Jogja Istimewa dan Budaya Tosan Aji

Jogja Istimewa dan Budaya Tosan Aji
Dalem Puspodiningratan tak jauh dari Pojok Beteng Wetan Keraton Yogyakarta Hadiningrat, saat sarasehan bulanan. Pametri Wiji, salah satu komunitas diskusi tosan aji tertua di Yogyakarta, pada 17 April ini genap 35 tahun. Selain menggelar secara rutin bulanan diskusi tosan aji, juga setiap acara Garebeg di Keraton Yogyakarta, Pametri selalu menggelar pameran tosan aji di Siti Hinggil. (Kontributor/Arry Manggala)

Yogyakarta senantiasa memperkuat keistimewaannya melalui referensi pada identitasnya. Pembangunan baik fisik maupun sosial budayanya diharapkan menghasilkan penajaman serta pemantapan identitas Jogja yang  pluralistik multidimensional.

Oleh Amos Setiadi

Untuk mempertahankan  makna konsepsi Jogja Istimewa dalam pembangunan Yogyakarta berbasis kebudayaan, maka swadaya tiap subsistem di wilayah Yogyakarta  bertumpu pada pola-pola karya-karya lokal yang telah membudaya serta dihasilkan sendiri, sebagai bentuk kreativitas dan daya inovasi masyarakat dengan menggali potensi budaya adiluhung yang ada.

Pametri Wiji (Paheman Memetri Wesi Aji) adalah sebuah organisasi pecinta budaya Keris yang didirikan di Yogyakarta pada tanggal 17 April 1983. Pada 17 April 2018 genap berusia 35 tahun. Saat ini ketuanya adalah KRT Puspodiningrat. Kegiatan organisasi ini antara lain mengadakan pameran keris khususnya pada acara Sekaten bulan Maulud di Siti Hinggil Keraton Yogyakarta, menerbitkan buku-buku tentang keris, serta sarasehan berkala.

Tosan Aji sebagai produk budaya lokal telah mendapat pengakuan sebagai Warisan Budaya Oral dan Nonbendawi manusia dari Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-bangsa (UNESCO) pada November 2005.

Eko Bedhil di Siti Hinggil Yogyakarta pada pameran tosan aji saat Garebeg 2014

Mas Eko Bedhil, salah satu anggota Pametri Wiji saat komunitasnya menggelar pameran di Siti Hinggil, saat Garebeg pada tahun 2014 silam di Keraton Yogyakarta Hadiningrat. (Kontributor Kerisnews/Tira Hadiatmojo)

Dalam Tosan Aji terkandung makna di balik fenomena yang fisik (noumena). Sebagaimana dinyatakan oleh Carl Gustave Jung (1964) bahwa ada hubungan antara suatu archetype dan nilai-nilai kehidupan dengan apa yang tampak di permukaan, atau berada di bawah tataran nir-sadar. (unconsciousness). Antropolog Indonesia, Koentjaraningrat (2009)  menyatakan bahwa hubungan sistem budaya, sistem sosial dan kebudayaan fisik akan memudahkan pemahaman mengenai makna di balik sebuah obyek fisik.

BACA JUGA  Keris bagi Pria Bali adalah Kekuatan Purusa

Ada tiga wujud kebudayaan, yaitu sistem budaya, sistem sosial dan kebudayaan fisik. Sistem budaya yang bersifat intangible meliputi ide (gagasan), nilai, norma ang mengikat masyarakat. Sistem sosial meliputi tindakan berpola dari masyarakat yang terjadi berulang-ulang dan berproses sesuai perubahan lingkungan. Kebudayaan fisik merupakan seluruh hasil fisik, aktivitas, perbuatan dan karya semua manusia dalam masyarakat. Ketiganya tidak bisa dipahami secara terpisah, karena merupakan kesatuan (Adimihardja, 2004).

Falsafah masyarakat Yogyakarta yang mengenal Hamemayu Hayuning Bawana, Sangkan Paraning Dumadi, dan Manunggaling Kawula Gusti menuntun hidup harmonis dengan sesama, alam dan Tuhan.

Demikian pula pada karya adiluhung Tosan Aji (curigo) sebagai salah satu archetype budaya masyarakat Yogyakarta memiliki makna dari unsur lainnya yang terdiri atas Wanita, Wisma, Turangga, Kukila dan Curiga. Pemaknaan terhadap Tosan Aji dipengaruhi oleh pandangan masyarakat (world view). Pada masa sekarang (era modern) dimana masyarakat menghadapi tantangan aspek logika-rasionalisme-fungsionalisme menjadi peluang bagi masyarakat Jogja untuk tetap melestarikan Tosan Aji sebagai produk budaya yang bermakna.

Boedhi Adhitya pada sarasehan Pametri Wiji di Dalem Puspodiningratan Yogyakarta pada September 2017

Boedhi Adhitya (paling kiri) salah satu tokoh muda penggerak diskusi tosan aji bulanan di Pametri Wiji Yogyakarta, dalam sebuah acara bulanan sarasehan di Dalem Puspodiningratan, tak jauh dari Pojok Beteng Wetan Keraton, pada September 2017. (Kontributor/Arry Manggala)

Masyarakat Yogyakarta sebagai sistem sosial-budaya merupakan sumber energi kolektif yang dapat dipakai untuk memelihara sinergi pemeliharaan kelestarian sosial-budaya termasuk Tosan Aji. Sinergi yang dibutuhkan untuk memelihara kelestarian sosial budaya Yogyakarta menempati prioritas utama karena menentukan keutuhan fungsi-fungsi internal sistem yang ada. Jika ada disfungsi dalam sistem sosial-budaya, maka akan menguras energi yang sebenarnya dapat digunakan untuk mencapai produktivitas.

BACA JUGA  Hamemayu Hayuning Bawana di Era 4.0

Disfungsi ini dapat terjadi, misalnya melupakan makna mahakarya Tosan Aji. Merawat budaya Tosan Aji mendukung Yogyakata sebagai  pusat sosial budaya (cultural centers). Karena pada pusat-pusat sosial-budaya inilah telah berlangsung pembauran kultural, cultural borrowing, yang berpotensi meningkatkan pemunculan inovasi-inovasi daerah.

Dengan demikian, Jogja Istimewa menjadi  pancaran inovasi dari pusat sosial-budaya yang ada di Jogja. Persepsi pembangunan semacam ini sudah ada sejak masa lalu ketika Kraton Jogja berperan sebagai pusat penyebaran budaya ke lingkungannya. Kekuatan sosial-budaya  Jogja Istimewa  merupakan salah satu holon yang kelestariannya bergantung pada segenap masyarakat sebagai wahana implementasi pembangunan Jogja Istimewa. Selamat HUT-35 Pametri Wiji Jogja… *

Victor Mh saat sarasehan di Hamzah Batik Yogyakarta

Tokoh-tokoh muda dari Pametri Wiji Yogyakarta, dalam sebuah event sarasehan di Hamzah Batik Yogyakarta, Oktober 2016. Tengah berbusana atasan putih bermotif, Victor Mh salah satunya. (Foto Pametri Wiji Yogyakarta)

 

  • Dr Ir Amos Setiadi MT, Anggota Pametri Wiji
banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.