Gelar Budaya Adiluhung Catur Sagotra Nusantara

Gelar Budaya Adiluhung Catur Sagotra Nusantara
Tari Puspanjali persembahan dari Puri Agung Karangasem, Bali, yang merupakan tari penyambutan dan rasa syukur kepada Tuhan, saat acara “Gelar Budaya Adiluhung” dalam rangka Ulang Tahun yang ke-5, Paguyuban CSN, di Gedung Auditorium, Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Jalan Pattimura No 20, Jakarta Selatan, Sabtu (12/5/2018) lalu. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Tepat di Hari Ulang Tahun yang ke-5, Paguyuban Catur Sagotra Nusantara mengadakan acara “Gelar Budaya Adiluhung” di Gedung Auditorium, Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Jalan Pattimura No 20, Jakarta Selatan, Sabtu (12/5/2018) lalu.

Catur Sagotra Nusantara (CSN) merupakan organisasi kemasyarakatan non-politik yang bersifat paguyuban dan berbentuk forum dialog atau forum komunikasi dalam bidang budaya. Sebagai organisasi, Paguyuban CSN telah dikukuhkan pendiriannya pada 12 Mei 2013, di Jakarta.

Paguyuban ini menghimpun para trah, kerabat, sentana, maupun simpatisan yang berada di luar wilayah empat keraton, yaitu Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Pura Pakualaman, dan Pura Mangkunegaran, serta keraton lain di seluruh Nusantara.

“Tema yang diangkat dalam Hari Ulang Tahun Paguyuban Catur Sagotra Nusantara yang kelima ini masih tetap, yaitu Bercermin pada Sejarah. Artinya, bahwa semangat untuk menggali kearifan masa lalu masih sangat diperlukan dalam konteks masa kini, terutama untuk dijadikan cermin dan landasan membangun masa depan,” kata Ketua Umum Paguyuban CSN, KPH Koesoemowinoto Praboewinoto, saat memberi sambutan.

KRMH Joyoadiningrat dari Kasunanan Surakarta pada Gelar Budaya Catur Sagotra 2018

Ketua Periodik 2018-2019, KRMH Joyoadiningrat dari Trah Kasunanan Surakarta, tengah memegang Pataka Paguyuban CSN setelah menerima dari Ketua Umum Paguyuban CSN, KPH Koesoemowinoto Praboewinoto. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Sampai saat ini, ada tujuh anggota di Paguyuban CSN, yaitu Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Pura Pakualaman, Pura Mangkunegaran, Kasultanan Kasepuhan Cirebon, Kasultanan Samalanga, Aceh Darussalam, dan Puri Agung Karangasem, Bali. Dan, menurut Koesoemowinoto, masih akan bergabung lagi keraton dari Sumenep.

Di “Gelar Budaya Adiluhung” ini, selain diadakan Pameran Batik dari Puro Pakualaman, dan berbagai pementasan budaya seperti tari-tarian dan panembrama, juga diselenggarakan Prosesi Kirab Pataka Paguyuban CSN, serta pemotongan tumpeng.

BACA JUGA  Pameran Wastra “Encounters With Bali, A Collector’s Journey”

Kirab diikuti oleh Wakil Puri Agung Karangasem, Wakil Kasunanan Surakarta, Wakil Kasultanan Yogyakarta, Wakil Pura Mangkunegaran, dan Wakil Pura Pakualaman.

Pemotongan Tumpeng oleh Ketua Umum Paguyuban Catur Sagotra Nusantara KPH Koesoemowinoto pada Gelar Budaya Adiluhung Paguyuban Catur Sagotra di Jakarta 2018

Pemotongan Tumpeng oleh Ketua Umum Paguyuban CSN, KPH Koesoemowinoto Praboewinoto, di acara “Gelar Budaya Adiluhung” dalam rangka Ulang Tahun yang ke-5, Paguyuban CSN, di Gedung Auditorium, Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Jl Patimura No 20, Jakarta Selatan, Sabtu (12/5/2018) lalu. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Setelah kirab, Pataka diserahkan oleh Ketua Periodik 2017-2018, AA Bagus Arya Mataram, kepada Sekda Kabupaten Karangasem. Sekda Kabupaten Karangasem lantas menyerahkan Pataka kepada Ketua Umum Paguyuban CSN, KPH Koesoemowinoto Praboewinoto, yang kemudian menyerahkan kepada Ketua Periodik 2018-2019, KRMH Joyoadiningrat, dari Trah Kasunanan Surakarta.

“Kami kerabat Trah Kasunanan siap mengemban amanah yang diserahkan kepada kami, semoga Paguyuban Catur Sagotra Nusantara menjadi suri tauladan ajang silahturahmi yang bertujuan mensosialisasikan bidang seni dan budaya keraton, serta dapat mempersembahkan nilai-nilai kearifan dan karya budaya keraton yang beraneka warna,” ujar KRMH Joyoadiningrat saat memberi sambutan.

Kepada KerisNews.com, KRMH Joyoadiningrat mengatakan, ke depan, akan mencoba menggarap dan menampilkan kegiatan tradisi tata cara pisowanan yang ada di keraton-keraton. Untuk keanggotaan juga tetap terbuka, karena sifatnya nusantara, jadi tidak hanya di Jawa. *

Tari Beksan Sugriwo-Kiswamuka dari Kasultanan Yogyakarta

Tari Beksan Sugriwo-Kiswamuka persembahan Kasultanan Yogyakarta. Tari ini adalah ragam tari kera-raksasa yang diciptakan oleh KPH Purbaningrat, wayah Dalem HB VI, empu Tari Keraton Yogyakarta, atas perintah HB VIII. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Ketua Umum Paguyuban CSN, KPH Koesoemowinoto Praboewinoto saat menyambut di acara Gelar Budaya Adiluhung Paguyuban Catur Sagotra 2018 di Jakarta

Ketua Umum Paguyuban CSN, KPH Koesoemowinoto Praboewinoto, saat memberi sambutan di acara “Gelar Budaya Adiluhung” dalam rangka Ulang Tahun yang ke-5, Paguyuban CSN yang diadakan di Gedung Auditorium, Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Jl Patimura No 20, Jakarta Selatan, Sabtu (12/5/2018) lalu. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

 

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.