Abah Wahyu, “Guru Teupa” Kujang Modern

Abah Wahyu, “Guru Teupa” Kujang Modern
Abah Wahyu saat di Pameran “Ragam Pesona Kujang” yang digelar di Botani Square, Jalan Pajajaran, Bogor, sehari menjelang tutup tahun 2017 lalu. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Pembuat kujang disebut Guru Teupa. Empu keris kalau di dunia perkerisan. Di masa lalu seorang Guru Teupa harus mengikuti aturan dan menjalani ritual agar kujang yang dihasilkan sempurna. Tidak hanya laku puasa, akan tetapi juga harus menepati aturan kapan harus melakukan proses pembuatannya. Sehingga kujang bikinannya tidak hanya memiliki keindahan, akan tetapi juga daya magis melalui laku tapa dan aturan yang dijalankannya.

Saat ini kujang — senjata tradisional khas di wilayah Pasundan — sudah jarang digunakan baik sebagai perkakas, senjata maupun pusaka. Masyarakat Jawa Barat hanya menjadikannya sebagai simbol identitas, sebagaimana terdapat dalam lambang pemerintah propinsi Jawa Barat. Kebanggaan masyarakat sunda akan senjata khas mereka juga tampak dengan didirikannya tugu kujang diberbagai wilayah di Jawa Barat, seperti di Bogor, Tasikmalaya dan Indramayu.

Tidak heran, jika di masa kini nyaris tiada lagi yang tersisa, Guru Teupa pembuat kujang di Jawa Barat. Wahyu Affandi Suradinata — yang sehari-hari disebut para penggemar kujang di Bogor sebagai Abah Wahyu — adalah salah satu yang tersisa itu. Bermula dari kesenangan pribadi, lama-lama menjadi profesi yang memberinya sumber rezeki.

Mengawali membuat kujang di tahun 1995 karena hobi. Saat itu, ia bekerja sebagai guru honorer di beberapa STM (sekarang SMK) swasta yang ada di Bogor. Waktu luang atau liburan, ia manfaatkan untuk membuat kujang di bengkel tempatnya mengajar. Kujang-kujang hasil buatan Abah Wahyu itu, lantas hanya diberikan kepada teman-temannya, jika ada yang memintanya. Tanpa imbalan serupiah pun.

“Salah satu kujang bikinan saya, kini ada yang tersimpan di Museum Pusaka di Taman Mini, Jakarta,” ungkap Abah Wahyu, ketika ia tampil dalam Pameran Kujang di pusat perbelanjaan, Botani Square di Bogor bulan Desember lalu, persis menjelang tutup tahun 2017.

“Karena saya senang, saya bikin kujang. Setelah jadi diminta teman, sama tokoh, ya saya kasihin saja,” ujar Abah Wahyu yang di SMK mengajar mata pelajaran fisika, dan matematika.

Abah Wahyu dan teman-teman penggemar kujang di Botani Square Bogor akhir tahun 2017.

Abah Wahyu (paling kiri) bersama para penasehat lainnya menerima piagam dari panitia Pameran “Ragam Pesona Kujang”. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Awal perkenalan Abah Wahyu dengan kujang bisa dibilang agak mistis. Waktu itu, ia menemukan sebuah benda yang tertancap di batu yang berada di tepi sungai, di kawasan pesisir Sukawayana, Cisolok, Sukabumi. Benda tersebut ternyata sebuah kujang.

“Setelah saya dapat kujang itu, setiap pagi ada yang ngirim. Siapa pengirimnya saya nggak tahu. Selalu ada datang (kujang) di teras itu, ada lima, ada enam, setiap hari,” cerita Abah Wahyu yang juga dipanggil Wahyu Kujang.

Kujang-kujang itu terus saja datang, tanpa diketahui siapa pengirimnya. Abah Wahyu pernah berusaha mengintip siapa yang menaruh kujang-kujang itu di teras. Tapi tetap tidak diketahui, karena tiap kali diintip maka lantas tidak ada kujang yang datang.

Abah Wahyu kemudian menyerahkan kujang-kujang yang terkumpul itu ke orang. Tapi kujang-kujang itu tetap saja datang, sehingga ia akhirnya mengadu ke gurunya. Abah Wahyu minta saran agar kujang-kujang itu tidak datang lagi. Oleh gurunya itu, ia dikasih doa dalam bahasa Sunda.

BACA JUGA  Kesekian Kali Yantono Nempa Pamor Meteorite

Setelah itu tidak ada lagi kujang yang datang, sampai hampir setengah tahun. Meski kemudian ada lagi yang datang, tapi sudah semakin jarang.

“Dari situ saya mulai ada, kok saya menyukai bikin kujang ini. Yang pertama barangkali saya orang Sunda. Kemudian saya senang sejarah. Saya baca sejarah. Ternyata memang kujang adalah warisan leluhur kita, yang harus dilestarikan. Kalau perlu diinformasikan kepada masyarakat, generasi muda. Karena orang Sunda sendiri banyak yang tidak kenal kujang,” ujar Abah Wahyu, yang lahir di Bandung, 1953.

Kiprah Abah Wahyu dalam membuat kujang memang tidak terlepas dari peran Anis Djatisunda, yang dianggap sebagai guru oleh Abah Wahyu. Anis Djatisunda ini adalah seorang budayawan. Ia mengerti semua masalah kesundaan. Baik itu kesenian maupun kebudayaan.

Ceritanya, Anis Djatisunda mempunyai guru yaitu Raden Mohtar Kala, yang menyalin naskah-naskah kuno Pantun Bogor ke dalam tulisan tangan. Selanjutnya, oleh Anis Djatisunda bersama dengan murid Raden Mohtar lainnya, yaitu R Saleh Danasasmita, tulisan tangan itu lantas diketik dan dibukukan.

“Dari Pantun Bogor itulah banyak diinformasikan tentang kujang. Mulai dari bagaimana bikinnya, berapa jenis, dan sebagainya,” kata Abah Wahyu, bapak enam orang anak ini.

Abah Wahyu di Botani Square Bogor akhir tahun 2017

Wahyu Affandi Suradinata atau biasa dipanggil Abah Wahyu, berpose dengan latar belakang kujang-kujang yang dipajang di Pameran “Ragam Pesona Kujang”. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Berdasarkan semua informasi yang terdapat di pantun bogor itu, Abah Wahyu kemudian mencoba membuat kujang. Sebagai guru fisika yang belajar metalurgi dan mengajar ilmu logam di sekolah, ia merasa tidak kesulitan membuat kujang. Menurut Abah Wahyu, kujang sebagai benda yang kelihatan, semua orang pasti bisa membuatnya, asal ada kemauan.

Setelah tahun 2000, mulai ada teman, kerabat, maupun tokoh yang memberi imbalan uang sesuai kemampuan mereka jika tertarik dengan kujang-kujang karya Abah Wahyu. Tapi, saat itu ia sama sekali tidak menentukan harga.

“Ditegur oleh guru. Jangan begitu. Ini bikinnya susah. Kalau ada yang perlu minta ganti, upahnya berapa, capenya,” ujar Abah Wahyu menirukan saran gurunya waktu itu.

Atas saran gurunya itu, yaitu Anis Djatisunda, mulai tahun 2005, Abah Wahyu memberi harga atau mahar terhadap kujang-kujang yang ia hasilkan. Nilainya ditentukan berdasar jenis kujang dan jumlah “mata” yang ada pada kujang. Terutama pada kujang ciung. Lebih banyak “matanya” semakin tinggi harganya.

Abah Wahyu membuat berbagai macam kujang. Mulai dari kujang berukuran Gede (31-32 cm), Duatilu (25-27 cm), Paro (23-24 cm), dan Leutik (10-11 cm). Termasuk kujang berukuran besar mulai dari 1 sampai 2 m. Untuk kujang pusaka, Abah Wahyu perlu persiapan khusus saat membuatnya.

“Setiap orang yang pengen kujang, khusus untuk pegangan, ageman lah begitu ya. Itu yang pertama saya minta nama lengkapnya siapa, nama ayahnya siapa, hari lahirnya kapan, terus profesinya apa. Setelah itu saya analisa. Oh, Anda cocoknya kujang ini. Saya begitu,” kata Abah Wahyu, yang sekarang telah memiliki bengkel sendiri.

BACA JUGA  Keris Ki Empu Sukamdi Laris Ditiru

Semua aturan yang diikuti Abah Wahyu itu ada di dalam Pantun Bogor. Ia masih memakai Tetekon. Tetekon adalah aturan adat atau kuno yang tidak tertulis, dan sebaiknya tidak dilanggar. Dan, Abah Wahyu berusaha mengikuti aturan itu.

“Pukulan pertama, hari itu saya tidak minum, tidak makan. Biasanya Senin dan Kamis, nempa-nempa kaya gitu. Sudah, senin-kamis, senin-kamis,” cerita Abah Wahyu.

Karena itu, Abah Wahyu memerlukan waktu hampir satu bulan untuk menyelesaikan sebuah kujang pusaka. Ia juga yang menyediakan sendiri bahan-bahan untuk membuat kujang, jika ada yang memesan.

Menurut Abah Wahyu, nama ayah untuk menentukan jumlah mata kujang. Hari lahir untuk menentukan pamor kujang. Sementara profesi untuk menentukan jenis kujang. Untuk ukuran kujang pusaka, Abah Wahyu mengikuti aturan di Pantun Bogor, yaitu tidak lebih dari sejengkal.

Abah Wahyu juga memberi nama pada kujang pusaka. Nama dicari dengan cara ritual khusus, yang dilakukan pada waktu sepertiga malam atau saat menjelang subuh. Nama itu kemudian ikut dituliskan pada sertifikat atau piagam yang diberikan pada tiap kujang pusaka.

Sertifikat Kujang yang dikeluarkan Guru Teupa Abah Wahyu untuk kujang-kujang bikinannya.

Contoh piagam atau sertifikat yang dikeluarkan oleh Abah Wahyu untuk tiap kujang pusaka hasil karyanya. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Di tahun 2005, Abah Wahyu mendapat julukan Guru Teupa dari Anis Djatisunda. Guru dalam Bahasa Sunda Buhun artinya tukang atau ahli. Sedangkan teupa artinya nempa. Jadi, Guru Teupa memiliki arti Tukang atau Ahli menempa kujang.

Para pembuat golok, pisau, cangkul, mata tombak dan perlengkapan lainnya disebut sebagai Panday. Pada zaman kerajaan, seorang panday yang sudah mampu membuat kujang lantas diberi julukan atau gelar sebagai Guru Teupa oleh bupati atau raja.

Sebagai Guru Teupa, Abah Wahyu telah membuat 672 kujang pusaka. Sejak tahun 2001 sampai 2009, ia telah menciptakan sembilan pamor. Yaitu, pamor Tapak Nanggala, Caringin Kurung, Mega Sirna, Tirta Sadana, Sekar Kadaton, Pakujajar, Waruga Sungsang, Naga Bandang, dan Hanjuang.

Menurut Abah Wahyu, kujang-kujang buatan tempo dulu tidak memiliki pamor khusus, kecuali garis-garis dan bintik-bintik yang tidak beraturan. Biasa disebut dengan Sulangkar dan Tutul.

Di Pantun Bogor, menurut Abah Wahyu, disebutkan ada enam jenis kujang. Yaitu, Kujang Ciung, Kuntul, Jago, Naga, Bangkong, dan Badak. Sementara dari sumber lain, disebutkan kalau ada jenis satu lagi, yaitu Kujang Wayang. Kujang Wayang ini diperkirakan dibuat oleh Guru Teupa dari wilayah Cirebon.

Sekarang ini Abah Wahyu membuat kujang, khususnya yang dipakai sebagai ageman, dengan mata kujang ditutup kuningan, perak, atau emas. Landean atau gagang berbentuk ceker kidang dan terbuat dari kayu Sonokeling. Sarangka atau warangka juga dari kayu Sonokeling.

“Omzet saya sekarang antara 36 sampai 40 juta sebulan, dari kujang. Saya berhenti ngajar,” kata Abah Wahyu. *

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.