Keris-keris dari Dalem Mloyokusuman

Keris-keris dari Dalem Mloyokusuman
Kisah perjalanan Empu Kraton Surakarta GPH Mloyokusumo semasa Paku Buwana X seperti dikisahkan Kanjeng Raden Ayu (KRAy) Ambarkusumo alias Dewi Syailendrastuti Sunaryo Putri (kanan), cucu GPH Mloyokusumo serta suami KPH Kuncaraningrat Adikusumo (Agus Rusbagyo). Keduanya, ketika diwawancara Kerisnews di Dalem Mloyokuman, Surakarta, Kamis (12/4/2018) petang. (Kontributor Kerisnews/Tira Hadiatmojo)

Tidak banyak yang tahu bahwa putra mendiang raja Surakarta Paku Buwana IX, GPH Mloyokusumo dia tidak saja seorang pangeran, akan tetapi juga seorang empu pembuat keris semasa PB X. Meski paron untuk landasan tempa sudah tiada, namun reruntuhan petilasan besalen masih ada sampai saat ini di pojok belakang dalem Mloyokusuman di Baluwarti, Kraton Surakarta.

“Sampai pertengahan 1960-an sebelum (Solo) banjir, Pak Dhe Mloyocurigo (salah satu putra GPH Mloyokusumo) masih menempa,” tutur Kanjeng Raden Ayu (KRAy) Ambarkusumo alias Dewi Syailendrastuti Sunaryo Putri, salah satu cucu GPH Mloyokusumo yang juga putri KPH Mloyomiluhur putra Mloyokusumo ketika ditemui Kerisnews, di dalem Mloyokusuman Rabu dan Kamis (12/April/2018) lalu.

Besalen – tempat khusus untuk menempa keris pusaka – yang saat ini tinggal reruntuhan, kini ditumbuhi sulur dan semak di pojok belakang dalem Mloyokusuman – masih sempat dipakai oleh salah satu putra Gusti Pangeran Haryo (GPH) Mloyokusumo, yakni KPH Mloyocurigo almarhum.

Wawancara dengan KPH Adipati Mloyohadikusumo

Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Adipati Mloyohadikusumo (kanan) saat diwawancara Kerisnews.com di dalem Jalan Tanjung, Karangasem, Solo Barat, Kamis (12/4/2018) malam. Nomor dua dan tiga dari kiri, KPH Kuncoroningrat Adikusumo (Agus Rusbagyo) dan KRAy Ambarkusumo, serta Isteri KPH Adipati Mloyohadikusumo, KRAy Pujokusumo yang juga pejabat di Pemkot Surakarta. (Kontributor/Tira Hadiatmojo)

Keterangan KRAy Ambarkusumo ini masih dikuatkan lagi oleh Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Adipati Mloyohadikusumo, juga salah satu cucu GPH Mloyokusumo, yang juga putra KPH Mloyomiluhur ketika ditemui di kediamannya di Karangasem, Solo Barat.

Tentang keempuan GPH Mloyokusumo, KPH Adipati Mloyohadikusumo bahkan mempertunjukkan salah satu keris yang terus disimpan keluarga, keris pusaka bikinan GPH Mloyokusumo ketika masih berumur 40 tahun di awal abad ke-20.

“Panjangnya 40 cm (jenis corok, lebih panjang dari keris normal), ketika GPH Mloyokusumo memperingati ulang tahun ke-40 semasa PB X, maka dari itu panjang bilahnya 40 cm,” tukas KPH Kuncaraningrat Adikusumo (Agus Rusbagyo), yang juga suami Dewi Syailendrastuti Sunaryo Putri, menantu KPH Mloyomiluhur, yang mengantarkan Kerisnews, menemui KPH Adipati Mloyohadikusuma di Karangasem, Solo Barat.

Keris Liman Kaleban dan Tombak karya GPH Mloyokusumo

Keris karya GPH Mloyokusumo yang dikenal luas di Surakarta, KK Liman Kaleban (kiri) serta tombak. Direpro dari buku Toni Junus, Tafsir Keris. (Kontributor/Tira Hadiatmojo)

Berapa kira-kira jumlah keris yang diproduksi dari besalen Mloyokusuman? Baik KPH Adipati Mloyohadikusumo maupun menantu KPH Panji Mloyomiluhur, KPH Kuncaraningrat Adikusumo, tak mengungkapkan jumlah pasti. Hanya saja, konon banyak. Dan yang tersisa tinggal sekitar tiga. Dua keris dan satu tombak, dengan relief burung menggigit bilah…

BACA JUGA  Mengenal Pusaka Pasundan di Museum Pusaka

Salah satu keris yang katakanlah, legendaris, karya GPH Mloyokusumo adalah pusaka Kanjeng Kiai (KK) Liman Kaleban, keris dengan luk tujuh dengan gandhik (bagian depan keris) berhias relief gajah, dengan tinatah emas. Tangguhnya (era pembuatannya) adalah Paku Buwana X.

Keris KK Liman Kaleban, saat ini dimiliki seorang kolektor di daerah Tebet, Jakarta Timur. Pernah dipamerkan dalam Pameran dan Lomba Estetika Keris di Yogyakarta tahun 2011, pameran yang diselenggarakan oleh Paguyuban Mertikarta Yogyakarta.

“Keris KK Liman Kaleban dibuat (GPH Mloyokusumo) pada saat PB X sedang membangun tanggul sungai Bengawan Solo di sisi timur Surakarta,” tutur KPH Adipati Mloyohadikusumo, kepada Kerisnews.

“Kaleban itu artinya banjir. Tanggul dilambangkan dengan gajah, agar tanggul kuat menyangga (luapan kali Bengawan Solo),” tutur KPH Adipati Mloyohadikusumo. Paku Buwana X, yang dikenal sebagai raja Surakarta yang kaya raya, membangun tanggul (talud) Bengawan Solo yang sering meluap dan membanjiri Solo. GPH Mloyokusumo, menandai pembangunan penting tanggul kali di kota Solo itu, dengan keris bikinannya yang bergandhik gajah emas.

“Permukaan Bengawan Solo lebih tinggi dari kota Solo,” kata KPH Kuncaraningraat Adikusumo suami adik KPH Adipati Mloyohadikusumo, KRAy Ambarkusumo. Tidak heran, jika banjir di masa lalu sangat sering menggenangi kota Solo. Banjir besar Bengawan Solo, yang terjadi pada Maret 1966, bahkan sampai merendam sebagian besar keraton Surakarta – terutama yang di bangunan selatan, arah Bengawan Solo.

Keris karya GPH Mloyokusumo

Keris kategori corok (lebih panjang dari keris normal) dengan ukuran panjang bilah 40 cm, dibuat di era PB X oleh GPH Mloyokusumo saat memperingati hari ulang tahun dirinya yang ke-40. (Kontributor/Tira Hadiatmojo)

Dalam membikin keris, menurut KPH Kuncaraningrat, GPH Mloyokusumo biasanya dalam keadaan “trance” atau melayang, setengah sadar. Maka dari itu, bentuk bangunan besalen Mloyokusuman lebih ditandai dengan bangunan tertutup sempit, untuk meditasi. Sementara tempat menempa, di luar bangunan dengan beratapkan genting, namun dinding terbuka.

BACA JUGA  Tombak yang Bikin Muntab Meluap

“Dalam keadaan trance, menurut KPH Mloyomiluhur (mertua KPH Kuncaraningrat Adikusumo, biasanya GPH Mloyokusumo ‘kemasukan’ roh empu Ramayadi, salah satu empu pertama di tanah Jawa. Menempa keris, bagi GPH Mloyokusumo merupakan perwujudan pencapaian spiritual oleh putra PB IX tersebut.

Sementara PB IX sendiri, ayah GPH Mloyokusumo, selain dikenal sebagai raja Surakarta yang kuat kebatinannya, juga wasis dalam hal karya sastra. Dan di dunia perkerisan, termasuk Raja Surakarta yang sangat produktif menghasilkan (yasa) keris era nom-noman Surakarta. Menurut KPH Kuncaraningrat Adikusumo, bahkan lebih banyak dari keris yang dihasilkan raja kaya, PB X.

“Kalau keris-keris PB IX dikenal wingit, maka keris-keris era PB X lebih dikenal indah,” katanya. Meski demikian, khusus karya GPH Mloyokusumo ini, keris-keris beliau dikenal wingit, dan mengacu pada gaya klasik. Dan dibuat dengan laku spiritual…

Lukisan GPH Mloyokusumo di dalem Mloyokusuman

KPH Kuncaraningrat Adikusumo (Agus Rusbagyo) ketika mengunjukkan lukisan GPH Mloyokusumo dan isteri (tidak satupun terekam dalam foto) di dalem Mloyokusuman. (Kontributor/Tira Hadiatmojo)

Kedekatan dengan Paku Alam? Ini juga merupakan sisi menarik lain, dari kedekatan Dalem Mloyokusuman di Surakarta dengan bangsawan Adipati di Pakualaman, Yogyakarta – terutama pada era Paku Alam VIII.

“(Sri) Paku Alam sering singgah di Mloyokusuman, kalau berbincang dengan ayah (KPH Mloyomiluhur) bisa dari petang sampai dinihari,” tutur KRAy mbarkusumo, cucu GPH Mloyokusumo, dan salah satu dari enam putra KPH Mloyomiluhur.

Dan kebetulan, Kanjeng Raden Ayu (KRAy) Ratnaningrum, isteri Paku Alam VIII kebetulan adalah putri Surakarta cucu dari Paku Buwana III. Apakah itu pula sebabnya, keris-keris Mloyokusuman ada kemiripan dengan keris Pakualaman – dengan ciri khas greneng yang sedikit menjulang di atas garis wadidang, atau lengkungan akhir di pangkal bilah keris? Wallahualam.

Bisa dicermati dengan salah satu garap keris GPH Mloyokusumo, yang berukuran 40 cm, keris karya putra PB IX ini saat memperingati ulang tahun dirinya yang ke-40 pada era PB X….. *

Foto sisa-sisa Besalen Mloyokusuman

Sisa-sisa bangunan besalen tempat berkarya GPH Mloyokusumo di halaman belakang dalem Mloyokusuman, Baluwarti Surakarta. (Kontributor/Tira Hadiatmojo)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.