Hidayat, Anak Kiai, Menggeluti Keris Sejak Belia

Hidayat, Anak Kiai, Menggeluti Keris Sejak Belia
MM Hidayat berpose di samping Patung Garuda Bali (Dok Pribadi)

Bagi orang Jawa pada umumnya, mengenal keris sejak masa kanak-kanak bisa dibilang bukan hal yang luar biasa. Masih banyak keluarga Jawa yang memiliki keris, tombak atau tosan aji lainnya yang tersimpan di rumah. Warisan leluhur, yang didapat dari orang tua atau kakek, turun temurun.

Hal itu pula yang dialami pemilik nama panjang Mochammad Manshur Hidayat. Sejak kecil ia sudah biasa melihat keris di rumah, karena ayahnya memiliki keris. Bedanya, jika kakak-kakaknya, yang pastinya tinggal serumah, tidak ada satu pun yang tertarik, Hidayat kecil justru mulai tergelitik keingintahuannya terhadap keris.

“Mulai SMP saya buka keris punyanya bapak yang ada di bupet. Buka, tutup.  Kakak-kakak nggak ada yang senang. Saya sendiri waktu itu nggak tahu kenapa kok saya senang sama keris. Tidak saya gunakan mainan tapi saya lihati terus,” cerita Hidayat yang tinggal di Surabaya ini.

Keingintahuan itu terus berlanjut meski sebenarnya ia tidak diperbolehkan sering melihat keris koleksi bapaknya. Waktu menginjak bangku SMA, Hidayat bahkan berani meminta kepada bapaknya untuk mewarangkan keris itu ketika kondisinya kotor.

Dengan berlalunya waktu, rupanya ketertarikan terhadap keris tidak berhenti, bahkan terus naik kelas. Ketika mulai bekerja, Hidayat mencoba mengganti warangka keris warisan leluhur itu.

MM Hidayat tengah menyerahkan sertifikat keanggotaan Senapati Nusantara di acara Pameran Keris Ngadiboyo, Nganjuk. (Dok Pribadi)

Menurut Hidayat keris di rumahnya saat itu memang hanya disimpan, sekadar sebagai koleksi keluarga. Ayahnya juga tidak memiliki pengetahuan tentang keris  seperti tangguh, dapur, atau pamor, meski memiliki empat tombak, dua pedang, dan satu keris.

“Bapak saya itu kiai, sering ceramah ke sana ke mari. Kakak-kakak saya juga gitu, mubalig. Jadi keris itu dianggap sebagai salah satu peninggalan keluarga, gitu aja. Yang perlu disimpan sebagai wasiat dari kakek dulu,” ujar Hidayat yang mengaku masih menyimpan keris warisan keluarga itu.

Keprihatinan dan kepedulian terhadap koleksi tosan aji di rumahnya membuat Hidayat terlibat semakin jauh dengan dunia perkerisan. Di tahun 2000, karena sudah bekerja dan memiliki uang, ia akhirnya mampu membeli keris pertamanya.

“Orang tua punya. Ada simpenan kok cuma tinggal satu karena yang lainnya dibawa saudara-saudara nggak tahu ke mana. Kemudian saya kepingin punya sendiri. Itu yang mengawali saya. Kenapa kok saya nggak kayak kakek, kayak bapak, punya sendiri,” kata Hidayat yang lahir tahun 1973.

Seiring berjalannya waktu, pengetahuan Hidayat tentang keris juga bertambah. Dan, tidak terasa pula koleksi kerisnya meningkat jumlahnya. Ia mengaku di awal-awal kariernya di perkerisan itu sudah terkoleksi 45 keris. Ia bahkan sampai membuat rak tiga tingkat ukuran 15 x 3m untuk memajang semua koleksinya.

MM Hidayat (paling tengah) berfoto bersama saat acara Pameran Keris di Grand City, Surabaya. (Dok Pribadi)

Saat itu Hidayat bekerja di kantor konsultan software, sehingga mengerti dan mengenal apa itu internet, termasuk tentang foto digital. Kebetulan ia juga menyukai fotografi.

“Akhirnya saya coba untuk foto-foto keris. Dari foto-foto itu kemudian saya bikinkan website. Dan itulah kemudian ngawali website, salah satu orang yang ngawali website atau keris online di Indonesia,” cerita Hidayat yang kala itu bekerja sebagai Manajer di Kantor Konsultan Software.

BACA JUGA  Anak Agung Bikin Keris untuk Presiden

Sepengetahuan Hidayat, waktu tahun 2002 itu yang memiliki website perkerisan di Indonesia baru tiga orang, selain dirinya. Ia mengetahui hal itu setelah membuat websitenya sendiri. Dan setelah ia browsing di internet, ternyata ada website perkerisan lainnya.

Lewat website itu Hidayat mendapat banyak teman, terutama dari luar negeri. Mereka berasal dari beberapa negara, seperti Belanda, Itali, Perancis, Inggris, Amerika, Swedia, Yunani, dan Austria. Menurut Hidayat, teman-teman dari luar negeri itu banyak bertanya tentang keris, terutama yang dari Belanda.

“Mereka sering tanya dan saya merasa orang Indonesia, akhirnya saya harus bisa. Itulah yang kemudian menyebabkan saya belajar sangat serius terhadap keris. Nggak kepingin kalah sama orang luar. Orang luar tanya, kenapa saya orang Indonesia sendiri kok tidak bisa, tidak paham. Itu salah satu yang memotivasi saya harus belajar dan paham tentang keris,” ungkap Hidayat.

Setelah itu Hidayat tidak sungkan hampir tiap minggu meluangkan waktu ke luar kota. Baik ke Yogyakarta, Sumenep, atau hanya di rumah, dan ke Pasar Turi di Surabaya.

“Jadi belajar pakem di Yogya. Belajar keris baru dan dagang itu di pasar. Belajar pembuatan keris baru di Sumenep langsung. Belajar literatur-literatur di rumah,” jelas Hidayat yang koleksi kerisnya sekarang mencapai ratusan.

Teman-teman Hidayat yang di luar negeri itu kebanyakan malah sudah memiliki keris. Bahkan ada yang lebih dahulu punya keris daripada Hidayat. Menurut Hidayat para kolektor luar negeri itu kebanyakan ingin tahu apakah kerisnya tua atau baru. Karena mereka banyak mendapat keris baru yang dituakan. Ada juga yang bertanya apa ada keris yang akan dijual.

Masalah tangguh, kata Hidayat,  orang-orang luar negeri itu tidak terlalu memikirkan. Yang lebih utama bagi mereka, ini keris tua atau baru. Kedua, dapur dan pamor. Mereka tidak tanya makna. Nah, masyarakat di sini yang tanya ini tuahnya apa, yoninya apa.

Untuk menjawab itu semua Hidayat mulai mencari literatur yang cocok. Akhirnya ia menemukan Serat Centhini, buku-buku tentang simbolisme masyarakat Jawa kuno, dan makna simbol. Ia lantas belajar dari semua itu.

“Di situlah saya mulai sering menulis tentang filosofi keris. Agar orang-orang tidak bertanya tentang yoni, tentang tuah, tetapi mereka paham bahwa keris memiliki nilai-nilai falsafah yang cukup tinggi,” jelas Hidayat yang pernah mendesain keris yang lantas dimahari orang Malaysia, dan juara rias pusaka di Malaysia, dan Singapura.

Sebagai orang yang cukup lama berkecimpung di dunia perkerisan, Hidayat cukup optimis melihat kondisi perkerisan saat ini. Ia menyodorkan data bahwa jumlah pengrajin selau meningkat. Logikanya, kata Hidayat, orang tidak akan mau menjadi pengrajin kalau permintaan rendah.

“Ketika ada lonjakan permintaan otomatis pengrajin juga nambah. Itu salah satu indikator bahwa setiap tahun, sampai sekarang, masa kini, peminat keris dan pelaku keris ternyata semakin besar. Dari data itu tadi,” ujar Hidayat yang saat ini merupakan Ketua Pelaksana Harian di Senapati Nusantara.

BACA JUGA  Abah Wahyu, "Guru Teupa" Kujang Modern

Menurut Hidayat jumlah paguyuban juga semakin bertambah setiap tahun. Bahkan anak-anak muda yang memiliki keris dan menjadi pengusaha keris ternyata semakin banyak. Ini menunjukkan kalau anak muda sudah mulai tertarik dengan keris.

Berita-berita pameran keris di media online, berdasar pengamatan Hidayat, selalu ramai pengunjung. Ia sendiri pernah menggelar pameran keris di Surabaya, 2005, 2007, dan 2008. Waktu itu pengunjung sangat sedikit. Ketika ia menggelar pameran 2015, 2016, ternyata pengunjung jauh lebih banyak dan ramai. Ia menyimpulkan pecinta keris dari tahun ke tahun semakin naik.

Hidayat melihat adanya SNKI dan Senapati Nusantara di perkerisan sekarang ini sebagai hal yang positif. Sebuah dinamika pelestari keris yang semakin dinamis, dan memang butuh diwadahi. Menurut Hidayat, SNKI yang telah sepuluh tahun berjalan dan menghasilkan banyak hal, melalui dua sekjennya, merupakan pencapaian yang bagus sekali. Ada semacam revolusi pelestarian.

“Di era kekinian, ketika harapan dari para pelaku keris semakin besar, semakin banyak, semakin heterogen, ternyata teman-teman membutuhkan sebuah wadah yang harus dinamis juga. Akhirnya munculah Senapati Nusantara yang didirikan bersama-sama oleh teman-teman yang lain, untuk menjawab tantangan ke depan,” kata Hidayat.

Selama dinamika pelestarian itu terwadahi dengan baik, melalui SNKI atau Senapati Nusantara, Hidayat melihatnya sebagai hal yang positif. Apalagi jika ujung yang diperjuangkan oleh dua organisasi ini adalah budaya keris. Pelestarian budaya keris, dan tidak berjuang untuk orang per orang.

“Muaranya ke sana. Ketika sebuah tujuan itu mengarah ke dalam pelestarian budaya, maka semuanya wajib mendukung. Asal hal-hal yang sifatnya personal, kepentingan pribadi, itu bisa diredam. Egonya bisa diturunkan. Itu saya yakin akan positif,” ujar Hidayat yang merupakan deklarator Senapati Nusantara.

Senapati Nusantara yang mempunyai slogan “Bergerak dan Bekerja Bersama demi Lestarinya Tosan Aji Nusantara”, berangkat dari sebuah gerakan. Ke depannya, menurut Hidayat, akan terus bergerak untuk mendukung teman-teman di daerah untuk bangkit.

Menurut Hidayat, setelah Musyawarah Agung Senapati pada Februari 2017, banyak daerah-daerah mengadakan acara kegiatan. Hasilnya, setiap event yang diadakan di daerah dilirik oleh pemerintah daerah dan juga swasta. Dengan kebersamaan ternyata bisa membuka mata masyarakat yang lain.

Meski begitu kegiatan edukatif tetap akan dilakukan. Untuk pengembangan budaya keris juga akan dikeluarkan buku-buku. Senapati Nusantara sudah merancangnya, bekerjasama dengan kementrian, dan juga dinas-dinas.

“Jadi bukan hanya gerakan yang sifatnya event, kita ke depan melakukan kegiatan yang edukatif, kerjasama dengan sekolah, perguruan tinggi. Dan itu sudah kita lakukan. Kita juga akan mendokumentasikan naskah-naskah kuno. Dan kita sudah punya tim dokumentasi tadi. Semuanya akan kita laksanakan,” kata Hidayat kepada KerisNews.com.  *

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.