Kujang dan Falsafah Kudi Hyang di Pasundan

Kujang dan Falsafah Kudi Hyang di Pasundan
Salah satu kujang sepuh milik kolektor dari Jember Jawa Timur, Corneles Karundeng yang turut dipamerkan di Pameran Kujang dan Keris Pasundan. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Di kalangan perkerisan masa kini, kujang dan keris Pasundan termasuk jarang dibicarakan bila dibanding dengan pusaka dari wilayah lain. Padahal pusaka dari tataran Sunda ini memiliki sejarah yang panjang. Bahkan banyak pande besi dari seluruh Nusantara mengaku masih keturunan Nyi Sombro, seorang empu wanita dari tanah Sunda.

Pengakuan semacam itu mungkin hanya sekadar untuk melegitimasi kedudukan atau kepiawaian seorang empu. Tapi menariknya, menurut Basuki Teguh Yuwono, budaya kujang dan keris Pasundan dari aspek penciptaan justru lebih populer atau banyak dijumpai di luar Pasundan.

Berdasarkan data-data, kujang dan keris Pasundan di dalam tradisinya diperkirakan berada dalam era yang hampir sama. Tapi kalau mengacu pada nama kujang yang berasal dari nama kudi hyang, kemungkinan kujang berada di era yang lebih awal.

Peralatan kudi sebagai perkakas secara artefak dapat dijumpai di era prasejarah. Dari data yang ada, di masa Tarumanegara juga sudah dijumpai adanya kudi ini.

“Tetapi ketika kudi itu berwujud menjadi kujang, memang baru mulai populer di era Pasundan Sepuh, kisaran abad ke-10. Kudi sendiri di dalam banyak prasasti di kisaran abad ke-7, 9, 10, banyak sekali dijumpai,” ungkap Basuki Teguh Yuwono ketika ditemui di lokasi pameran “Kujang dan Keris Pasundan”, Lobby Gedung Nusantara, DPR RI, Jl Jendral Gatot Subroto, Senayan, Jakarta.

Pameran Kujang dan Keris Pasundan Fadli Zon

Fadli Zon, Ketua Umum SNKI, tengah mengamati kujang dan keris di ruang Pameran Kujang dan Keris Pasundan, di Lobby Gedung Nusantara, DPRI RI, Kamis (26/10/2017). (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Sementara keris Pasundan menurut cerita tutur sudah mulai ada di kisaran abad ke-10. Perubahan dari kadga menjadi prototipe keris, yang paling mendasar adalah keris Pasundan. Keris Pasundan sendiri ada empat pembabakan atau tangguh, yaitu Sunda Sepuh, Sunda Pajajaran, Sunda Segaluh, dan Cirebon.

“Kujang dan keris menurut hemat saya kelahirannya hampir bersamaan. Tapi kalau merujuk kepada kudi yang di-hyang-kan, kudi jauh lebih tua dari keris,” ujar Basuki Teguh yang juga staf pengajar di Program Studi Keris dan Senjata Tradisional, Institut Seni Indonesia (ISI), Surakarta.

Dengan kata lain kujang memiliki hubungan yang erat dengan kudi, perkakas kuno yang juga ada di wilayah lain di Nusantara. Kudi menurut Basuki Teguh, di dalam konteks Triloka Tribuana, adalah perkakas. Menjadi bagian dari sebuah alat untuk pertanian, yang di situ ada mahuma untuk ladang, dan penyawah untuk sawah.

Dari alat pertanian, kudi kemudian naik tingkat menjadi pakarang atau senjata, sehingga di Pasundan dikenal ada istilah kujang Pakarang. Lebih jauh lagi, kudi lantas di-hyang-kan. Di tahap ini kemudian ada makna nilai yang berkaitan dengan nilai-nilai spiritual, nilai-nilai falsafah hidup dan sebagainya.

Ketika kudi di-hyang-kan atau menjadi kujang, makna nilai kemudian menjadi prioritas. Bukan lagi sekadar perkakas atau senjata. Kujang lantas menjadi salah satu sarana upakara dalam setiap upacara, dari kelahiran sampai kematian masyarakat Sunda.

“Oleh karena itu kita banyak menjumpai kujang itu di dalam setiap upacara-upacara kesuburan, baik pertanian berupa perladangan ataupun persawahan. Kemudian di upacara-upacara daur hidup yang lain, bahkan sampai ke kubur,” lanjut Basuki Teguh.

Pmeran Kujang dan Keris Pasundan

Seorang pengunjung tengah mengamati kujang yang dipamerkan dalam display kaca di ruang pameran Lobby Gedung Nusantara, DPR RI. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Di tataran Sunda, kudi yang menjadi kujang ini juga melahirkan banyak sekali varian bentuk, yang lantas menjadi identitas dan karakter khusus Pasundan. Misal, kujang ciung, kujang naga, kujang daun, dan kujang badak. Biasanya mengacu kepada sugesti alam.

BACA JUGA  Membaca Ulang Kisah Baron Sekeber

Hal ini juga terjadi di tempat lain di Nusantara. Contoh di Madura, dari kudi menjadi celurit, dan lantas kodek. Di Bali, dari pah atau arup, kudi yang masih dasar, menjadi pakarang atau pengamengameng, dan di puncak namanya pengawin. Di Jawa, kudi menjadi kudi Tarancang, dan lantas menjadi kudi Jangkung. Jadi proses penyakralan ini juga terjadi di wilayah lain di Nusantara.

Tiga struktur pemahaman ini menciptakan stylistic ketika menjadi ke-hyang-an. Dari perkakas, menjadi senjata, dan lantas menjadi sakral. Menurut Basuki, penyakralan kujang ini masih terjadi sampai sekarang.

Ketika terjadi perubahan dari Hindu ke Islam di era Cirebon, proses penyakralan terhadap kujang masih terjadi. Hanya ada pergeseran dalam memperlakukan atau meng-hyang-kan kujang.

“Semenjak itulah muncul adanya jenis kujang, namanya kujang Syin. Dari tulisan huruf syin, Arab. Kemudian di sana juga muncul adanya merawat kujang itu identik pada bulan Mulud, sedangkan di tempat lain kan bulan Muharam. Jadi ada satu yang khas di sana, di mana cara meng-hyang-kannya pun disesuaikan dengan identitas budaya Sunda,” terang Basuki.

Dan, hal ini sudah menjadi karakteristik setiap masyakarat Nusantara. Mereka hormat terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan alam semesta. Sehingga alat yang pernah digunakan sebagai satu aktivitas kehidupan, yang kental dengan persoalan koridor makna nilai, akan di-hyang-kan atau disakralkan.

“Proses meng-hyang-kan itu ada beberapa alat, pertama adalah nilai falsafah filsafat, kedua adalah persoalan nilai-nilai simbolik, dan yang ketiga adalah peluhuran di dalam konteks masyarakat pendahulu atau leluhur. Oleh karena itu kujang identik dengan istilah palari karuhun. Bagaimana melestarikan budaya leluhur,” kata Basuki.

Pameran Kujang dan Keris Pasundan

Seorang pengunjung wanita juga tertarik melihat kujang dan keris yang dipamerkan di Pameran Kujang dan Keris Pasundan, 25-27 Oktober 2017. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Dari segi bahan, kujang dan keris sama-sama menggunakan besi, baja, dan nikel atau meteor sebagai pamor. Bedanya, baja di keris digunakan sebagai slorok, berada di tengah. Sedangkan kujang, bahan besi, baja, dan nikel dicampur menjadi satu sejak awal. Sehingga jarang ada kujang yang memiliki slorok baja di tengahnya. Menurut Basuki, ini merupakan salah satu ciri dan karakteristik kujang yang berasal dari perkakas.

“Kalau aspek simbolik, baja ditaruh di tengah dalam konteks keris itu kan simbol jiwa. Artinya di dalam konteks masyarakat itu, mendudukan antara jiwa dan raga itu terpisah. Untuk membangun keselarasan. Di dalam kujang, pamor dengan baja sudah menyatu sehingga penyatuan jiwa dan raga itu melebur,” ungkap Basuki.

Karena masyakarat Sunda mengacu kepada sugesti alam, maka pamor kujang umumnya berupa bentuk-bentuk yang mengacu pada perladangan atau pertanian. Misal, ilining warih atau air mengalir, sumber air. Lebih dominan pada pamor wos wutah, atau penerapan pamor-pamor garis berupa pamor miring.

BACA JUGA  Jamasan Alat Tempa dan Pusaka di GuloKlopo

Di tanah Pasundan, empu-empu yang membuat kujang juga membuat keris, bahkan juga senjata tradisional lainnya. Basuki memberi contoh, misal karakter empu Nyi Sombro bisa ditemui di kujang maupun di keris.

Mungkin muncul pertanyaan, lebih dahulu mana keris Pasundan dengan keris di Jawa, baik Jawa Tengah maupun Jawa Timur. Keris Pasundan menurut cerita tutur mulai ada di abad ke-10, atau dikenal sebagai Pasundan Sepuh.

“Kalau kita mengacu data-data arkeologi, ketika kita mengamini keris itu sudah ada di zaman Budha, otomatis Jawa Tengah lebih tua. Karena itu berlangsung pada abad ke-7, 9. Sedangkan di Pasundan memang data-data arkeologi berkait keris itu belum dijumpai,” terang Basuki.

Di prasasti Kebun Kopi era Tarumanegara juga tidak dijumpai tentang keris. Meski begitu, kata Basuki, di era itu kemajuan teknologi dan persenjataan sangat bagus. Bahkan disebutkan baju zirah sang raja sudah terbuat dari besi. Prototipe keris yang sangat lekat dengan masyarakat Sunda baru dijumpai pada abad ke-10.

Pameran Kujang dan Keris Pasundan

Dua orang pengunjung tengah mengamati kujang-kujang yang dipamerkan di display kaca. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Pengertian keris Pasundan sendiri menurut Basuki ada kesalahkaprahan. Karena sering terjebak di dalam konteks geografis dan provinsi pemerintahan. Padahal sebenarnya bisa lebih dari itu.

“Yang disebut keris Pasundan itu menurut hemat saya, itu sebenarnya mulai dari wilayah sedikit barat dari kota Yogya, yang disebut Bagelen. Karena Bagelen itu dulu wilayahnya Sunda Galuh, sampai di sana. Dari situ sampai ke Jawa Barat, bahkan sedikit di Lampung. Itu adalah periodisasi Sunda Sepuh atau Sunda Segaluh,” kata Basuki Teguh.

Sementara kalau mengacu kepada periodisasi yang lebih belakangan, istilah keris Pasundan disebut keris Kulon, atau keris wilayah Jawa bagian Barat. Identik dengan Jawa Barat. Keris Pasundan sendiri bisa dipilah menjadi Sunda Sepuh, Sunda Segaluh, Sunda Pajajaran, dan Cirebon. Masing-masing memiliki karakteristik sendiri.

Dan, kalau bicara tentang Pasundan, tidak bisa terlepas dari masyaratnya. Menurut Basuki, masih bisa dipilah lagi menjadi Sunda Melayu yang identik dengan Betawi, Sunda Cirebon, dan Sunda itu sendiri. Termasuk pula Banten.

Sedangkan Andi Syarif Hidayatullah, Ketua Paguyuban Kujang Pusaka Nusantara (PKPN) wilayah Cianjur, melihat kujang identik dengan pakarang Sunda, atau senjata Sunda. Kujang juga mengandung arti kukuh karena janji, Kujang. Jadi kalau seseorang sudah berjanji dia pasti melaksanakannya.

“Kujang adalah senjata pusaka Nusantara dari Jawa Barat. Kujang juga secara fisik banyak corak dan ragamnya. Tapi kujang bentuknya lebih identik pada hewan-hewan yang ada… Ada kujang badak, kujang naga, kujang kodok. Banyak,” ujar Andi yang bersama paguyuban wilayah Cianjur ikut sebagai peserta bursa Keris dan Pusaka Nusantara di Pameran Kujang dan Keris Pasundan yang digelar oleh SNKI (Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia) dan DPR RI dalam rangka Memperingati Hari Sumpah Pemuda.

Pameran Kujang dan Keris Pasundan

Beberapa kujang dalam display kaca yang ikut dipamerkan di Pameran Kujang dan Keris Pasundan. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Pameran Kujang dan Keris Pasundan yang berlangsung dari 25-27 Oktober 2017 di Lobby Gedung Nusantara DPR RI ini, menampilkan sekitar 150-an kujang dan keris. Baik Sepuh maupun Kamardikan.

“Kita beberapa waktu lalu diskusi. Kita memang ingin lebih tematik. Jadi waktu bulan Maret kita menyelenggarakan pameran dan eksibisi keris Bali dan Lombok. Nah sekarang kita putuskan kujang dan keris Pasundan. Mungkin yang akan datang keris Madura, keris Jawa, keris Sumatera. Jadi lebih tematik,” ujar Fadli Zon, Ketua Umum SNKI kepada KerisNews.com, saat berkunjung ke lokasi pameran di hari ke-2, Kamis sore (26/10/2017).*

Bursa Keris dan Pusaka Nusantara ikut meramaikan Pameran Kujang dan Pusaka Pasundan, di Lobby Gedung Nusantara, DPR RI. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Spanduk Pameran Kujang dan Keris Pasundan

Spanduk Pameran Kujang dan Keris Pasundan terpampang di depan ruang pameran di Lobby Gedung Nusantara, DPR RI. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.