Perpecahan Antara Diponegoro dan Kyai Mojo

Perpecahan Antara Diponegoro dan Kyai Mojo
Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro di Magelang oleh Raden Saleh Syarif Bustaman, 1857. (Sumber : ICSSIS Presentation, Yogyakarta, 13 June 2013)

Perjuangan Pangeran Diponegoro (1825-1830) melawan pihak Belanda, mampu menyatukan hampir semua kalangan, mulai dari kerabat, sahabat, bangsawan, tokoh masyarakat, ulama, santri, prajurit, petani, pedagang, dan juga rakyat kebanyakan.

Sejak terjadi pemasangan patok, oleh pihak Belanda lewat tangan Patih Danurejo, yang melintasi pemakaman leluhur Pangeran Diponegoro, kabar segera menyebar ke segala penjuru. Masyarakat lantas berduyun-duyun datang ke Tegalrejo.

Selain masyarakat sekitar Tegalrejo sendiri, yang sudah menganggap Pangeran Diponegoro sebagai tuan mereka. Mereka datang dari wilayah pesisir selatan, dari Bagelen, Banyumas, dan juga Kedu Utara. Semua menyatakan berdiri di belakang Pangeran Diponegoro.

Saat itu, terdapat dua remaja yang baru berusia lima belasan tahun, bernama Banteng Wareng dan Joyo Suroto. Dua remaja ini kemudian menjadi pengawal setia Pangeran Diponegoro. Bahkan, keduanya nanti mengikuti Sang Pangeran ketika dibuang ke Menado, dan Makasar.

Dan, ketika peperangan akhirnya berkobar dari Tegalrejo. Sebagian kalangan bangsawan istana turut bergabung. Menurut Ki Roni Sodewo, ada 47 pangeran keluar dari istana, dan bergabung dengan Pangeran Diponegoro.

Bergabung pula seorang kiai dari Desa Mojo, yaitu Kiai Mojo. Serta seorang pemuda yang masih berusia belasan tahun, bernama Ali Basyah Abdul Mustofa Prawirodirjo atau Sentot Prawirodirjo, ikut mendukung perjuangan Diponegoro.

Saat bermarkas di Selarong, jumlah pasukan Pangeran Diponegoro sangat besar. Dikatakan mencapai tiga kali lipat kekuatan gabungan pasukan Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Kadipaten Mangkunegaran, dan Paku Alaman.

Dan sejarah mencatat, dengan berjalannya waktu, kekuatan yang besar itu, yang mampu mengobarkan peperangan sampai ke pelosok Jawa Tengah, dan sebagian Jawa Timur, akhirnya menyurut. Rontok satu per satu.

Ilustrasi lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Pieneman

Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro di Magelang oleh Nicolaas Pieneman. (Sumber : ICSSIS Presentation, Yogyakarta, 13 June 2013)

Belanda memang menggunakan segala cara untuk menghentikan perjuangan Diponegoro. Mulai dari taktik dan strategi peperangan, seperti memperkuat pertahanan Kota Yogyakarta, menyebar mata-mata dan provokator, sampai membangun benteng. Termasuk menekan anggota keluarga para pangeran dan pemimpin perjuangan rakyat yang mendukung Pangeran Diponegoro.

Meski strategi Benteng Stelsel yang diterapkan Jendral de Kock terbukti membuahkan hasil. Karena jalur logistik dan perlengkapan perang pasukan Diponegoro menjadi terhambat. Dan, membuat pasukan Diponegoro menderita dan akhirnya banyak yang menyerah. Tapi menurut Ki Roni Sodewo, ada faktor lain yang membuat perjuangan yang dikobarkan Pangeran Diponegoro menjadi surut.

“Orang yang berada di belakang Pangeran Diponegoro itu tidak an sich mempunya visi dan misi sama dengan Pangeran Diponegoro. Ternyata mereka juga punya kepentingan sendiri, yang ketika Pangeran Diponegoro sudah kira-kira kalah, mbalik,” ujar Ki Roni Sodewo.

Tahun 1826, Belanda menurunkan Sri Sultan Hamengku Buwono V, dan mengangkat kembali Sultan Sepuh atau Sri Sultan Hamengku Buwono II yang sebelumnya diasingkan. Belanda meminta HB II mau mengajak Pangeran Diponegoro berunding. Tapi ajakan itu ditolak oleh Diponegoro. Dan, HB II diturunkan kembali dari tahta tahun 1828, karena alasan kesehatan.

“Putra-putra HB II yang ikut perang bersama Diponegoro, itu pulang kembali ke kraton ketika HB II dipulangkan oleh Belanda untuk duduk lagi menjadi raja,” kata Roni Sodewo, keturunan ke-7 Pangeran Diponegoro.

Selain itu, banyak pasukan berandal yang berada di pasukan Diponegoro adalah orang-orang yang dahulunya prajurit di zaman HB II. Mereka dipecat sebagai pasukan kraton oleh HB III. Saat itu HB III didudukkan kembali oleh Inggris. Pasukan keamanan kraton kemudian dipegang pihak Inggris. Sehingga terjadi banyak pengurangan pasukan. Orang-orang ini hanya bisa menjadi prajurit dan memegang senjata. Akhirnya mereka menjadi perampok.

“Nah, ketika perang Diponegoro meletus, mereka berada di belakang Diponegoro. Dengan harapan kalau Diponegoro menjadi sultan atau menang perang, minimal mereka bisa menjadi prajurit lagi. Begitu juga dengan para pangeran, tidak semuanya punya kepentingan yang sama,” kata Ki Roni Sodewo.

BACA JUGA  Sultan HB VII dan Petruk Dadi Ratu

Perbedaan pendapat atau pandangan yang kemudian menimbulkan perpecahan juga terjadi antara Kiai Mojo dengan Pangeran Diponegoro, dan juga pasukannya. Hal ini terjadi ketika pasukan gabungan Belanda menyerang Gawok. Markas pasukan Diponegoro saat itu.

Pasukan gabungan Belanda terdiri dari artileri, kavaleri Belanda, pasukan kontra gerilya, pasukan Surakarta, dan Legiun Mangkunegoro, yang berjumlah 4000 orang. Sementara pasukan Pangeran Diponegoro di Gawok ada 6000 orang.

Karesidenan lama Magelang tempat penangkapan Diponegoro

Karesidenan Lama Magelang. Tempat penangkapan Pangeran Diponegoro, 28 Maret 1830. (Sumber : ICSSIS Presentation, Yogyakarta, 13 June 2013)

Perbedaan terjadi dalam memilih cara berperang. Kiai Mojo menghendaki serangan gerilya, sementara sebagaian besar senopati menghendaki serangan frontal terhadap pasukan gabungan Belanda. Pangeran Diponegoro sendiri sebenarnya ada rasa enggan untuk menyerang Surakarta, karena mereka sebenarnya masih keluarga.

Sejak peristiwa itu, kemudian ada semacam jarak antara Kiai Mojo dengan para pemimpin lain, termasuk dengan Pangeran Diponegoro. Diponegoro menilai Kiai Mojo terlalu keras kepala.

Saat di Gawok ini pula, Pakubuwono VI, Raja Surakarta, menemui Pangeran Diponegoro secara sembunyi-sembunyi. Tidak diketahui apa yang mereka bicarakan.

“Pakubuwono VI juga banyak memberikan suplai biaya. Itu mereka menyamarkannya dalam bentuk sesajen di alas Krendowahono. Di alas Krendowahono itu kan sering diletakkan sesaji-sesaji di situ. Nah di bawah sesaji itulah Pakubuwono VI meletakkan perhiasan-perhiasan,” cerita Ki Roni Sodewo.

Perbedaan yang lebih subtil juga muncul antara Kiai Mojo dan Pangeran Diponegoro. Yaitu ketika Kiai Mojo mempertanyakan cara beragama Pangeran Diponegoro.

“Kiai Mojo mengatakan, wis dadi wong Islam kok pasukanmu isih dho nganggo jimat. Wis dadi wong Islam kok kowe isih seneng nrethek-nrethek tapa, neng guwo-guwo, neng alas-alas,” cerita Ki Roni Sodewo, mengutip cerita di Babad Diponegoro.

Sentot Prawirodirdjo

Ali Basyah Abdul Mustofa Prawirodirjo atau Sentot Prawirodirjo. Salah seorang Senopati Perang Pangeran Diponegoro. (Sumber : ICSSIS Presentation, Yogyakarta, 13 June 2013)

Hal itu kemudian memunculkan perpecahan. Karena, akhirnya, sering terjadi olok-olok antara pasukan Kiai Mojo dengan pasukan Pangeran Diponegoro. Tahun 1828, Kiai Mojo, bahkan kemudian, meminta izin untuk pulang ke Mojo. Desa tempat Kiai Mojo berasal. Dan, Pangeran Diponegoro pun mengizinkan.

“Tetapi ternyata Kiai Mojo beberapa kali rundingan dengan Belanda di Mlangi. Tetapi selalu gagal. Akhirnya bener, Kiai Mojo pulang ke Mojo, Sragen. Di Klaten ditangkap oleh Belanda,” kata Ki Roni Sodewo.

Kiai Mojo selanjutnya dibawa ke Surakarta, lalu ke Salatiga untuk kemudian dibawa ke Semarang. Di Semarang, Kiai Mojo dinaikkan ke kapal menuju Batavia, dan menjalani persidangan sebagai pemberontak. Kiai Mojo serta beberapa keluarga, dan pengikut kemudian dibuang ke Tondano, Sulawesi Utara.

Belanda pun semakin mengintensifkan usahanya memadamkan perlawanan pasukan Diponegoro. Pasukan Belanda juga semakin besar jumlahnya, dengan masuknya pasukan dari luar Jawa. Terutama dari wilayah Sumatra. Karena saat itu, Belanda menawarkan genjatan senjata dengan kaum Padri, yang dipimpin Imam Bonjol. Sehingga bisa mengalihkan pasukannya ke Jawa.

Di tengah kondisi seperti itu, Sentot Prawirodirjo, salah seorang senopati Pangeran Diponegoro, minta izin untuk memungut pajak dari wilayah yang dikuasi, sebagai biaya perang. Sebelumnya, Sentot harus datang ke Pangeran Diponegoro untuk mendapatkan biaya perang. Hal ini menurut Sentot tidak praktis lagi.

“Nah, selama dua hari pangeran Diponegoro berembuk dengan pasukan yang lain. Akhirnya disetujui oleh Diponegoro. Tetapi dengan kalimat, Nek yo nyekel arto, yo nyekel pedang, opo tan kapiran. Kalau megang duwit ya megang senjata, apa nggak malah kacau. Tapi akhirnya disetujui,” cerita Ki Roni Sodewo.

Kiai Mojo

Kiai Mojo, Penasehat Spiritual dan Keagamaan Pangeran Diponegoro, serta Panglima prajurit santri. (Sumber : ICSSIS Presentation, Yogyakarta, 13 June 2013)

Hali ini, akhirnya menjadi celah bagi Belanda untuk semakin melemahkan kekuatan pasukan Pangeran Diponegoro. Di saat kondisi pasukan Sentot semakin memprihatinkan, dengan kekurangan bahan makanan dan logisitik, Belanda mengajak Sentot berunding.

BACA JUGA  Mitos Joko Thole dan Kuda Megaremeng

Belanda memanfaatkan Bupati Madiun, Prawirodiningrat, kakak Sentot, untuk membujuk Sentot. Akhirnya Sentot pun menyerah dengan beberapa syarat. Yaitu, mendapat uang 10.000 ringgit, tetap memimpin Pasukan Pinilih yang berjumlah 1000 orang, dan dipersenjatai 500 pucuk senapan.

Selain itu, Sentot dan pasukannya juga tetap memeluk agama Islam, dan mengenakan sorban. Dan, diizinkan tidak minum whiskey saat acara perjamuan yang diadakan oleh Pemerintah Belanda.

Semua permintaan itu dipenuhi oleh Belanda. Sentot kemudian menandatangani perjanjian damai dengan Belanda di Imogiri pada 17 Oktober 1829. Pada 24 Oktober 1829, Sentot dan pasukannya masuk ke Kota Yogyakarta. Sentot lantas mendapat pangkat Mayoor Cavalerie dari Belanda, dengan gaji 100 ringgit perbulan.

“Bangsa kita itu adalah bangsa yang kuat, bangsa yang dimanjakan oleh alam, tetapi sampai hari ini kelemahannya adalah tiga : harta, tahta, dan wanita,” tegas Ki Roni Sodewo, Ketua Umum PATRA PADI (Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro).

Sementara itu, kondisi Pangeran Diponegoro semakin terdesak. Banyak pengikut Pangeran Diponegoro yang kemudian menyerah dan tewas. Meski Diponegoro berhasil melarikan diri ke wilayah Kedu, saat dikepung Belanda di Pengasih, ruang geraknya menjadi sangat terbatas.

Karena itu Jendral de Kock segera membangun benteng-benteng untuk mengepung wilayah Kedu. Patroli tentara Belanda juga semakin mempersempit ruang gerak pasukan Pangeran Diponegoro.

Saat itu, Belanda mulai mengatur siasat. Pada bulan Ramadhan 1830, Klerens mengundang Pangeran Diponegoro ke Menoreh, untuk pengobatan penyakit malaria Sang Pangeran. Pangeran Diponegoro memenuhi undangan itu, dan tinggal beberapa hari di Menoreh.

“Nah, ketika mau masuk ke Menoreh, Pangeran Diponegoro, di dalam babad, menceritakan, dia didekati oleh seorang opsir. Orang Belanda. Pangeran besok jangan mau kalau dibawa ke Magelang. Saya khawatir dengan keselamatan pangeran,” cerita Roni Sodewo.

Saat itu, Diponegoro hanya mengucapkan terimakasih karena sudah diperingatkan. Pangeran Diponegoro akhirnya menuju Magelang. Memenuhi undangan Jendral de Kock untuk melakukan perundingan perdamaian di kantor Residen Kedu. Saat itu, Diponegoro masih berpuasa, sehingga pantang berpikiran buruk.

Pangeran Diponegoro nenepi di Selagilang

Pangeran Diponegoro bersamadi di Panepen Selagilang, mengutus dua santri ke Nusa Kambangan. (Sumber : ICSSIS Presentation, Yogyakarta, 13 June 2013)

“Ketika ada di Magelang, itu semua baik-baik saja. Pangeran Diponegoro itu hampir setiap hari datang ke Karesidenan untuk melihat tanaman bunga bersama anak-anaknya. Nah ketika puasa selesai, lebaran hari pertama Pangeran Diponegoro menceritakan bahwa dia membawa fitrah. Hari kedua baru dia ke Karesidenan,” kisah Ki Roni Sodewo.

Saat itulah Pangeran Diponegoro menemui Jendral de Kock. Maksudnya untuk bersilahturami layaknya orang Jawa silaturahmi di bulan Syawal. Tapi de Kock kemudian melarang Pangeran Diponegoro pulang, dan lantas mengajak berunding.

Ternyata perundingan tidak mencapai kata sepakat. Pangeran Diponegoro kemudian akan kembali ke pesanggrahan, yang tidak jauh dari Karesidenan. Tapi sebelum keluar dari kantor Residen Kedu, Pangeran Diponegoro ditangkap.

“Nah, ketika Pangeran Diponegoro ternyata nggak boleh pergi lagi sama de Kock. Pangeran diponegoro mengatakan datangkan dua orang, yaitu Klerens dan Sentot. Karena dua orang itu yang memberi jaminan pada saya. … de Kock menjawab, Terlambat. Kedua orang itu tidak ada di Magelang,” ungkap Roni Sodewo.

Menurut Roni Sodewo, saat di karesidenan itu, Diponegoro bisa saja melawan. Tapi hal itu tidak dilakukan. Karena waktu itu ada anaknya di situ. Ibu, dan istri Pangeran Diponegoro masih ada di pesanggrahan. Prajurit Diponegoro juga tengah tidak bersenjata. Kalau Diponegoro melawan, maka mereka semua akan dihabisi oleh Belanda. Maka Pangeran Diponegoro tidak melakukan apa-apa.

Sumber : Perjuangan Pangeran Diponegoro – Antara Nasionalisme, Spiritualisme, dan Budaya (Ki Roni Sodewo, 2016), Wawancara Ki Roni Sodewo, dan bahan lainnya.

Ki Roni Sodewo memberi sambutan di Semaken

Ki Roni Sodewo tengah memberi sambutan menjelang pementasan wayang kulit Diponegoro dengan lakon “Pangeran Diponegoro Winisudo”, dalang Ki Sumono, saat acara Gebyar Semaken, HUT ke-232 Pangeran Diponegoro, (9-11 November 2017) di Banjararum, Kalibawang, Kulonprogo. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

 

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.