Mitos Joko Thole dan Kuda Megaremeng

Mitos Joko Thole dan Kuda Megaremeng
Kuda Megaremeng dalam pola motif hias pada warangka keris Madura. Dalam cerita mitos, Babad Songenep, Kuda Megaremeng adalah tunggangan tokoh legenda Madura, Joko Thole di zaman Majapahit. (KerisNews.com/Jimmy S Harianto)

Salah satu legenda Madura tentang kuda yang terkenal adalah kisah Kuda Semberani, tunggangan Raja Brawijaya dan kuda ghoib Megaremeng milik Adipoday yang bisa mencapai Majapahit dalam waktu sekejap. Dan kedua legenda kuda itu bersangkut paut erat dengan tokoh mitos Madura, Joko Thole.

Legenda kuda hitam Megaremeng ini tidak hanya menjadi lambang keraton Sumenep sampai kini, akan tetapi juga jadi hiasan yang banyak dipakai di warangka-warangka atau sarung keris Madura kuno. Megaremeng biasa digambarkan sebagai kuda bersayap, di atasnya ada mahkota raja.

Joko Thole sendiri — katakanlah, dia adalah tokoh Messianisme lokal —  yang konon adalah cucu Wagungrukyat atau Pangeran Saccadiningrat Raja Sumenep di sekitar abad ke-13 dari putrinya, putri Saini atau Raden Ayu Potre Koneng. Namun karena proses kehamilannya ghaib, tanpa suami, bayi masih orok itupun kemudian dibuang ibunya.

Raden Ayu Potre Koneng hamil bayi itu setelah bermimpi ketemu lelaki tampan Adipoday saat bertapa di goa  Payudan.  Karena rasa malu hamil tak bersuami dan takut dihukum mati oleh ayahnya, bayi orok yang baru dilahirkan itupun dibuang di hutan, di bawah pohon rindang yang aman, hanya ditutup daun. (Babad Songenep, R Werdisastra 1914).

Makam Raja-raja Asta Tinggi di Madura

Asta Tinggi, adalah makam raja-raja Sumenep di Madura. (Dokumentasi Istimewa)

Dikisahkan dalam Babad Songenep, di desa Pekandangan (sekarang termasuk Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep), hiduplah seorang laki-laki bernama Empo Kelleng. Sehari-hari, Empo Kelleng bekerja sebagai pandai besi. Ia membuat keris, pisau dan perkakas pertanian.

Selain pande besi, ia juga beternak kerbau yang diumbar di hutan, sore hari kerbau itu pulang sendiri seusai cari makan. Dari antara kerbau-kerbau piaraan Empo Kelleng, ada satu yang berwarna putih mulus dan keren.

Ketika bayi orok yang lahir dari Potre Koneng itu dibuang di hutan, kerbau bule itu baru saja menyusui anak-anak gudelnya. Dengan kekuasaan Allah, demikian tulis Babad Songenep, secara diam-diam kerbau putih itu berlari ke tempat bayi dibuang, lalu menyusuinya. Di samping menyusuinya, kerbau putih itu juga menjaga si orok agar jangan sampai dimakan binatang buas. Begitu setiap hari dilakukan si kerbau putih, sehingga sore hari si bule itu selalu pulang terlambat ke rumah Empo Kelleng.

Gerbang Keraton Sumenep di Madura

Foto lama gerbang Keraton Sumenep di Madura. (Dokumentasi Istimewa)

Tingkah laku aneh kerbau putih yang selalu pulang terlambat seusai cari makan di hutan itu membuat Empo Kelleng curiga. Apalagi kerbau putih itu semakin hari semakin kurus, dan perutnya kempes. Jangan-jangan dipekerjakan orang lain, pikir Empo Kelleng.

Keesokan harinya, Empo Kelleng membuntuti kerbau-kerbaunya. Empo Kelleng melihat kerbau putih itu berjalan paling depan meninggalkan kerbau-kerbau lainnya. Sesampai di hutan, kerbau putih itu menuju pohon tempat bayi itu dibuang. Dan Kelleng mendapatinya, si kerbau putih tengah menyusui bayi orok di bawah pohon itu. Raut bayi itu tampan bersinar.

Betapa gembiranya Empo Kelleng, karena sudah bertahun-tahun ia dan isterinya belum diberi anak. Bayi itu digendongnya pulang, dan kemudian dipelihara seperti anak sendiri, bersama Nyai Empo Kelleng. Isteri Empo Kelleng itu berusaha sekuat daya, agar bisa menyusuinya sendiri. Akan tetapi upayanya tidak berhasil. Alhasil, bayi orok itupun tetap menyusu pada si kerbau putih. Bayi orok itupun diberi nama oleh Empo Kelleng, sebagai Joko Thole.

Sementara itu, di Sumenep, Raden Ayu Potre Koneng kembali bermimpi bertemu Adipoday dan hamil lagi. Seperti juga ketika kemudian melahirkan Joko Thole, anak kedua Potre Koneng yang tanpa bapak itupun kemudian dibuang di hutan. Dipungut anak oleh Kyai Padhemmabu, kemudian orok itu dinamai Agus Wedi atau Banyak Wedi. Suatu ketika kelak, anak kedua Potre Koneng ini menjadi raja di Gresik, pesisir utara timur di Jawa.

Siluet patung kuda Megaremeng di gerang Sumenep

Siluet kuda terbang Megaremeng di gerbang masuk Sumenep. (Dokumentasi Istimewa)

Keajaiban memang selalu mengikuti cerita seorang tokoh mitos, atau tokoh yang dimitoskan. Sejak usia 6 tahun, Joko Thole mendesak ayah angkatnya untuk ikut bekerja memande besi. Tetapi selalu ditolak. Sampai suatu ketika, Joko Thole terpaksa dibawa ke tempat kerja, ke besalen Empo Kelleng.

Ketika Empo Kelleng dan pekerja besalennya sedang istirahat sembahyang dzuhur, Joko Thole menyalakan api dan membakar besi besalen, menempa perkakas dari arit, beliung, linggis dan lain-lain. Anehnya, hasil pekerjaan Joko Thole bentuknya bahkan lebih bagus dari bikinan ayahnya, Empo Kelleng.

Dikisahkan, suatu ketika raja Majapahit Brawijaya di Jawa ingin membangun gerbang raksasa yang terbuat dari besi raksasa. Maka Brawijaya pun memanggil empu-empu se-tanah Jawa untuk mewujudkan keinginannya tersebut. Empo Kelleng salah satu dari para empu di tanah Jawa yang mendatangi Majapahit.

Brawijaya berkeinginan, jika gerbang besi raksasa itu tidak berhasil diwujudkan oleh para empu dalam waktu dua tahun, maka para empu itu akan dihukum mati. Sampai setahun lebih, pintu gerbang besi raksasa itu belum juga jadi. Selain banyak empu yang jatuh sakit, termasuk pula Empo Kelleng, juga para empu gagal melakukan pengelasan akhir pintu gerbang. Setiap kali gerbang dilas, selalu lepas las-lasannya.

Kuda Megaremeng pada lambang keraton Sumenep

Lambang Keraton Sumenep yang lama, juga menyertakan kuda Megaremeng (kanan). Simbol baru juga masih menyertakan Megaremeng dengan beberapa modifikasi. (Dokumentasi Istimewa)

Mendengar suaminya sakit, Nyai Empo Kelleng yang tinggal di Pakandangan Madura pun menyuruh Joko Thole menyusul ayahnya ke Majapahit. Joko Thole pun berangkat sendirian ke negeri seberang, tanpa ditemani siapapun.

BACA JUGA  Pedang Pusaka yang Pernah Dipinjam Bung Karno

Di tengah jalan, Joko Thole khawatir tersesat. Di tengah hutan, ia bertemu dengan seorang lelaki tampan sedang bertapa di ujung gelagah. Ia adalah Adirasa, paman Joko Thole sendiri. Dalam pertemuan dengan sang paman, Joko Thole diajari ilmu batiniah dan ilmu lahiriah. Setelah dirasa cukup, Adirasa pun meminta Joko Thole meneruskan laku, menyusul bapaknya di Majapahit.

“Kalau ada kesulitan, panggilah namaku…,” kata Adirasa. Sang paman ini kemudian memberi kembang pada Joko Thole, “Makanlah kembang ini..,” katanya. “Suatu saat kembang ini akan menjadi bahan pengelas pintu gerbang Majapahit. Caranya? Kamu harus dibakar lebih dulu sampai hangus. Setelah itu, akan keluar bahan las dari pusarmu. Cepat-cepat ambil abunya, dan suruh kau disiram dengan air supaya hidup lagi. Setelah itu, pintu besi itu supaya dibakar lagi. Kalau api sudah menyala, masukkan kamu ke dalam api itu, lalu dilas,” kata Adirasa.

Arca Sumenep di Madura

Arca Sumenep salah satu penanda kota Sumenep. Penanda sejarah Sumenep yang paling utama adalah Prasasti Sarwadharma dari raja Kertanegara dari Singasari bertarikh 1269 M. Bahwa Prasasti ini menetapkan Sumenep menjadi salah satu daerah Swatantra (daerah yang mengurus dirinya sendiri) dari kerajaan Singasari. (Dokumentasi Istimewa)

Sesampai di Majapahit, Joko Thole merasa prihatin melihat bapaknya Empo Kelleng semakin kurus, kulitnya makin hitam, serta penuh kudis. Ia meminta bapaknya pulang saja ke Pakandangan, tetapi Empo Kelleng menolak.

Sampai suatu ketika raja Brawijaya meminta mengumpulkan segenap empu di alun-alun. Patih Gajah Mada dimarahi raja, karena meminta para empu dibunuh saja karena tak sanggup membuat gerbang besi Majapahit.

“Patih bangsat! Seharusnya kamu itu menjalankan perintahkan. Yang pantas kamu ini diiris bibirnya supaya dimakan anjing..,”hardik raja, pada Patih Gajah Mada. Tak seorang pun di alun-alun berani berucap. Semua hening.

“Mengapa baginda raja sangat marah pada Ki Patih?” tiba-tiba Joko Thole nyeletuk pada raja. Joko Thole dibentak perwira, “Diam kau hai anak kecil,” Akan tetapi baginda malah menanggapinya.

“Eh, Nak. Kamu anak siapa? Siapa namamu dan apa yang kamu katakan tadi?” kata raja. “Hamba tidak berkata apa-apa. Hamba hanya merasa heran, ketika baginda marah, tak seorang pun berani membantah. Hamba melihat, orang-orang di sini ketakutan seperti katak dalam tempurung…,” kata Joko Thole.

Singkat kata, Joko Thole diminta raja untuk melakukan pengelasan, seperti kesanggupan yang diungkapkannya. Joko Thole pun meminta dirinya dibakar, dan kalau sudah hangus dan cairan putih keluar dari pusarnya, maka cairan itu dipakai untuk mengelas. Dan tidak lupa, setelah dibakar hangus, dirinya diguyur air agar hidup kembali…

Dan gerbang besi Majapahit pun berhasil ditegakkan, setelah dilas oleh para empu, dengan menggunakan cairan putih yang keluar dari pusar Joko Thole.

Makam Joko Thole di Seasa Sumenep

Makam Joko Thole di desa Lanjuk, Kampung Seasa di Sumenep. Makam ini selalu ditunggui orang sampai saat ini. (Dokumentasi Istimewa)

Berbagai kisah mitos dan cerita kedigdayaan memang banyak membungkus orang-orang yang ditokohkan di masa lalu, demi legitimasi. Terutama jika orang tersebut adalah raja, yang berasal dari rakyat jelata seperti Ken Arok raja Singasari, atau Joko Thole anak buangan yang disusui kerbau putih ini.

Suatu ketika kuda yang biasa dipakai kendaraan raja Brawijaya, Kuda Sembrane, lepas dari kandangnya dan bertindak binal di alun-alun Majapahit. Kalau ada orang yang mendekatinya, digigit, ada yang sampai mati. Orang-orang Majapahit pun ketakutan. Sebagian ada yang lari ke kraton, sebagian lagi lari ke gunung.

“Tangkaplah kuda itu, Thole. Orang-orang tidak ada yang berani, karena takut digigit. Demikian juga Patih Gajah Mada pun takut,” ungkap Baginda. Joko Thole berkata, sanggup, asalkan dibawakan kaos serta pakaian kuda selengkapnya. “Jika hamba berhasil menangkap kuda itu, dan hamba selamat, maka pakaian kuda yang hamba minta tadi dipakai untuk menunggang kuda tersebut,” kata Jok Thole.

Ketika kuda itu menoleh dari jauh, Joko Thole membawa kaus dan pakaian kuda selengkapnya, kuda itu terdiam dan membungkukkan badannya. Kuda berhasil dipegang Joko Thole, diberi kaus kuda, dan kemudian dipacu ke hadapan baginda. Atas keberhasilannya itu, Joko Thole pun diangkat menjadi Patih Muda mendampingi Patih Gajahmada, dengan julukan “Kuda Panole”.

Dengan dipecahnya jabatan patih Majapahit ini, maka Patih Muda Kuda Panole diberi wewenang di lingkungan keraton, sedangkan Patih Gajah Mada untuk urusan di luar keraton. Ibarat Menteri Dalam Negeri dan Menteri Luar Negeri…

Masjid Agung Sumenep satu poros menuju keraton Sumenep

Pemandangan dari atas komplek Mesjid Agung Sumenep yang satu poros menuju Keraton Sumenep. (Dokumentasi Istimewa)

Legenda tentang kuda lainnya, terjadi setelah konflik Majapahit dengan Blambangan, ketika raja ujung timur Minakjayengpati tidak bersedia menghadap raja Majapahit. Brawijaya pun mengutus dua patihnya, Gajah Mada dan Joko Thole untuk menyerang Blambangan dengan membawa ribuan anggota pasukan Majapahit.

BACA JUGA  Rembrandt pun Mengoleksi Keris

Baginda raja Brawijaya memerintahkan agar Blambangan ditundukkan serta putri Blambangan diboyong ke Majapahit. Pada saat serangan ini, menurut Babad Songenep, Joko Thole kena tipu muslihat Patih Gajah Mada.

Saat mengepung istana Blambangan, pasukan Joko Thole disuruh Gajah Mada masuk istana, sementara pasukan Gajah Mada menunggu (bersembunyi) di luar kraton. Setelah memasuki kraton, Joko Thole hanya menemui puteri Blambangan Asmarawati yang tertinggal tidur, sementara ayahnya raja Blambangan kabur ke gunung.

Karena raja Blambangan belum tertangkap, maka Patih Gajah Mada meminta Joko Thole untuk mengejar raja Blambangan ke Gunung. Sementara, diam-diam Gajah Mada kembali ke Majapahit memboyong Puteri Asmarawati yang ditangkap Joko Thole.

Sesampai di Majapahit, pasukan Gajah Mada disambut sorak sorai, dan Gajah Mada mendapat anugerah, memilih putri Brawijaya untuk dipersunting. Gajah Mada pun memilih putri bungsu Brawijaya yang cantik, Dewi Lintang Asmara. Dan ketika Joko Thole kembali dari gunung setelah berhasil menangkap raja Blambangan? Mendapati pasukan Gajah Mada sudah tidak ada di Blambangan. Gajah Mada sudah lebih dulu kembali ke Majapahit membawa Puteri Asmarawati, putri Blambangan.

Meski demikian, Joko Thole juga berhasil memboyong dua puteri Blambangan lainnya, setelah raja Blambangan menyerah di pegunungan. Dua puteri Blambangan pun akhirnya dipersembahkan pada raja Majapahit, Brawijaya.

Seperti juga kedatangan Gajah Mada, maka rombongan Joko Thole setelah menundukkan Blambangan pun disambut sorak-sorai rakyat Majapahit. Namun, atas bisikan Gajah Mada, Joko Thole akhirnya tidak jadi dapat hadiah putri sulung Brawijaya, akan tetapi dipersuntingkan dengan puteri kedua, Dewi Ratnadi yang matanya buta, serta kakinya timpang. Sementara putri sulungnya, Ratna Dewi Maskumambang yang cantik dan sebenarnya sangat berharap dinikahkan dengan Joko Thole? Mengalami kekecewaan berat, dan patah hati karena tak jadi dikawinkan dengan si tampan Joko Thole…

Usai pesta perkawinan dengan Dewi Ratnadi, Joko Thole mendadak menghadap raja Brawijaya, dan meminta pulang ke Sumenep bersama Dewi Ratnadi. Menurut Joko Thole, akan terjadi perpecahan jika ia terus berada di Majapahit. Dan diam-diam, Joko Thole serta Dewi Ratnadi pun menyelinap pulang ke Madura.

Namun di tengah perjalanan, Joko Thole yang hanya berdua meninggalkan Majapahit bersama Dewi Ratnadi, sempat dicegat di tengah jalan oleh pasukan Patih Gajah Mada. Meski demikian, atas bantuan adik kandung Joko Thole, yakni raja Gresik Ario Banyak Wedi (Agus Wedi), Joko Thole berhasil lolos dari cegatan pasukan Gajah Mada dan selamat sampai ke Sumenep.

Joko Thole pun dinobatkan jadi raja di Sumenep sementara Ratna Dewi Maskumambang – putri sulung Brawijaya yang patah hati dengan Joko, dinobatkan jadi ratu di Japan oleh raja Majapahit sebagai tebusan kekecewaannya tak jadi dikawinkan dengan Joko Thole.

Tiga hari setelah dinobatkan jadi raja Sumenep, Joko Thole pun pamit ibunya, Raden Ayu Potre Koneng dan isterinya, Dewi Ratnadi, untuk mencari ayahnya ke Gunung Gegger.

Sesampainya di gunung Gegger, dari jauh Joko Thole melihat cahaya kemilauan. Setelah didekatinya, ternyata ada seorang lelaki tampan yang sedang duduk bersila dengan dililiti akar beringin.

Pada pertemuan itu, lelaki tampan yang ternyata adalah Adipoday ayah Joko Thole itu memberinya “ilmu samar dan ilmu terang”. Seusai memberi ilmu, Adipoday memanggil kudanya berwarna hitam, yang bernama Megaremeng. Kuda yang bisa menghilang itu akan menjadi tunggangan Joko Thole jika diperlukan.

“Kuda itu berfungsi sebagai prajurit perang yang akan bisa mengamuk sendiri. Sedangkan cemeti ini, jika dipukulkan pada gunung sekalipun, maka gunung itu akan hancur,” ujar Adipoday. Demikian juga jika dipukulkan pada angin, maka angin akan berhenti. Jika dipukulkan pada musuh? Musuh akan binasa, kata Adipoday sembari memberikan cemeti.

Selesai memberikan kuda dan cemeti pada Joko Thole, maka Adipoday pun menghilang secara gaib. Joko Thole terkejut, dan gemetar sekujur badannya. “Sekarang kamu pulang, dan bila kuperlukan akan kupanggil,” perintah Joko Thole pada kudanya. Maka, kuda Megaremeng itupun menghilang secara gaib. Dan begitu kuda itu hilang dari pandangan? Joko Thole sudah kembali ke Sumenep…

Keris ngulit semangka Madura

Pangkal bilah salah satu sosok keris Madura, yang memiliki kekhasan pamor — ngulit semangka, tebal. (KerisNews.com/Jimmy S Harianto)

Babad yang sedikit banyak menyiratkan jejak sejarah, memang sering dibalut dengan kisah dongeng, mitos dan bahkan cerita-cerita ghoib yang tidak masuk akal. Semuanya itu, tentunya adalah cara bertutur perlambang pada masa silam. Sesuai dengan alam pikiran masyarakat Jawa pada masanya, yang mempercayai dongeng. Dengan telaah kritis, dongeng-dongeng yang menyiratkan jejak sejarah ini sebenarnya bisa sedikit-sedikit dikuak fakta sejarahnya.

Seperti dongeng kuda Megaremeng, “yang bisa berfungsi sebagai prajurit perang…,” tentunya juga perlambang. Demikian pula, pusaka cemeti yang “bisa menghancurkan gunung, menghentikan angin”, tentunya juga perlambang kekuatan pasukan perang.

Gaya bercerita seperti dongeng, juga dijumpai dalam gaya bertutur kitab Pararaton misalnya. Pararaton yang menyiratkan jejak sejarah awal-awal berdirinya kerajaan Singasari, juga dilukiskan dalam gaya bertutur dongeng. Lengkap dengan mitos-mitos dan cerita kedigdayaan.

Meskipun Babad Songenep banyak mengandung fiksi, namun simbol-simbol masa lalu yang dilukiskan di dalam buku itu banyak yang “masih hidup” sampai kini. Seperti misalnya Kuda Megaremeng, tunggangan Joko Thole alias Patih Kuda Panole itu masih terus dipasang sebagai lambang kraton Sumenep sampai kini. Kuda terbang juga menjadi ornamen-ornamen hias warangka keris Madura. Bahkan patung kuda pun masih menghias gerbang masuk menujuk kota Sumenep. *

(Sumber Babad Songenep karya R Werdisastra tahun 2014)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.