Berapa “Hammer Price” Keris Kiai Adhipramana dan Kiai Prasaja?

Berapa “Hammer Price” Keris Kiai Adhipramana dan Kiai Prasaja?
Cipratan pertama di Besalen Guloklopo Taman mini, setiap kali pertama kali menempa tumpukan lapisan besi, baja dan pamor. Ceprat... (Kontributor/Deny Wishnu)

Istilah ini saya dapet semalem 25 November 2017 dari Den Oes Usman Denhaag, seorang diplomat penggemar tosan aji yang bertugas di Den Haag, Belanda. “Hammer Price”. Cocok untuk menyebut harga hasil lelang dua keris yang jelas asal-usulnya  seperti Kiai Adhipramana dan Kiai Prasaja produk perdana Besalen Guloklopo Taman Mini Jakarta Timur ini.

Disebut “hammer price” karena memang jelas palunya, terang benderang DNA pembuatan bilahnya. Jelas, terang trewaca siapa saja yang memalu. Juga, rentang waktu kapan bilah ini dipalu. Atau, apa saja bahan baku yang dipalu untuk menjadikannya menjadi bilah sampel perdana besalen – tempat khusus pembuatan tosan aji – hasil dana hibah anggota-anggota komunitas Astajaya, yang resmi diserahkan kepada Museum Taman Mini Jakarta Timur semalem. Penyerahan bilah maupun besalennya pun jelas, disaksikan semalem dengan gelaran Wayang Babad “Diponegoro Krido” dengan dalang muda, Ki Catur Benyek Kuncoro. Disaksikan sejumlah petinggi museum, tokoh tosan aji, termasuk juga Pengageng Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Kanjeng Gusti Bendara Pangeran Haryo Yudaningrat atau Gusti Yudho.

Bahan bakunya? Pamor Kiai Adhipramana yang secara visual dilukiskan “ngrènjèng” (seperti kertas timah yang sudah dikumal-kumal), namun sebenarnya permukaan bilah kerisnya rata ini, berasal dari lempengan nikel knalpot motor pabrikan Honda Grand 1994. Dilipat pakai baja modern, bukan besi biasa. Kalau dilipat pakai besi biasa? Dijamin besi tenggelam ditelan pamor Honda Grand. Besi terlalu rendah titik lelehnya, kalah sama lempengan knalpot Honda Grand tua.

Keris perdana Kiai Prasaja dan Kiai Adhipradana

Keris Kiai Prasaja (kiri) serta Kiai Adhipramana hasil tempa pertama Besalen Guloklopo Taman Mini, Jakarta Timur 2017. (Kerisnews.com/Iskandar Z)

Dalam sertifikatnya disebutkan bahwa Kiai Prasaja dapurnya Tilam Sari, langgam Hamengku Buwana pamornya Triman, bahan dari besi (baja) strip, pamornya dari bahan knalpot Suzuki RC dan Honda Grand 1994. Digarap tempanya oleh Cak Arifin, Andrianto, Adi Wanto, Purbo Kuncoro dengan Disain Ferry Yuniwanto dan dibentuk oleh Adi Wanto dan Andrianto. Sedangkan Kiai Adhipramana, dapurnya juga Tilam Sari, langgam Hamengku Buwana, pamor Pedaringan Kebak, bahan dari Per Mobil dengan bahan pamor Knalpot Honda Grand 1994.

Mengapa Kiai Adhipramana tanpa slorok? Sudah sentosa bilahnya, dengan lipatan baja dan pamor sebanyak  sedikitnya 512 lapis. Ya mengapa harus pakai slorok atau ‘atèn’ lagi? Untuk menusuk pun bisa langsung tembus ke jantung, jika difungsikan sebagai senjata. (Keterangan ini dikoreksi oleh Purbo Kuncoro, salah satu pembuat bilah tersebut: “Pakai Slorok Oom, keris ini….,”  Matur nuwun koreksinya). Dan dari sisi estetika, meski belum rapi rata pinggirnya, namun efek ‘nggrènjèng” seperti kertas timah dikumal ini tertampak menggelombang. Dari sisi estetika bilah senjata berpamor, ada semacam efek “chatoyancy” atau ‘ngindhèn’ dalam istilah Jawa-nya.

BACA JUGA  Berharap Bali Jadi Pusat Produksi Keris

Lain lagi dengan Kiai Prasaja yang pamornya hanya ‘sak tumlik’ dengan tempaan 254 lipatan. Nyeprat di sor-soran, dan nyeprit di atas bilah. Sama-sama pamornya dilipat pakai baja modern, bahan pamornya keris ini adalah “bahan tangkis”. Tangkis, tentunya bermakna, bahan sisi A dan sisi B tidak sama. Yang satu sisi dari nikel pabrikan Motor Honda Grand 1994, yang sisi satunya dari nikel pabrikan Motor Suzuki RC tahun 1994.

Sertifikat dari Guloklopo

Sertifikat Kiai Prasaja dan Kiai Adhipramana dari Besalen Guloklopo Taman Mini Jakarta Timur.

Pertanyaannya? Mengapa 1994 pilihan bahak knalpotnya? Menurut penelusuran, setelah 1994, produk-produk knalpot motor Jepang yang beredar di pasaran Indonesia, sudah bikinan Pulogadung. Bukan mau menjelekkan mutu produksi dalam negeri sendiri. Tetapi pada kenyataannya, kandungan nikel pada knalpot motor-motor produksi 1994 dan sebelumnya, masih tinggi. Dan knalpot impor dari Jepang. Sedangkan produk setelah 1994? Sudah bikinan Pulogadung, dan umumnya kandungan nikelnya lebih rendah.

Pamor Kiai Prasaja hanya seuprit. Maka, diperlukan slorok atau atèn biar sentosa. Dan efek dari baja yang dilipat? Penampilan bilah Kiai Prasaja yang dominan hitam, atau ‘keleng’ menurut istilah di perkerisan ini, terkesan mengkilap, lumer. Keistimeawaannya, karena lipatan lumayan sempurna wasuhannya, maka dipegang-pegang bilahnya tidak cepat karatan…

Arifin Panjak Besalen Guloklopo Taman Mini

Arifin salah satu dari enam pande dan panjak Besalen Guloklopo Taman Mini. (Kontributor/Deny Wishnu)

Lalu berapakah nilai “hammer price” keris-keris perdana besalen yang baru seumur jagung, Besalen Guloklopo di Taman Mini ini? Kiai Prasaja yang diberi kode GK (Guloklopo) 003 dan baru mulai ditempa saat api besalen mulai menyala 17 Agustus 2017 lalu itu, laku di lelang tertutup setinggi Rp 9,5 juta. Pemenangnya Abdul Fatah dari Jakarta, menyisihkan sekian nama. Sedangkan Kiai Adhipramana  yang nomor registernya GK 001 itu laku dalam lelang perdana, setinggi Rp 20 juta. Taji Lestari, pemenangnya, juga menyisihkan beberapa nama yang nyemplung dalam kotak tertutup.

Lebih istimewa lagi, hasil pemenang lelang (masih ada dua bilah lagi yang dilelang) diumumkan dalam sesi “Goro-goro” di dalam adegan Wayang Diponegoro. Diumumkan oleh Ki Dalang Catur Benyek Kuncoro dan juga mas bagongan, Sugeng. Malam itu, baik ki dalang maupun pendagel bagongan Mas Sugeng, dapat hadiah kejutan – dua bilah telanjang, bilah lurus bikinan Madura dan bilah luk keris tangguh Cirebonan. Hadiah diserahkan lewat nayaga oleh Ki Kohin Abdul Rohim, salah satu anggota pande dan panjak Besalen Guloklopo.

BACA JUGA  Merempos Pethèl Budo Jadi Keris Pusaka

Namanya juga lagi bagongan, sedang dalam adegan Goro-goro, mas Sugeng tak menyiayiakan kesempatan, langsung ‘menodong’ Gusti Yudho di deretan depan pengunjung pagelaran Wayang Diponegoro: “Nyuwun sewu, Gusti….. Ini hanya wilah, belum ada rangkanya, dedernya…,” kontan disambut gelak ketawa penonton. Entah terjadi beneran, dapet rangka dari Gusti Yudho atau tidak. Wallahualam….

Yang pasti, pergelaran Wayang Diponegoro ciptaan bersama Gusti Yudho dengan nara sumber dua trah keturunan Diponegoro, Rahadi Saptata Abra dan Ki Roni Sodewo pada 25 November 2017 itu diselenggarakan dalam rangka merayakan peresmian dan serah-terima besalen dari Komunitas Astajaya ke pihak Taman Mini Indonesia Indah.

Selain peresmian nama Guloklopo – yang mendapat inspirasi dari bendera warna Guloklopo kerajaan Singasari dan juga Majapahit – juga pergelaran malam itu diperuntukkan bagi peringatan pengakuan Keris Indonesia sebagai Mahakarya (The Masterpiece) of the Oral and Intangible Heritage of Humanity oleh UNESCO di Paris 25 November 2005, peringatan pengakuan Wayang oleh UNESCO pada 2003, serta pengakuan Babad Diponegoro sebagai Memory of the World 2012 juga oleh lembaga yang sama.

Peter Carey dan gambar salah satu halaman Naskah Babad Diponegoro

Peter Carey menayangkan gambar salah satu halaman dalam Naskah Babad Diponegoro berhuruf Arab Pegon dalam ceramah di Museum Pusaka. (Kerisnews.com/Jimmy S Harianto)

Babad Diponegoro, menurut Peter Carey, berupa catatan sang Pangeran selama di Manado antara bulan Mei 1831 dan Februari 1832, sembilan bulan bulan sebelum dibuang di Makassar. Catatan setebal 1.170 halaman itu ditulis tangan, oleh pembantu dekat Diponegoro, dalam huruf Arab Pegon. Sudah beberapa kali dikirim balik dari Belanda-Makassar-Belanda-Makassar, dan akhirnya naskah aslinya itu hilang. Kopi asli, dipakai Peter Carey sebagai salah satu sumber utama penulisan buku sejarawan Inggris ini, The Power of Prophecy (2008).

Setelah terbit dalam wujud buku The Power of Prophecy, maka Babad Diponegoro pun mendapat pengakuan dari UNESCO sebagai  The Memory of The World (2012). Buku ini kemudian terjemahannya diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas dengan judul Kuasa Ramalan (2016). Sayangnya, Peter Carey masih terhambat proses pengajuan permohonannya sebagai Warga Negara Indonesia.

“Rupanya saya harus  menjadi pemain sepak bola, untuk diluluskan sebagai Warga Negara Indonesia,” ungkap Peter Carey, dalam ceramahnya tentang Diponegoro, di Museum Pusaka Taman Mini hari Sabtu (25/November/2017) secara berseloroh. Rupanya, lebih gampang untuk menjadi WNI lewat jalur pemain sepak bola Indonesia, ketimbang menjadi sejarawan dunia… *

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.