Peter Carey pun Nonton Wayang Diponegoro

Peter Carey pun Nonton Wayang Diponegoro
Sejarawan Peter Carey, bertutur soal Bedhah Kraton Yogyakarta pada 20 Juni 1812 di atas tembok pojok Benteng Wetan Kraton. (Kontributor/Tira Hadiatmojo)

Kengerian Perang Sepoy 19-20 Juni 1812 yang memporak-perandakan kraton Yogyakarta digambarkan dengan dramatis oleh dalang Wayang Diponegoro, Ki Catur ‘Benyek’ Kuncoro. “Banyu getih neng alun-alun nganti sak kemiri…,”

Banjir darah di Alun-alun Selatan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat tingginya semata kaki manusia, kata dalang muda berusia 42 tahun dari Kadipiro, Kasihan Bantul Yogyakarta ini. Sebuah gambaran hiperbolik dari banyaknya korban yang jatuh saat Bedhah Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Ki Benyek pada malem Rebo Paing (29/8/2017) itu di Pendopo Dalem Yudhanegaran, Yogyakarta mendalang Wayang Diponegoro dengan lakon “Geger Sepei” atau Perang Sepoy.  Pergelaran ini khusus diadakan untuk menyambut para tamu Tur Sejarah yang dipimpin sejarawan Peter Carey.

Tur Sejarah yang disponsori Penerbit Buku Kompas (PBK) diadakan untuk menyertai peluncuran buku terbaru Peter Carey, “Inggris di Jawa tahun 1811-1816” terbitan PBK. Sebelum menyaksikan pementasan Wayang Diponegoro (ciptaan Gusti Yudhaningrat pengageng Kraton Ngayogyakarta bersama trah Diponegoro, Rahadi Saptata Abra dan Ki Roni Sodewo), rombongan tur dari Jakarta dan Semarang itu lebih dulu melakukan “napak tilas” perjalanan Serangan Inggris ke Kraton Ngayogyakarta pada 20 Juni 1812. Mereka mampir ke situs-situs penting pasukan Inggris antara Semarang dan Yogyakarta.

Pementasan Wayang Diponegoro ciptaan Gusti Yudhaningrat, pengageng Kraton Ngayogyakarta bersama dua trah Diponegoro, Rahadi Saptata Abra dan Ki Roni Sodewo. Dalang, Ki “Benyek” Kuncoro, lakon “Geger Sepei”… (KerisNews.com/Jimmy S Harianto)

Kata “Sepei” sendiri menurut sejarawan Peter Carey yang memimpin Tur Sejarah selama tiga hari ini, berasal kata Sepei, bahasa Turki Usmani untuk menyebut tentara India Sepoy yang biasa dipakai Inggris.

Sedangkan menurut Roni Sodewo, keturunan ke-7 Pangeran Diponegoro yang bersama Gusti Yudhaningrat ikut memberi masukan untuk kreasi Wayang Diponegoro, disebut “Geger Sepei” berasal dari ucapan akhir nama Panglima perang Inggris dalam penyerbuan ke Yogyakarta, Robert Gillespie…

BACA JUGA  Fraktal di Kayon Wayang Kulit

Wayang Diponegoro-nya sendiri baru diciptakan tahun 2016 lalu, oleh Gusti Bendara Pangeran Harya (GBPH) Yudhaningrat – adik Sultan Yogyakarta Hamengku Buwana X —  bersama Rahadi Saptata Abro (keturunan ke-6 Pangeran Diponegoro dari trah Mertonegoro) dan Ki Roni Sodewo (keturunan ke-7 Pangeran Diponegoro dari trah Sodewo).

Ini merupakan pentas ke-6 Wayang Diponegoro setelah pentas pertama di Magetan pada pertengahan 2016 dalam Festival Benteng Purwodadi. Pentas berikut, di antaranya direncanakan di Taman Mini Jakarta Timur 25 November 2017 mendatang.

Sejarawan Peter Carey (kanan), duduk bersila di dekat sesajian untuk Wayang Diponegoro di Dalem Yudanegaran, Selasa (29/8/2017) ketika diwawancara KerisNews.com. (Kontributor/Tira Hadiatmojo)

Sejarawan Inggris Peter Carey, sejarawan yang selama ini dikenal sebagai “ahli sejarah Diponegoro”, tentunya menjadi pusat perhatian dalam Tur Sejarah napak tilas kali ini.

“Tetapi jangan romantik, bahwa kalau seandainya Indonesia dijajah Inggris, Indonesia akan lebih baik…,” kata Peter Carey, dalam sarasehan sejarah usai pementasan Wayang Diponegoro. Peter Carey pun bersikap kritis terhadap sepak terjang Inggris dalam serangan di Yogyakarta, meskipun dirinya adalah orang Inggris. Dan dalam beberapa kali kesempatan Peter Carey selalu meminta maaf. “Mohon maaf atas kesalahan bangsa saya…,” katanya tentang jejak masa lalu Inggris di Jawa.

Kekejaman yang terjadi selama invasi Inggris ke kraton Yogyakarta ini dilukiskan di antaranya dengan kematian Panglima Perang tentara Yogyakarta, Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Sumodiningrat, yang rumahnya diberondong, serta dipotong-potong jenasahnya setelah gugur — dikuburkan di pemakaman keluarga Sumodiningratan di Jejeran, Bantul sekitar 10 km di selatan Yogya, pada jam 10 malam. Lokasi persisnya kini di pemakaman belakang Masjid Agung Jejeran.

Makam Sumodiningrat di Jejeran, Bantul termasuk yang dikunjungi rombongan Tur Sejarah ini, pada Rabu (30/8/2017). Juga lokasi-lokasi penting peristiwa Bedhah Ngayogyakarta ini, seperti tembok yang dibobol Inggris di Plengkung Madyosuro.

BACA JUGA  Cerita Panji : Duta Budaya dari Tanah Jawa

“Bapak saya (Hamengku Buwana IX almarhum) melarang membangun kembali tembok yang dijebol itu, “ ungkap Gusti Yudhaningrat, adik dari Sultan Hamengku Buwana X sultan Ngayogyakarta Hadiningrat saat ini. Bekas Tembok yang dijebol Inggris tetap dibiarkan tetap ada, agar peristiwa berdarah paling dramatis di Yogyakarta itu dikenang orang.

Menelusuri tembok Benteng di atas Plengkung Nirboyo, Gading di selatan Alun-alun Kraton Ngayogyakarta, Rabu (30/8/2017) siang. (Kontributor/Tira Hadiatmojo)

Pangeran Diponegoro sendiri, ketika Perang Sepehi ini terjadi, masih berusia muda, 27 tahun. Diponegoro lahir pada 11 November 1785. Posisinya di kraton pun, sebenarnya terjepit di antara pertentangan ayahnya, Hamengku Buwana III dan eyang beliau, Hamengku Buwana II.

Selama masa muda Diponegoro di istana Yogyakarta, ia mengalami kejadian besar seperti pembubaran VOC, serta invasi Inggris ke Jawa, dan selanjutnya kembali ke pemerintahan Belanda.

Lakon Wayang Diponegoro Selasa malam lalu itu, juga berusaha menggambarkan situasi sulit Diponegoro – anak tertua HB III — yang pada akhirnya menobatkan diri menjadi Sultan Herucokro, setelah Belanda yang menggantikan penjajah Inggris mengangkat HB IV adik Diponegoro sebagai sultan. *

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.