodetabek. Maka Chacan dan kawan-kawan yang dulu biasa bermusik di terminal Rawamangun dan kini di cafe-cafe pun menyanyi dan memetik gitar mereka di teras Besalen, tempat pembuatan keris.
(Kontributor/Purbo Kuncoro)

Komunitas Perkerisan Se-Jabodetabek (sebagian sudah pulang) ketika berfoto bersama, tidak peduli lu dari Senapati atau lu dari SNKI atau dari manapun. Yang penting guyub...

Wajah para penggemar keris dan tosan aji dari berbagai komunitas, paguyuban, asosiasi, maupun kesekretariatan Perkerisan Se-Jabodetabek (sebagian sudah pulang) ketika berfoto bersama di pohon jati depan besalen GuloKlopo Taman Mini. Yang penting guyub…
(KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.