Surya Majapahit Situs Makam Selawe Darmayu

Surya Majapahit Situs Makam Selawe Darmayu
Iskandar Z pegiat sejarah dan Evi Nurjanah Mahasiswi semester 8 jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia pada STKIP sebelas april Sumedang, sedang mengamati salah satu ukiran berhuruf arab gundul di salah satu Makam kompleks Makam selawe, Sindang Indramayu. (Kontributor/Nang Sadewo)

Indramayu ternyata menyimpan beberapa potensi wisata religi dan arkeologi. Sebut saja situs Watu Lumpang yang berada di desa Dermayu Kecamatan Sindang Kabupaten Indramayu, di garis pantai utara Jawa Barat.

Situs Watu Lumpang sebenarnya hanyalah sebuah lahan pekarangan yang ditumbuhi rumput liar. Konon dahulu di lahan yang sekarang bersebelahan dengan Pesantren Al Irsyad Indramayu ini pernah ditemukan beberapa batu yang berbentuk mirip lumpang sebagai pondasi penyangga tiang atau saka sebuah bangunan. Beberapa pengamat sejarah dan kebudayaan lokal mengidentifikasi peninggalan bangunan tersebut sebagai bekas pendopo Agung era kekuasaan Wiralodra – tokoh yang disebut-sebut sebagai pendiri Kabupaten Indramayu.

Asumsi tersebut dibangun berkaitan dengan posisi Situs Watu Lumpang yang dalam Babad Dermayu — sebuah naskah tembang yang dibuat sekitar tahun 1900 — diceritakan wilayah ini dahulunya ditempati oleh Wiralodra. Selain keterangan dari Naskah Babad Dermayu juga didukung oleh adanya bangunan Masjid Kuno Darmayu di sebelah barat dari Situs Watu Lumpang. Oleh masyarakat setempat Masjid ini dinamakan Masjid Pusaka yang telah ada sejak minimal Masa Mataram Islam bahkan bisa saja lebih tua lagi yaitu era Kesultanan Demak-Cirebon.

Lokasi penemuan Situs Watu Lumpang

Lahan hijau tempat yang pernah ditemukan Watu Lumpang beserta sisa bale-balenya. (KerisNews.com/Iskandar Z)

Susunan Masjid ini terdiri dari bangunan induk dan serambi. Jika mengacu pada dokumentasi lama, bangunan induk memiliki empat tiang utama yang disebut saka guru. Atapnya berbentuk limasan dengan dua tingkat dan pada bagian serambi dilengkapi dengan angin-angin layaknya jendela sehingga berkesan tertutup. Pada tahun 1986 Masjid ini mengalami kerusakan yang parah hingga pada akhirnya dilakukan pemugaran dan dibangun kembali. Bagian-bagian utama masjid seperti pasak atau pilar/Saka guru serta memolo/Mustaka pada atap utama masjid masih terjaga dan dilestarikan sampai dengan sekarang. Saat ini Masjid tersebut bernama Masjid Baiturrahmah.

Dari Masjid Pusaka atau Masjid Baiturrahmah bergeser memutar ke arah timur melalui jalan yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua lalu berbelok ke barat menuju kesisi belakang masjid maka kita akan menemukan Situs Makam Selawe. Makam ini berjarak sekitar 800 meter dari belakang halaman Masjid Pusaka.

Meninjau situasi gambaran yang ada di kompleks Makam Selawe, menurut Juru Kunci, Ibu Tutty seorang PNS yang diangkat dan dipekerjakan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jabar-Banten, Makam Selawe ini masuk dalam kawasan benda cagar budaya. Oleh karenanya seluruh hal yang menyangkut isi di dalamnya termasuk perawatan dan pemugaran harus sesuai peraturan perundang-undangan cagar budaya.

Masjid Pusaka di Wilayah Kekuasaan Wiralodra

Masjid Pusaka pada masa kolonial Belanda, Masjid ini dipercaya sebagai masjid awal di daerah Kota Indramayu dahulunya merupakan wilayah kekuasaan Wiralodra. (Dokumentasi KILTV 1910)

Di dalam kompleks Makam ini terdapat enam baris makam. Jika diurut dari sisi yang paling utara (atas)/barisan pertama maka kita dapati empat buah makam berjajar dengan titik kumpul tengah. Pada empat makam ini makam paling pertama dari sisi barat merupakan makam yang terdiri dari undakan/tumpukan batu lama kurang lebih enam tumpukan dengan dilengkapi batu nisan pada bagian tengahnya terdapat ligkaran polos.

Pada undakan/tumpakan batu paling atas sisi barat terdapat hiasan sulur-sulur yang menyerupai simbol Kerajaan atau motif tertentu berupa lingkaran yang didalamnya seperti ada inskripsi berbentuk kura-kura dilengkapi dengan sayap dikanan kirinya yang distilasi seper sulur-suluran. Pada bagian samping sisi vertikal batu yang terdapat hiasan sulur-suluran ini terlihat adanya ukiran huruf arab gundul/pegon yang jika dibaca maka akan berbunyi : “La ilaha illallah Muhammad Rasulullah”. Tiga sisa makam lainnya dalam baris pertama ini tumpukan batunya lebih rendah hanya satu undakan dengan batu nisan persegi.

BACA JUGA  Drama Tari Sumpah Putra Nusantara

Pada barisan kedua terdapat delapan makam berjajar dimulai dari sisi barat keselatan terdapat tiga makam dengan tiga undakan/tumpukan, dan lima makam dengan satu undakan. Baris ketiga terdapat dua makam berjajar pada sisi timur saja, kemudian baris keempat terdapat dua makam berjajar pada sisi bara sajat. Sedangkan pada baris kelima terdapat delapan makam dimana ada sekitar tiga makam tertutup pohon besar yang nyaris tumbang. Pada baris kelima ini pada makam yang berjajar ke tujuh dan delapan memiliki batu nisan yang dilengkapi hiasan geometris bermotif Matahari dengan ujung sinarnya berjumlah delapan, menyerupai Surya Majapahit. Pada baris keenam hanya terdapat satu makam dengan ukuran sangat kecil, nyaris tak terlihat.

Di antara sejumlah 25 makam terdapat beberapa makam dengan batu nisan ganda. Nisan bagian dalam puncaknya runcing berhias lingkaran. Nisan bagian luar berbentuk dasar empat persegi panjang. Keadaan nisan sudah mengalami patah dan disambungkan dengan semen, bentuk puncak nisan berbentuk Kurawal.

Masjid Pusaka di Wilayah Kekuasaan Wiralodra setelah dipugar

Kondisi Masjid Pusaka yang sekarang bernama Masjid Baiutrahmah Indramayu. Tampak serambi masjid diperluas dan bangunan telah dipugar namun pada bagian Mustaka atau Memolo Utama masih asli. (KerisNews.com/Iskandar)

Bentuk-bentuk nisan makam masa Islam di Indonesia, menurut Hasan M. Ambary (1984) berdasar pusat persebarannya dapat dibagi dalam empat tipe yaitu Aceh, Demak-Troloyo, Bugis-Makassar, dan lokal. Nisan tipe Aceh didasarkan pada nisan Makam Malik-as-Shaleh yang merupakan makam paling tua di daerah tersebut. Nisan tipe Demak-Troloyo didasarkan pada bentuk nisan Raden Patah di Demak dan beberapa makam kuno di Troloyo. Bentuk nisan tipe Demak-Troloyo tersebar di Pantai Utara Jawa dan daerah pedalaman, Palembang, Banjarmasin dan Lombok.  Nisan tipe Bugis-Makassar didasarkan pada makam raja-raja Goa dan Bone. Tipe nisan lokal merupakan bentuk nisan yang hanya terdapat di daerah tertentu.

Berdasarkan pembagian di atas, daerah Indramayu termasuk dalam persebaran nisan tipe Demak-Troloyo. Nisan tipe Demak-Troloyo berdasarkan bentuk dan ragam hiasnya dapat dibagi dalam tiga subtipe (Nurhakim, 1990:80-81). Subtipe 1, berbentuk dasar segi empat pipih, kepala nisan berundak berbentuk mahkota. Hiasan yang digunakan berupa hiasan tumpal pada bagian badan dan kaki nisan; subtipe 2, berbentuk dasar bulat, kepala nisan lengkung menyatu dengan badan nisan makin ke bawah makin kecil. Hiasan yang digunakan berupa pelipit pada bagian kaki nisan; subtipe 3, berbentuk dasar pipih, kepala nisan berbentuk seperti kurawal menyerupai lengkung-lengkung kala-makara. Hiasan yang digunakan berupa hiasan pilin dan flora pada bagian badan nisan, sedangkan pada bagian bawah nisan terdapat hiasan tumpal yang digayakan. Dengan demikian nisan yang terdapat pada baris kelima komplek makam Selawe merupakan nisan subtipe 3.

Situs Makam Selawe, disebut  “selawe” yang dalam bahasa Indonesia artinya dua puluh lima, disebabkan cerita yang berkembang dimasyarakat sekitar dan juga termuat dalam Babad Dermayu  menceritakan peristiwa kedatangan seorang Pangeran yang juga pemimpin padepokan silat beserta 24 muridnya dari Negeri Palembang ke Indramayu. Tokoh Pangeran dari Palembang ini dalam Babad disebut dengan Pangeran Guru keturunan dari Aryadillah.  Aryadillah atau Jaka Abdillah adalah nama lain dari Arya Damar versi Babad Tanah Jawi sedangkan dalam teks Malay annals bernama tionghoa Swan Liong, seorang keturunan Raja Majapahit Prabu Wikramawaddhana denga istri selir peranakan Cina yang diangkat menjadi Adipati di Palembang .

BACA JUGA  Batik Eksplorasi Motif ASEAN

Pangeran Guru beserta 24 muridnya terlibat pertarungan dengan tokoh Perempuan yang bernama Nyi Hindang Darma, keributan tersebut terjadi di saat Wiralodra selaku penguasa Dukuh Cimanuk tidak berada di tempat, akibat pertempuran tadi Pangeran Guru beserta 24 muridnya gugur dan dimakamkan di belakang Masjid Pusaka sesuai dengan keterangan dalam naskah Babad Dermayu.

Salah satu makam di Situs Selawe Sindang Indramayu

Salah satu nisan di kompleks Makam Selawe Sindang Indramayu yang dilengkapi dengan hiasan Motif mirip Surya Majapahit. (KerisNews.com/Iskandar Z)

Menurut catatan Tome Pires, seorang Apoteker dari Portugis (lama menetap di Malaka) yang berkunjung ke Bandar Cimanuk sekitar tahun 1513-1515 M menuliskan bahwa walaupun Kapiten/Syahbandar Pelabuhan Cimanuk seorang pagan dan pelabuhan ini di bawah kekuasaan Raja Sunda akan tetapi sudah banyak  orang Moor (beragama Rasul/Islam) tinggal di sini. Dikatakan Cimanuk memiliki perdagangan yang baik dan banyak orang jawa (Tomes Pires menggunakan istilah Jawa untuk mewakili Kebudayaan Kerajaan Majapahit) yang menjalankan perdagangan di pelabuhan ini.

Hubungan Cimanuk atau yang sekarang dikenal dengan nama Indramayu dengan Jawa “Majapahit” tidak hanya disinggung secara implisit oleh Tome Pires dan adanya situs makam selawe Pangen Guru keturunan Arya Damar. Akan tetapi adanya kisah yang berkembang disalah satu masyarakat yang mengaitkan jalur silsilah keluarganya (Desa Paoman dan Penganjang) dengan tokoh bernama Raden Kusen yang dalam Babad Tanah Jawi disebutkan sebagai Adik Tiri Raden Patah alias Jinbun. Raden Kusen yang dalam Teks Malay Annals disebut dengan nama Kin San, putra dari Swan Liong alias Arya Damar disebut-sebut pasca konlik kekuasaan di Demak zaman Sultan Trenggana kemudian memilih mencari ketenangan hidup di Cirebon. Bisa saja ketika menghabiskan masa Tuanya Kin San atau Raden Kusen kemudian menikah dengan salah seorang wanita bersal dari wilayah bagian barat Kerajaan Cirebon yaitu di tepi kali Caimanuk dan melahirkan keturunan disana.

Hubungan Palembang dengan Kesultanan Demak pasca runtuhnya kekuasaan Majapahit adalah sebagai daerah protektorat (pelindung) Kerajaan Islam di Jawa, maka tak heran jika dari keturunan Adipati Palembang (Arya Damar) yaitu Pangeran Guru tetap meninjau proses perkembangan masyarakat Islam di Jawa utamanya di daerah bandar Cimanuk (Indramayu). Antara keturunan Arya Damar yang menurunkan Pangeran Guru dengan Keturunan yang melalui jalur Kin San/Raden Kusen yang ada di desa Penganjang dan Paoman Indramayu bisa saja pada masanya saling menjalin komunikasi dan silaturahmi. Mungkin salah satu alasan inilah maka tokoh Pangeran Guru beserta 24 muridnya datang ke Bandar Cimanuk.

Salah satu makam di Selawe dengan tulisan Arab gundhul

Salah satu batu makam yang diengkapi dengan huruf arab gundul berbunyi “La ilaha illallah Muhammad Rasulullah”. (KerisNews.com/Iskandar)

Berdasarkan perbandingan antara beberapa data literatur tersebut di atas dan peninggalan artefak berupa nisan makam Selawe dengan hiasan Surya Majapahit  tidak mengherankan jika bahasa yang digunakan oleh masyarakat Indramayu adalah bahasa jawa lama (era Majapahitan dan Kesultanan Demak) yang hanya memiliki dua tingkatan bahasa yaitu ngoko dan krama. Sebagai salah satu daerah yang memiliki pelabuhan dahulunya sangat memungkinkan Indramayu mendapat pengaruh dari berbagai budaya besar yang pasang surut seiring perkembangan zamannya. *

Surya Majapahit pada salah satu makam Selawe di Sindang Indramayu

Dua buah batu pada dua Makam selawe yang dilenagkapi dengan hiasan sulur-sulur menyerupai simbol Kerajaan atau motif tertentu berupa lingkaran yang didalamnya seperti ada inskripsi berbentuk kura-kura dilengkapi dengan sayap dikanan kirinya yang distilasi seper sulur-suluran. (KerisNews.com/Iskandar)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.