Naskah Nusantara di Timur Tengah

Naskah Nusantara di Timur Tengah
Diskusi buku bertajuk “Naskah-Naskah Nusantara di Timur Tengah : Khazanah yang Belum Terjamah”, dengan narasumber A Ginanjar Sya’ban, Mahmud Syaltout, Zainul Milal Bizawie, dan Aditia Gunawan, di Auditorium Perpustakaan Nasional, Lantai 2, Jalan Medan Merdeka Selatan No 11, Gambir, Senen, Jakarta Pusat, Rabu (7/2/2018) lalu. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Ada ribuan naskah Nusantara yang telah dihasilkan di masa lalu. Semua itu tersebar, baik di wilayah di Nusantara sendiri maupun di berbagai penjuru dunia. Naskah-naskah itu merekam pemikiran dan juga peradaban bangsa kita dulu yang belum banyak terungkap. Menjadi tugas besar para filolog untuk menyampaikannya kepada masyarakat umum.

Hal itu dikatakan oleh A Ginanjar Sya’ban saat diskusi buku bertajuk “Naskah-Naskah Nusantara di Timur Tengah : Khazanah yang Belum Terjamah”, yang digelar oleh Pustaka Compass dan Perpustakaan Nasional RI, di Auditorium Perpustakaan Nasional, Lantai 2, Jl Medan Merdeka Selatan No 11, Gambir, Senen, Jakarta Pusat, Rabu (7/2/2018) lalu.

A Ginanjar Sya’ban adalah penulis buku “Mahakarya Islam Nusantara – Kitab, Naskah, Manuskrip dan Korespondensi Ulama Nusantara”, yang menjadi pembahasan di acara diskusi buku. Selain penulis buku, ada tiga narasumber lain yang hadir yaitu Mahmud Syaltout, Zainul Milal Bizawie, dan Aditia Gunawan.

“Tetapi, di sini, ada satu kawasan. Tempat terdapat banyaknya naskah-naskah kita, tetapi masih belum terjamah di sana. Kawasan tersebut sebenarnya sangat dekat secara emosional dengan kita, tetapi entah kenapa di sana belum ada yang menyentuh. Kawasan tersebut adalah di Timur Tengah,” ujar Ginanjar yang saat ini tengah menempuh pendidikan doktoral bidang Filologi di Universitas Padjadjaran.

Dekat secara emosional, menurut Ginanjar, karena bagaimanapun Timur Tengah adalah pusat perkembangan agama Islam dari dulu hingga sekarang. Di kawasan ini ada banyak naskah Nusantara yang tersimpan dan tersebar di berbagai perpustakaan Timur Tengah. Seperti di Mekah, Riyadh, Kairo, Istanbul, Teheran, dan lainnya.

Suasana Diskusi naskah-naskah Nusantara di Timur Tengah

Suasana Diskusi buku “Naskah-Naskah Nusantara di Timur Tengah: Khazanah yang Belum Terjamah”, di Auditorium Perpustakaan Nasional, Lantai 2, Jl Medan Merdeka Selatan No 11, Gambir, Senen, Jakarta Pusat, Rabu (7/2/2018) lalu. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Memang ada beberapa ilmuwan Indonesia yang sudah mengkaji keberadaan naskah-naskah Nusantara Di Timur Tengah. Di antaranya,  Azyumardi Azra, Oman Fathurahman, dan Jajat Burhanudin. Tapi, menurut Ginanjar, itu hanya sebatas beberapa naskah saja.

“Tetapi yang kemudian membuat katalog tentang bagaimana peta naskah-naskah Nusantara yang tersimpan di perpustakaan-perpustakaan di Timur Tengah, itu belum ada yang melakukan. Hatta, para orientalis,” ujar Ginanjar yang mendapat julukan sebagai filolog santri ini.

Ginanjar mengategorikan naskah-naskah Nusantara yang ada di Timur Tengah dalam empat jenis. Yaitu, naskah tulis tangan, naskah cetak tua yang berasal dari akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, dokumen yang berupa surat menyurat, fatwa, sanad, dan terakhir naskah cetak modern.

Naskah-naskah itu berisi tentang ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang. Seperti, teologi, yurisprudensi, astronomi, kedokteran, matematika, politik, sejarah, geografi, gramatika, dan juga linguistik.

Menariknya, naskah-naskah Nusantara yang ada di Timur Tengah tidak hanya menggunakan Bahasa Arab, tetapi juga berbahasa Melayu, Jawa, Sunda, termasuk Bahasa Madura, dan bahasa lokal Nusantara lainnya. Dan, ditulis dengan aksara Arab.

BACA JUGA  Ngaji Budaya Lesbumi Kota Depok : Keris dan Batik Nusantara

Ada beberapa hal menarik lainnya yang diungkap Ginanjar dari isi naskah-naskah Nusantara itu. Misalnya, naskah al-Jawabat al-Gharawiyyah li al-Masa’il al-Jawiyyah al-Johoriyyah, dari abad 17, yang ditemukan di perpustakaan Universitas Islam Madinah.

Naskah karya Syaikh Ibrahim al-Kurani, yang merupakan mahaguru ulama Nusantara pada zamannya, ini berisi jawaban-jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dari Nusantara pada masa peralihan antara masa pra-Islam, Hindu, Budha ke masa Islam. Ada lima pertanyaan yang diajukan.

“Yang menarik di antara pertanyaan itu adalah bagaimana hukumnya seorang lelaki ketika menikah, dia memakai pakaian adat tradisi pra-Islam, katanya. Apa pakaiannya itu? Pakaiannya itu biasanya memakai tutup kepala, mahkota terbuat dari emas. Kemudian gelang-gelang emas, kalung-kalung emas. Itu kan tradisi pakaian Majapahit sekali. Nah, ditanyakan di sana, itu boleh apa nggak?” cerita Ginanjar.

Salah satu naskah Nusantara di Timur Tengah

Naskah Jawab ‘Abd al-Ghani’an Hukm Syath al-Wali, (Kajian Wadatul Wujud Islam Nusantara) dari abad 18, karya Syaikh ‘Abdul Ghani al-Nablusi. Naskah yang ditemukan di perpustakaan Zhahiriyyah, Damaskus, ini membahas tentang Syeh Siti Jenar dan ajarannya. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Ada lagi naskah Jawab ‘Abd al-Ghani’an Hukm Syath al-Wali, (Kajian Wadatul Wujud Islam Nusantara) dari abad 18, karya Syaikh ‘Abdul Ghani al-Nablusi, seorang ulama Damaskus yang mendapat julukan sebagai Imam Al Ghazali pada zamannya. Naskah yang ditemukan di perpustakaan Zhahiriyyah, Damaskus, ini membahas tentang Syeh Siti Jenar dan ajarannya.

Kemudian ada naskah Ijazah Syaikh Nawawi al-Bantani, yang merupakan tulisan tangan. Ini adalah bentuk sanad dan ijazah yang diberikan. Ijazah sebagai penanda otoritas keilmuan. Lisensi ilmiah yang diberikan seorang guru kepada muridnya, yang menegaskan bahwa sang guru mengakui kapasitas keilmuan si murid tersebut dan membolehkan untuk mengajar.

“Jadi dalam tradisi Islam, syarat seseorang untuk menjadi kiai, untuk menjadi ustad, untuk mengajar ilmu keislaman di Haramayn saat itu, di Mekah-Madinah, itu dia harus memiliki ijazah. Harus memiliki lisensi dari gurunya kalau dia boleh mengajar. Kalau belum memiliki itu, nggak boleh mengajar. Nggak boleh menjadi ustad. Kenapa? Karena ilmunya harus benar-benar teruji,” kata Ginanjar Sya’ban.

Menariknya, ijazah ini diberikan oleh Syaikh Nawawi al-Bantani kepada murinya yang bernama Syaikh Abdul Sattar al-Dihlawi. Menurut Ginanjar, Abdul Sattar al-Dihlawi ini adalah ulama sentral India pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Jadi, dari naskah-naskah Nusantara yang ada di Timur Tengah itu, kita jadi tahu bahwa ternyata ada ulama India yang mengambil sanad, mengambil jalur keilmuan dari Syaikh Nawawi al-Bantani, yang berasal dari Banten.

BACA JUGA  Manunggaling Sunan Kalijaga dan Syekh Siti Jenar

Sementara, Zainul Milal Bizawie, narasumber lainnya, mengatakan bahwa dengan dikumpulkannya naskah-naskah di dalam buku karya A Ginanjar Sya’ban, maka menjadi tugas bersama untuk membaca pemikiran ulama-ulama terdahulu tentang sebuah masyarakat atau bangsa. Sehingga bisa menjadi sebuah bangsa yang memiliki kerangka sendiri.

Menurut Zainul, kita jadi mengetahui bagaimana para ulama-ulama terdahulu melakukan atau mencari solusi-solusi dalam kehidupan. Solusi dalam menyelesaikan sebuah masalah. Dan, itu penting.

“Ketika kita mempelajari, kita tidak hanya mempelajari sebuah naskah kuno, tapi kita mempelajari pola pikir para ulama itu dalam menyelesaikan sebuah persoalan. Sebuah produk pada saat itu. Itu harus kita gunakan, jangan kita menggunakan produk-produk baru, yang itu justru malah akan menghanyutkan bangsa ini,” ujar Zainul, doktor di bidang ilmu Sejarah dari UI ini.

Salah satu naskah Nusantara di Timur Tengah

Naskah al-Jawabat al-Gharawiyyah li al-Masa’il al-Jawiyyah al-Johoriyyah, dari abad 17, yang ditemukan di perpustakaan Universitas Islam Madinah. Naskah karya Syaikh Ibrahim al-Kurani ini berisi jawaban-jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dari Nusantara. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

 

Hal agak berbeda diajukan oleh narasumber lain, Mahmud Syaltout, saat menanggapi buku “Mahakarya Islam Nusantara – Kitab, Naskah, Manuskrip dan Korespondensi Ulama Nusantara”, setebal 640 halaman. Syaltout justru mengusulkan metodelogi baru.

“Kalau seperti ini, nuwun sewu. Ini orang-orang generasi milenia, anak kids zaman now ini, ngantuk,” kata Syaltout, doktor lulusan Sorbonne yang juga aktif sebagai Wasekjen PP GP Ansor.

Syaltout lantas mengusulkan naskah-naskah itu dianalisa dengan cara anak atau kids zaman now. Bagaimana caranya? Dengan cara dicoding. Dibuat hashtag-hashtag.

“Jadi kita kemudian bisa tahu hashtagnya. Hashtag fikih, hashtag tauhid. Nah kita bisa tahu, hashtaq ini yang main itu siapa. Yang ngomong itu alim ulama yang mana. Nah, nanti ada yang ngritik,” ujar Syaltout, yang merupakan dosen Hubungan Internasional di UI.

Dengan cara itu, menurut Syaltout, akan bisa terlihat magnitudnya. Ia memisalkan perdebatan antara dua ulama. Diandaikan sebagai twitwar maka akan terlihat siapa pendukungnya. Siapa yang memulai ngetwit duluan, dan siapa yang membalas. Terjadi twitwar.

“Ini kita ingin tahu. Trending topik kitab dari empat abad ini, opo sakjane? Pola. Kalau bicara tentang pola. Polanya apa? Buku setebal 640 halaman ini menurut saya, estimasi saya paling tidak bisa menghasilkan empat belas disertasi,” kata Syaltout.

Aditia Gunawan, narasumber dari Perpustakaan Nasional, hampir senada dengan Mahmud Syaltout. Melihat pentingnya dunia digital. Aditia sendiri kenal dengan A Ginanjar Sya’ban, penulis buku, lewat dunia maya. Dari sosial media, Facebook, di tahun 2015.

“Kemampuan penulis untuk membuat buku setebal 640 halaman, lebih dari 100 karya dari puluhan ulama, dalam jangka waktu yang relatif singkat. Kurang lebih dua tahun. Saya kira tidak terlepas dari kontes dunia digital yang saat ini sedang asyik-asyiknya dinikmati oleh para pengkaji naskah. Saya melihat, misalnya, lingkungan akademis dan akademisi di dunia maya di sekitar penulis mendukung terwujudnya master piece ini,” kata Aditia. *

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.