Cinta versi Wayang Topeng Malang

Cinta versi Wayang Topeng Malang
Salah satu adegan di pergelaran Wayang Topeng Malang “Sekartaji Boyong, Minggu (29/10/2017). (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Kisah asmara agaknya akan selalu relevan sepanjang masa. Kisah cinta yang terjadi atau diciptakan beberapa tahun bahkan beberapa abad sebelumnya, masih bisa menjadi cerminan bagi kehidupan masa kini.

Seperti kisah Raden Panji Asmorobangun di dalam Pergelaran Wayang Topeng Malang, “Sekartaji Boyong”. Demi mewujudkan rasa cintanya, Panji Asmorobangun rela menenuhi permintaan Dewi Sekartaji, sang istri tercinta, sebagai syarat agar mau diboyong kembali ke istana.

Padahal Dewi Sekartaji mengajukan permintaan yang cukup berat. Panji Asmorobangun, sang suami, harus mencarikan seekor ayam bernama Pitik Tulak Walik Sanggar Delimo Pukung.

Untuk kembali ke istana, Sekartaji juga harus diarak dari Tambangboyo dengan didampingi Resi Kapi Seto dan Kebo Bule Sungu Mas. Saat sampai di istana pun, Dewi Sekartaji masih harus disambut dengan Bedoyo Bidadari Kahyangan Cokro Kembang.

Tapi Raden Panji Asmorobangun tidak patah semangat. Sang istri meninggalkannya karena, dengan istilah sekarang, karier Panji Asmorobangun semakin cemerlang. Ia berhasil memenangkan Sayembara Umbul-Umbul Mojopuro, yaitu Prosesi Pemilihan Raja Kerajaan Jenggolo Manik.

Pentas Wayang Topeng Malang

Adegan Dewi Sekartaji tengah dihibur oleh para pembantunya di lakon “Sekartaji Boyong”, Minggu (29/10/2017). (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Alih-alih bahagia, Dewi Sekartaji malah kecewa dengan kehidupan istana. Banyak peristiwa yang dialaminya, dan mengakibatkan ia berulangkali berpisah dengan sang suami, Raden Panji Asmorobangun.

Oleh karena itu Dewi Sekartaji lantas memilih tinggal di luar istana, di sebuah tempat yang bernama Taman Tambangboyo.

Raden Panji Asmorobangun yang telah menjadi raja, tentu kedudukannya tidak lengkap tanpa didampingi seorang Ratu, atau Ibu Negara. Tapi berbeda dengan pejabat sekarang, yang mungkin malah senang dan lantas mencari istri baru. Panji Asmorobangun memenuhi semua permintaan Dewi Sekartaji, agar sang istri kembali hidup bersamanya di istana.

BACA JUGA  Pameran Wastra “Encounters With Bali, A Collector’s Journey”

Itulah kisah “Sekartaji Boyong”, yang disajikan oleh Padepokan Seni Topeng Kedung Monggo, Malang, Jawa Timur, di Teater Kautaman, Gedung Pewayangan Kautaman, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jl Raya Pintu I, TMII, Jakarta, Minggu (29/10/2017) sore.

Pertunjukan Wayang Topeng Malang yang dipersembahkan oleh Teater Wayang Indonesia (TWI) bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur ini, sangat memikat.

Para penari dari Padepokan Kedung Monggo mampu menghidupkan karakter para tokohnya. Pertunjukan yang berlangsung sekitar 1.5 jam, tidak membosankan bahkan terasa cepat dan menarik ditonton. Penuh gerakan ritmis dan dinamis sepanjang pertunjukan.

Pentas Wayang Topeng

Adegan Panji Asmorobangun berhasil memboyong Dewi Sekartaji ke istana, dan disambut Bedoyo Bidadari Kahyangan Cokro Kembang, di lakon “Sekartaji Boyong”, Minggu (29/10/2017). (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Berbeda dengan Wayang Orang, yang tiap penari atau pelakunya mengucapkan sendiri dialognya. Wayang Topeng Malang, selain para pemainnya memakai topeng dan berdasar cerita panji, menggunakan seorang dalang yang bercerita dan mengucapkan seluruh dialog para tokohnya. Mirip peran seorang dalang di dalam wayang kulit.

“Kalau di Malang ada wayang topeng dalang. Wayang pakai topeng, pakai dalang. Jadi wayang topeng dalang… dari tari, tari, tari digabung jadi satu, dikasih dalang, menjadi cerita wayang topeng dalang,” kata Suroso, Ketua Padepokan Seni Topeng Kedung Monggo, seusai pertunjukan.

Suroso dan padepokannya sudah sering mengadakan pementasan di luar Malang, termasuk di Jakarta. Bahkan terakhir mengadakan pertunjukan di luar negeri, di Rusia. Untuk pergelaran di Teater Kautaman kali ini, Suroso membawa 35 orang, terdiri dari penari dan karawitan.

“Artistik bagus. Dinamis, dalangnya juga aktif tidak pernah berhenti. Jadi ini kayak dalang wayang kulit cuma pemainnya wayang orang,” kata Suparmin Sunjoyo, Ketua Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (SENAWANGI), kepada KerisNews.com saat diminta komentarnya tentang pergelaran Wayang Topeng Malang, seusai pertunjukan.

Pentas Wayang Topeng Malang

Adegan Panji Asmorobangun tengah didampingi para abdinya, di lakon “Sekartaji Boyong”, Minggu (29/10/2017). (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

 

BACA JUGA  Pesona Kujang di Botani Square Bogor

SENAWANGI merintis TWI sejak Juli 2008, dengan menampilkan secara berkala pergelaran wayang berkualitas dan populer di Gedung Pewayangan Kautaman, TMII, Jakarta.

Pentas Wayang Topeng Malang

Tari Bedhayan Putri menjadi tari pembuka pergelaran Wayang Topeng Malang “Sekartaji Boyong”, Minggu (29/10/2017), di Teater Kautaman, Gedung Pewayangan Kautaman, TMII, Jakarta. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Pentas Wayang Topeng Malang

Adegan gerombolan kera mengeroyok Raden Panji Asmorobangun yang tengah mencari Pitik Tulak Walik Sanggar Delimo Pukung, di lakon “Sekartaji Boyong”, Minggu (29/10/2017). (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Pentas Wayang Topeng

Para pemain berfoto bersama seusai pementasan Pergelaran Wayang Topeng Malang “Sekartaji Boyong”, di Teater Kautaman, Gedung Pewayangan Kautaman, TMII, Jakarta, Minggu (29/10/2017). (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.