Merempos Keris Pusaka versi Wayang Diponegoro

Merempos Keris Pusaka versi Wayang Diponegoro
Adegan Pangeran Diponegoro memegang keris Kiai Bondoyudo, setelah diserahkan oleh Empu Ki Wongsowijoyo, di Pagelaran wayang kulit Diponegoro dengan lakon “Diponegoro Kridho, dalang Ki Catur Benyek Kuncoro, Sabtu (25/11/2017) di Museum Pusaka, TMII, Jakarta. Kiai Bondoyudo merupakan keris hasil remposan tiga pusaka. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Adegan Pangeran Diponegoro bertemu Empu Ki Wongsowijoyo di Pagelaran Wayang Kulit Babad Diponegoro dengan lakon “Diponegoro Kridho”, terasa menarik, dan sangat relevan dengan acara Peringatan Hari Pengakuan Keris sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO, Sabtu (25/11/2017), di Museum Pusaka, TMII, Jakarta.

Di adegan itu, dikisahkan Ki Wongsowijoyo, empu keris yang masih muda, menyarankan agar pusaka Pangeran Diponegoro, yaitu keris Kiai Abijoyo pemberian sang ayah yakni Hamengku Buwana III, cundrik Kiai Bromo Kedali, dan tombak pengawal pribadinya, Kiai Barutubo dirempos atau dilebur menjadi satu. Empu itu berpesan agar keris yang baru  itu jangan sampai lepas dari tangan Pangeran Diponegoro.

Pangeran Diponegoro, seorang Pahlawan Nasional, di setiap gambar sosoknya selalu ditampilkan sebagai seorang pria bersorban yang selalu mengenakan keris, terselip di jubahnya. Setelah 1827, menurut sejarawan Peter Carey dalam bukunya “The Power of Prophecy), Diponegoro selalu mengenakan keris hasil remposan tiga pusaka ini sampai mati. Bahkan, menurut Peter Carey keris (remposan tiga pusaka) yang bernama Kiai Bondoyudo itu dikubur bersama sang Pangeran di Makassar pada 8 Januari 1855. (Peter Carey, 2007).

Peter Carey di Sarasehan Diponegoro

Peter Carey dan pembicara lainnya berfoto bersama setelah selesai sarasehan
di acara Peringatan Hari Pengakuan Keris sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO, Sabtu (25/11/2017), di Museum Pusaka, TMII, Jakarta. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Acara pergelaran wayang kulit genre Wayang Babad, Wayang Diponegoro itu digelar oleh Komunitas Tosan Aji Astajaya dari Jakarta bekerjasama dengan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), dan juga PATRA PADI ini, selain menampilkan pagelaran wayang kulit dengan dalang Ki Catur Benyek Kuncoro, dalang muda dari Yogyakarta, juga meresmikan Besalen GuloKlopo.

Besalen GuloKlopo, yang dibangun di lingkungan Meseum Pusaka, TMII, ini diawali dari dana hibah para penggemar keris yang berhimpun di Paguyuban Tosan Aji, Astajaya, Jakarta. Selain dari dana pribadi, juga dari sumbangan hasil lelang pusaka di kalangan paguyuban, pada pertengahan 2017.

BACA JUGA  Jejak Sultan Agung Sang Penakluk (1)

Setelah peresmian, Sabtu (25/11/2017) malam, Besalen GuloKlopo dihibahkan kepada pengelola Museum Pusaka TMII, untuk dimanfaatkan sebagai pengembangan seni tempa keris di wilayah Jabodetabek.

Suasana Besalen Guloklopo pada hari peresmian di Taman Mini Jakarta Timur 2017

Lurah Besalen GuloKlopo, Andrianto Mas Tok, menempa keris di Besalen GuloKlopo, saat Peringatan Hari Pengakuan Keris sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO, Sabtu (25/11/2017), di Museum Pusaka, TMII, Jakarta. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Di acara ini juga diadakan saresehan, dan Pameran Pusaka Museum Pusaka, serta bursa. Sarasehan sesi pertama tentang Sejarah Keris Jakarta, Besalen TMII, dan KerisNews.com, dengan pembicara Jimmy S Harianto, Ferry Yuniwanto, Febrian Daud Firdaus, dan Sugiri Citro sebagai moderator.

Sarasehan sesi kedua yaitu Naskah Babad Diponegoro, dan Wayang Kulit Diponegoro, dengan pembicara Peter Carey, Roni Sodewo, Rahadi Saptata Abra, dan Buntje Harbunangin sebagai moderator. Pada peringatan 12 tahun diakuinya keris sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO ini, media online KerisNews.com juga resmi diluncurkan.

“Semoga usaha dan langkah kecil ini dapat menjadi awal sebuah langkah besar dalam mempromosikan dan menyiapkan tongkat estafet pelestarian budaya adiluhung ini kepada masyarakat dan generasi selanjutnya, menjelang zaman keemasan Indonesia,” kata Cakra Wiyata, Ketua Panitia yang juga Ketua Astajaya, saat memberi sambutan.*

Roni Sodewo dan Peter Carey Menempa di Besalen Guloklopo

Roni Sodewo (surjan hijau) dan Sejarawan Peter Carey pun ikut menempa pertama di Besalen Guloklopo di Taman Mini Sabtu 25 November 2017. (Dokumentasi Roni Sodewo)

Sarasehan di Museum Pusaka Taman Mini

Suasana sarasehan di acara Peringatan Hari Pengakuan Keris sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO, Sabtu (25/11/2017), di Museum Pusaka, TMII, Jakarta. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Penandatanganan prasasti Besalen GuloKlopo oleh Direktur Utama TMII, AJ Bambang Soetanto, disaksikan oleh Ketua Astajaya, Cakra Wiyata, di acara Peringatan Hari Pengakuan Keris sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO, Sabtu (25/11/2017), di Museum Pusaka, TMII, Jakarta. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Para tamu undangan, panitia, dan dalang Ki Catur Benyek Kuncoro foto bersama usai Pagelaran wayang kulit lakon “Diponegoro Kridho”, di acara Peringatan Hari Pengakuan Keris Indonesia oleh UNESCO serta peresmian Besalen Guloklopo di Museum Pusaka Taman Mini Jakarta Timur pada Sabtu 25 November 2017. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

 

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.