Mas Agung dan Jejak Tradisi Tosan Aji di Jakarta

Mas Agung dan Jejak Tradisi Tosan Aji di Jakarta
Haji Mas Agung dan Mas Agung ketika masih muda, bernama Tjio Wie Tay (Dok Keluarga Mas Agung)

Belum genap lima bulan Juli 2017 lalu diperingati setahun meninggalnya Ibu Sri Lestari Masagung, salah satu tokoh perkerisan yang terakhir mengurusi Museum Pusaka di Taman Mini Jakarta Timur. Bu Sri Lestari, adalah isteri Mas Agung – tokoh pelestari tosan aji tahun 1980-an yang meninggal 1990, dan sebagian koleksi sumbangan Mas Agung ini bisa dilihat di Museum Pusaka TMII sampai hari ini.

Haji Mas Agung sendiri dikenal “gila keris dan tosan aji” pada masanya, di samping ia juga dikenal sebagai orang kaya pemilik jaringan nasional Toko Buku dan Penerbitan Gunung Agung. Salah satu kegilaan beliau, tercatat antaranya membangun Gedung Bursa Tosan Aji di Jalan Kwitang 13 Jakarta Pusat.

Gedung itu dibangunnya pada tahun 13 Januari 1984, tidak jauh dari toko bukunya yang terkenal di Jakarta. Selang setahun sejak berdirinya gedung tersebut, Masagung menggelar Pameran dan Bursa Tosan Aji secara tetap setiap hari sepanjang tahun sejak 13 Januari 1985.

Jadi, jika kita ditanya siapa tokoh besar pelopor bursa tosan aji di Nusantara? Tidak lain ya Mas Agung ini. Bisa dibayangkan, jika di dalam Gedung di Jalan Kwitang no 13 ini setiap hari dipertontonkan sekitar 5.000 bilah keris, pedang, tombak dan berjenis-jenis tosan aji lainnya untuk dibursakan pada umum. Tamu-tamu tidak hanya berdatangan dari dalam negeri, akan tetapi juga dari luar negeri.

Sebagian keris dan tosan aji, ada yang dipamerkan saja, milik para kolektor top pada masa itu, seperti Ir Haryono Arumbinang dari Jogjakarta, ataupun kolektor lokal Jakarta seperti Dr Sri Edi Swasono ataupun Ir Haryono Haryo Guritno.

Bursa Tosan Aji Museum Taman Mini

Bursa Tosan Aji di komplek Museum Tosan Aji Taman Mini Indonesia Indah. (Dok Museum Pusaka TMII)

Memang, pelopor pameran dan juga bursa keris pertama di Jakarta pada tahun 1970-an sebenarnya adalah pengelola media Buana Minggu. Mingguan yang diterbitkan oleh koran Berita Buana (sudah tidak terbit lagi), sudah memulai tradisi Pameran dan juga Bursa Keris, serta Konsultasi Keris, Jamas Keris setiap bulan Suro, sejak 1979. Bursa Tosan Aji dan juga Cuci Jamasan Tosan Aji, menjadi daya tarik setiap Suro di Jalan Tanah Abang II No 33 ini.

Tetapi kalau bursa tosan aji yang spektakuler? Tak lain ya bursa di Gedung Bursa Tosan Aji di Kwitang No 13 ini sejak 13 Januari 1985. Sehingga, tokoh Mas Agung alias Tjio Wie Tay ini boleh dikatakan adalah pelopor bursa modern tosan aji Indonesia.

Gelaran bursa ini hanya bertahan lima tahun, dengan meninggalnya Masagung pada 1990. Keluarga Masagung, melalui Bu Sri Lestari, menghibahkan keris-keris dari Gedung Bursa Tosan Aji di Jalan Kwitang 13 Jakarta Pusat – yang jumlahnya sekitar 4.800 bilah tosan aji — ke Ny Tien Soeharto pada tahun 1990 sebagai aset negara. Dan tak lama kemudian dibangunlah gedung Museum Taman Mini ini, serta diresmikan pada 20 April 1993, bertepatan dengan ulang tahun TMII ke-18.

Berapa jumlah total koleksi Museum Pusaka di Taman Mini saat ini? Menurut Drs Sumar Purnomo, mantan Staf Koleksi dan Edukasi Museum Pusaka TMII dalam sebuah penerbitan, jumlahnya mencapai 5.749. Tidak semua dipamerkan. Sebagian disimpan dan dipamerkan bergiliran. Pameran permanen di lantai 2, sedangkan lantai bawahnya di lantai dasar, dulu disesuaikan dengan tema tertentu setiap dua bulan.

BACA JUGA  Jogja Istimewa dan Budaya Tosan Aji

Yang pasti, Museum Pusaka TMII kini termasuk Museum Etnografi yang semua koleksinya terbuat dari logam. Sebagian besar berupa keris, serta koleksi senjata dari seluruh wilayah Nusantara.

Pernah juga misalnya, digelar tema “Pusaka Wali Sanga”. Berbagai pusaka yang pernah digunakan Wali Sanga seperti tombak dwisula milik Sunan Kalijaga dari tahun 1460, tombak milik Sunan Ampel 1402 atau tombak Sunan Gunung Jati juga ada di museum ini.

Jejak Mas Agung

Ini sekadar catatan tambahan akan kiprah Haji Mas Agung dalam upaya pelestarian tosan aji di Jakarta. Pembangunan Gedung Bursa Tosan Aji di Jalan Kwitang No 13 serta bursa tosan aji setiap hari sepanjang tahun dari 1985-1990, itu adalah salah satunya.

Kiprah lainnya adalah, penerbitan Warta Tosan Aji (dalam dokumentasi saya, adalah kopian majalah tersebut, Tahun I No 3 terbitan 13 November 1985). Warta Tosan Aji ini, menghimpun berbagai penulis keris yang kemudian atau sebelumnya kita kenal dari buku-buku keris, seperti Moebirman, Bambang Harsrinuksmo, dan juga Ir Haryono Haryo Guritno yang kita ketahui, meninggal belum lama ini.

Sebagai “penggila” tosan aji? Tahun 1982, menurut Warta Tosan Aji (1985), Masagung memesan pada Wilkinson Sword Ltd di London, agar menduplikat pedang milik Nabi Besar Muhammad SAW, pedang Dzul Faqar. Wilkinson Sword Ltd di London memang satu-satunya pemegang lisensi untuk menduplikat pedang tersebut.

Tidak banyak duplikat pedang Dzul Faqar di dunia. Jumlahnya hanya 300, dan satu-satunya dari Indonesia ya pesanan Haji Mas Agung. Pedang itu diduplikat oleh pembuat pedang, seorang ahli tempa terkenal di dunia yang bakatnya turun-temurun. Penempa ini sanggup membuat pedang-pedang yang kekuatannya luar biasa, dengan campuran logam tertentu sehingga membuat wajah bilah menjadi sempurna. Seperti kilapan kaca….

Besalen Taman Mini

Besalen Taman Mini di samping Museum Pusaka dibangun dengan dana hibah dari Komunitas Keris Astajaya. (Kontributor/Abdul Fatah)

Di samping kanan Museum Pusaka TMII saat ini berdiri sebuah besalen baru, sumbangan dari sejumlah penggemar tosan aji di Jakarta. Apakah ini merupakan besalen pertama di Jakarta?

Ternyata bukan. Museum Pusaka TMII rupanya meneruskan “tradisi besalen” di Taman Mini, yang sebelumnya pernah dibangun dan berkegiatan setidaknya sekitar 10 tahun di Anjungan Mataram, Anjungan Daerah Istimewa Jogjakarta.
Sebuah surat kabar nasional, Berita Buana, menurunkan dua tulisan berseri dua hari berturut-turut pada 22 Januari 1985 dan 23 Januari 1985 tentang besalen di Taman Mini pada tahun 1980-an ini.

“Keturunan Empu Majapahit Menempa Keris di Taman Mini” demikian tulis Berita Buana. Besalen yang digagas “Empu Pemrakarsa” Ir Haryono Haryoguritno itu dipandegani tiga empu, salah satunya adalah Empu muda Supianto, satu dari lima anak Empu Yosopangarso dari Yogyakarta. Dua cantriknya adalah Tugino dan Suharto.

Ketika tiba dan mulai menempa di Anjungan Mataram TMII di akhir 1978 itu, mereka bertiga belum berani menyebut diri mereka sebagai empu, meskipun di Jitar, Jogjakarta mereka telah memahami teori dan praktek membuat keris – dari seniornya, Empu Yosopangarso sang ayah.

Supianto, ketika diberitakan di Berita Buana pada 1985 itu masih berusia 29 tahun. Kini sudah almarhum. Baik Tugino maupun Suharto, mereka juga memiliki darah keturunan dari Empu Majapahit. Tugino adalah anak dari kakak ayah Supianto, sedangkan Suharto adalah anak dari adik ayah Supianto.

BACA JUGA  Aktualisasi Jiwa Keris untuk Mencetak Pribadi Mulia

Empu Yosopangarso, ayah Supianto adalah empu keturunan Empu Supo Driyo yang terkenal di zaman pemerintahan raja Brawijaya, raja terakhir Majapahit. Supo Driyo hidup di zaman Majapahit sebelum pralaya dan sirna akibat dihancurkan oleh putra Brawijaya sendiri, yakni Raden Patah dari Demak yang memisahkan diri dan memerintah sejak 1475.

Dituturkan, segala harta benda Majapahit termasuk abdi dalem dan empunya kemudian diboyong ke Demak. Di Demak, Empu Supo yang juga dikenal sebagai Pangeran Pitrang dan Pangeran Sedayu sudah berusia lanjut, tidak banyak bisa melakukan kegiatan keempuannya. Segala bakatnya sudah diturunkan pada anaknya, yang bernama Ki Jaka Supo (nantinya di era Mataram menjadi Ki Nom).

Dari Demak beralih ke Mataram, terakhir keturunan Empu Supo Majapahit itu diketahui bernama Empu Djairuno. Dari empu ini memiliki keturunan Supowinangun, yang memiliki enam anak. Tertuanya bernama Tjokrowihardjo ayah Tugino. Supianto sendiri anak dari Yosopangarso, anak kedua dari Supowinangun. Empu Yoso adalah kakaknya Empu Djeno Harumbrodjo di desa Gatak, Sleman, Jogjakarta dan juga Empu Genyodiharjo.

Keris Karya Empu Supianto

Dua dari antara puluhan karya almarhum Empu Supianto dari Taman Mini kini disimpan di Museum Pusaka TMII. (Kerisnews.com/Jimmy S Harianto)

Dalam berkarya di Besalen Taman Mini, Empu muda Supianto meneruskan tradisi Empu Supo Majapahit. Di antara hari pasaran dalam kalender Jawa, keturunan Supo selalu menganggap Kamis Wage sebagai hari luar biasa. Pada hari luar biasa itu, keturunan Supo beristirahat, dan memusatkan pikirannya pada Yang Maha Kuasa. Kamis Wage adalah hari kematian leluhurnya, Empu Supo.

Selain pantangan Kamis Wage untuk menempa keris, keturunan Supo juga meneruskan tradisi leluhurnya, yakni selalu mengenakan baju serba hitam. Mengapa serba hitam? Supianto menjawab, ya memang tradisinya begitu – serba hitam.

Ada dua macam keris yang dibuat oleh keturunan Empu Supo ini, yakni keris Ageman, serta keris Pusaka. Masing-masing mempunyai tata caranya sendiri.

Keris Ageman, dibuat tidak perlu memakai puasa. Cukup memakai sesajian. Sedangkan Keris Pusaka? Baik pembuatnya maupun pemesannya, keduanya harus puasa sebelum keris dibuat. Disamping puasa, juga ada pantangan-pantangan lain yang cukup berat. Ditambah juga sesajian.
Lamanya puasa, kata Supianto, tidak ditentukan. Biasanya ada tanda-tanda khusus yang dirasakan sang Empu.

Tanda-tanda bahwa keris bikinannya “terisi” biasanya terlihat pada saat besi, baja dan nikel itu dibakar dan memijar. Pijaran bara itu melukiskan tanda khusus. Ada yang berbentuk sinar putih, ada yang berbentuk ular, ada yang berbentuk harimau. Jika keris itu memang “sakti”, kebiasaan keturunan Supo dulu melihat ada “wanita cantik yang menari-nari di atas bara api,”…

Keris-keris produksi Empu Supianto sepanjang sekitar sepuluh tahun berkarya, sebelum ia menjadi pegawai biasa Taman Mini, jumlahnya puluhan bilah. Sekitar duapuluh bilah di antaranya masih disimpan keluarganya. Bentuk bilah bikinan Supianto ramping, biasa pakai pamor miring — Ron Genduru, Blarak Sineret, Lar Gangsir atau Ganggeng Kanyut….

Adakah keris-keris buatan Empu Supianto di rak koleksi Anda? Beruntunglah. Lantaran, keris-keris karya empu Supianto yang umumnya berpamor miring dan cantik garapnya itu jumlahnya tidak banyak…. *

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.