Pesona Wisata Tempa Keris di Taman Mini

Pesona Wisata Tempa Keris di Taman Mini
Mas Tok dan Arifin dua andalan Besalen Taman Mini tengah bikin gebingan untuk kodokan keris. (Kontributor/Abdul Fattah)

Penggemar keris di Jakarta kini dapat hiburan baru yakni Wisata Tempa Keris di Taman Mini. Sembari si suami belajar menempa di besalen samping Museum Pusaka, para isteri dan anak-anak keliling Taman Mini seharian, sampai puas.

“Sudah bisa refreshing bareng dulur (perkerisan) semua, pulang pun dapet keris, warangka, pendhok suasa, mendak perak dan deder tayuman. Alhamdullillah…..,” guman Joko Murdianto, pekeris dari Cibubur Jakarta Timur yang Minggu (20/Agustus/2017) siang itu mengajak serta isteri dan anak perempuannya.

Joko Murdianto mencoba ububan Besalen TMII (Kontributor/Abdul Fattah)

Selagi Joko Murdianto berkutat di besalen (bengkel khusus pembuatan keris), isteri dan anaknya bergabung dengan ibu-ibu “wisatawan” tempa keris yang memang sudah lumayan rutin bertandang ke Museum Pusaka Taman Mini di Jakarta Timur.

Rupanya tak hanya belajar menempa, bapak-bapak penggemar keris itu datang ke besalen Taman Mini. Ada juga yang membawa serta keris-keris untuk dimaharkan, atau hendel (deder) dan juga pendhok atau sarung keris, dan warangka, serta mendhak atau cincin keris yang bisa dibeli. Joko Murdianto, rupanya mendapat semuanya – bisa selfie sambil memompa ububan antik, memang ububan kuno untuk besalen keris, belajar menempa dan —- beli keris, warangka, pendhok dan mendhak dari teman sebayanya, hadirin besalen…

Ibu dan anak-anak para pembelajar tempa malah bisa piknik seharian keliling Taman Mini, si ayah di besalen. (Kontributor/Naura Rania Azzahra)

Besalen di samping Museum Pusaka Taman Mini, yang baru selesai dibangun sekitar dua bulan terakhir sumbangan dari komunitas keris Astajaya – dihibahkan ke Museum Pusaka – memang terbuka untuk umum. Sama sekali bukan besalen eksklusif milik paguyuban tertentu.

“Lha itu, ada tamu yang baru berkunjung nonton keris di Museum Pusaka, mereka bertanya – ada kegiatan tempa apa di samping? Dan pengunjung-pengujung museum itu menengok ke besalen, dan menonton yang pada menempa keris,” tutur M Andi Aziz, Kepala Bagian Umum Museum Pusaka, kepada kerisnews.com.

BACA JUGA  Keris Pusaka Wiralodra

Joko Murdianto pun mengaku adalah Penasihat paguyuban Jayakarta. Sementara ia juga simpatisan kelompok lain dari Jakarta, Astajaya. Beda paguyuban tidak menjadi jurang pemisah bagi mereka yang ingin belajar menempa di besalen milik Museum Pusaka Taman Mini.

Ingin belajar menempa keris? Sok. Silakan datang dan mendaftar saja di Museum Pusaka Taman Mini. Boleh menempa setiap akhir pekan, pada hari Minggu atau Sabtu. Tergantung dipakai tidaknya Museum untuk acara lain.

Kodokan dan saton serta gebingan hasil tempaan pembelajar besalen Taman Mini minggu lalu. (Kontributor/Abdul Fattah)

Pagi-pagi buta, di grup WhatsAp kelompok Astajaya sudah ribut soal konsep mau bikin keris dapur (model) apa, sampai sibuk cari dimana bisa didapat borax. Buat apa borax?

Rupanya, zat kimia borax itu di zaman sekarang juga bisa dimanfaatkan untuk lebih memudahkan pelengketan tempa besi untuk bakalan keris. Juga, dari pengalaman minggu pertama minggu lalu, beberapa kali usaha tempa gagal, besi yang dipijar, tak berhasil melengket jadi saton, gebingan.

“Harus digerinda dulu seluruh permukaan besinya,” tutur Chris Kusumoputro, yang sepagian itu nampak menggerinda lempeng-lempeng besi di depan besalen.

“Besi pabrikan umumnya kan digalvanisasi di pabrik. Itu membuat sulit lengket jika ditempa, maka seluruh permukaan besi harus digerinda, agar bisa lengket bila ditempa,” ungkap Fitra Sudibyo, salah satu anggota tim pembelajar tempa keris besalen Museum Taman Mini.

Ferry Yuniwanto yang memang paling ahli menggambar sketsa, sedang menggambar ulang Kudi Cangak atau Cangak Ondhol. (Kontributor/Abdul Fattah).

Abdul Fattah, Nampak sibuk memotreti kegiatan rekan-rekan pembelajar tempa keris hari itu. Sembari memotreti pula, saton, gebingan bahkan kodokan (setidaknya ada tiga kodokan yang diselesaikan pekan lalu sampai hari ini).

BACA JUGA  Sultan Agung bukan Anak Hanyakrawati? (2)

“Yang satu sudah saya gerinda, sebentar lagi jadi,” kata Kohin Abdul Rohim, yang di antara teman-teman sebaya tempa hari itu, memang paling ahli melakukan finishing keris. Kohin pernah menjadi juara ketiga dalam sebuah lomba membentuk keris, di depan Bentara Budaya Jakarta saat Pameran Keris Kamardikan pada 2008.

Lain lagi Ferry Yuniwanto, yang memang paling ahli membuat sketsa keris. Beberapa desain keris dia buat, termasuk hari itu sibuk sekali dia menggambar atau mengeblak Kudi Cangak, atau Cangak Ondhol Cirebonan milik Iskandar Zulkarnaen, penggemar keris dari Astajaya.

Supervisi besalen, dilakukan oleh Mantri Pande Besalen Taman Mini, Mas Tok Andriyanto. Dan tenaga ahli pande, yang merangkap panjak dilakukan oleh bersaudara Arifin dan keponakannya., dibantu oleh si badan tegap dan gempal, Purbo Kuncoro. *

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.