Jejak Peradaban Besi Luwu di Keris Majapahit

Jejak Peradaban Besi Luwu di Keris Majapahit
Tim ekspedisi kecil Bentara Budaya dan Kompas bersama komunitas Pompessi (Pohon Besi) Luwu ke desa Matano di Luwu Timur, pada Agustus 2015 silam. Menelusuri jejak-jejak peradaban besi Luwu di Danau Matano. (KerisNews.com/Jimmy S Harianto)

Keris-keris kuno yang ditangguh sebagai “Keris Majapahit” umumnya menampilkan besi dengan kualitas istimewa. Boleh dikata tiada tandingnya jika dibandingkan dengan keris-keris yang disebut berasal dari tangguh lain seperti Mataram di Jawa Tengah, misalnya. Meski demikian tidak pernah disebut, darimana gerangan asal besi atau bahan logam yang dipakai oleh empu-empu Majapahit dulu. Besi impor dari luar negeri atau besi lokal dari Jawa-kah?

Tangguh secara harafiah berarti perkiraan. Di dunia perkerisan di Pulau Jawa, tangguh meliputi perkiraan zaman pembuatan atau gaya pembuatan. Jadi jika seseorang mengatakan bahwa sebilah keris tangguhnya Majapahit? Itu berarti bahwa keris tersebut diperkirakan buatan zaman Kerajaan Majapahit. (Harsrinuksmo 2004: 459).

Tangguh juga memiliki makna upaya penarihan keris. Kata tangguh sendiri berarti pendugaan, atau perkiraan pada zaman apa serta dari mana keris tersebut dibuat. Sedangkan tarih artinya tahun. Perlu dimaklumi bahwa pada masa lampau (kuno) belum ada cara pencatatan dan dokumentasi atau usaha pengukuhan keaslian pembuatannya. Pengertian lain tentang tangguh adalah “toya”, kata dari bahasa Jawa yang artinya ‘air’. Maksudnya, adalah memperkirakan aliran dari mana keris itu berasal, atau di zaman apa keris itu terakhir disepuh dengan air. (Haryono Haryoguritno 2005: 350).

Lebih jauh lagi Haryoguritno menjelaskan, bahwa apabila sebilah keris disimpulkan bertangguh Pajajaran Majapahit?  Itu bisa diartikan, jika dilihat dari bahannya berasal dari Pajajaran (Jawa Barat, Pasundan), sedangkan menurut gaya pembuatan berasal dari Majapahit (Jawa Timur). Hal itu, menurut Guritno, sangat mungkin bisa terjadi dengan perkiraan kompromistis, bahwa keris itu dahulu dibuat oleh empu dari Pajajaran yang diberi tugas oleh dinasti Brawijaya untuk melayani pembuatan keris di Majapahit.

Konsep tangguh memang bukan maksud sorotan dalam tulisan kali ini. Akan tetapi tulisan ini lebih mencoba merunut, bagaimana kerajaan besar seperti Majapahit (1293-1500) yang tidak hanya kuat armada perdagangannya, akan tetapi juga kehidupan agrarisnya, bisa hebat membuat keris-keris dan senjata tombak berkualitas istimewa. Bahan logam dari mana? Tak pernah diungkap secara terbuka…

Keris-keris top Haryono Guritno

Keris-keris dengan besi berkualitas top dari berbagai zaman, dari kiri keris Betok tangguh Pajajaran, keris Peksi Liman tangguh Mataram, keris Laler Mengeng wedana pitu tangguh Majapahit, serta keris Megantara kamarogan tangguh Majapahit koleksi Ir Haryono Haryoguritno. (Courtesy of Buku Keris Jawa)

Kepandaian logam seringkali berperan dalam pembentukan negara, serta penciptaan kekuasaan. (Anthony Reid 2014: 120-121). Maka tidak heran, jika keahlian mengolah, menempa dan bahkan dari mana bahan yang mereka olah dan tempa itu berasal, disembunyikan oleh kerajaan-kerajaan di masa lalu.

Dari mana besi yang diolah kerajaan Majapahit untuk menjadi senjata-senjata pusaka yang legendaris, seperti keris-keris Majapahit itu berasal? Rahasia. Sinengker. Tetapi dari berbagai literatur ilmiah yang diungkapkan para sejarawan baik dari dalam maupun luar negeri ini kuat mengatakan, bahwa Majapahit berkaitan erat dalam hal “impor” bahan logam besi dan pamor dengan kerajaan Luwu di Sulawesi Selatan di masa lalu.

Nusantara miskin bijih besi, kecuali di wilayah tertentu seperti bagian tenggara Kalimantan, bagian tengah Sulawesi, daerah pedalaman Sumatra dan Sumbawa. Di Jawa sama sekali tidak ada bijih besi, dan sepanjang zaman pra-kolonial hak mengerjakan besi dianggap melekat pada sekelompok perajin pemegang hak istimewa yang dianggap memiliki kekuatan gaib: pande besi. Di manapun di Nusantara pandai besi sedikit banyak dipandang sebagai empu yang memiliki kekuatan magis, namun dapat dibayangkan bahwa di Jawa, konteks ritual dan magisnya lebih terasa karena kelangkaan logam itu. (Denys Lombard 1996: 132).

BACA JUGA  Tombak yang Bikin Muntab Meluap

Dalam tradisi di Jawa, pembagian pulau antara kerajaan-kerajaan Majapahit di timur dan Pajajaran di barat, dirujukkan pada seorang pandai besi kerajaan yang memiliki kekuatan magis seperti Siyung (Ciung) Wanara yang membunuh ayahnya dan bertempur dengan saudaranya (Babad Tanah Jawa 14-17). Raja kedua Bone, daerah Bugis terkemuka di Sulawesi, memakai gelar Petta Panre Besi atau “Tuan Kita Pandai-Besi”. Di negara berkembang mana saja, para pandai-besinya dibawa ke ibu kota untuk menjamin penguasaan sumber daya yang kuat ini di bawah perlindungan raja, merupakan salah satu ciri kerajaan besar. (Anthony Reid 2014: 121).

Bukit Pongko di seberang Danau Matano

Bukit Pongko dekat bukit Makam Raja-raja Luwu di pinggir danau Matano, Sulawesi Tengah, juga disebut sebagai “gunung besi”. Dari kejauhan, bukit Pongko terlihat lebih gundul dari bukit-bukit lainnya di seputar Danau Matano, lantaran tingginya kadar besi tanahnya. Warna bukit tidak terlalu hijau, akan tetapi cenderung kemerahan. Di sebalik bukit Pongko yang merah itu, biasa ditambang (dikeruk secara tradisional) bahan-bahan yang digunakan untuk baja. (KerisNews.com/Jimmy S Harianto)

Jawa terkenal dengan hasil kerajinan besinya yang indah, dan keris serta pedangnya diekspor hingga sejauh India (Tome Pires 1515: 93, 179). Meski demikian, tidak pernah disebutkan bahwa di Jawa ada tambang bijih besi. Meskipun kaitan legendaris antara kerajaan Pajajaran di Jawa Barat sebelum tahun 1500 dengan para pandai-besi bisa menunjukkan bahwa di pegunungan Jawa Barat daya sudah pernah ditambang bijih besi yang mengandung titanium. Namun tidak ada bukti bahwa industri keris di Majapahit atau kerajinan besi Jawa  sesudahnya memperoleh bahan besinya secara setempat. Borneo (Kalimantan) dan Sulawesi hampir pasti menjadi pemasok sebagian besar besi yang diolah di Jawa. (Reid 2014: 125).

Sumber paling mungkin dari besi kaya (kandungan) nikel yang digunakan untuk membuat keris Majapahit adalah Sulawesi bagian tengah. Bijih besi laterit yang kandungan besinya sampai 50 persen serta sisa-sisa nikel, yang banyak ditemukan sangat dekat pada permukaan tanah, khususnya di sekitar Danau Matano dan di bagian hulu Sungai Kalena. (Kruit 1901: 149-150). Besi dari Sulawesi bisa diekspor melalui Teluk Bone, yang dikuasai Kerajaan Luwu. Atau melalui pantai timur Sulawesi, yang pada abad ke-16 dan sebelumnya dikuasai oleh Kerajaan Banggai. Banggai dan Luwu disebutkan dalam kitab Nagara-kretagama (Prapanca 1365) sebagai pembayar upeti kepada Majapahit, yang menunjukkan bahwa ekspor besinya boleh jadi sudah penting di masa itu. (Reid 2014: 125).

Sejarawan Anthony Reid, lebih jauh lagi mengungkapkan bahwa kerajaan Luwu di Sulawesi Tengah mungkin menjadi tempat peleburan logam bagi kerajaan-kerajaan Bugis sekitar abad ke-14, berkat besi yang disalurkan dari penduduk pebukitan (Pegunungan Verbeek. Red) yang menambangnya untuk kaum pedagang dari Jawa dan tempat-tempat lainnya. Pada pertengahan abad ke-17, “besi luwu” masih tetap merupakan salah satu ekspor utama dari Makassar ke Jawa bagian Timur (Speelman 1607 A: 111).

Besi yang lebih murah, menurut Reid, pada waktu itu mulai datang dari Cina dan Eropa. Akan tetapi para pembuat keris di Jawa tampaknya tetap lebih menyukai besi Sulawesi yang banyak kandungan nikelnya untuk membuat keris yang berpamor. Di sekitar tahun 1800 sekalipun, besi dari Sulawesi tengah itu masih tetap dicari oleh para pembuat keris di Borneo (Kalimantan) Selatan, yang perlu mencampurnya dengan “besi murni” impor yang lebih murah, sehingga sisa nikelnya akan menampilkan pamornya. (Marsehal 1968: 138).

Karimata, sebuah pulau kecil di bawah kekuasaan kerajaan kecil Sukadana di Borneo barat laut, menurut Reid juga dikenal sebagai “pengekspor baja” terutama semenanjung Malaya. Orang Melayu dari wilayah Melaka, pada sekitar 1600, memakai keris “yang bajanya berasal dari Karimata” (Eredia 1600: 232). Bahkan Banten, pelabuhan di Jawa Barat, ketika itu merupakan pelabuhan terbesar di Jawa yang mengimpor  “besi dalam jumlah besar dari Karimata” (Lodewyeksz 1598: 119).

BACA JUGA  Api Besalen Mloyokusuman Menyala Lagi

Anthony Reid juga menuliskan dalam bukunya “Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680” buku pertama (terjemahan), bahwa Armada Jawa yang merebut Sukadana di Karimata pada tahun 1622, merupakan petualangan (kerajaan) Mataram satu-satunya di luar Jawa, pastilah dimaksudkan untuk mengamankan sumber besi (dan permata). Kekuasaan Mataram segera mengendor, dan Karimata kembali mengekspor peralatan besinya ke seluruh kepulauan. Orang Belanda bahkan membeli hampir sepuluh ribu kampak dan parang Karimata di tahun 1631 (Dagh-Register 1631-1634: 28,47) dan delapan ribu di tahun 1637.

Ilustrasi strip vault Verbeek dan Matano

Danau Matano, menurut berbagai catatan, terbentuk akibat terjadinya pergeseran patahan bumi di wilayah tersebut (strike-slip fault, lihat ilustrasi) sekitar sejuta sampai empat juta tahun silam. Pergeseran patahan bumi, yang berkesebalikan arah ini, tidak hanya mengakibatkan lapisan bumi yang terbawah menjadi terlihat di permukaan, akan tetapi juga di tempat rendah membuat genangan danau yang dalam. Kedalaman bumi yang terangkat ke permukaan ini, kebetulan mengandung besi dan nikel dalam jumlah besar. (Dokumentasi Istimewa)

Penelusuran arkeolog, sejarawan dan antropolog Indonesia sendiri pun menguatkan hal itu, bahwa hubungan erat di masa lalu antara kerajaan Majapahit dengan kerajaan Luwu di Sulawesi tidak sekadar hubungan dagang biasa. Salah satu penelitian lapangan yang dilakukan arkeolog Universitas Hasanuddin, Iwan Sumantri pun menemukan bahwa Luwu adalah pemasok utama besi untuk Majapahit.

Ahli sejarah maritim dari Universitas Hasanuddin, Edward L Poelinggomang pun menuliskan dalam buku bungai rampai tentang Kedatuan Luwu (Editor Iwan Sumantri 2006), bahwa jejak hubungan antara Kedatuan Luwu dan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur malah tertulis dalam sejarah.

Dalam sejarah Luwu dinyatakan, (penguasa kedatuan Luwu) Simpurusiang memiliki seorang putra bernama Anakaji. Putra Luwu ini mempersunting putri Majapahit yang bernama We Tapacina. Hal ini, menurut Poelinggomang, menunjukkan bahwa kerajaan Luwu memiliki hubungan politik dan perdagangan dengan kerajaan Majapahit di Jawa Timur itu. Mengutip sejarawan lain, Kenneth R Hall, maka Poelinggomang pun mengungkapkan bahwa di kepulauan Nusantara ini telah terbentuk zona perdagangan maritim pada abad ke-13. Zona perdagangan ini berada dalam hegemoni Majapahit.

Dari hubungan perdagangan inilah, menurut sejarawan maritim Poelinggomang ini, para empu keris di Jawa memperoleh bahan baku (bijih besi) dari kedatuan (Luwu) tersebut, jenis keris yang dipandang berpamor. Hubungan perdagangan inilah yang membuahkan terjalinnya hubungan politik melalui perkawinan.

Masih dalam catatan ahli sejarah maritim, Edward L Poelinggomang, pada perkembangan hubungan perdagangan antara Kedatuan Luwu dan kerajaan Majapahit ini memungkinkan seorang pujangga keraton Majapahit, Prapanca, ikut perjalanan armada dagang ke Luwu. Prapanca melakukan kunjungan ke Luwu pada 1364, beberapa tahun setelah perkawinan politik antara Anakaji, putra Datu Luwu Simpurusiang, dengan We Tapacina putri Majapahit. Dan dalam perjalanannya pulang ke Majapahit dari Luwu, Prapanca singgah di Malaka 1365 untuk menyelesaikan kitab karyanya yang kita kenal kini, Nagarakrtagama.

Apakah hubungan antara Kedatuan Luwu dan Kerajaan Majapahit sekadar kisah tertulis? Ternyata tidak demikian. Berdasarkan temuan lapangan yang dilakukan oleh tim peneliti dari proyek “The Origin of Complex Society in South Sulawesi” (OXIS) yang dipimpin David Bulback and Ian Caldwell Bulbeck serta Universitas Hasanuddin Makassar di tahun 1996, menguatkan hal itu. Bahwa Kedatuan Luwu berkait erat dalam hubungan politik dan perdagangan dengan Majapahit di Jawa. Dan bahwa Kedatuan Luwu pada abad ke-14 berperan penting dalam hal menyuplai besi sebagai bahan baku senjata bagi kerajaan Majapahit. *

Desa Matano kecamatan Nuha di Luwu Timur

Di desa Matano kecamatan Nuha, Luwu Timur di seberang danau Matano Sulawesi Tengah ini dulu terdapat ratusan dan bahkan mungkin ribuan panre, ahli-ahli pande besi. Mereka dulu membuat parang, cangkul dan badik cukup dengan mengeruk “bukit besi” yang mereka namai Gunung Pongko. Tiga pikul kerukan tanah atau brungkulan batu mengandung besi dari bukit, cukup untuk membuat bahan parang dan badik…… (KerisNews.com/Jimmy S Harianto)

 

Menelusuri jejak peradaban besi di Matano

Tidak hanya indah, Danau Matano di Sulawesi Tengah dan Selatan ini juga kaya akan kandungan mineral besi dan nikel, terutama di pebukitan di sekitar danau. (KerisNews.com/Jimmy S Harianto)

Danau Matano di Sulawesi Agustus 2015

Keindahan pemandangan danau Matano. Di seberang adalah pegunungan Verbeek yang kaya akan kandungan batu laterit dengan kandungan besi dan nikel tinggi. (KerisNews.com/Jimmy S Harianto)

Tim Bentara Budaya di Pabrik Pengolahan Nikel di PT Vale Sorowako

Rombongan Bentara Budaya dan Wartawan Kompas ketika meninjau Pabrik Pengolahan Nikel PT Vale (Brasil) di Sorowako, Sulawesi Selatan pada Agustus 2015. (KerisNews.com/Jimmy S Harianto)

Bijih Nikel di Sorowako PT Vale, Sulsel pada 2015.

Karung-karung berisi bijih nikel siap ekspor hasil olahan pabrik PT Vale (Brasil) di Sorowako, Sulawesi Selatan pada Agustus 2015. (KerisNews.com/Jimmy S Harianto)

 

 

Sumber:

1.Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid I, Oleh Anthony Reid (1992)

2. Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid II, Oleh Anthony Reid (1992)

3. Nusa Jawa Silang Budaya Jilid I-II, III, Oleh Denys Lombard (1996)

4. Suma Oriental (Edisi Bahasa Indonesia), Oleh Tome Pires (2014)

5. Kedatuan Luwu (Edisi Ke-2) Perspektif Arkeologi, Sejarah dan Anthropologi Oleh Iwan Sumantri Editor, Edward Poelinggomang dkk (2006)

6. History of Java (Edisi Bahasa Indonesia) Oleh Thomas Stamford Raffles (2002)

7. Ensiklopedi Keris Oleh Bambang Harsrinuksmo (2004)

8. Keris Jawa Antara Mistik dan Nalar Oleh Haryono Haryoguritno (2005)

 

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.