Nonton “Antareja Gugat” di Museum Wayang

Nonton “Antareja Gugat” di Museum Wayang
Ki Hendi Sutrisno tengah mendalang dengan lakon “Antareja Gugat” di Museum Wayang, Minggu (15/10/2017). (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Penasaran atau ingin tahu bagaimana wayang kulit, wayang golek, dan aneka jenis dan bentuk wayang lainnya dipentaskan. Silahkan Anda berkunjung ke Museum Wayang yang beralamat di Jalan Pintu Besar Utara No 25, Kawasan Kota Tua, Jakarta, pada hari Minggu.

Di hari libur itu, pengunjung museum seolah dimanjakan. Selain bisa melihat koleksi lebih dari 4.000 buah wayang, mulai dari wayang golek, kulit, kardus, wayang rumput, wayang janur, topeng, boneka, wayang beber dan gamelan, pengunjung akan disuguhi pertunjukan wayang secara langsung. Tanpa harus membayar tiket lagi.

Setiap bulan Museum Wayang memang mengadakan pagelaran wayang secara rutin pada hari Minggu, dari pukul 10.00 sampai 14.00 WIB. Seperti hari Minggu (15/10/2017) lalu digelar pertunjukan wayang kulit Surakarta dengan lakon “Antareja Gugat”.

Pengunjung Museum Wayang menikmati pagelaran wayang rutin di hari Minggu (15/10/2017). (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Pertunjukan wayang kulit selama empat jam dengan dalang Ki Hendi Sutrisno itu mampu memikat perhatian pengunjung museum. Tempat duduk penonton terlihat penuh. Bahkan ada penonton yang duduk lesehan di dekat niyogo, atau rela berdiri di belakang kursi penonton.

Pengunjung yang tengah melihat-lihat koleksi museum ada yang lantas berhenti, dan melongok ke ruang pertunjukan. Beberapa kemudian masuk dan duduk di kursi penonton.

“Ini untuk hiburan. Jadi hiburan di sini adalah memberikan wawasan kepada penonton. Ketika nonton ke museum wayang itu bukan hanya sekadar nonton  koleksi yang statis, tapi mereka juga bisa menikmati dinamisnya. Yaitu berupa pertunjukan wayang, baik wayang kulit, wayang golek, wayang orang ataupun wayang-wayang yang lainnya,” kata Sumardi, Kepala Satuan Pelayanan Museum Wayang.

Masih menurut Sumardi semua jenis wayang yang ada pernah dimainkan di Museum Wayang. Pagelaran wayang tiap hari minggu memang menampilkan aneka jenis wayang secara bergilir. Hari minggu pertama dan kedua di bulan Oktober, misalnya, telah dipentaskan Wayang Kulit Jogja dan Wayang Kulit Pesisir. Pementasan berikutnya nanti yaitu Wayang Golek Lenong Betawi, dan Wayang Orang Solo.

BACA JUGA  Menanamkan Cinta Budaya Indonesia dalam Keluarga

Untuk wayang tertentu seperti Wayang Beber Pacitan, Wayang Klithik, Wayang Potehi, dipentaskan pada acara-acara khusus, seperti Pekan Museum Wayang atau Festival Wayang Indonesia. Menurut Sumardi hal ini karena ada keterbatasan dalang untuk wayang yang bisa dibilang langka itu.

“Kami menyajikan yang ada di Jakarta sini, khususnya di Museum Wayang, itu sesuai dengan koridor dan kapasitas yang ada. Contoh, kami memfasilitasi Wayang Beber Metropolitan yang nota bene berangkat dari Wayang Beber Klasik, kemudian Wayang Kancil untuk hiburan khusus anak-anak, wayang yang berbau agama misalkan Wayang Wahyu, Wayang Sadat. Itu juga kami pentaskan di sini,” lanjut Sumardi.

Museum Wayang di Jl Pintu Besar Utara No 25, Kawasan Kota Tua, Jakarta. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Untuk mengisi pagelaran wayang secara rutin, Museum Wayang menjalin kerjasama dengan PEPADI Provinsi DKI Jakarta yang membawahi para dalang di lima wilayah. Museum juga bekerjasama dengan PEPADI dari provinsi lain, seperti Solo, dan Jawa Timur.

“Selain pagelaran rutin untuk memberikan hiburan kepada pengunjung, itu adalah pembinaan kepada dalang-dalang yang ada di sanggar-sanggar. Kita memberikan motivasi kepada mereka agar mereka semangat dan lebih meningkatkan kreativitasnya di dalam seni pedalangan,” ungkap Sumardi kepada KerisNews.com.

Menurut Sumardi dengan adanya pagelaran secara rutin tiap hari minggu bisa meningkatkan jumlah pengunjung museum. Ada peningkatan sekitar tiga sampai empat kali lipat jumlah pengunjung dibanding hari-hari biasa.

Sementara, Pak Agus, salah seorang pengunjung museum melihat adanya pagelaran wayang, kunjungan ke museum menjadi lebih menarik. Budaya nonton wayang bisa hidup lagi.

“Anak muda pada nonton itu. Coba kalau bukan di sini, kayaknya mereka enggan ya. Kalau ini, mungkin walau sebentar seenggakenggaknya, ‘oh wayang itu begitu’. Jadi lebih mengenalkan lagi,” kata Pak Agus, salah seorang pengunjung museum yang menyempatkan nonton pagelaran wayang selama satu jam. *

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.