Pasemon : Dari yang Semu Menuju yang Sejati

Pasemon : Dari yang Semu Menuju yang Sejati
Romo Donny S Ranoewidjojo saat menjadi pembicara di acara Kelas Sabtuan, “Sabtu Nguri-Uri” bertema Apa Itu Jawa, yang membahas khusus tentang Pasemon. Keris, wayang, dan batik, sarat dengan makna perlambang yang menjadi inti dari pasemon. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Pasemon dapat dijumpai dalam setiap lini kehidupan masyarakat Jawa. Bahkan, bisa dikata, seluruh hasil kebudayaan Jawa dibingkai dalam konsep pasemon ini. Yaitu, bahwa sesuatu hal itu harus dikupas (dionceki) dahulu, atau dicari (digoleki) maknanya.

Hal itu diungkap oleh Romo Donny S Ranoewidjojo saat menjadi pembicara di acara Kelas Sabtuan, “Sabtu Nguri-Uri” bertema Apa Itu Jawa, yang membahas khusus tentang Pasemon. Kelas Sabtuan digelar oleh Kedai dan Rumah Belajar Béto di Kompleks Griya Patria, Jl Pejaten Barat No 16, Jakarta Selatan, Sabtu (10/3/2018) lalu.

Proses mengupas atau mencari makna ini harus dilalui. Karena, menurut Romo Donny, masyarakat Jawa selalu mengedepankan pencarian hal yang sejati. Atau dengan kata lain, untuk mencapai yang sejati harus melewati yang semu. Semu adalah lawan dari sejati. Lapisan semu ini harus dikupas untuk mendapat atau memahami yang sejati.

Hal yang sejati ini sangat penting bagi masyarakat Jawa. Dan, ujung dari pencarian adalah kepuasan jiwa, karena mendapat kebenaran yang tidak akan mengecewakan, dan tidak membohongi. Atau kebenaran hakiki.

Para peserta Kelas Sabtuan yang digelar oleh Kedai dan Rumah Belajar Béto di Kompleks Griya Patria, Jl Pejaten Barat No 16, Jakarta Selatan, Sabtu (10/3/2018) lalu, berfoto bersama selesai acara. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

“Kata semu itu menjadi pasemon, kemudian nyemoni. Itu ada satu jenis puisi, puisi yang sangat tua asli di Nusantara yang disebut pantun. Kenapa pantun? Itu kembali lagi ke padi,” ujar Romo Donny yang merupakan Pengasuh Seni dan Budaya UI, dan Sejarah Budaya IKJ.

Untuk menjadi padi yang menguning dan merunduk, diperlukan waktu untuk menumbuhkan bulir hijau yang mendongak terlebih dahulu. Sampai saatnya nanti tiba, sadar melihat tanah kembali. Tanah yang hitam, “wulung” dan “suwung” (kosong).

Jadi, dari padi bertunas hingga keluar bulir menghijau adalah sampiran. Dan, menjadi padi menguning yang merunduk bumi merupakan isi yang sejati. Konsep sampiran dan isi ini melahirkan bait puisi Pantun atau Parikan.

‘Pari’ merupakan bahasa Jawa sehari-hari untuk kata ‘padi’. Dan, kata ‘pantun’ adalah varian bahasa Jawa Krama untuk kata ‘pari’. Bentuk puisi pantun atau parikan yang terdiri dari sampiran dan isi ini menjadi puisi asli bangsa Nusantara.

“Kenapa disebut pantun atau parikan, atau puisi pari tadi? Karena untuk menuju ke kesejatian itu harus mengalami sampiran dulu,” kata Romo Donny yang kadang menggunakan nama belakang Satryowibowo ini.

BACA JUGA  Sambut HWN, Organisasi Pewayangan Rapatkan Barisan

Menurut Romo Donny, sampiran atau seampiran ini adalah hal semu yang bersifat duniawi, seperti halnya mampir ngombe (minum). Seperti halnya padi yang harus disemai sebelum kemudian tumbuh menjadi padi yang menguning. Untuk kemudian menemukan yang sejati, mau tidak mau, harus melewati dunia yang semu.

Dan, pasemon atau konsep pencarian sekaligus penyampaian proses pencarian kesejatian melalui pemahaman tentang dunia yang semu ini, sudah mendarah daging di kehidupan masyarakat Jawa.

Karena itu, apabila ingin menyampaikan sesuatu atau menanyakan sesuatu, masyarakat Jawa lantas terbiasa menggunakan konsep pasemon. Cara penyampaian yang tidak lugas atau tidak langsung.

Hal ini juga muncul di dalam kesusastraan Jawa. Dikenal adanya ‘tembung entar’ atau kata konotatif, untuk menyampaikan sesuatu. Maka di tataran kesusastraan dapat kita temukan semacam bebasan, paribasan, cangkriman dan wangsalan. Kesemuanya itu adalah penyampaian komunikasi dengan pasemon.

“Kenapa ketika berkomunikasi itu tidak langsung lugas? Jadi orang Jawa tidak langsung lugas mengutarakan sesuatu tapi mampir dulu, menggunakan pasemon dulu. Karena, satu, menganggap ciptaan Tuhan, makhluk itu jarang benar. Seringkali salah walaupun diberi kemampuan untuk mencari kebenaran,” kata Rommo Donny.

Sehingga saat mengeluarkan pendapat, berasumsi, kalau langsung dinyatakan belum tentu merasa benar, Maka digunakan pasemon dalam bentuk macam-macam. Jadi pasemon menjadi semacam instrumen untuk mencari kebenaran yang logis. Setelah pasemon mendapat balasan, baru diketahui pendapat itu bisa diterima atau tidak.

Hal kedua, yaitu ketika akan mengungkapkan sesuatu tetapi takut cara mengatakannya salah atau takut terkesan menggurui. Maka untuk itu digunakan pula pasemon.

“Karena ternyata semua aspek yang keseharian dialami oleh masyarakat Jawa, dari bangun tidur sampai tidur lagi, itu hal-hal sekitar, itu dianggap pasemon. Yaitu tanda-tanda sasmita yang diberikan oleh Tuhan untuk dibaca,” ujar Romo Donny.

Lebih jauh, semua yang tersurat dalam lisan dan tulisan pun masih tidak cukup untuk mengajarkan tentang dunia yang semu, maupun sebagai cara pewarisan tradisi pencarian hal yang sejati.

Karena itu, kata Romo Donny, hampir seluruh produk budaya Jawa, baik dalam segi gagasan, perilaku maupun artefak budaya yang dihasilkan, dapat dipastikan mengandung pasemon. Sebagai contoh, misalnya, wayang, keris, dan batik, sangat sarat dengan makna perlambang yang menjadi inti dari pasemon.

Di dalam wayang, kata wayang sendiri memiliki arti bayang-bayang. Merupakan pasemon bahwa kehidupan dunia hanyalah bayang-bayang semu dari kebenaran Sang Pencipta. Sementara blencong, sebagai penerang pertunjukan wayang, sekaligus membuat terbentuknya bayangan merupakan simbol dari sumber cahaya kehidupan.

Romo Donny S Ranoewidjojo memegang Gunungan atau Kayon, saat menjadi pembicara di acara Kelas Sabtuan, “Sabtu Nguri-Uri” bertema Apa Itu Jawa, yang membahas khusus tentang Pasemon. Keris, wayang, dan batik, sarat dengan makna perlambang yang menjadi inti dari pasemon. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Begitu pula dengan dhalang, yang menggerakkan wayang, merupakan perlambang dari Sang Sutradara kehidupan yang menggerakan semua semesta. Termasuk pula kisah-kisah yang dikemas dalam wayang, penuh dengan pasemon pembelajaran hidup.

BACA JUGA  Memayu Hayuning Bawana

Dan, keris maupun batik tidak jauh berbeda dengan wayang. Keduanya menyimpan lautan makna dan keindahan seni ber-pasemon. Romo Donny memberi contoh, warangka keris, misalnya, adalah semacam sampiran dari bilah keris yang merupakan isi.

“Dalam bahasa kuna, patih itu disebut warangka nata atau warangka dalem. Karena, patih yang mengetahui isi, yaitu raja sebagai isi,” terang Romo Donny yang juga menjadi Koord Divisi Sastra, Folklor, Permainan Dedaktik di Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia) PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama).

Pasemon dalam budaya Jawa juga menunjukkan bahwa hidup tidaklah instan. Segala sesuatu itu butuh proses untuk mencapai suatu kebenaran. Hal ini menjadi dasar masyarakat Jawa dalam menyampaikan sesuatu, juga dalam memahami sesuatu.

Menurut Romo Donny, bagi masyarakat Jawa apapun yang bisa masuk atau ada kemiripan akan diambil. Seperti Hindu, Budha, dan kemudian juga Islam bisa masuk. Karena sudah ada konsep yang mirip, dan bahkan yang diambil itu bisa memperkaya yang sudah ada.

Suasana Kelas Sabtuan, “Sabtu Nguri-Uri” bertema Apa Itu Jawa, yang membahas khusus tentang Pasemon yang digelar oleh Kedai dan Rumah Belajar Béto di Kompleks Griya Patria, Jl Pejaten Barat No 16, Jakarta Selatan, Sabtu (10/3/2018) lalu. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

“Itu pengayaan, tetap sebagai agama itu hanya baju kalau buat orang Jawa. Bajunya bisa ganti-ganti. Rasukan tho, ageman. Tapi dalemnya tetap Jawa, yang satu tadi itu,” kata Romo Donny kepada KerisNews.com

Kelas Sabtuan yang membahas tentang pasemon ini rupanya cukup memikat perhatian peserta. Acara yang dimulai dari pukul 15.00-18.00 WIB, sepertinya masih kurang. Ketika kelas sudah resmi ditutup pun, sebagian besar peserta tidak lekas beranjak dari tempat duduk. Mereka masih semangat melontarkan pertanyaan dan mendengarkan penjelasan dari Romo Donny.

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.