Mengenal Apa Itu Jawa

Mengenal Apa Itu Jawa
Donny Satryowibowo atau Donny S Ranoewidjojo menjadi pembicara di acara Kelas Sabtuan, “Sabtu Nguri-Uri” dengan tema “Apa Itu Jawa” yang digelar di Kedai dan Rumah Belajar Béto, Kompleks Griya Patria, Jl Pejaten Barat No 16, Jakarta Selatan, Sabtu (3/3/2018) sore lalu. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Apa itu Jawa? Sebuah pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab. Laman KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) Daring (Dalam jaringan) mendefinisikan kata Jawa dalam dua pengertian. Yaitu, suku bangsa yang berasal atau mendiami sebagian besar Pulau Jawa, dan bahasa yang dituturkan oleh suku Jawa.

Tapi apakah hanya itu pengertiannya? Nah, Sabtu (3/3/2018) lalu, acara Kelas Sabtuan, bertajuk “Sabtu Nguri-Uri” yang digelar di Kedai dan Rumah Belajar Béto, Kompleks Griya Patria, Jl Pejaten Barat No 16, Jakarta Selatan, mengangkat pertanyaan yang sama, yaitu “Apa itu Jawa?”, sebagai tema.

Di kelas belajar Budaya Jawa ini pertanyaan “Apa Itu Jawa” berusaha dijawab dengan melihat dari sudut pandang Etimologi, yang  meliputi Kebahasaan, Semiotik, dan Kesejarahan.

Menurut Donny Satryowibowo atau biasa dipanggil Rommo Donny, yang menjadi pembicara, secara umum kata Jawa memang mengacu pada nama-nama seperti suku, bahasa, budaya, pulau, dan termasuk pula paham.

“Sebenarnya luas sekali. Jawa itu adalah pemahaman menjalani hidup seperti ilmu padi… Yaitu mencoba memahami sesuatu secara keseluruhan, secara kesejatian. Padi itu apa, bermanfaat, dan berbahagia. Jadi dia berbahagia ketika dirinya bermanfaat, terus merunduk dan lain-lain. Memang panjang,” terang Romo Donny yang juga kadang menggunakan nama Donny S Ranoewidjojo.

Suasana Kelas Sabtuan, “Sabtu Nguri-Uri” dengan tema “Apa Itu Jawa” yang digelar di Kedai dan Rumah Belajar Béto, Kompleks Griya Patria, Jl Pejaten Barat No 16, Jakarta Selatan, Sabtu (3/3/2018) sore lalu. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Kata Jawa sendiri, menurut Romo Donny, memiliki kaitan erat dengan padi-padian. Beberapa kamus bahasa kuna menyebutkan kata jawa, jawi, jejawi, jawi-jawi, jawai, dan jawawut, yang kesemuanya merujuk pada bentuk padi-padian. Jawi-jawi, misalnya, disebutkan berupa batu-batu mulia kecil seperti biji padi, yang diuntai menjadi perhiasan.

BACA JUGA  Golek Menak dalam Belantara Modernitas

“Jadi memang arahnya ke sana kalau di kamus bahasa kuna, bahasa Jawa Kuna yang kita jumpai. Arahnya ke padi, walaupun tidak leterlek ada Jawa adalah padi, tidak. Karena Jawa sudah menjadi luas sekali, tidak hanya bisa disebut keluarga padi-padian. Kan gitu,” kata Romo Donny yang merupakan Pengasuh Seni dan Budaya UI, serta Sejarah Budaya IKJ.

Dan, Jawa sebagai Tanah Padi, secara harafiah, bisa dimaknai sebagai pulau subur yang dikepung oleh lautan, dialiri sungai-sungai, dan dipasaki oleh gunung-gunung sebagai paku, pusat kesuburan dan kehidupan beraneka ragam hayati.

Selain itu, padi secara simbolis memiliki makna yang sangat dalam. Seperti pengertian “Ilmu Padi”, yaitu semakin berisi semakin merunduk. Padi saat muda berwarna hijau, dan kemudian menua dengan warna kuning keemasan. Saat itu, ia akan menunduk luruh menghadap bumi seperti wajah orang bersujud.

“Setelah berisi dengan segala berkah dan kemanfaatan, sang Padi sadar untuk merunduk ke bawah dengan segala kebijaksanaan hukum alam, sangat berbeda dengan saat ia masih hijau mendongak menantang langit dengan gagah dan bangganya,” ujar Romo Donny yang merupakan Koord Divisi Sastra, Folklor, Permainan Dedaktik di Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia) PBNU.

Mungkin, kita pernah mendengar orang berkata, “wong Jowo wis ilang jawane.” Saat ada orang Jawa yang dianggap sudah tidak tahu sopan santun, atau mungkin dianggap tidak berperilaku seperti layaknya orang Jawa.

Menurut Romo Donny, perkataan itu adalan unenunen Jawa atau semacam folklor, yang tidak diketahui siapa yang menciptakan. Lengkapnya berbunyi, “Wong Cino ilang pitunge, ilang cinane. Wong Londo ilang megahe, ilang landane. Wong Jowo ilang tapane, ilang jawane.”

“Jadi yang hilang itu tapane. Tapa itu merenung, mencari rasa ini, mencari makna. Ketika orang Jawa tidak mau ngonceki (mengupas) semiotik (ilmu tanda), tidak mau ngonceki simbol. Tapa itu kan meneng di sudut-sudut, leren… tapa itu leren sedela, ngrungokke, ngonceki. Nah ketika ilang itu, ilang Jawane,” kata Romo Donny.

Para peserta dan pembicara Kelas Sabtuan, “Sabtu Nguri-Uri” dengan tema “Apa Itu Jawa” yang digelar di Kedai dan Rumah Belajar Béto, Kompleks Griya Patria, Jl Pejaten Barat No 16, Jakarta Selatan, Sabtu (3/3/2018) sore lalu, tengah berfoto bersama. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Ngonceki, dalam pengertian ngonceki simbol-simbol, semua yang ada di alam, semua makna. Sehingga tidak mudah menelan kulit, tidak mudah hidup dalam kepraktisan, prakmatis yang hampa.

BACA JUGA  Pameran Wastra “Encounters With Bali, A Collector’s Journey”

Sementara, Anda Wardhana, Juragan Kedai Béto yang sekaligus Ketua Penyelenggara acara Sabtu NguriUri, mengatakan bahwa acara semacam ini berangkat dari rasa “kegemasan” dengan apa yang tengah terjadi. Budaya lokal sepertinya tidak punya tempat di tanahnya sendiri.

“Sebenarnya bangsa kita ini besar, tapi mungkin karena akarnya pelan-pelan dipotong-potongi, jadi digoyang mau dihancurin segala macam itu kok sepertinya gampang. Mungkin saatnya ini lokalitas-lokalitas itu mulai dibangun lagi. Karena kebetulan saya orang Jawa dan saya punya lingkaran yang bisa berbagi tentang Jawa ya sudah, itu dulu,” kata Wardhana, sambil berharap orang-orang yang dari suku lain seperti Sunda, Bali, Bugis, Batak, Papua dan semuanya punya ruang-ruang sendiri untuk nguriuri.

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.