Dialog Kain Tradisional Batik Tuban

Dialog Kain Tradisional Batik Tuban
Contoh penampilan khas perempuan peladang di Kerek, Tuban, di Pameran bertajuk “Dialog Kain: Sebuah Pengetahun dan Kolaborasi antara Gagasan Tradisional dan Konsep Design pada Kain Tradisional Batik dan Tenun Gedog Khas Kerek, Tuban”, digelar di Museum Tekstil, Jl. Aipda Ks. Tubun Raya No. 2-4, Jakarta Barat. (KerisNews/Birul Sinari-Adi)

Pameran bertajuk “Dialog Kain: Sebuah Pengetahun dan Kolaborasi antara Gagasan Tradisional dan Konsep Design pada Kain Tradisional Batik dan Tenun Gedog Khas Kerek, Tuban”, digelar di Museum Tekstil, Jl. Aipda Ks. Tubun Raya No. 2-4, Jakarta Barat.

Di pameran yang berlangsung dari 7 Februari – 4 Maret 2018 ini, kain-kain tradisional yang masih diciptakan dengan memegang prinsip tradisi, bersanding dengan kain-kain pengembangan yang dikerjakan oleh masyarakat lokal Kerek, Tuban, Jawa Timur, dengan memasukkan unsur-unsur kebaruan.

Masyarakat Tuban, secara sosiologis, dipengaruhi oleh etnik Budaya Jawa. Sementara, secara psikologis, lingkungan kawasan pesisir dan agraris turut mempengaruhi karakter masyarakat.

“Fajar bersama tim peneliti dari FSRD (Fakultas Seni Rupa dan Desain) ITB (Institut Teknologi Bandung) mengolaborasikan antara teknologi tekstil kontemporer (tekstur pada kain tenun, dan piranti lunak) dengan teknik tenun dan pola tradisional, yang hasilnya ditampilkan dalam pameran ini,” ungkap Judi Knight Achjadi, Kurator Museum Tekstil Jakarta, di teks kuratorial.

Fajar Ciptandi, yang tengah menempuh Program Doktoral Ilmu Seni Rupa dan Desain di ITB, sejak 2009 telah aktif menjalankan kegiatan riset di ranah kriya tradisi dan wastra Nusantara. Selain latar belakang pendidikan, juga karena kecintaan yang besar terhadap hal-hal yang berkaitan dengan tradisi dan budaya Indonesia.

Masih menurut Judi, Fajar menemukan bahwa saat ini, selera desain tradisional begitu kuat di Kerek, Tuban, sehingga identitas lokal masih tetap aman, meskipun terjadinya modernisasi dan hilangnya peran dan makna tradisional yang terdapat pada kain di masa lalu.

Motif kain di Pameran Kains di Museum Tekstil

Contoh Kain Tradisional Batik Kerek, Tuban, berbentuk sayut, ukuran 60 cm x 300 cm, yang dipamerkan di Museum Tekstil, di Jl. Aipda Ks. Tubun Raya No. 2-4, Jakarta Barat. (KerisNews/Birul Sinari-Adi)

Kain batik tradisional Kerek, Tuban, selain digunakan sebagai sayut dan jarit, juga dapat dijadikan sebagai komoditi perniagaan, misal kain dapat menjadi alat tukar dengan sistem barter. Kain juga dibuat dengan fungsi khusus yang bersifat magis dan spiritual.

Kain tertentu digunakan sebagai bagian penting pada acara-acara yang dinilai sakral. Seperti, pernikahan, kelahiran, kematian atau perayaan-perayaan upacara besar lainnya. Bahkan, kain juga digunakan sebagai penunjuk status sosial bagi kelompok masyarakat tertentu.

BACA JUGA  Kongres Kebudayaan Indonesia 2018

Tampilan visual kain tradisional khas Kerek secara khusus memiliki makna yang erat dengan konsep kosmik mancapat yang diyakini oleh masyarakat setempat. Keyakinan ini divisualisasikan ke dalam warna kain tradisional.

Misal, batik putihan didominasi dengan warna putih, yang menurut pengetahuan masyarakat Kerek merupakan perlambangan sebuah awal kelahiran. Saat manusia dalam keadaan bersih dan suci.

Begitu pula dengan batik irengan, yang didominasi warna hitam. Batik ini dikaitakan dengan pemahaman mereka bahwa kematian dan akhir kehidupan diwakilkan dalam nuansa warna yang gelap dan pekat.

Di antara putihan dan irengan terdapat warna merah atau bangrod dan biru atau biron. Kedua warna ini oleh masyarakat Kerek diyakini sebagai warna yang melambangkan tentang kesuburan dan sebuah kehidupan.

Kain batik irengan digunakan hampir seluruh masyarakat Kerek saat ada peristiwa kematian. Oleh masyarakat dimaknai sebagai akhir kehidupan. Kain ini pada proses pembuatannya dicelup untuk terakhir kalinya menggunakan lumpur, sebagai analogi dari “menanam” tubuh manusia kembali ke dalam tanah.

Batik irengan yang memiliki motif gelap berwarna hitam, juga biasa digunakan untuk penutup jenazah. Karena kain ini dianggap sakral sebagai tolak bala bagi keselamatan arwah.

Sementara, batik putihan yang berlatar belakang putih dengan corak motif biru tua atau hitam, dianggap sebagai lambang kemurnian dan kesucian. Oleh masyarakat Kerek dianggap sebagai simbol kelahiran. Karena itu kain putihan biasa digunakan untuk membungkus bayi yang baru lahir.

Secara visual  batik Kerek memiliki karakteristik yang khas dengan garis ragam hias lebih kasar dan jauh dari kesan rapi. Komposisi motifnya tidak memiliki patron khusus seperti halnya batik keraton yang sesuai dengan konsep filosofi Jawa, atau batik pesisir yang lebih ekspresif.

Komposisi batik Kerek, Tuban, berupa lereng, random, dan sebagian lainnya terpola tetapi tidak presisi dengan arah sejajar berhadapan, tanpa terikat oleh pakem khusus.

Suasana Pameran Kain Khas Tuban 2018

Suasana di ruang Pameran bertajuk “Dialog Kain: Sebuah Pengetahun dan Kolaborasi antara Gagasan Tradisional dan Konsep Design pada Kain Tradisional Batik dan Tenun Gedog Khas Kerek, Tuban”, yang digelar di Museum Tekstil, Jl Aipda KS Tubun Raya No 2-4, Jakarta Barat.

Batik Kerek juga memiliki kekhasan yang lain, yaitu detailnya yang disebut coblosan dan renren. Coblosan merupakan titik-titik berukuran kecil, yang sesuai namanya, diperoleh dengan cara menusuk kain yang tertutup malam dengan benda runcing menyerupai jarum.

BACA JUGA  Nonton "Antareja Gugat" di Museum Wayang

Sedangkan renren merupakan gaya menggambar motif yang dilakukan masyarakat Kerek dengan menambahkan garis-garis lurus berulang menyerupai sisir-sisir halus yang diletakkan pada tepi-tepi garis luar motif utama.

Desain kain batik dan tenun gedog khas masyarakat Kerek ini dibuat menyesuaikan dengan kegunaan kain. Kegunaan utama yaitu sebagai sayut dan jarit.

Kain sayut berukuran, lebar 60 cm dan panjang mencapai 300 cm. Jadi semacam selendang. Kain ini berfungsi sebagai alat untuk membantu menggendong barang bawaan sehari-hari.

Sedangkan jarit memiliki lebar antara 100 cm hingga 110 cm, dan panjang mencapai 250 cm. Kain ini dipakai perempuan dari pinggang ke pergelangan kaki, dengan cara dililitkan ke bagian badan dari arah kiri ke kanan. Biasanya juga ditambah lipatan-lipatan di bagian depan.

Kain sayut dan jarit biasanya digunakan oleh masyarakat Kerek, Tuban, saat pergi ke ladang atau ke pasar. Tapi saat ini, hanya sebagian kecil saja yang masih menggunakan sayut dan jarit, terutama dari kelompok usia tua yang telah terbiasa menggunakannya sejak lama.

Fajar dan timnya, paling tidak, melakukan tiga pengembangan terhadap kain batik dan tenun gedog khas Kerek dengan tetap membawa karakteristik visualnya.

Pertama, desain struktur tenun gedog, sehingga menghasilkan berbagai variasi tektur pada permukaan kain. Hal ini sudah mampu diterapkan oleh para penenun tradisional di Kerek. Kedua, kolaborasi teknologi menghasilkan beberapa variasi ragam hias, yang juga telah mampu diterapkan oleh para pembatik di Kerek, Tuban.

Dan terakhir, fungsi produk tidak lagi sebatas sayut dan jarit. Karena telah mampu bertransformasi menjadi sebuah produk busana hasil kreasi desainer, yang memiliki nilai prestisius tersendiri. *

Contoh alat tenun di Pameran Kain Khas Tuban 2018

Alat Tenun Tradisional yang dipakai untuk membuat Tenun Gedog, Khas Kerek, Tuban, Jawa Timur. (KerisNews/Birul Sinari-Adi)

Museum Kain 2018

Museum Tekstil, di Jl. Aipda Ks. Tubun Raya No. 2-4, Jakarta Barat, tempat digelar Pameran bertajuk “Dialog Kain: Sebuah Pengetahun dan Kolaborasi antara Gagasan Tradisional dan Konsep Design pada Kain Tradisional Batik dan Tenun Gedog Khas Kerek, Tuban”, dari 7 Februari – 4 Maret 2018. (KerisNews/Birul Sinari-Adi)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.