Hari Pusaka dan Kota Pusaka bagi Denpasar

Hari Pusaka dan Kota Pusaka bagi Denpasar
Acara pembukaan Pameran "Petinget Rahina Tumpek Landep ke-9". (Kontributor/Ilham Panji Belambangan)

By Kontributor/Ilham Panji Blambangan

Perayaan enam bulanan Petinget Tumpak Landep kini seperti menemukan momentumnya di Bali. Memasuki gelaran yang ke-9 pada tahun 2017 perayaan Tumpak Landep dijadikan sebagai Hari Pusaka dan bahkan kota Denpasar disebut sebagai Kota Pusaka.

Hal tersebut dicanangkan oleh Wakil Ketua DPR-RI,Fadli Zon yang juga Ketua Umum Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia (SNKI) ketika hadir pada Peringatan Rahina Tumpak Landep di Denpasar. Acara digelar selama empat hari dari 28-31 Agustus 2017 lalu.

Berbagai acara digelar, dari kirab pusaka mengelilingi lapangan Puputan Bali di hari pembukaan, sampai gelaran sarasehan, pameran, bursa keris dan setiap harinya dimeriahkan dengan penampilan berbagai kesenian. Kegiatan ini sebagai bukti partisipasi  aktif masyarakat yang ikut mewarnai Denpasar sebagai Kota Pusaka.

Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra Wali Kota Denpasar juga memberikan apresiasi yang besar pada perkembangan dan geliat kolektor, pedagang dan pengrajin Keris yang memiliki nilai ekonomis dan filosofi yang sangat tinggi.

“Pemkot Denpasar sangat berterimakasih atas dicanangkannya Denpasar sebagai Kota Pusaka, ini adalah indikator antara Pemerintah Kota yang bersinergi dengan pengusaha, Kolektor dan Lembaga masyarakat . Mudah-mudahan dengan kebersamaan ini Kota Denpasar benar-benar terbingkai pada sandaran yang menjadi pilar sebagai Kota Budaya.,” kata Rai Dharmawijaya Mantra.

Wakil Ketua DPR-RI,Fadli Zon (nomor dua dari kanan) yang juga Ketua Umum Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia (SNKI) ketika hadir pada Peringatan Rahina Tumpak Landep di Denpasar (Kontributor/Ilham Panji Belambangan)

Atas nama Pemerintah Kota Denpasar ia mengucapkan terima kasih atas kehadiran Wakil Ketua DPR RI,  Fadli Zon yang juga Ketua SNKI, Raja Puri Klungkung,  Ida Dalem Semara Putra dan Penglisir Puri Pemecutan, Cokorda Pemecutan.

BACA JUGA  Deklarasi Paguyuban Astadharma

Sementara Bendesa Adat Pakraman Denpasar, AA Oka Suwetja mengungkapkan, bahwa Petinget  Tumpak Landep  bermakna sebagai bentuk ucapan syukur manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberi kemudahan dan ketajaman pikiran. Ketajaman ini pun diartikan layaknya senjata dan benda-benda yang terbuat dari besi seperti keris, pedang, senjata api hingga kendaraan bermotor, dengan menghaturkan sesaji dan menghias segala perkakasnya yang terbuat dari besi untuk nantinya didoakan agar selalu membawa keselamatan dan keberkahan bagi sang pemilik.

Acara Tumpak Landep kali ini juga diramaikan dengan gelaran pameran  200 Keris yang berasal dari Bali dan Nusantara, serta bursa diramaikan puluhan  pebursa dari Bali, Lombok, Jakarta, Jogyakarta, Madiun, Kediri, Malang, Surabaya, Madura , Banyuwangi, Jember dan kota-kota lain dari seluruh penjuru tanah air. *

 

Keris koleksi Bpk. Fadli Zon yang dipamerkan. (Kontributor/Panji Ilham Belambangan)

 

Keris Bali Kamardikan. (Kontributor/Ilham Panji Belambangan)

 

Situasi di salah satu meja Bursa Tosan Aji. (Kontributor/Ilham Panji Belambangan)

 

 

Ida Dalem Semara Putra (Raja Klungkung-duduk kiri) dan Anak Agung Puspayoga (Menkop dan UKM-duduk kanan). (Kontributor/Ilham Panji Belambangan)

 

Salah satu peserta Bursa Tosan Aji dari Jember dan Banyuwangi. (Kontributor/Ilham Panji Belambangan)

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.