Keris-keris Langka Pusaka Puri Ageng Sukawati Gianyar

Keris-keris Langka Pusaka Puri Ageng Sukawati Gianyar
Penglingsir Puri Ageng Sukawati, Anak Agung Gde Oka (berbaju batik) dan Semeton Puri Ageng lainnya, serta Anak Agung Gde Waisnawa Putra (memegang keris) tengah mengamati pusaka-pusaka Puri pada akhir tahun 2017. (Dokumentasi Semeton Puri Ageng Sukawati)

Oleh Anak Agung Gde Waisnawa Putra

Satu persatu pusaka keris yang masih sangat disakralkan milik Puri Ageng Sukawati Gianyar, Bali, tutup tahun 2017 itu diturunkan untuk dijamasi, melalui sebuah ritual khusus memohon kepada Sang Hyang Pasupati agar prosesi jamasan berjalan lancar. Pensakralan pusaka itu merupakan perwujudan dari penghormatan Semeton (Keluarga Besar) Puri Ageng Sukawati Gianyar untuk warisan leluhur yang harus dilestarikan bersama.

Tempat jamasan keris-keris pusaka di area Pemerajaan Agung Puri Ageng Sukawati, disaksikan oleh Penglingsir (Sesepuh) dan Semeton Puri. Adapun ritual jamasan pusaka, dipercayakan untuk dilakukkan oleh Anak Agung Gde Waisnawa Putra — seorang kolektor dan pelestari budaya keris yang juga masih kerabat dekat Pasemetonan Manggis Gianyar.

Dimulai dari indentifikasi seluruh pusaka untuk menentukan jenis dhapur (model) keris, pamor, kondisi karat, korosi serta keutuhan wilahnya. Sungguh sangat mengagumkan, keseluruhan pusaka keris dan  tombak dalam kondisi relatif utuh walau beberapa wilah berkarat cukup tebal sehingga perlu waktu lagi untuk membersihkan dan kemudian mewaranginya.

Dilihat dari struktur wilah, korosi serta wangun pakemnya, usia pusaka-pusaka ini diperkirakan dibuat pada era abad ke-17 dengan kualitas besi dan garap yang istimewa. Jenis dhapur juga termasuk jenis yang langka. Kinatah emas di beberapa bagian memang ada yang sudah hilang karena usia, termakan zaman. Tetapi secara keseluruhan masih relatif utuh. Hanya sayang karena usia yang sudah lebih dari 300 tahun menyebabkan warangka dan handle hampir semuanya sudah rusak dan perlu segera dibuatkan yang baru.

Cikal bakal Puri Ageng Sukawati bermula sejak berdirinya Kerajaan Sukawati tahun 1710. Raja Bali Ide I Dewa Agung Jambe yang ketika itu pusat pemerintahannya berada di Puri Semarapura mempunyai Putra yang bernama Ide I Dewa Agung Anom Sirikan. Beliau berniat mendirikan sebuah Keraton baru diluar wilayah Semarapura. Akhirnya dipilihlah sebuah lokasi tepat di depan sebuah pasar di desa Timbul di wilayah Batuan yang kemudian dinamakan Puri Gerokgak.

Rakyat sekitar area tersebut pada waktu itu merasa sangat ber “suka hati “ karena telah berdiri sebuah Keraton yang megah dan indah. Karena kesukahatian rakyat maka wilayah tersebut diberi nama Sukawati (berasal dari kata sukahati menjadi Sukawati). Wilayah Sukawati kemudian menjadi sebuah kerajaan bernama Kerajaan Sukawati dengan Rajanya Ide I Dewa Agung Anom Sirikan yang kemudian bergelar Dalem Sukawati. Istana Puri Gerokgak kemudian berubah nama menjadi  Puri Ageng Sukawati.

Suasana Jamasan Pusaka Puri Ageng Sukawati Gianyar pada akhir 2017

Menaksir kinatah emas Sekar Manggis pada bagian wuwungan ganje keris Naga berluk lima. (Dokumentasi Puri Ageng Sukawati)

Pada awalnya penulis merasa penasaran. Apakah sebilah Tombak Pusaka Dalem Sukawati masih tersimpan di gedong Pusaka Puri? Ternyata dugaan penulis benar. Pusaka sebilah Tombak dengan pamor yang indah itu kondisinya relatif utuh, masih tersimpan dengan baik di Puri Sukawati. Jika hal ini dirunut dalam catatan sejarah Babad Dalem Sukawati disebutkan ketika Dalem Sukawati bersemedi tapa bratha saat bulan Purnama di sebuah pantai di wilayah  Sukawati,  beliau mendapat anugerah sebilah Tombak dari Hyang Baruna. Tombak itu kelak kemudian hari menjadi salah satu Pusaka utama Puri Ageng Sukawati yang kemudian diberi gelar “ Ki Segara Anglayang “.

BACA JUGA  Sundang Borneo di Mindanao dan Sulu

Apakah ini adalah Tombak Ki Segara Anglayang itu? Penulis tidak berani memastikannya. Tapi jika dilihat dan diteliti dengan baik bahan  besi dari tombak ini,  memang terbuat dari “bias melela” (pasir malela = pasir besi) yang mungkin saja terdapat di seputar pantai lokasi beliau bersemedi. Pola pamornya juga menggambarkan pamor Ombak Segare (mirip bias-bias ombak di laut). Oleh masyarakat setempat pantai tempat Dalem bersemedi kemudian dinamakan Pantai Purnama.

Sungguh pengalaman yang mengagumkan bagi penulis melihat , menanting dan menjamas secara langsung artefak keris-keris dan tombak pusaka era kebesaran Kerajaan Sukawati tersebut. Dari struktur wilah, dhapur serta pamor yang langka sudah bisa dipastikan bahwa pusaka-pusaka tersebut adalah Pusaka Dalem atau Pusaka yang memang dibuat khusus atas perintah Raja. Salah satunya adalah sebilah Keris Naga berluk 5 yang sangat indah berwibawa dengan lidah menjulur terbuat dari emas. Pada zamannya, keris berdapur Naga adalah Pusaka Kerajaan. Jika dianalogikan, Naga adalah melambangkan Kekuasaan. Sedangkan Luk 5 melambangkan kesaktian dan sifat kebaikan dari lima kesatria Pandawa.

Suasana Jamasan Pusaka di Puri Ageng Sukawati Gianyar akhir 2017

Penglingsir Puri Ageng Sukawati Anak Agung Gde Oka tengah mengamati keris pusaka berkinatah Sekar Manggis, disaksikan putranya, Anak Agung Gde Mataram yang berbaju biru. (Dokumentasi Semeton Puri Ageng Sukawati)

Diantara Keris Pusaka dan Tombak yang sudah siap untuk dijamas, sebilah Keris berdapur Jalak sempat mencuri perhatian penulis. Keris istimewa ini mengingatkan kita pada sebuah pusaka  legendaris dan keramat dari Keraton Ngayogjakarta Hadininggrat yaitu Keris Kanjeng Kiyai Ageng Joko Piturun yang juga berdapur Jalak. Pada tradisi yang sudah turun temurun di Keraton Yogja  disebutkan Keris KKA Joko Piturun adalah Pusaka yang diberikan oleh Sultan kepada seseorang untuk menggantikannya menjadi Raja atau Sultan berikutnya. Di antara sekian banyak Keluarga Raja hanya yang diberikan Keris Pusaka Joko Piturun inilah yang dipastikan akan menjadi Raja berikutnya.

BACA JUGA  Tradisi Idul Adha di Keraton Cirebon

Adakah sebuah makna yang sama tersirat  pada Keris Pusaka Jalak milik Puri Ageng Sukawati ini? Menurut penulis Keris yang indah ini mempunyai sejarah yang cukup penting.

Dan yang tidak kalah menarik dalam Jamasan Pusaka ini adalah ketika semua mata tertuju pada sebilah Keris berdapur Kalamisani. Ketika penulis menunjukkan dan menjelaskan detail kinatah emasnya, penglingsir dan semeton Puri Ageng Sukawati merasa kaget dan baru menyadari bahwa ternyata Keris Pusaka ini  mempunyai kinatah emas berbentuk Sekar Manggis (kelopak manggis) pada bagian ganje (ganja) nya.  Adakah yang mengetahui maknanya? Adakah hubungannya dengan Dinasti Manggis yang berkuasa di wilayah  Kerajaan Gianyar termasuk kerajaan Sukawati? Bagaimana pula dgn keberadaan Keris Jalak Sangu Tumpeng yang mirip dengan Pusaka Keraton Yogyakarta, KKA Joko Piturun yang menjadi simbol suksesi atau beralihnya kekuasaan Raja?

Tentu akan menjadi pembahasan menarik dalam tulisan selanjutnya. *

Suasana Jamasan Pusaka Puri Ageng Sukawati pada akhir 2017

Anak Agung Gde Waisnawa Putra tengah melakukan jamasan pada sebuah pusaka di Pemerajan Agung, pada akhir 2017.

  • Anak Agung Gde Waisnawa Putra, kolektor keris dan pelestari budaya Bali, kontributor KerisNews.
banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.