Jejak Tulisan Keris Suwarsono Lumintu

Jejak Tulisan Keris Suwarsono Lumintu
Penulis keris Suwarsono Lumintu (belakang) dan mendiang Empu Djeno Harumbrodjo di Jitar, Moyudan Sleman pada tahun 1984. (Foto Ensiklopedi Keris 2004)

Siapa sajakah penulis-penulis keris di era Nusantara modern? Setelah era Pangeran Hadiwidjojo cucu sinuwun Paku Buwana X yang disebut-sebut sebagai salah satu peletak dasar kawruh keris modern awal abad ke-20, bermunculan beberapa “penulis keris” di blantika perkerisan Indonesia setelah era 1980-an.

Sebut saja Ir Haryono Arumbinang, sarjana nuklir UGM yang menulis hasil penelitiannya soal kandungan logam dalam keris dan tombak. Selain menarik dengan metode penelitiannya yang memakai teknik pendar Sinar X pada bilah tosan aji, Arumbinang juga menarik dengan berbagai ulasan kerisnya dalam beberapa makalahnya yang dia bacakan di akhir 1980-an sampai akhir 1990-an baik di Yogyakarta maupun Jakarta.

Atau Ir Haryono Haryoguritno, sarjana mesin ITB yang dikenal melalui buku kerisnya yang dinilai komprehensif, dan jadi salah satu “bacaan wajib” pekeris-pekeris modern Indonesia dengan buku “Keris Jawa, Antara Mistik dan Nalar”.  Selain cukup lengkap tidak hanya dari sisi detail kerisnya, akan tetapi juga sejarahnya.

Judul kurang lebih sama, Keris Jawa, juga ditulis oleh seorang sejarawan penulis militer yang memiliki hobi keris, MT Arifin. Arifin juga memakai pendekatan supranatural dalam menelusuri asal muasal keris yang ditelitinya.

Pekeris muda, akademisi, peneliti dan pengajar di Institut Seni Indonesia di Surakarta, Basuki Teguh Yuwono, juga termasuk penulis yang produktif menerbitkan buku keris. Dari buku tentang keris Jawa, sampai keris Sumatra, Keris Bali bahkan buku tentang senjata pusaka tradisional Jawa Barat, Kujang.

Sedangkan Bambang Harsrinuksmo, hampir semua kalangan perkerisan mengenalnya melalui karya populernya, Ensiklopedi Keris – yang disempurnakan dari karya lamanya Ensiklopedi Budaya Nasional (1980-an). Ensiklopedi Keris terbitan Gramedia 2004 ini sudah habis di pasaran sejak lama, dan kini banyak beredar kopiannya, maupun e-book.

Salah satu kontribusi penting penulisan Ensiklopedi Keris yang ringkas karya Bambang Harsri ini, dikutip juga beberapa tulisan seorang penulis Yogyakarta, Suwarsono Lumintu. Penulis asli Wonosari, Lumintu (86 tahun) ini, tiga tahun terakhir ini praktis tergolek sakit sepuh di rumahnya di Jalan Gajah Mada Yogyakarta. Bahkan beberapa hari terakhir ini, sempat menginap di RS Bethesda Yogyakarta karena tumor di kepalanya…

Sebelas dari tiga belas judul buku terbitan dan tulisan Suwarsono Lumintu dalam cetakan dan stensilan sederhana.

Sebelas dari tiga belas judul buku terbitan dan tulisan Suwarsono Lumintu dalam cetakan dan stensilan sederhana. Diterbitkan oleh Pametri Wiji Yogyakarta.
(KerisNews.com/Tira Hadiatmojo)

Dibandingkan dengan penulis-penulis keris di atas, Lumintu memang boleh dikatakan kurang populer. Meskipun demikian andilnya di dunia tulis-menulis kawruh keris, utamanya di Yogyakarta, buku-buku terbitan S Lumintu sungguh berarti.

BACA JUGA  Raden Prasena Ikut Menempa di Tamini

Lumintu, ayah enam anak asli Wonosari ini tidak kalah produktif dibandingkan penulis keris asli Klaten yang aktif di Jakarta, mendiang Bambang Harsrinuksmo. Sama-sama menulis lebih sepuluh judul buku keris, Lumintu boleh dibilang menjadi penulis sumber bacaan bagi masyarakat pekeris di Yogyakarta.

“Sebenarnya bapak juga kuat bela diri, dan sejak dulu mendapat pelajaran dari Gusti Hari (dari dalem Tejakusuman)…,” tutur Mas Agus, putra keempat dari enam putra Lumintu, ketika ditemui di ruang rawat inap di RS Bethesda, Jumat (22/Juni/2018).

Sedangkan menurut Amos Setiadi, arsitek dan pengajar yang juga penggemar keris, ada setidaknya satu naskah tulisan tangan Lumintu yang belum diketahui umum atau diterbitkan.

“Semoga bisa diterbitkan, suatu saat nanti,” ungkap Amos, yang termasuk sering menjenguk Lumintu dalam keadaan sakit dalam tiga tahun terakhir ini, baik di rumah maupun di rumah sakit.

Tulisan keris Lumintu ada beragam. Ada yang berupa kompilasi berbagai makalah dan ceramah berbagai tokoh keris nasional yang berbicara keris pada zamannya, seperti Haryono Arumbinang, Haryono Haryoguritno, atau ahli-ahli metalurgi yang mengamati keris. Ada juga tulisan-tulisan dan catatan-catatan Lumintu sendiri tentang berbagai hal, dari soal catatan lama zaman Belanda tentang empu-empu keris yang berkarya di Yogyakarta dan Pakualaman, sampai berbagai macam tuah pamor, daya gaib keris pusaka dan berbagai jenis kayu. Sampai tempat-tempat keramat di Yogyakarta dan sekitarnya pun ditulis oleh Lumintu…

Ada setidaknya tigabelas judul bukunya, yang diterbitkan masih dalam penampilan sederhana – ketikan, stensilan, kliping, saduran – yang dipublikasikan untuk edisi terbatas di kalangan penggemar tosan aji di Yogyakarta, Pametri Wiji (Paheman Memetri Tosan Aji) sejak awal 1980-an.

Beberapa buku di antara terbitan Lumintu ini, dipakai pula untuk sumber tulisan penulis Ensiklopedi Keris, Bambang Harsrinuksmo. Dalam setiap kesempatan Sekatenan di Kraton Yogyakarta, buku terbitan Lumintu ini selalu dijual di sela pameran tosan aji oleh Pametri Wiji di Siti Hinggil, Ngayogyakarta.

Suwarsono Lumintu (86) dan sobat dekatnya Amos Setiadi (kanan) dalam sebuah kebersamaan mereka di Yogyakarta 2018.

Suwarsono Lumintu (86) dan sobat dekatnya Amos Setiadi (kanan) dalam sebuah kebersamaan mereka di Yogyakarta 2018.
(Foto Dok Keluarga Lumintu)

Di kalangan organisasi keris, kalau di Surakarta dikenal Boworoso Tosan Aji di tahun 1970-an dengan pandemen, Panembahan Hardjonagoro (Go Tik Swan) pada tahun 1970-an, maka di Yogyakarta ada Suwarsono Lumintu, yang bersama dengan mendiang Romo Soepono dan Ir Haryono Arumbinang, mereka mendirikan perhimpunan pencinta keris, Pametri Wiji (1983).

BACA JUGA  Keris Pusaka Pakai Pamor Knalpot?

Selain menggalakkan sarasehan tosan aji di Yogyakarta, Pametri Wiji juga aktif setiap tahun sejak 1980-an itu, mengisi Pameran Tosan Aji di kesempatan setiap perayaan Sekaten. Gelaran tosan aji Pametri, selalu dilakukan di Siti Hinggil, di ruang museum Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat setiap tahun.

Sebagai Sekretaris Pametri, sejak 1983 Lumintu aktif mendokumentasikan hampir setiap ceramah keris di kesempatan sarasehan bulanan, serta mengompilasi dalam penerbitan yang dijual terbatas dalam setiap kesempatan pameran di Siti Hinggil Yogyakarta.

Salah satu kontribusi penting Suwarsono Lumintu dalam buku Ensiklopedi Keris (2001) Bambang Harsrinuksmo, adalah tulisan di awal buku tentang Asal Usul Keris serta Berbagai Penelitian Keris.

Secara cukup rinci, Lumintu menuliskan berbagai penelitian demi penelitian keris yang pernah dilakukan orang asing maupun orang Indonesia di masa lalu, sejak era Gubernur Jendral Thomas Stamford Raffles dalam History of Java (1817), sampai Isaac Groneman (1910), JG Huyser (1918), JE Jasper dan Mas Pirngadie (1930) dan lain-lainnya.

Lumintu juga mencatat penelitian metalurgi yang pernah dilakukan oleh Dr Frankle, sarjana fisika nuklir UCLA (University of California, Los Angeles) yang diperbantukan di Universitas Gajah Mada pada 1960-an. Sarjana AS ini menurut catatan Lumintu, sempat membuat beberapa potongan keris lama dianalisis secara kimia serta fisika. Namun pergolakan politik peralihan era Orde Lama dan Orde Baru di pertengahan 1960-an ini membuat penelitian Dr Frankle yang semestinya menarik di Gajah Mada ini, jadi terhenti.

Pada tahun 1983, menurut catatan Lumintu dan juga Haryono Arumbinang, untuk pertama kalinya tiga sarjana nuklir Indonesia, Haryono Arumbinang, Sudyartono Suntono dan Budi Santoso mengenalkan metode penelitian yang mereka sebut sebagai, non destructive testing, tanpa merusak benda tosan aji yang mereka teliti dengan teknologi atom.

Penelitian tiga sarjana Indonesia ini menjadi salah satu tonggak dalam upaya merintis krisologi (ilmu pengetahuan tentang keris), yang berasal dari penelitian ilmuwan negeri sendiri.

Semoga apa yang dilakukan oleh Lumintu, yakni upaya pencatatan-pencatatan jejak sejarah keris Indonesia, diteruskan oleh para penulis generasi muda pencinta keris di era milenium berikutnya. *

Foto terkini Suwarsono Lumintu, memegang buku terbitannya tentang Ilmu Keris di tempat perawatannya di RS Bethesda, Yogyakarta Jumat (22/Juni/2018) lalu.

Foto terkini Suwarsono Lumintu, memegang buku terbitannya tentang Ilmu Keris di tempat perawatannya di RS Bethesda, Yogyakarta Jumat (22/Juni/2018) lalu. Nomor dua dari kanan, Agus anak keempat dari enam anak Lumintu, serta Amos Setiadi (nomor tiga dari kanan) berbaju batik.
(Kontributor/Tira Hadiatmojo)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.