Kirab Pusaka Wiralodra Setelah 40 Tahun

Kirab Pusaka Wiralodra Setelah 40 Tahun
Bupati Indramayu Hj Anna Sopanah sedang meminyaki pusaka Cakra didampingi Jupel Pusaka Haji Dasuki. (Kerisnews.com/Iskandar Z)

Serombongan pasukan berbusana lengkap, beskap dan jarik tak ketinggalan iket corak khas Dermayonan, terlihat bersiap di Bangsal Pancaniti Pendopo Kabupaten Indramayu Jumat (1/September/2017) pagi.

Pasukan berbusana adat Jejawaan Dermayu tersebut rupanya sedang menyiapkan segala perlengkapan prosesi jamasan Pusaka yang nantinya dilaksanakan di tengah-tengah pendopo Indramayu. Bertindak selaku penjamas adalah Bupati Indramayu sendiri.

Adapun maksud dan tujuan diadakannya prosesi jamasan tersebut, menurut Haji Dasuki Juru Pelihara (jupel) Pusaka Dermayu, selain untuk memberikan rasa kepedulian dan rasa memiliki para pimpinan daerah terhadap benda peninggalan leluhurnya, juga dalam rangka Peringatan HUT Kabupaten Indramayu yang ke-490.

Pasukan pembawa pusaka Wiralodra bersiap di bangsal Pancaniti. (Kerisnews.com/Iskandar Z)

Kegiatan Prosesi jamasan Pusaka Wiralodra di pendopo Kabupaten Indramayu ini merupakan aspirasi dari berbagai elemen — mulai dari aparatur Dinas Budaya dan Pariwisata — juga dari kalangan pegiat Pusaka Indramayu (Astadharma) yang sudah lama terpendam.

“Dan baru di tahun 2017 dapat diwujudkan untuk pertama kalinya,” ungkap Tinus staf Pelaksana Disbudpar Kabupaten Indramayu, kepada Kerisnewscom. Prosesi jamasan Pusaka dimulai dari titik bangsal Pancaniti dengan susunan Pasukan pembawa Pusaka Cakra, Song Song Agung, Keris Ki Gagak Prenala, Keris Ki Kertawijaya, Tombak Si Wisnu, Jubah Tambal Sewu, Jimat Oyod Mingmang, dan Keris Kyahi Gripi. Kesemuanya merupakan Pusaka Utama Wiralodra.

Iringan Kirab Pusaka oleh Trah Wiralodra sekitar tahun 1977-an. (Dok. Keluarga R. Inu Danubaya)

Selain Jamasan Pusaka yang dilakukan oleh Bupati Indramayu, Anna Sopanah sendiri, ia didampingi Jupel Pusaka. Juga tampak iringan pasukan pembawa Pusaka tersebut dengan menggunakan busana adat Jejawaan Dermayon – mengingatkan momen peristiwa Kirab Pusaka Cakra yang pernah dilakukan oleh Keluarga Raden Sumerta generasi ke 11 Wiralodra sekitar tahun 1977 silam.

BACA JUGA  Deklarasi Paguyuban Astadharma

Prosesi jamasan dilaksanakan dengan diawali irama gending tembang Jipang Agung kemudian iringan melaju dari bangsal Pancaniti menuju ruang tengah Pendopo Kabupaten. Di pendopo, Bupati dan Sesepuh lainnya telah siap menerima Iringan pembawa Pusaka, dengan alunan Kidungan yang dibawakan oleh Mama Bambang Arwito Juru Sekar Macapat Dermayon. Juga iringan pembacaan Maksud, Tujuan dan makna filosofis jamasan oleh Pak Aas.

Penerimaan Keris Pusaka yang akan dijamas. (Kerisnews.com/Daryono)

Prosesi jamasan berjalan lancar dan hikmat, dan tidak sedikit penonton jamasan menitikan air mata haru karena merasakan momen yang begitu langka itu.

“Jagalah dan rawatlah dengan baik Pusaka ini, Cakra Peninggalan Eyang Wiralodra untuk warisan anak cucu Indramayu,” begitu ucapan Bupati pada saat selesai menjamas dan meminyaki Pusaka Cakra kepada Jupel Pusaka Haji Dasuki. Setelah selesai prosesi Jamasan dan pembacaan doa bersama, maka berturut-turut mulai dari Pusaka Cakra, Keris, dan Jubah ditempatkan pada lemari yang telah disediakan di ruang Pamer Pusaka dan Naskah Kuno yang dilaksanakan mulai 28 September s/d 2 oktober 2017.

Masyarakat yang menyaksikan jamasan pusaka berebut mengambil air bekas jamasan. (Kerisnews.com/Iskandar Z)

Materi Pameran Pusaka dan Naskah Kuno tersebut selain memamerkan Pusaka Wiralodra, juga menampilkan berbagai Keris senusantara diantaranya Keris Bali, Palembang, Bugis, Jawa, Madura yang kesemuanya merupakan partisipasi dari para pegiat dan kolektor Tosan aji.

Sedangkan penyajian keris-keris Nusantara dengan maksud untuk menunjukkan kepada masyarakat, bahwa – “Keris bukanlah merupakan produk budaya Jawa saja, melainkan merupakan budaya nusantara,” ungkap Daryono asisten Jupel Pusaka Pancaniti.

Selain Pusaka Nusantara juga terdapat penyajian Naskah-naskah kuno yang merupakan inventaris dari Komunitas Sanggar Aksara Jawa Indramayu yang dimotori oleh Ki Tarka Sutarahardja. Menurut Ki Tarka, urgensi pengenalan aksara yang mulai tidak dikenal oleh orang-orang masa kini, mendesak kita untuk kembali memperkenalkan ke ruang-ruang publik, seperti juga pada kegiatan pameran Pusaka dan Naskah Kuno di Kabupaten Indramayu kali ini. *

Siswa-siswa sekolah pun berbondong-bondong datang setiap hari selama digelar pameran Pusaka dan Naskah Kuno di Pendopo Kabupaten Indramayu. (Kerisnews.com/Iskandar Z)

Tidak hanya pusaka yang menarik perhatian para siswa pengunjung, akan tetapi juga naskah-naskah kuno. (Kerisnews.com/Iskandar Z)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.