WO Bharata, Tontonan Alternatif di Malam Minggu

WO Bharata, Tontonan Alternatif di Malam Minggu
Adegan Pertunjukan WO Bharata dengan lakon “Petruk Mantu” yang digelar, Sabtu Malam (16/9/2017) lalu. KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Bagi mereka yang sibuk tiap harinya, malam minggu mungkin jadi kesempatan untuk bersantai atau mencari hiburan. Tapi bosan tiap kali hanya nonton film di bioskop, makan di restoran, pergi ke mall atau sekadar kumpul bersama keluarga? Pertunjukan yang digelar oleh Wayang Orang (WO) Bharata di Jl. Kalilio 15, Senen, Jakarta Pusat, bisa menjadi alternatif tontonan yang layak dicoba.

WO Bharata, yang berdiri pada 5 Juli 1972, tiap malam minggu menggelar pertunjukan wayang orang dengan lakon yang berbeda, dari pukul 20.30-24.00 WIB. Seperti malam minggu, 16/9/2017, lalu, lakon “Petruk Mantu”, ditonton bukan hanya oleh orang tua, tapi juga remaja dan anak-anak.

Para penonton tampak terhibur. Terbukti lakon “Petruk Mantu” yang berkisah tentang pernikahan anak Petruk dengan anak Gareng itu, membuat mereka tertawa gelak sepanjang pertunjukan. Apalagi ketika muncul adegan lucu atau tingkah polah jenaka dari pemainnya.

Gedung Pertunjukan WO Bharata Purwa, di Jl. Kalilio 15, Senen, Jakarta Pusat, diapit dua gedung lain. (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

“Saya pertama kali nonton itu, kaget juga. Ternyata banyak juga anak-anak muda. Entah yang bawa pacarnya, entah mahasiswa bareng-bareng, entah anak SMA yang ngajak temannya. Banyak bule juga. Jadi di luar ekspektasi saya. Yang saya tahu hanya orang-orang tua peminatnya. Ternyata banyak mahasiswa. Saya ikut antusias menyaksikan WO Bharata di sini,” kata Fadli, mahasiswa Sekolah Tinggi Media Komunikasi (STMK), Trisakti, yang ditemui di lokasi pertunjukan.

Mungkin bukan hanya Fadli yang akan kaget melihat begitu beragamnya penonton pertunjukan WO Bharata. Seperti malam itu, selain penonton yang sudah lanjut usia, dan dewasa, juga tampak para remaja, termasuk anak-anak yang datang bersama orang tuanya.

BACA JUGA  Mengenal Udeng dan Maknanya

Radit, misalnya, remaja yang masih sekolah di sebuah SMA di Jakarta ini datang bersama enam temannya. Menurut Radit nonton wayang bagi anak muda tidak merugikan. Karena bisa melihat nilai tradisi yang kuat dan juga nilai hidup yang bisa dipetik. Jadi seharusnya bisa dicoba. Dan bisa menjadi trend di masyarakat.

“Menurut saya menjadi salah satu alternatif yang menarik sih, di Jakarta. Karena kita bisa mendapat sensasi yang berbeda juga kalau nonton wayang,” lanjut Radit, yang tidak takut nantinya dianggap kuno atau apa, sebagai remaja mau nonton wayang orang.

Radit (paling kanan) dan teman-temannya di depan pintu masuk ruang pertunjukan WO Bharata. Mereka malam mingguan nonton pertunjukan wayang orang, Sabtu (16/9/2017). (KerisNews.com/Birul Sinari-Adi)

Di Gedung WO Bharata Purwa, yang berkapasitas sekitar 250 tempat duduk, penonton juga bisa memesan makanan dan minuman dari pedagang yang ada di depan gedung pertunjukan. Sehingga sambil menikmati pertunjukan penonton bisa menyantap mie rebus, sate ayam atau kambing. Dan minuman seperti air mineral, teh botol, bahkan jus buah juga bisa dipesan.

Menurut Yunus, bagian Humas dan Promosi WO Bharata yang juga mengurusi ticketing, penonton WO Bharata tidak hanya dari Jakarta. Tapi juga ada yang dari luar kota, seperti Bandung, Sukabumi, termasuk dari Surabaya. Bahkan ada yang dari luar Jawa. Mereka datang ke Jakarta hanya untuk menonton pertunjukan WO Bharata.

“Kayak Pak Rudi, salah satu penggemar. Itu Beliau berangkat naik Argo Bromo pagi, sampai sini sore. Istirahat di hotel, nonton. Besok pagi pulang ke Surabaya. Sampai segitunya penonton-penonton setia Bharata itu,” cerita Yunus kepada KerisNews.com

Menurut Marsam, Pimpinan WO Bharata, selalu ada regenerasi di WO Bharata. Generasi kesenimanan Bharata yang paling akhir saat ini merupakan generasi ke-8. Jadi dari generasi pertama sampai delapan, sekarang ada. Untuk pertunjukan regular bahkan generasi ke-1 bisa bertemu dengan generasi ke-6, 7, atau 8, tergantung cerita yang dimainkan.

BACA JUGA  Kenali Kejayaan Kedatuan Sriwijaya

“Di sini tidak ada paksaan. Justru anak-anak sini kalau nggak diajak ngambek. Harus diajak, harus ikut. Jadi nggak ada paksaan. Ada acara wayang tunas, wayang anak-anak, itu ‘dah aku ikut, aku ikut’. Udah begitu nggak ada paksaan. Jadi satu keistimewaan Bharata itu tidak ada paksaan sama sekali. Dengan kerelaan untuk melestarikan wayang orang ini,” tegas Marsam yang berharap pemerintah ikut memikirkan kesenian tradisi, supaya turis-turis dari luar negeri tertarik dengan kebudayaan dalam negeri.

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.