Pamor Ngulit Semangka Besalen Taman Mini

Pamor Ngulit Semangka Besalen Taman Mini
Proses lipatan besi yang ditempa menghasilkan pijar api yang menakjubkan (Kontributor/Abdul Fattah)

Belum genap dua minggu api Besalen Taman Mini menyala, para pembelajar tempa keris Jakarta sudah mencatat kemajuan berarti. Setidaknya mereka kini sudah berhasil membuat kodokan keris 126 lipatan dengan pamor pedaringan kebak.

“Fokus kami membuat keris PB dengan pamor muyeg,” kata Mas Tok Andriyanto, yang di kalangan pembelajar keris di Taman Mini, disebut sebagai Lurah Besalen. Keris PB yang dimaksud tentunya adalah sosok keris dengan cengkok Paku Buwanan Surakarta, dengan pamor muyeg, atau tempaan pamor berspasi rapat.

Proses pelipatan Besi sebelum dicampur dengan bahan Pamor (Kontirbutor/Abdul Fattah)

Akhir pekan hari Sabtu (26/Agustus/2017) menjadi hari yang menyenangkan bagi belasan penggemar keris, yang tengah belajar mengayunkan palu dan mencengkam tang jepit di besalen swasta – sumbangan hibah komunitas keris Astajaya untuk Museum Pusaka Taman Mini.

Bagi yang giat belajar tempa, asyik mengayun godam. Bagi keluarga, anak, isteri dan rekan yang belum kebagian belajar, kehadiran mereka di Taman Mini juga merupakan acara piknik. Menggelar plastik di rerumputan, serta berbincang atau menyantap bekal makanan, di bawah kerindangan pohon jati di halaman samping Museum Pusaka.

Arifin (Kiri) dan Andrianto (Mas Tok) sedang melakukan proses pembentukan pasikutan bakal Keris Tilam Upih. (Kontributor/Mourits Hutagalung)

Kegiatan dimulai pukul 10.00 pagi  dengan menempa bakal calon keris lurus – melanjutkan percobaan tempa Rabu sebelumnya yang dilakukan Mas Tok Andriyanto dan Arifin – dari bahan slorok yang disiapkan Chris Putra pekan sebelumnya. Dilanjutkan dengan menempa ganja atau potongan bagian bawah bilah keris, yang terdiri dari tempaan 64 lipatan.

Hasil penempaan kodokan (Bakal Keris) dengan 126 lipatan. (Kontributor/Andrianto)

Kendala pekan sebelumnya, kegagalan merekatkan bahan pamor nikel, akhirnya bisa teratasi melalui proses trial and error. Belajar dari kesalahan. Sabtu lalu dilanjutkan dengan percobaan membuat kodokan  (bakalan keris) 126 lipatan. Dan hasilnya sukses mengulet pamor nikel dengan lapisan besi yang ditumpuk, selang-seling sehingga menjadi delapan lapisan. Kemudian ditempa jadi satu menjadi sebuah ‘saton’.

BACA JUGA  Wayang Diponegoro di Mata Peter Carey

Proses selanjutnya, saton ‘diulur’, dipanjangkan dengan ditempa. Kemudian ‘dipaju” (ditetak dengan alat khusus penetak besi) menjadi dua saton, untuk dilipat dan disatukan kembali. Proses ini dilakukan sebanyak empat kali. Dipaju, dilipat, diulur dengan tempaan, sampai menghasilkan 126 lipatan.

Hasil pembuatan Kodokan dengan 126 lipatansetelah diwarang (Kontributor/Purbo Kuncoro)

Targetnya nanti membuat pamor pedaringan kebak – atau pamor wos wutah yang penuh —  kalau bisa dengan 256 lipatan atau lebih. Tentu masih harus ditunggu, progres selanjutnya di pekan berikut.

Sesi belajar Tempa Keris di Taman Mini Sabtu lalu itu, sekitar pukul 19.30 ditutup dengan kedatangan paron model buaya seberat 200 kg – bekas paron  atau besi landasan tempa pande besi kuno di zaman Belanda – asal Ciamis, Jawa Barat.

Pemasangan Paron model buaya yang didapat dari daerah Ciamis (Kontributor/Mourits Hutagalung)

“Selain sulit didapat, paron seperti ini juga terbilang mahal,” ungkap Kohin Abdul Rohim, yang mengaku sudah cukup lama berburu untuk mendapatkan paron bagi Taman Mini tersebut. Pada minggu pertama sejak besalen Taman Mini beroperasi, para pembelajar tempa keris hanya menggunakan paron bulat, sederhana, yang didatangkan dari Sumenep, Madura. *

 

By Kontributor/Mourits Hutagalung

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.