Babad: Antara Fiksi dan Fakta

Babad: Antara Fiksi dan Fakta
Romo Donny S Ranoewidjojo sebagai pembicara di acara Kelas Sabtuan, “Sabtu Nguri-Uri” bertema Apa Itu Jawa, membahas khusus tentang Babad, yang digelar di Kedai dan Rumah Belajar Béto di Kompleks Griya Patria, Jl Pejaten Barat No 16, Jakarta Selatan, Sabtu (24/3/2018) lalu. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Babad adalah catatan atau naskah yang mengisahkan sejarah secara tradisional. Catatan sejarah semacam ini bukan hanya monopoli tradisi Budaya Jawa, tapi juga ada di Sunda, Madura, Bali, dan Lombok. Di Melayu, misalnya, disebut dengan hikayat.

Di dalam Babad biasanya terdapat genealogi, legenda tokoh-tokoh, mitos, pantangan-pantangan, dan juga kisah-kisah yang dibungkus dengan sanepan atau dalam bentuk pasemon, maupun perlambang-lambang.

“Jadi kalau kita tidak bisa ngonceki atau mengupas makna di baliknya, ya kita tidak bisa tahu. Atau kita juga punya PR, apakah peristiwa yang diceritakan dalam Babad itu langsung bisa dianggap valid oleh Ilmu Sejarah juga butuh proses,” kata Romo Donny S Ranoedwidjojo kepada KerisNews.com sebelum acara Kelas Sabtuan, “Sabtu NguriUri” bertema Apa Itu Jawa, yang membahas khusus tentang Babad.

Di acara Kelas Sabtuan yang digelar oleh Kedai dan Rumah Belajar Béto di Kompleks Griya Patria, Jl Pejaten Barat No 16, Jakarta Selatan, Sabtu (24/3/2018) lalu itu, Romo Donny, yang menjadi pembicara tunggal, membahas secara singkat tentang Babad Giyanti, Babad Sipei ( Sipahi Cavalry), dan Pro kontra Babad Tanah Jawi, serta beberapa Babad lain.

Romo Donny juga menjelaskan kata babad dari segi bahasa. Babad merupakan kata onomatope Bahasa Jawa yang berarti membuka lahan dengan membabat perdu dan hutan. Jadi, konsep Babad adalah cikal bakal (asal mula), sang leluhur (pepundhen) yang pertama-tama membuka lahan (mbabat alas) untuk tempat pemukiman.

Suasana Kelas Sabtuan, “Sabtu Nguri-Uri” bertema Apa Itu Jawa, membahas khusus tentang Babad, yang digelar di Kedai dan Rumah Belajar Béto di Kompleks Griya Patria, Jl Pejaten Barat No 16, Jakarta Selatan, Sabtu (24/3/2018) lalu. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Babad juga memiliki pengertian peperangan. Pihak yang berperang saling membabatkan pedang. Dalam Bahasa Jawa, perang atau disebut juga prang berhubungan dengan kata pedang/pedhang. Di sini r dan d/dh saling subsitusi (menggantikan). Seperti juga huruf d dan t di kata babad/babat.

Nah, pedhang berhubungan dengan kata parang. Keduanya merupakan senjata tajam panjang untuk membabat. Dan, parang berkaitan dengan kata padang, yang dalam Bahasa Indonesia berarti tanah lapang yang terang. Karena yang awalnya berupa hutan atau perdu sudah dibabat menggunakan pedang atau parang, sehingga menjadi tanah lapang, padang rumput.

Sementara, padhang dalam Bahasa Jawa berarti terang atau sudah tidak ada yang menghalangi cahaya dan pandangan mata. Pengertiannya suatu daerah sudah terang karena telah dihilangkan semua yang menghalangi pandangan mata, yang secara tradisional, menggunakan parang/pedang.

Pedang atau padang juga dapat diartikan sebagai letak suatu daerah yang ada di tengah-tengah. Memedang persis membelah di tengah-tengah wilayah atau pulau. Kerajaan Medhang, Mataram Kuno di Jawa Tengah yang kemudian pindah ke Jawa Timur, dan Kota Padang di Sumatera Barat, ditengarai mengandung makna tengah.

BACA JUGA  Nilai Budaya dan Agama dalam Tradisi Ritual

Seperti juga dengan konsep gulma dan tanaman perdu disiangi dari lahan yang akan digunakan. Kata siang juga berarti hari terang. Lawan dari kata gelap atau malam.

Kata terang ini juga berhubungan dengan peperangan. Karena setelah perang maka sirna atau lenyaplah yang menjadi penghalang. Musuh sudah dikalahkan sehingga tidak lagi menjadi penghalang di depan mata. Orang Jawa mengenal istilah ‘kliliping netra’, suatu pasemon bahwa selepas perang maka sang pemenang menjadi penguasa sah daerah yang dimenangkannya.

Romo Donny lantas memberi contoh munculnya motif batik Parang yang dikenakan Sultan Agung. Sejarah memang mencatat, Sultan Agung memenangi peperangan di mana-mana. Karena itu, dahulu, batik Parang menjadi motif larangan, hanya raja dan keluarga dekat yang boleh memakai sebagai warisan legitimasi kemenangan perang.

Peserta tengah mencatat di acara Kelas Sabtuan, “Sabtu Nguri-Uri” bertema Apa Itu Jawa, membahas khusus tentang Babad, yang digelar di Kedai dan Rumah Belajar Béto di Kompleks Griya Patria, Jl Pejaten Barat No 16, Jakarta Selatan, Sabtu (24/3/2018) lalu. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

“Hal itu sekaligus menandakan bahwa naskah Babad dibuat oleh pihak yang menang atau yang berhasil memperoleh kekuasaan,” ungkap Romo Donny yang menyelesaikan S1 di Sastra Jawa Universitas Indonesia (UI), dan S2 Pendidikan Sejarah di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini.

Menurut Romo Donny, Babad memang berisi sejarah, meski tidak secara berurutan. Ibaratnya seperti orang mendongeng. Dari A, B, C bisa jadi kembali ke A lagi atau B. Termasuk ketika menceritakan genealogis juga tidak berurutan, banyak inversi yang bisa ditemukan.

Meski berisi sejarah, Babad masih harus diolah lagi dengan pembanding dari sumber lain, seperti dari prasasti, kronik Cina, catatan Portugis, termasuk dari tradisi lisan (sejarah lokal).

“Karena Babad kan kembali ke sastra. Sastra kan semua boleh ngarang. Makanya dalam sejarah modern, science, Babad untuk langsung dikutip sebagai peristiwa sejarah, PR, harus melalui penelitian-penelitian,” ujar Romo Donny yang merupakan Pengasuh Seni dan Budaya di UI, serta Sejarah Budaya di IKJ (Institut Kesenian Jakarta).

Di dalam Babad ini biasanya tidak tercantum nama penulis. Karena dulu, konsep penulisan merupakan persembahan untuk raja, dan raja untuk kebudayaan atau sebagai legitimasi. Dan biasanya, Babad berbentuk tembang.

“Jadi kita hanya bisa mengira-ngira dari bahasanya, dari angka tahun […] Memang kalau yang naskah Babad asli itu sangat rumit karena kita tidak tahu penulis sebenarnya siapa. Nah, kalau yang dituliskan, ini buatan ini, buatan ini memang kebanyakan pujangga zaman kolonial,” kata Romo Donny.

Romo Donny juga menceritakan adanya naskah Babad yang tidak ada atau tidak diketahui babon-nya atau naskah aslinya. Sebagai contoh naskah Babad Tanah Jawi. Terdapat dua versi Babad Tanah Jawi, yang pertama disebut tulisan Carik Braja atas perintah Sunan Pakubuwana III. Versi kedua ditulis atas perintah Pangeran Adilangu II, tanpa diketahui siapa penulisnya.

BACA JUGA  Astadharma Menjamas Pusaka

“Nah, menurut Profesor Hoesein Djajadiningrat, Babad Tanah Jawi dikatakan ada dua versi. Sampai sekarang kita nggak tahu babon-nya dua-duanya di mana,” kata Romo Donny yang juga Koord Divisi Sastra, Folklor, Permainan Dedaktik di LESBUMI (Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia) PBNU.

Karena itu, menurut Romo Donny, menjadi agak gelap dan banyak adu domba. Di Babad Tanah Jawi, versi Meisnma yang bersumber dari Carik Braja, misalnya, dikatakan Majapahit diserang oleh Wali Sanga. Padahal tidak pernah ada Majapahit diserang oleh Demak.

“Menurut prasasti yang ditemukan di Kediri, yang menyerang Trowulan malah sepupunya sendiri. Adipati Gerindrawardana, itu adipati di Kediri, menyerang sepupunya di Trowulan,” kata Romo Donny juga aktif di Paguyuban Perkerisan.

Para peserta berfoto bersama setelah acara Kelas Sabtuan, “Sabtu Nguri-Uri” bertema Apa Itu Jawa, membahas khusus tentang Babad, yang digelar di Kedai dan Rumah Belajar Béto di Kompleks Griya Patria, Jl Pejaten Barat No 16, Jakarta Selatan, Sabtu (24/3/2018) lalu. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Menurut Romo Donny, hal yang tidak jauh berbeda juga ada di naskah Wangsakerta. Naskah ini ternyata tidak ditulis oleh Pangeran Wangsakerta, Cirebon. Tapi, boleh jadi, dibuat oleh pujangga yang berdinas untuk Belanda. Menceritakan sejarah sejak Salakanagara, Tarumanegara dan lain-lain.

“Ternyata pas dilihat oleh para Filolog, ‘oh ini nggak lulus naskahnya’. Karena naskahnya menggunakan Bahasa Jawa Kuno deles. Yang pada zaman ini (saat penulisan), orang Jawa sudah tidak ada yang bisa berbahasa Jawa Kuno, apalagi orang di Cirebon. Tapi ini ditulis dengan Bahasa Jawa deles,” ujar Romo Donny.

Padahal, menurut fakta sejarah orang di Pulau Jawa baru mengerti Bahasa Jawa Kuno di akhir abad 18 M, dan awal abad 19 M. Setelah naskah Bali diteliti, dan para ahli Belanda ke Bali dan bicara dengan para ahli di Bali, mereka baru mengerti Bahasa Jawa Kuno. Ilmu tentang Bahasa Jawa Kuno ini kemudian diajarkan di Jawa.

Contoh lain, yaitu Kidung Sundayana. Dikatakan yang pertama mempopulerkan naskah ini adalah Snouck Hurgronje. Naskah ini ditemukan di Klungkung, ketika terjadi Puputan di Klungkung.

“Nah, naskah Kidung Sundayana ditemukan, dikabarkan sampai ke Snouck. Snouck seneng banget karena ini bisa buat bikin adu domba. Sebenarnya ini naskah ciptaan siapa? Pujangga Majapahit. Karena naskah ini di Klungkung, Gel Gel yang langsung berasal dari Majapahit. Dari Resi Arya Kepakisan,” ujar Romo Donny.

Dalam konsep akademis, naskah sastra, termasuk Babad, kata Romo Donny tidak boleh dikutip atau dianggap sebagai peristiwa sejarah yang sebenarnya. Belum lagi, versi asli Kidung Sundayana ini juga tidak pernah diketahui naskah aslinya.

“Tanpa campur tangan devide et impera dari kolonial pun, ketika membaca Babad itu tidak hati-hati ya, dalam artian kita harus netral, membaca Babad kita harus paham itu peristiwa masa lalu, membaca babad kita harus paham, itu adalah peristiwa politik saat itu. Nah, banyak sampai zaman sekarang ternyata bibit kebencian masih ada, gara-gara membaca Babad (tidak hati-hati),” kata Romo Donny.

 

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.