Pelal Ageng atau Panjang Jimat Keraton Kanoman Cirebon

Pelal Ageng atau Panjang Jimat Keraton Kanoman Cirebon
Patih Keraton Kanoman Pangeran Raja Muhammad Qadiran dalam balutan jubah emas dan sorban putih saat Pelal Ageng atau upacara Panjang Jimat di Keraton Kanoman, Jumat (1/12/2017) itu. (Kontributor/Paksinagaliman)

Oleh Paksi Naga Liman

Suasana khusuk menyelimuti lingkungan Keraton Kanoman Cirebon, salah satu Keraton penerus Trah Sunan Gunung Jati Cirebon yang beralamat di Jalan Winaon Kampung Kanoman, Kanoman, Lemahwungkuk, Kota Cirebon Jawa Barat. Sesuai tradisi yang telah berusia ratusan tahun maka setiap peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW selain ditandai dengan prosesi nyirami Gong Sekati juga dilaksanakan acara tradisi Panjang Jimat/Pelal Ageng dengan diawali acara Mios/lamaran (1/12/2017)

Sebelum Pelal Ageng/Panjang jimat dilaksanakan malam harinya maka pada pukul 16.00 WIB terlebih dahulu dilaksanakan Mios/Lamaran. Mios dimulai ketika Patih Keraton Kanoman Pangeran Raja Muhammad Qadiran memimpin iringan semua barang dan benda pusaka serta makanan/buah yang akan digunakan sebagai iringan Panjang Jimat nanti malamnya. Menurut Patih Keraton Kanoman Mios bisa diartikan sebagai “woro-woro atau penanda/pemberitahuan” kepada masyarakat bahwasanya rangkaian acara panjang jimat sudah dimulai dan dilaksanakan hari itu juga pada saat malam menjelang.

Para Abdi Dalem saat Pelal Ageng

Para abdi dalem membawa Piring Panjang yang merupakan artefak era dinasti Ming diberikan kepada Sunan Gunung Jati abad 15 Masehi dimalam Pelal Ageng. (Kontributor/Paksinagaliman)

Mios/lamaran dimulai dengan dibawanya Nasi Rasul (Nasi kuning) yang ditaruh di wadah Keramik Kuno sebanyak 6 buah diikuti famili Keraton Kanomandan barisan yang membawa lauk pauk dan buah. Rute iring-iringan dimulai dari depan Bangsal Pejimatan/Bangsal Ukir melalui Lawang Mundu disamping Bangsal Singabrata melewati Blandongan ke arah Balong Asem terus kearah Masjid Agung Keraton Kanoman Cirebon. Hanya Patih dan Famili yang akan memasuki Masjid tersebut untuk duduk sebentar dan akan kembali berdiri untuk bergabung kembali dengan barisan lain yang menunggunya disamping Masjiid. Dari situ iring-iringan terus berjalan melewati perumahan Famili dan Kompleks Magersari yang berada di sisi luar tembok Keraton dan berakhir di Langgar. Seluruh benda Pusaka dan makanan yang dibawa kemudian diletakan di langgar sampai malam menjelang pelaksanaan Panjang Jimat.

BACA JUGA  Rumah Tradisional Jawa Seperti Halnya Keris

“Disebut Piring Panjang karena ukuranya besar, menurut Budayawan Cirebon yang masih merupakan Trah Kanoman Alm. Tedy Sudjana, Piring atau Keramik yang menjadi Pusaka Keraton tersebut secara kualitas dan ukuranya termasuk jenis Keramik hadiah antara Para Raja atau dari satu Kerajaan untuk Kerajaan lainnya. Keramik tersebut merupakan keramik era Dinasti Ming”, Ungkap Patih Keraton Kanoman.

Pelal Ageng saat 1965

Pelal ageng pernah dilaksanakan sore hari, ketika itu Kakek Pangeran Raja Muhammad Qadiran yaitu P.M. Yusuf (Adik Sultan Kanoman X Sultan Raja H.M. Nurus) yang menjabat Patih mimpin Panjang Jimat 1965 pada saat meletusnya peristiwa gestok. (dok pribadi)

Setelah seluruh benda pusaka (Piring Panjang) dan lauk pauk diletakan di Langgar, maka sekitar Pukul 20.30 WIB Sultan Kanoman XII Sultan Raja Muhammad Emirudin memasuki ruang Prabayaksa Mande Mastaka diiringi istri Nyai Devi Emirudin. Pukul 21.00 WIB lonceng Gajah mungkur akan dibunyikan sebanyak 9 kali, kemudian pengiring Patih yaitu Pangeran Kumisi dan Pangeran Muhammad Abdurrohim serta Famili menjemput Patih menuju Keputren. Sang Patih yang telah mengenakan Jubah Keemasan, surban putih dan mahkota kecil diiringi kedua Pangeran (pengiring) itu keluar dari Keputren untuk melakukan hatur sembah kepada Sultan Kanoman di Prabayaksa, kemudian Patih menuju Blandongan duduk di Kursi yang telah dipersiapkan untuk menunggu iring-iringan Panjang Jimat dari langgar melewati Blandongan.

Sultan Kanoman XII Sultan Raja Muhammad Emirudin dalam acara Pelal Ageng. (Kontributor/Langlang Buana)

Sang Patih kemudian akan bergabung dengan barisan pembawa Nasi Rasul dan Kaum (Ulama) berjalan dengan bersholawat di dalam hati karena Patih sejak keluar Keputren sampai kembali dari Masjid ke Bangsal Pejimatan tanpa berbicara sepatah katapun (laku bisu). Iringan akan melewati Lawang si Blawong yang hanya dibuka 2 kali saat iringan menuju Masjid dan kembali dari Masjid pada acara Panjang Jimat.

BACA JUGA  Jamasan Alat Tempa dan Pusaka di GuloKlopo

Di Masjid Agung Keraton Kanoman selanjutnya Patih bersama Famili dan abdi dalem khusuk mendengarkan pembacaan kitab Barzanzi (riwayat Nabi), berdzikir dan berdoa yang dipimpin  Penghulu Keraton yaitu ulama yang ditunjuk Sultan sebagai penasehat agama.

Selesai acara keagamaan maka nasi kuning dan lauk ditempatkan pada keramik kuno bernama Panjang Suku, berupa wadah nasi berkaki empat. Sedangkan Piring Panjang digunakan saat berada di Masjid untuk menaruh nasi kuning sebelum dibagikan. Nasi kuning dan lauk kemudian dibagikan kepada famili, abdi dalem dan masyarakat dalam bentuk porsi kecil dalam plastik bening.

Setelah prosesi selesai iring-iringan Patih kembali ke Bangsal Pejimatan melalui Lawang Si Blawong.*

Piring Panjang di Bangsal Prabayeksa Keraton Kanoman Tahun 1935. (Dok. Keluarga)

Piring Panjang di Bangsal Prabayeksa Keraton Kanoman Tahun 1935. (Dok. KLTV)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.